
Dering alarm yang ada di dalam ponsel Ayumi menyala, membuat Ayumi segera tertarik kesadarannya secara penuh. Matanya terbuka perlahan, dan sosok pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan milik Randy.
Pria yang memeluknya sejak semalaman.
Dia segera mengulurkan tangan, meraih benda pipih yang terletak di atas nakas, lalu membawa, mematikan alarm, dan kembali menatap wajah pria di dekatnya.
Ayumi tersenyum, kemudian dia menyentuh wajah suaminya. Alis tebal, bulu mata yang tampak lentik, bibir seksi merah alami, dan rahang tegasnya membuat dia tak bisa berkata apa-apa lagi, selain bersyukur karena memiliki suami setampan pria di hadapannya.
Hembusan nafas terus terasa menyapu wajahnya, juga terdengar dengkuran pelan, laki-laki itu benar-benar tertidur nyenyak tanpa membiarkan Ayumi menjauh sedikit pun.
"Aku nggak ngerti. Rasanya aneh, hatiku terus berdebar-debar, dan … ada rasa yang lebih gila, perutku terus berdesir, seperti ada sesuatu berterbangan di dalam sana." Ucap Ayumi pelan.
Ayumi menyentuh tangan kanan Randy yang terus memeluk tubuhnya, berusaha menyingkirkan perlahan, namun bukannya terlepas, Randy justru semakin menariknya sampai merapat, seolah tidak bisa membiarkan Ayumi pergi.
"Abang? Aku mau bangun, sudah hampir jam enam" Kata Ayumi.
"Mau kemana? Kenapa pagi sekali kamu bangun?" Suara parau itu terdengar begitu berat, bahkan Randy berbicara tanpa membuka matanya sedikit pun.
"Mau buka-bukain jendela, aku suka udara segar masuk kedalam rumah. Rasanya sejuk." Kata Ayumi.
Randy menggelengkan kepalanya, semakin mempererat pelukannya.
"Dari pada bukain jendela, … mendingan bukain baju."
"Itu kan, sudah. Berapa ronde semalam? Tidak ingat?"
"Itu tidak cukup." Gumam Randy.
"Abang? Aku bangun dulu sebentar. Sambil nungguin Tukang bubur atau ketoprak."
"Tidak boleh, aku ingin begini dulu." Dia bergumam.
Tubuh Randy terus bergerak, lalu menempelkan wajahnya di dada Ayumi, sambil menghirup aroma bayi yang kini melekat pada istrinya.
Kebiasaan Ayumi, yang baru saja Randy ketahui. Wanita itu mengaplikasikan banyak minyak telon di seluruh tubuhnya, saat hendak mau tidur.
Ayumi tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya pada Randy, untuk memberikan pria itu ciuman hangat di keningnya.
Cup!
"Kenapa sudah bangun? Ayo tidur lagi?" Kata Randy dengan suara pelan.
"Nggak mau, aku suka kaya gini."
"Suka bagaimana, maksudnya?"
"Aku suka Abang yang begini! Manja, tidak galak seperti biasa." Celetuk Ayumi, sampai membuat Randy terdengar menghela nafasnya kencang.
Perempuan itu hanya terkekeh, seraya mengusap-usap kepala suaminya dengan sangat lembut.
"Aku nggak galak tahu! Memang wajahnya seperti ini, bicara seperti biasa saja selalu membuat beberapa orang salah paham." Randy terus memejamkan mata.
"Baiklah, sayang. Aku mau bangun dulu! Kamu boleh peluk bantal guling."
"Nggak mau." Randy merengek, dan semakin mengencangkan pelukannya.
Bahkan satu tangannya berada di bawah tubuh Ayumi, agar dia benar-benar bisa memeluk tubuh kecil istrinya dengan leluasa dan sangat erat.
"Dasar manja."
"Gantian dululah! Kamu terus yang manja sama aku, aku juga mau kamu manja."
Ayumi tertawa lagi.
"Hanya sebentar, buka jendela dan pintu depan, agar udaranya masuk. Udara pagi sangat bagus tahu, apalagi untuk paru-paru aku." Kata Ayumi.
"Ck!" Randy berdecak kesal, lalu dia melepaskan pelukannya.
"Pergilah! Kamu ini tidak pengertian sama sekali." Pria itu menggerutu, membawa bantal guling, berbalik badan dan memeluk benda tersebut.
Dia tak menghiraukan itu. Ayumi segera turun dari atas tempat tidur nyamannya, berjalan ke arah ujung untuk membuka gorden tebal, hingga suasana pagi hari yang begitu indah pun tampak terlihat.
Langit biru kehijau-hijauan, saat cahaya matahari memantul dengan sangat malu-malu, sampai cahaya itu terlihat redup, namun indah.
__ADS_1
Setelah itu Ayumi beranjak ke arah luar kamar, menarik setiap gorden tebal yang terbentang, membuka jendela satu-persatu, dan terakhir membuka pintu utama selebar mungkin, sampai udara segar di pagi hari benar-benar masuk.
Ayumi tersenyum, menghirup udara sebanyak mungkin, menghembuskannya perlahan, sembari memejamkan mata.
"Aih, … segarnya!" Ucap Ayumi dengan raut wajah berbinar.
Selesai membuka setiap jendela dan pintu ruang itu, Ayumi segera kembali ke Kamar, dan tujuannya saat ini adalah tempat tidur, untuk segera membangunkan Randy, yang biasanya bangun lebih dulu darinya.
"Abang?" Ayumi menepuk lengan berotot itu.
Randy bergeming.
"Ayo bangun, cuacanya sangat indah. Kita cari sarapan bubur atau ketoprak!" Ayumi terlihat sangat semangat. "Aku mau jalan-jalan pagi." Katanya lagi.
Namun Randy masih terdiam, berbaring menelungkup memeluk bantal guling.
"Abang? Dia menggoyang-goyangkan lengan suaminya.
"Abang!?"
Randy terus diam.
"Sayang, ish!?"
Plak!
Dengan sangat kencang Ayumi memukul punggung suaminya.
Seketika Randy menoleh, dengan mata yang terlihat memerah, dan itu terasa sangat menyeramkan.
"Ay!"
Ayumi mengatupkan kedua bibirnya hingga merapat, menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu bergerak mundur, berusaha menghindari kemarahan Randy yang mungkin saja akan segera meledak, karena Ayumi sudah mengganggu tidurnya.
"Makin kesini makin berani, yah! Dari kemarin nampar, mukul, nyakar … setelah ini apalagi?" Ucapnya dengan ekspresi datar.
Ayumi terus bergeser.
Gubrak!!
Tubuh mungil itu terhuyung ke belakang, dan mendarat di atas ubin kamar yang terasa dingin.
"Abaaang!" Ayumi merengek.
Dengan cepat pria itu menghampiri istrinya, yang terduduk di ubin sana, meringis seraya memegangi punggungnya yang terasa sakit.
Randy menahan senyum, dan setelahnya tertawa pelan.
"Abaang! Istrinya jatuh, kesakitan, kamu malah ngetawain." Ayumi merengek pelan.
Perempuan itu menahan tangis.
Randy kembali tertawa, ekspresi itu terlihat sangat menggemaskan, apalagi saat Ayumi merengek. Jika tidak merasa kasihan, mungkin dia akan segera mengejarnya lagi.
"Abang jahat!" Ayumi mengusap kedua sudut matanya.
"Apa? Kamu yang jatuh sendiri! Lagian kamu juga kualat, pukul-pukul aku terus dari kemarin."
Randy segera meraih tubuh Ayumi, menggendongnya, lalu meletakan dia kembali ke atas kasur.
"Ya maaf, aku kan sudah bilang, aku nggak sengaja."
Randy tersenyum, dia ikut mengusap punggung Ayumi.
"Masih sakit?" Randy menatap wajah yang terus menunduk.
Ayumi mengangguk pelan.
"Makanya hati-hati, jangan ceroboh." Tukas Randy dengan suara pelan.
Namun suara itu membuat perasaan Ayumi semakin berdebar-debar, mengingat bisikan-bisikan yang selalu Randy ucapkan saat mereka bercinta.
Perempuan itu mengangkat pandangannya, sampai mereka mampu menatap dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Tidak boleh menatapku seperti itu!" Randy sedikit memperingati.
Mata Ayumi bergerak-gerak.
"Stop Ayumi! Kamu akan membuat kita tidak bisa mencari sarapan pagi yang sesungguhnya."
"Jangan, semalam sudah cukup, … paha aku sakit kalau terus Abang tekan, eh!" Dia langsung menutup mulutnya.
Randy tersenyum gemas.
"Kamu lapar?" Randy mengalihkan pikirannya.
"Iya, aku harus minum obat."
Randy mengangguk, kemudian turun dari atas tempat tidur, lalu meraih tangan Ayumi, dan menariknya sampai perempuan itu ikut turun dari ranjang sana.
***
Sementara itu suasana pagi di tempat lain.
Raga membuka pintu rumahnya, setelah melakukan lari pagi, hal rutin yang selalu ayah dari dua anak itu lakukan.
"Ibu belum turun?" Tanya Raga saat berpapasan dengan Santi, yang sedang membantu bibi menyiapkan sarapan.
"Ibu sedang memandikan Adek, Pak." Jawab Santi.
Raga pun mengangguk, dia segera melangkahkan kaki, menaiki anak tangga satu-persatu menghambur ke atas lantai dua rumah itu, dimana kamar yang dia juga sang istri tempati berada.
Klek!
Dia membuka pintu kamarnya perlahan.
Suara gemercik air terdengar, di sertai celotehan Bara juga Balqis yang terdengar saling bersahutan. Bahkan suara gelak tawa Balqis sesekali terdengar, saat Bara terkekeh pelan karena tingkah lakunya sendiri.
"Phipiii!" Balita tampan itu bertepuk tangan saat mendapati sang ayah yang berdiri diambang pintu.
Balqis menoleh.
"Kamu sudah selesai?"
Raga mengangguk.
"Papi mau berendam, ayo mandinya sudah." Dia berbicara dengan anaknya.
"Tidak usah."
Raga masuk, menutup pintu kamar mandi rapat-rapat, lalu berjalan ke arah shower berada.
"Aku mandi disini saja." Kata Raga.
"Eh, nanti Bara lihat."
"Memangnya kenapa? Bara belum mengerti!" Ucap Raga sambil melucuti satu-persatu pakaiannya.
"Ya tetap saja!"
"Jangan-jangan kamu yang tergoda yah!?" Pria itu membuat kedua alisnya naik-turun.
Balqis diam.
"Sayang, ayo udah. Nanti kamu masuk angin kalau berendam terlalu lama." Pipinya merona.
Balqis meraih handuk, membalut tubuh kecil putranya, kemudian beranjak keluar, meninggalkan Raga yang terus memperhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan dengan kata-kata.
"Hey!?" Raga memanggil sang istri, lalu terkekeh.
"Ah kamu modus!" Balas perempuan itu dengan suara teriakan.
Suara tawa Raga pun terdengar menggema, saat melihat sikap gugup Balqis yang begitu terlihat.
"Sayang? Kemarilah. Biarkan Bara mandi sendiri, sekarang mandikan aku!"
Balqis tidak menjawab, dia hanya berjalan keluar, membawa Bara bersamanya dengan langkah cepat setelah berhasil membuka pintu kamar mandi yang sempat tertutup.
__ADS_1