My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 76 (Adek bayi)


__ADS_3

"Hari ini aku izin pulang cepat." Junior kepada Kaka iparnya.


Balqis yang tengah fokus pada layar iPadnya pun seketika mengangkat pandangan, menatap pria yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, memperlihatkan beberapa desain yang Junior kerjakan.


"Kau ini benar-benar yah!" Balqis terlihat sedikit kesal.


"Nah kan. Aku memang berada di posisi yang serba salah. Di satu sisi, Bianca memintaku untuk segera pulang karena sudah waktunya memeriksakan kandungan, … disisi lain aku ini seorang Asisten, yang tidak bisa meninggalkan tanggung jawab begitu saja." Junior menghela nafasnya.


Balqis berdecak sebal, dia menegakan duduknya, lalu menghempaskan punggung pada sandaran kursi kerja.


"Memangnya sudah harus memeriksakan kandungan, Eca?"


"Iya, dan dia memilih Dokter yang membuka jam praktek di siang hari."


"Aih, … padahal akhir-akhir ini kita sedang banyak sekali kerjaan. Banyak desain yang tertunda hanya karena kamu terus meminta izin dengan segala macam alasan."


"Ya sudah, Kaka telepon Bianca. Katakan jika aku sedang tidak bisa pulang, pekerjaan sedang banyak." Pinta Junior.


Dia merasa tidak tega meninggalkan Balqis lagi dan lagi, dengan segudang desain yang belum terselesaikan. Belum lagi Balqis yang langsung turun kelapangan, membuat pekerjaan begitu banyak, sampai pulang hampir laut malam.


Balqis tampak kebingungan, dia berpikir keras untuk mencari alasan kuat agar Bianca tidak marah, tapi dia tidak tega, bagaimana bisa dia membiarkan Adiknya memeriksakan kandungannya sendiri.


Tapi bagaimana juga dengan pekerjaannya yang menumpuk, dan membutuhkan Junior untuk segera mempercepat waktu yang terus tersita dan terbuang sia-sia.


"Begini saja, … kamu bisa mengerjakan desain sambil mengantar Eca check-up?"


Junior menggelengkan kepala.


"Aku harus fokus. Dan di rumah sakit adalah tempat yang sangat ramai, aku tidak bisa."


"Bisa."


"Tidak, Ka. Fokusnya akan buyar begitu saja, dan hasilnya takut tidak maksimal."


"Tapi ini jalan satu-satunya, aku mengerjakan disini, dan kamu mengerjakannya sambil mengantar Bianca memeriksakan kandungannya."


"Tapi …"


"Bawalah iPad mu, dan kerjakan beberapa desain di rumah sakit, kirimkan hasil gambarnya via email, nanti aku periksa." Kata Balqis sambil tersenyum, lalu menaik-turunkan alisnya berkali-kali.


Junior diam, menatap Kaka iparnya lekat-lekat.


"Cepatlah, aku tidak mau Eca protes terus karena aku menghalangi suaminya untuk pulang."


"Haih."


"Cepat! Aku tidak mau Bianca marah."


"Ya ya ya. Semenjak hamil dia memang sedikit menyebalkan yah!"

__ADS_1


Mereka berdua tertawa.


Dan tiba-tiba saja suara ponsel Junior berdering kencang, membuat keduanya merapatkan bibir ketika.


"Bianca!" Junior berbisik, seraya menunjuk layar ponselnya.


"Pergilah, angkat. Aku tidak mau ikut campur." Balqis terkikik.


Junior menggeser tombol berwarna hijau, lalu mendekatkannya kepada daun telinga.


"Ya sayang, … ini aku baru mau berangkat, tadi beresin satu desain lagi, tanggung." Katanya sambil melenggang keluar ruangan itu.


***


"Tuh kan! Aku bilang juga apa, … kalo terlalu siang bakalan penuh, terus aku dapet antrian paling akhir." Bianca menggerutu, saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit, dan mendapati beberapa ibu hamil yang juga sedang menunggu.


Calon ibu muda itu terlihat semakin kesal, saat melihat kursi tunggu yang sudah di penuhi para wanita yang juga tengah menunggu giliran untuk memeriksakan calon bayi-bayinya.


"Ah kamu sih!" Cicit Bianca pelan.


"Ya gimana, sayang. Kerjaan di kantor sedang banyak, apa aku harus menyerahkan semuanya kepada Ka Balqis? Tidak mungkin, … karena bisnis tidak melihat siapa kita."


"Ya setidaknya kamu bisa menggunakan alasan, kalau aku mau periksain Adek bayi."


"Tidak bisa, aku harus profesional."


"Itu beda Ca."


"Sama, sama-sama kerja."


Junior menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan melalui mulut dengan perlahan. Dia memilih diam, tidak ada gunanya dia terus berdebat, karena pada akhirnya Bianca akan terus menyalahkannya.


Ya, hormon kehamilannya selalu membuat dia terlihat kesal, meski itu kepada suaminya sendiri. Namun anehnya, Bianca akan kelimpungan, mencari keberadaan Junior jika pria itu tak ada di dekatnya.


Aneh!


Batin Junior bermonolog.


Dan setelah menunggu hampir satu jam lamanya, beberapa ibu hamil yang memeriksakan kandungan mereka mulai pergi, membuat suasana disana menjadi sedikit lebih tenang dari kebisingan.


Junior terus fokus pada gambarnya, juga Bianca yang memperhatikan sedari tadi, sampai panggilan dari sang perawat tidak dapat mereka dengar.


"Ny. Bianca Marta Julian!" Panggilnya lagi dengan sedikit keras.


Perempuan itu menoleh, dia menatap kepada sosok perawat yang sedang berdiri diambang pintu, tengah menatapnya sambil tersenyum.


"Giliran saya?" Dia menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya."

__ADS_1


"Sayang, ayo. Nanti dilanjutkan lagi gambarnya, sekarang kita periksa Adek Bayi dulu."


Junior mengangguk, dia menekan tombol power seketika sampai membuat layar iPad nya mati, memasukan kedalam tas kerja berukuran sedang, kemudian berdiri dan meraih tangan Bianca untuk di genggamnya.


"Selamat sore, Dok." Pasutri itu menyapa seorang Dokter tampakn yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Selamat sore, bagaimana kabar kalian hari ini?"


"Kami baik, Dok. Dokter sendiri bagaimana?" Kata Bianca.


Lalu mereka duduk, di kursi yang berhadapan dengan seorang Dokter di hadapannya.


"Seperti yang kalian lihat, saya baik-baik saja." Dia tersenyum.


Junior juga Bianca mengangguk bersamaan.


"Bagaimana? Ada keluhan di trimester kedua ini?"


"Emmm, … sekarang saya lebih sering kebelet, terus kalau jalan-jalan dengan jarak yang cukup jauh, rasanya kurang sedikit nyaman dibagian sini." Bianca mengusap perut bagian bawahnya.


Dokter tersenyum, mengangguk kemudian berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur terlebih dulu, dimana sebuah mesin dan monitor untuk memeriksakan Janin berada.


"Kemarilah, kita lihat perkembangan bayinya. Sepertinya dia sudah sangat besar, sampai perut anda sudah terlihat sangat besar seperti itu." Dokter itu terkekeh.


Bianca segera bangkit, lalu berjalan ke arah sana, diikuti Junior dengan raut wajah berbinar.


"Hati-hati." Kata Junior sambil memegangi tangan istrinya, saat dia membantu Bianca naik ke atas sana.


Perempuan itu berbaring, kemudian seorang perawat membantu memakaikan selimut, agar Bianca dapat leluasa mengangkat dress yang saat ini di kenakan nya.


Perut bulat itu terpampang dengan nyata, menonjol dengan begitu menggemaskan apalagi saat sesuatu di dalam sana mulai bergerak menendang.


"Dia tahu." Dokter itu berkata, menatap Bianca dan Junior bergantian.


"Apalagi saat dia mendengar suara Papanya, di dalam sini dia berputar-putar." Bianca mengusap perut bulatnya.


"Oh yah? Dasar anak Papa." Dokter berujar.


Sementara Junior hanya terus tersenyum-senyum, rasa bahagianya kian memuncak, saat Dokter mulai membubuhkan gell di atas perut Bianca, dan menggerakan sebuah alat untuk melihat situasi di dalam perut sana.


"Lihat! Ini kepalanya." Dokter menunjuk monitor, agar Bianca dan Junior dapat melihat.


"Keadaannya sangat baik, berat badan dan air ketubannya normal."


"Apa sekarang jenis kelaminnya sudah bisa di lihat?" Junior dengan sangat antusias.


Dokter pun menjawab dengan anggukan, seraya menggerakan alatnya, mencari posisinya pas.


"Nah, ini dia … kelaminnya mau saya sebutkan? Atau saya rahasiakan, dan kalian akan mengetahuinya saat mengadakan baby shower nanti?"

__ADS_1


__ADS_2