
Kurang lebih dua jam berkendara. Akhirnya Bus yang di tumpangi para Crew sepak bola dan rombongan sampai di kawasan wisata pantai pasir putih, yang berada cukup jauh dari pusat kota. Disusul mobil Rubicon hitam milik Raga, yang juga langsung berhenti tepat di sampingnya.
Seluruh penumpang turun, riuh sorak bahagia terdengar, saat salah satu dari mereka berjingkrak kesenangan. Wajar saja, setelah jadwal yang sangat padat, akhirnya mereka bisa berlibur meski hanya beberapa hari saja.
Setidaknya mereka bisa memanjakan diri sebentar, sebelum di sibukan dengan jadwal yang selalu penuh itu.
"Dimana Randy?" Hal pertama yang Raga tanyakan adalah keberadaan asisten nya.
"Mungkin sebentar lagi, Pak. Dia bawa mobil sendiri, sama seperti Bapak." Seorang Crew menjawab.
"Bawa mobil? kenapa? dia tidak ikut kalian?" Cecar Raga dengan banyak pertanyaan.
"Dia membawa seseorang bersamanya, Pak."
Kening Raga mengkerut, dia menatap Balqis, seolah tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.
"Biarkan saja! bagus kalau dia sudah tidak jomblo lagi." Balqis berujar.
"Sebaiknya ayok kita cari penginapan. Atau nanti kita tidak akan kebagian, ... asal kamu tahu saja, pantai disini tidak pernah sepi pengunjung." Jelas Balqis kembali.
Raga menatap Santi, perempuan muda yang tengah membawa Bara di dalam gendongannya.
"Pundak mu sakit?" Raga bertanya.
Santi segera menggelengkan kepala, meski sedikit berat karena berat bada Bara yang terus bertambah, tapi itu bukan masalah baginya.
"Masih aman, Pak."
"Pih, ayok!" Ajak Balqis.
"Tidak mau cari hotel saja? kenapa harus penginapan disini?"
"Kita cari penginapan di tepi pantai. Nanti malamnya suka seru, bisa bakar-bakar ikan ... ayoklah, yang lain sudah kesana."
Balqis meraih tangan suaminya.
"Jalan duluan, San. Kopernya biar Papi Bara yang bawa nanti setelah mendapatkan penginapan."
Baby sitter itu mengangguk, kemudian berjalan terlebih dahulu, berusaha menyusul rombongan lain yang sudah memasuki area pantai tersebut.
Sementara Balqis dan Raga berjalan pelan, dengan kedua tangan yang saling menggenggam.
"Akhirnya, setelah sekian banyak waktu yang terlewatkan, kita bisa bersama seperti ini." Dia memeluk lengan suaminya erat.
"Dua hari dua malam cukup?" Raga mengusap pipi istrinya.
Balqis mengangguk.
"Terimakasih, sepertinya tidak hanya kita yang senang. Tapi anak-anak mu juga ... anak-anak bujang mu maksudnya Hahah" Ucap Balqis sambil tertawa.
"Tentu saja, mereka juga tidak mempunyai waktu senggang yang banyak seperti kita."
"Sayang sekali, ... Kaka Sara tidak bisa ikut."
__ADS_1
"Ya, dia tidak diizinkan untuk bolos sekolah. Kamu tahu sendiri bagaimana Sania!"
Balqis menghela nafasnya kencang, dia benar-benar kecewa saat anak sambungnya tidak bisa ikut berlibur.
***
"Jadi kita sudah melewati jalan menuju rumah mu?" Randy menatap Ayumi.
"Iya, kalo mau ke rumah Ibu. Seharusnya kita belok kiri tadi." Sahut Ayumi dengan mulut yang di penuhi kripik talas kesukaannya.
Randy menoleh, menatap perempuan disampingnya yang tak hentinya mengunyah.
"Apa rahang mu tidak pegal? sepanjang perjalanan kamu terus makan. Entah itu kripik, coklat, ciki!"
Ayumi terhenyak sesaat, menatap Randy dengan bola mata membulat, lalu tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya.
Serakah sekali aku ini.
"Kamu mau? kok aku sampai lupa yah nawarin kamu." Ayumi terkekeh.
Gadis itu segera menyodorkan kripik kehadapan Randy, dan pria itu menyantapnya tanpa banyak berbicara.
"Dua jam kita bersama, dan kamu baru ingat sekarang!?" Sindirnya.
"Hehe, ... maaf yah! aku lupa, aku kira orang-orang kaya kamu nggak makan-makanan seperti ini! takutnya berpengaruh sama otot-otot kamu."
"Mana ada begitu." Randy menggeleng-gelengkan kepala.
"Baiklah maafkan aku." Ayumi tertawa lagi.
Pandangan Randy menatap sekitar, mencari keberadaan mobil Bus di antar Bus-bus lainnya.
"Mereka sudah sampai yah?" Ayumi kembali berbasa-basI.
Entah kenapa, dia kembali gugup. Padahal rasa itu sudah hilang sejak tadi saat Randy terus berusaha menenangkannya, tapi kini rasa itu kembali terasa, sampai membuat Ayumi sedikit gelisah juga takut.
Dan rasa yang paling mendominasi adalah malu. Akan bicara apa dia kepada bosnya itu.
"Sudah. Itu mobil mereka!"
Ucapan itu sontak membuat tubuh Ayumi menegang.
Astaga Tuhan, apa yang harus aku lakukan? memperkenalkan diri? berbasa-basi? lalu aku harus bicara apa dengan Bu Balqis! ya ampun ini sangat sulit.
Ayumi membatin.
Akhirnya mobil milik Randy benar-benar berhenti, terparkir tepat di samping mobil Raga juga satu Bus yang di tumpangi rombongan para pemain sepak bola juga Crew.
"Abang, ... aku mau pulang aja deh! Abang liburannya tanpa aku aja nggak apa-apa?"
Ayumi menahan lengan Randy, saat pria itu hendak membuka sabuk pengamannya.
Randy mengulum senyum, lalu menolak dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Ada aku, kamu ingat? tidak boleh panik. Aku yang akan menjawab jika mereka terus bertanya."
Randy menekan tombol, dan terlepaslah tali seatbeltnya.
"Ayok turun. Kita ambil tasnya nanti, sekarang cari kamar dulu, mudah-mudahan masih ada."
Randy keluar lebih dulu.
"Hemm, ... aku harap semua penginapannya penuh, agar aku bisa pulang saja."
Setelah itu Ayumi keluar, dengan perasaan yang tak menentu. Antara malu, tidak percaya diri, juga sedikit canggung. Maklum saja, yang dia hadapi bukan orang-orang biasa, tapi pemain sepak bola yang cukup terkenal di Indonesia.
Randy ngulurkan tangan, yang langsung di raih Ayumi dan keduanya saling menggenggam satu sama lain.
Suasana begitu ramai, terlihat dari beberapa kerumunan yang terlihat. Dan Randy terus mennuntun Ayumi, mencari Raga juga teman-temannya yang lain.
"I-itu Bu Balqis!"
Ayumi menunjuk seorang perempuan yang berdiri di antara kerumunan, sembari mengendong bayi laki-laki nya.
"Ayok kesana." Randy langsung menarik tangan Ayumi kearah sana, tanpa memberi sedikit kesempatan untuk kembali menetralkan perasaanya.
"Akhirnya kau datang, sobat!" Egy menyambut kedatangan Randy.
Semua orang yang berada disana seketika menoleh, menatap kearah pria yang baru saja tiba, dengan seorang gadis di sampingnya.
"Ayumi!" Balqis cukup terkejut dengan kehadiran gadis itu.
"Ibu." Ayumi tersenyum.
Begitu pun dengan Aleesa, dia yang tengah berbincang dengan beberapa temannya seketika terdiam, menatap Randy juga gadis di sampingnya dengan raut wajah datar.
"Aih, ... ternyata kamu datang bersama Randy? tidak jadi pulang?" Balqis tersenyum, dia mendekat untuk menyambut kedatangan salah satu pekerjanya.
Ayumi tersenyum canggung lalu mengangguk.
"Sudah ku duga." Gumam Raga, seolah sudah mengetahui hubungan antara Asisten juga Ayumi.
"Wah kamu sangat terlambat, setiap kamar yang ada disini sudah terisi penuh." Evan menepuk bahu Randy kencang.
Pria itu tersenyum.
Ayumi semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Dia benar-benar gugup.
"Mungkin cari di tempat lain, mudah-mudahan masih ada yang kosong." Randy menjawab.
"Kalau begitu cepatlah!" Tegas Balqis. "Jika menunggu lebih lama lagi, kalian benar-benar harus mencari hotel di luar."
"Baik. Kalau begitu saya pamit cari penginapan dulu." Pamit Randy kepada Balqis, Raga juga beberapa temannya.
Dan sekilas pandangannya menatap Aleesa, perempuan yang terus menatapnya dalam diam.
__ADS_1
"Ayok."
Randy berbalik arah, dan menarik tangan Ayumi hingga keduanya meninggalkan tempat tersebut, kearah lain kawasan pantai tersebut.