My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 40 (Obrolan)


__ADS_3

Sekitar dua puluh menit menunggu. Akhirnya Ali berada disana, duduk di salah satu sofa yang membuat dia juga Randy duduk saling berhadapan.


"Maaf jika kalian menunggu lama." Ujar Ali kepada Putri juga pria disampingnya.


Mereka mengangguk bersamaan.


"Tadi, ... siapa namanya? Bapak lupa, padahal Ayumi pernah memberi tahu lewat telfon dua hari yang lalu."


Ali trsenyum, dia menatap Randy dengan raut wajah sumringah.


"Saya Randy Danendra, Pak."


Ali tersenyum.


"Baiklah, Nak Randy. Ayumi memberitahu kamu jika hubungan kalian itu sudah sampai tahap serius? dan serius yang seperti apa yang Ayumi jelaskan, coba katakan agar saya bisa lebih mengerti."


Randy menegakan posisi duduknya, sementara dua wanita berbeda usia terus terdiam, menyimak percakapan dua pria yang sedang berlangsung itu.


"Saya sudah sangat serius, Pak Ali. Umur saya sudah tidak bisa mengajak seorang gadis bermain-main lagi, jika Ayumi sudah bersedia, dan restu Bapak-Ibu sudah saya dapatkan, saya tidak akan menunggu waktu lebih lama lagi." Ucap Randy penuh wibawa.


Mendengar itu Tutih tersenyum, dia jelas bahagia, tapi ada rasa lain di dalam hati sana, dan itu jelas membuat wanita itu takut.


Setelah ini apa? bagaimana aku harus mengatakannya? apa Ayumi masih sudi menganggap aku sebagai ibunya?


"Jangan terus melamun, Abang cuma mau mengutarakan niat baiknya, bukan mau membawa aku jauh dari Ibu, dan tidak membawa ku kembali." Ayumi terkekeh, dia menggenggam tangan Tutih.


Wanita yang terus membisu dengan raut wajah yang tidak biasa.


"Kamu serius dengan Ayumi?" Kini Tutih yang bertanya.


Dia menatap Randy lekat-lekat.


"Sangat serius." Jawab Randy tanpa ragu.


Tutih menghela nafasnya, sungguh perasaannya kini sangatlah kacau. Dia beralih menatap Ali, dan pria itu hanya tersenyum lalu menganggukan kepala, seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


"Jika serius, nanti bawalah orang tua mu menghadap kami. Dan kita bicarakan waktu yang tepat untuk niat baik mu. Niat baik jangan di tunda-tunda bukan?" Ali kembali berbicara.


"Tentu saja, ... jadi kapan saya harus membawa Ibu saja menemui kalian?"


"Ambil waktu senggang, Nak Randy saja."


"Eh tapi, ... Ayu belum menjawab, Pak! bukannya dia mau kuliah dulu?" Sergah Tutih.


Ali terkekeh pelan.


"Apa kita harus bertanya lagi Bu? sedangkan dia yang membawa kekasihnya menghadap kepada kita secara langsung?" Ali tersenyum.


Raut wajah Tutih berubah menjadi sendu, dia kembali kepada putri kecilnya yang sudah benar-benar beranjak dewasa.


Sosok bayi munggil yang seseorang berikan kepada dirinya, dalam keadaan memprihatinkan.


"Oh anak Ibu!" Langsung saja Tutih memeluk Ayumi erat, juga menghujani keningnya dengan kecupan penuh kasih sayang.


"Tapi sebelum itu. Kita harus berbicara yang lebih penting, ... tidak sekarang, mungkin Minggu depan, bersama Papanya Junior." Kini Ali menatap Ayumi.


Gadis itu menjengit, dia tampak sedikit bingung.


"Om Al?"

__ADS_1


"Iya, nanti kita atur pertemuan itu yah." Tukas Ali sambil menganggukan kepala.


"Kok Om Al sih? urusannya sama aku apa?"


Ali hanya tersenyum.


"Kalian sudah makan? bagaimana kalau kita ke dermaga, cari kerang dan ikan, nanti biar Ibu yang memasak, lalu makan bersama sebelum kalian kembali ke kota." Ali mengalihkan pembicaraan.


Dia segera bangkit dari duduknya, lalu beralih menatap Randy, sang calon menantu yang juga terlihat kebingungan.


"Eh, ... kok gitu. Bapak nggak jawab pertanyaan aku!" Cicit Ayumi. "Bu? itu Bapak suruh jawab pertanyaan aku dulu!" Pintanya.


Tutih tersenyum, dia ikut bangkit.


"Sebaiknya ayok kita cari kerang, ajak Randy agar dia tahu tempat dimana kamu di besarkan."


Ayumi mematung, menatap ketiga orang itu bergantian.


"Bu, ... Bapak?"


"Ay? ayok kita ikut Bapak sama Ibu. Kita memang sama-sama besar di daerah pesisir, tapi aku baru kali ini kesini, dan pantai disini jelas lebih indah dari pada pantai di dekat rumah ku."


Randy segera mengulurkan tangan, dan di raih dengan segera oleh Ayumi.


Kaduanya berjalan bergandengan, mengikuti kedua orang tua Ayumi yang sudah keluar rumah lebih dulu.


***


Sore hari pun tiba. Setelah membeli beberapa jenis kerang, udang dan juga ikan. Akhirnya mereka segera kembali, kedalam rumah sederhana, tapi terasa begitu nyaman.


Randy terus berbincang banyak hal dengan Ali. Duduk bersama dalam sebuah saung yang berada di belakang rumah itu, di temani rokok juga kopi hitam yang Ayumi buatkan untuk dirinya.


Meski gadis itu sedikit kesal, karena dia terus meneyesap tembakau itu.


Randy terus memperhatikan Ayumi. Gadis itu terlihat sangat serius, membantu sang ibu mengupas beberapa bawang, juga bumbu lainnya.


"Dia memang suka memasak." Jelas Ali saat melihat Randy terus menatap kearah Ayumi yang sedang berada di dalam dapur sana.


Randy menoleh, dia tertawa pelan.


"Yeah, ... sebab itu pulak saya selalu meminta Ayumi untuk memasak di rumah saya." Katanya sambil terus tertawa.


"Benarkan?"


"Yah. Saya tinggal sendiri, asisten rumah juga baru saja berhenti, beli makanan di luar bosan, dan jalan satu-satunya meminta Ayumi untuk memasakan sesuatu." Jelas Randy.


"Lalu apa yang dia masak?" Ali tampak penasaran.


"Telur dadar."


Ali cukup tersentak, dia terkejut dan merasa lucu dalam waktu yang sama.


"Telur dadar?"


Randy mengangguk.


"Padahal dia bisa memasak banyak resep. Kenapa dia hanya membuatkan mu telur dadar?" Ali tergelak.


"Entahlah, tapi itu sangat enak."

__ADS_1


Mendengar suara ayahnya tertawa, Ayumi segera menoleh, dan melihat kearah luar.


"Mereka bisa seakrab itu. Padahal baru bertemu pertama kali." Tutih berseru di sela kesibukannya, meracik sedemikian rupa sup kepala ikan yang terlihat begitu menggiurkan.


Kuah bening yang terus meletup-letup dan menghasilkan uap yang sangat banyak. Juga tambahan beberapa jenis sayuran. Seperti wortel, lobak, tomat juga cabe rawit utuh berwarna merah.


"Hemm, ... seharusnya Bapak galakin dulu, biar aku tahu sejauh mana Abang bisa berjuang." Ucap Ayumi pelan.


"Mana bisa begitu, itu bukan Bapak mu. Bapak akan seramah itu kepada siapa pun."


"Ibu benar." Ayumi tersenyum.


Tutih segera mematikan kompor, setelah merasa sup kepala ikan kakapnya matang.


"Berapa lama kalian pacaran?"


Tutih membawa satu mangkuk bening berukuran besar, lalu mulai memindahkan sup ikan tadi.


"Aku nggak hitung, lupa." Jawab Ayumi singkat.


Dia membawa irisan bawang-bawangan itu mendekat kearah meja kompor.


"Kamu benar-benar mau menikah?"


Ayumi mengangguk.


"Sepertinya, aku sudah lelah bekerja. Jadi mau menikamti uang suami ku saja nantinya." Ayumi tertawa.


Dia merasa konyol saat mengatakan itu.


Suami?


Ayumi tersenyum-senyum sendiri.


Dan tentu saja Tutih menyadari itu.


"Sudah sana temani mereka. Udang saus manisnya biar Ibu yang selesaikan." Tutih terkekeh pelan.


"Hah? tapi aku masih harus rebus kerang."


"Sudah sana!"


"Tapi ..."


"Siapkan piring juga nasinya, bawa kesana. Masakannya sebentar lagi siap."


Ayumi pun mengangguk.


"Kalian tidak menginap bukan?"


"Tidak, kami harus kembali ke pantai Ujung Karang. Bos kami menunggu disana."


Ayumi membawa beberapa piring, dan memeriksakan nasi yang saat ini masih berada di dalam rice cooker.


"Baiklah, bawa semuanya ke bale-bale yah."


"Iya Bu."


Ayumi segera beranjak, membawa piring dan semangkuk sup kepala ikan itu terlebih dulu.

__ADS_1


"Butuh bantuan?" Tawar Randy.


"Tidak usah, biar aku saja." Sahut Ayumi sambil tersenyum.


__ADS_2