
Ali meletakan ponselnya di atas sofa, yang diduduki pria itu saat ini, setelah sambungan telepon dari Ayumi terputus. Helaan nafas terdengar begitu kencang, kemudian dia menoleh ke arah samping, dimana Tutih berada duduk di sampingnya dengan perasaan harap-harap cemas.
"Ayumi akan pulang, … bersama Randy juga Ibunya yang kan ikut berkunjung kesini." Jelas Ali kepada istrinya.
Tutih mengangguk, dia tampak mengembangkan senyum.
"Tapi masalahnya Amar ada disini sekarang! Apa itu akan mempengaruhi Ayumi? Sementara dia belum benar-benar pulih?" Ali terlihat sedikit khawatir, apalagi saat Alvaro mengabari keadaan putrinya saat ini, membuat dia takut jika Amar akan terus berbuat buruk, dan membuat keadaan Ayumi semakin tidak baik.
Wanita itu menoleh ke arah kamar Ayumi, dimana Amar berada disana, dan menghuni kamar itu selama berhari-hari, setelah Tutih dan Ali menjelaskan jika Ayumi sudah mengetahui semua rahasia yang mereka simpan rapat-rapat.
"Bapak tidak senang Amar pulang?" Tutih berbisik.
Ali menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa ruang tamu.
"Tidak ada orang tua yang tidak senang saat anak mereka kembali. Hanya saja apakah Amar akan membuat kegaduhan, atau tidak. Bapak hanya khawati dengan setiap perlakuan Amar kepada Ayumi, … mungkin penyebabnya tidak hanya dia, namun semua kejadian itu membuat Ayumi mengalami penyakit mental seperti sekarang, dia tidak akan bisa mengontrol emosinya sebaik dulu." Pria itu menjelaskan.
"Ayumi jadi tempramen sekarang? Sama seperti Abangnya?"
Ali tersenyum, lalu menggelengkan kepala.
"Mungkin jika dia bisa marah. Maka dia akan marah sejak dulu, tapi Ayumi tidak begitu, dia terlalu banyak memendam segala masalah dan rasa sakit sendirian."
"Lalu dampaknya apa?"
"Ayumi bisa merasa mengkhawatirkan sesuatu dengan sedikit berlebihan, cemas atau rasa takut yang cukup kuat, … dan itu bisa membuat Ayumi melakukan hal yang sangat buruk." Ali menerangkan sesuatu yang dia ingat, saat beberapa waktu lalu Alvaro menjelaskannya.
Sementara Tutih diam, dia belum mengerti.
"Bukannya setiap orang akan merasa cemas? Khawatir dan takut? Tapi apa bedanya dengan Ayumi?"
"Tentu berbeda. Cemas yang pernah Ibu rasakan, tidak separah yang anak kita alami."
"Begitu?"
"Ya, memang agak sulit menjelaskan ini. Tapi kita harus berusaha mengerti."
Tutih pun menganggukan kepala, kemudian dia segera berdiri, setelah duduk bersama suaminya cukup lama, untuk mendengarkan Ayumi berbicara dan memberi kabar dia akan pulang membawa calon suami juga ibu mertuanya untuk menemui mereka.
"Ibu akan bersiap-siap, tidak mungkin tamu datang dan kita tidak mempunyai hidangan apapun."
"Ada yang harus Bapak beli?"
Tutih mengangguk.
"Sepertinya harus beli air minum kemasan, tidak mungkin kita memberi minum calon ibu mertua Ayumi dengan air sumur yang selalu terlihat sedikit kruh." Katanya yang langsung mendapat anggukan dari suaminya.
***
"Cukup jauh juga yah!" Maria terkekeh, seraya membungkuk dan memegangi lututnya.
Ayumi yang berjalan di depan berhenti, kemudian menoleh, melihat sang calon mertua yang kini tampak sedikit kelelahan, sementara Randy, peria itu hanya tersenyum di belakang sana.
"Sedikit lagi!" Randy meraih tangan Maria, sampai wanita itu kembali menegakan tubuhnya.
"Abang sih! Aku bilang juga apa! Bayar ojek aja untuk Ibu, kasiankan jadi cape."
"Lutut Ibu yang mulai bermasalah, Ay! Tidak bisa di pakai jalan sedikit jauh, … sudah pasti terasa ngilu." Maria tertawa lagi.
Mendengar itu Ayumi hanya tersenyum.
"Itu rumah Bapak dan Ibu, … sebentar lagi sampai. Atau Ibu mau Abang gendong?" Kata Ayumi.
Maria menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, dia lambat."
Maria meraih tangan Ayumi, lalu berjalan beriringan, meninggalkan Randy yang masih berdiri di tempat yang sama dengan raut wajah masam.
__ADS_1
Bagaimana tidak, dia terus dijadikan bahan lelucon oleh dua wanita berbeda usia di hadapannya.
Dan setelah berjalan menyusuri jalan setapak sekitar kurang lebih lima belas menit, akhirnya mereka sampai, di depan rumah kedua orang tua Ayumi yang pintunya terbuka dengan sangat lebar, untuk menyambut kedatangan mereka.
Tok tok tok!
Ayumi mengetuk pintu rumahnya, segera masuk dan mempersilahkan dua tamu istimewa, yang langsung disambut hangat Tutih.
Wanita itu berlari dari arah belakang, memeluk Ayumi dan mempersilahkan Maria juga Randy duduk di sofa yang tersedia.
"Maaf kami datang terlalu sore." Ucap Maria setelah saling memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri.
"Tidak apa-apa, suasana disini lebih enak sore, selain lebih sejuk, pemandangannya juga lebih bagus." Tutih menimpali, dengan senyum ramahnya.
"Ya, pemandangan disini memang terlihat lebih indah." Tutur Maria.
Tutih mengangguk.
"Bu? Bapak ada? Sepertinya kita harus berbicara lagi. Dan kali ini lebih serius dari pada obrolan kita sebelumnya." Kata Randy.
"Ada, Ibu panggilkan dulu." Wanita itu tersenyum,dan segera beranjak pergi.
***
Tutih berlari dari arah dalam, berjalan menuju bale-bale belakang rumah, dimana Ali juga Amar duduk dan berbincang-bincang di sana.
"Ayo masuk, mereka sudah sampai." Dia berseru.
Pandangan Ali beralih pada Amar, menatap cukup lama seolah meminta sesuatu kepada anak laki-lakinya.
"Masuklah, aku disini saja. Anak kalian mau menikah, dan hanya membutuhkan restu kalian, lagi pula aku malas berbasa-basi dengan siapapun." Ucap Amara dengan ekspresi wajah dingin.
Tak ada raut wajah bahagia, pria itu benar-benar acuh dengan semua hal yang bersangkutan dengan adik angkatnya.
"Sebenci itu kamu?" Tanya Tutih dengan suara lirih.
"Bahkan sampai sekarang? Saat semuanya sudah terbuka, dan Ayumi mengetahui jika dia bukan bagian dari keluarga kita? Tapi lihatlah! Bahkan dia masih meminta restu kepada kita, setelah rahasia itu terungkap. Katakan apa yang membuat Ayumi selalu salah di matamu, Amar!" Sambungnya lagi.
"Sudah Amara jelaskan, tidak ada urusan dengan siapapun disini. Pergi dan temuilah calon menantu kebanggaan kalian, aku akan kembali nanti malam, setelah mereka tidak ada."
Amar segera bergeser, turun dari tempat itu, lalu pergi menjauh dari sana. Sementara Ali dan Tutih, menatap punggung Amar dengan perasaan berkecamuk.
"Sudahlah, kita temui Ayumi sekarang, jangan membuatnya sedih." Ali tersenyum kepada istrinya, yang saat ini terlihat sedikit kecewa.
"Tapi Amar?"
"Biarkan begitu, daripada dia mengacaukan semuanya."
***
Dan disanalah mereka, berkumpul di ruang tamu rumah sederhana itu.
Untuk beberapa saat suasana begitu hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, atau mungkin berusaha membuang kegugupan yang mulai terasa.
"Emmm, … biar saya mulai terlebih dulu." Maria menatap Ali dan Tutih bergantian.
Ali tersenyum, mengangguk untuk mempersilahkan.
"Saya tidak mau berbasa-basi lagi, toh Randy sudah menemui Bapak dan Ibu terlebih dulu sebelum mengatakan ini kepada saya." Maria tersenyum. "Saya ingin meminang Ayumi untuk menjadi menantu saja, menjadi istri dari Randy Danendra, putra semata wayang saya. Apa Bapak dan Ibu mau menerima pinangan kami?"
"Untuk hal ini, sepertinya kita sudah sama-sama tahu. Jika ikatan keduanya sudah sama-sama kuat, bahkan mungkin tidak bisa kita pisahkan lagi!" Ali terkekeh.
"Dengan senang hati kami menerima pinangan Ibu juga Nak Randy, … hanya saja harus ada yang kami bicarakan." Tutih mulai bersuara.
Maria diam mendengarkan.
"Apa Ibu tidak keberatan? Jika …"
__ADS_1
"Saya sudah dengar, Randy juga sudah mengatakan. Dan itu bukan masalah untuk saya." Maria memotong ucapan calon besannya.
Seketika senyuman penuh kelegaan terpancar jelas di bibir kedua orang tua Ayumi. Namun gadis itu hanya diam, bahkan sesekali menunduk, dan mengusap kedua sudut matanya.
"Syukurlah kalau begitu." Tutih merasa lega.
"Untuk semua persiapan, sudah Randy urus. Bapak dan Ibu-ibu hanya tinggal diam dan duduk manis." Pria itu tersenyum.
Ali mengangguk lagi.
"Kalian sudah berbicara tentang hal ini? Maksudnya berunding tentang tanggal atau menentukan waktu yang tepat?"
Ali menatap Ayumi juga Randy bergantian.
Ayumi menjawab dengan gelengan kepala, sementara Randy menundukan pandangan, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk ia jadikan jawaban kepada ayah dari calon istrinya.
"Saya ingin bertanya kepada Bapak!" Kata Randy.
"Ya, tanyakan saja. Dengan senang hati pria tua ini akan menjawab, … itu pun kalau bisa."
Semua orang tertawa, tak terkecuali Randy yang mulai terlihat sangat gugup. Dan ini kali pertama dia merasakan hal seperti ini, meski sudah puluhan, bahkan ratusan kali menemui para kolega, hanya Ali lah yang mampu membuat perasaannya campur aduk.
"Saya pernah dengar jika niat baik tidak boleh ditunda-tunda. Apa benar begitu?"
Ali mengangguk.
"Ya, niat baik memang harus disegerakan." Tukas Ali.
Randy terdiam beberapa detik, menghirup dan menghembuskan nafasnya beberapa kali.
"Baik, kalau begitu saya tidak mau menunda niat baik itu." Kata Randy tanpa merasa ragu sedikit pun.
Mereka semua saling beradu pandang, menatap satu sama lain.
"Maksudnya bagaimana?" Maria bertanya.
"Sambil menunggu saya mempersiapkan semuanya. Bagaimana jika saya menikahi Ayumi dulu? Mungkin Minggu depan pestanya baru bisa kita laksanakan." Ucapan itu lolos begitu saja, hingga membuat Ayumi membelalakkan mata.
"Memangnya bisa?" Tutih bertanya.
"Saya usahakan."
"Baiklah kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo segera hubungi penghulu juga wali hakim untuk Ayumi." Ali terlihat sangat bersemangat.
"Hah? Tapi …" Ayumi terlihat panik.
Ali segera bangkit, menatap ke arah pria yang kini duduk di samping Ayumi, seolah memberi isyarat mereka harus segera pergi untuk mengurus segala sesuatu yang serba dadakan itu.
Niat awal yang hanya mempertemukan kedua orang tua mereka, kini berujung pada pernikahan sederhana, sebelum pesta pernikahan dilangsungkan.
Apa harus secepat ini?
Batin Ayumi berbicara.
"Sudah, tidak akan terjadi apa-apa! Kenapa panik begini?" Tutih terkekeh pelan, dengan pelupuk mata yang mulai mengeluarkan air.
"Tapi bagaimana bisa, Bu?"
"Bisa, Randy bisa mengaturnya … hanya untuk seorang gadis yang sangat dia cintai." Maria menimpali.
"Astaga, putri ku akan menikah sore ini."
Ayumi diam, dia mulai menangis, saat melihat Tutih berderai air mata.
"Ya, anak kita akan menikah."
Dan dua wanita paruh baya itu memeluk tubuh Ayumi, yang saat ini terdiam menatap ke arah luar, dengan pikiran yang berkelana entah kemana.
__ADS_1