
Dan setelah pergi meninggalkan rumah berbulan-bulan lamanya. Dia kembali, saat sang ayah menemukannya di salah satu tempat kost yang Laras sewa, pria tua itu memohon untuk segera kembali.
Awalnya semua berjalan seperti biasa. Tidak ada yang aneh, terutama dari sikap sang ibu yang awalnya ingin membunuh Bayinya, justru kini berubah menjadi sosok yang begitu sangat perhatian.
Dia memperhatikan semua kebutuhannya, dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bahkan makanan apapun yang dia idamkan selalu ibunya turuti tanpa merasa terbebani.
Laras yang awalnya merasa takut, dan tidak percaya kepada siapapun. Akhirnya mulai membuka diri, termasuk kepada pria yang hampir menikahinya, namun batal setelah Bayu mengetahui jika Laras tengah mengandung benih dari pria lain.
Hubungan yang sempat memanas dan renggang, akhirnya membaik, meski Laras menolak adanya ikatan seperti sebelumnya, gadis itu kini hanya ingin fokus dengan kehidupannya sekarang, kepada bayi yang sedang tumbuh di dalam rahimnya, walaupun gunjingan terus orang-orang berikan, tapi dia berusaha menutup telinga.
Setelah 9 mengandung, hal yang tidak di sangka-sangka pun terjadi. Alex juga Nurma kembali dari Jerman sana, setelah berbulan-bulan tak memberikan kabar apapun, karena waktu itu alat komunikasi belum secanggih sekarang.
Desakan itu kembali Laras rasakan, kali ini bahkan lebih keras. Tentu saja, saudara mana yang tidak menyayangkan kejadia itu terjadi, selain menjadi aib keluarga, Nurma juga sangat menyayangi adik perempuan satu-satunya.
"Laras? Ayo jujur, aku tidak akan memarahimu, setidaknya kita bisa mencari keberadaan ayah dari anak itu." Nurma masih berusaha untuk membuat Laras membuka suara.
Namun gadis itu tetap bungkam. Apalagi saat Alex selalu menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di jabarkan oleh kata-kata, membuat Laras semakin takut jika dia akan menghancurkan rumah tangga yang baru saja di jalani sang Kaka perempuan.
Laras terus menutup mulutnya rapat-rapat, bukan ingin menutupi kebusukan Alex, hanya saja dia ingin rumah tangga Nurma dan suaminya tetap baik-baik saja. Namun Alex justru membuka rahasia yang sudah dia tutupi selama ini tanpa merasa terbebani sedikitpun. Dia mengatakan semuanya kepada Nurma juga kepada ayah dan ibunya, membuat semua orang semakin tenggelam dalam lautan emosi.
Cacian, makian, teriak, bahkan pukulan Laras terima dari Nurma. Sementara Alex tak bisa berbuat apa-apa, satu langkah saja mendekat dan berusaha melindungi, Nurma memberinya ancaman akan mengakhiri hidupnya.
"Buang Bayi itu, … dia adalah aib buruk keluarga! Bagaimana bisa? Seorang gadis mengandung anak dari Kaka iparnya sendiri." Nurma mencengkram rahang Laras dengan sangat kencang.
Membuat gadis itu meringis menahan sakit, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain menerima kemarahan Kakanya, dan yang paling menyedihkan adalah, saat mereka melihat Laras sudah tak berdaya, tapi kedua orang tuanya hanya terdiam.
"Bu! Aku tidak mau melihat bayi ini ada, setelah dia lahir, buang saja ke panti asuhan, … atau berikan kepada orang-orang yang ingin mempunyai anak, dia pembawa sial."
"Jangan!" Laras menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Nurma penuh permohonan.
Nurma melepaskan cengkraman itu, sedikit mendorongnya kencang sampai membuat tubuh Laras hampir saja terjerembab ke belakang, dan untungnya Alex datang untuk menahan.
Bagaimana pun Laras adalah gadis yang sangat dia cintai, dan dia menerima segala kesusahan hanya karena keegoisannya.
"Nurma! Aku tahu kamu marah. Tapi jangan seperti ini, dia adik kandung mu sendiri." Sentak Alex dalam bahasa Inggris.
(Kenapa nggak di tulis bahasa Inggris Thor?)
Entah, othor mau nulis pake bahasa tercinta :)
"Kita baik-baik saja, Alex! Sebelum dia bermain api denganmu."
"Yang salah tidak hanya dia, tapi aku juga!" Alex membatu Laras yang hendak bangun.
"Hah!" Laras memekik kencang, pandangannya tertunduk kebawah saat merasakan sesuatu keluar deras dari inti tubuhnya, mengaliri paha dan terus turun kebawah sampai air itu mengegnang di atas lantai.
Wanita paruh baya itu langsung bangkit, dia panik dengan mata membelalak sempurna.
"Air ketuban mu pecah, Laras?!"
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti, yang dia tahu hanya rasa mulas yang mulai menjalar hingga pinggang pun terasa begitu panas.
"Ibu panggilkan Bidan dulu!" Dia langsung menghambur ke arah luar, berlari sekencang mungkin.
__ADS_1
Bagaimana pun Laras adalah putrinya, sebesar apapun kesalahan yang Laras buat, dia tetap mengasihi gadis itu sebagaimana mestinya.
Dua pria berbeda usia itu membantu membawa Laras sampai masuk kedalam kamarnya, sementara Nurma mematung dengan perasaan yang semakin berkecamuk.
Bagaimana bisa? Mereka yang menikah, namun justru Laras yang mengandung anak dari suaminya, sedangkan dia masih tetap seperti ini, meski menikah sudah berbulan-bulan lamanya tanda-tanda kehamilan belum juga terlihat.
"Ah, … sakit!" Teriak Laras saat Bidan memeriksakan bukaan lahirnya.
"Laras? Apa kamu menahan ini sejak seharian ini? Atau memang benar-benar tidak terasa?" Bidan itu menatap Laras yang sudah terlihat berantakan.
Laras tidak menjawab, dia hanya meringis saat rasa mulai terus terasa semakin intens.
"Bagaimana Bu Bidan?" Ibu Laras bertanya.
"Sudah bukaan 7, kenapa tidak memberi tahu dari awal. Dia sudah kehabisan tenaga, saya harus memasang infus di tangannya sekarang juga, atau ke adaan Laras akan semakin memburuk."
"Lakukan yang terbaik, selamatkan Laras juga Bayinya." Sang ayah menimpali, dengan raut wajah penuh ketakutan.
Bidan tersebut mengangguk, lalu mulai melakukan apa yang harus dia lakukan.
Dentik jarum jam terus berputar, menit demi menit berlalu, dan setelah beberapa jam lamanya, akhirnya Laras benar-benar siap untuk melahirkan.
Suara arahan dari Bidan terus terdengar, bersahutan dengan suara dua orang tua yang menyemangati, dan geraman Laras saat menahan rasa sakit.
Sementara dua orang yang menunggu di luar kamar saling diam. Nurma dengan kegundahan dan rasa marahnya yang semakin kentara, juga Alex yang tampak berdoa memohon yang terbaik untuk bayi juga Laras yang saat ini sedang berjuang.
Dan tidak lama setelah itu suara teriakan bayi jelas terdengar, memenuhi rumah itu pada hampir malam hari.
Sementara Laras langsung ambruk karena kehabisan tenaga.
"Jangan!" Tegas Nurma, dengan sorot mata tak sukanya.
"Aku hanya ingin melihat."
"Menjauh atau aku akan benar-benar membuang bayi itu, … atau aku bunuh saja agar kalian juga merasakan bagaiaman hancurnya hatiku?" Geram Nurma pelan.
Kemarahannya jelas semakin tersulut. Apalagi saat Alex memperlihatkan cinta kasihnya kepada perempuan lain, yaitu adiknya sendiri.
"Kau gila! Dia bayi tidak berdosa. Yang salah aku, yang berengsek aku, berhenti menyalahkan Laras juga Bayinya."
"Sekarang kamu membela dia?"
"Tidak memang ini salahku."
Nurma menggelengkan kepala.
"Aku mempunyai dua pilihan untukmu. Tetap bersamaku maka bayi itu akan aman bersama Laras, atau mengakui bayi itu, tapi Laras akan kehilangan Bayinya … aku tidak main-main Alex!"
"Kau gila!"
"Memang, dan ini karena kau."
Alex tidak menjawab.
__ADS_1
"Silahkan temui mereka, dan tanpa kalian tahu aku akan membuang anak itu."
"Nurma. Apa kau tidak tahu? Jika darah lebih kental dari pada air? Sekeras apapun kamu berusaha memisahkan kami, Bayi yang Laras lahirkan tetap anakku."
"Ya ya ya, kita lihat saja nanti."
Nurma segera pergi, memasuki kamarnya, membanting pintu tersebut sangat kencang, sampai membuat Alex dan orang-orang di dalam kamar cukup terkejut.
***
Laras mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menarik kesadaran setelah menghilang seusai dia melahirkan Bayinya.
Suasana hening, dia meneliti sekitar.
"Ayah? Ibu?" Panggil Laras saat tidak mendapati siapapun di dalam kamarnya.
Hening.
Lalu pandangannya beralih pada jam, yang terlihat sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Ibu?" Dia bangkit, dengan rasa pening dan sakit yang begitu mendominasi.
Deg!!
Hatinya tiba-tiba saja bergemuruh, saat dia mengingat setiap ucapan Nurma beberapa saat sebelum dia melahirkan, dan pikirannya semakin kacau saat dia tidak mendapati Bayi yang baru dia lahirkan tidak ada bersamanya.
Dia memaksakan berdiri, meraih gagang pintu untuk keluar. Dan betapa terkejutnya dia tidak mendapati siapapun disana.
Entah itu orang tuanya, Alex, Nurma atau bahkan Bidan yang membantu persalinannya tadi.
Setidaknya itu yang dia ingat.
"Bu? Ayah? Ka Nurma?" Suaranya terdengar sangat lemah.
Dengan susah payah Laras memeriksakan keadaan rumahnya yang benar-benar sepi bak tak berpenghuni.
"Anakku!" Laras mulai menangis.
"Kalian bawa kemana anakku!"
"Ini dosaku. Setidaknya jika ingin membuang dia, maka buanglah aku bersamanya, dia membutuhkan aku." Laras kembali berjalan memasuki kamarnya.
Dia melihat hanya ada beberapa obat dengan resep yang sudah di anjurkan, selain itu tidak ada apapun lagi.
Sepertinya mereka semua bekerja sama untuk membuang anaknya.
Bayi yang 9 bulan berada dalam kandungannya, kini menghilang tanpa dia lihat, atau bahkan hanya sekedar mengetahui jenis kelaminnya.
~Dan setelah itu semuanya menghilang tanpa berpamitan. Ibu, Ayah, Ka Nurma, dan Alex pergi meninggalkan aku sendiri, dengan keadaan tak berdaya. Bahkan Bidan yang aku tahu sangat baik pun tidak lagi ada di rumahnya, mereka benar-benar pergi tanpa aku, dan memisahkan aku juga anakku. Sekarang aku hidup sendiri, beruaha kuat dalam segala badai, berharap Tuhan akan berbaik hati, mempertemukan aku dan anakku~
~Dan untuk anak Mama. Maaf Mama tidak bisa menjagamu, tidak bisa menjaga saat mereka membawamu, entah itu dalam keadaan bagaimana. Apa kamu baik-baik saja? Atau kamu sudah kembali kepada Tuhan? Mama tidak tahu harus bagaimana? Mama hilang arah. Mama menulis novel ini tidak untuk memberitahu bahwa keluarga Mama berbuat buruk, Mama hanya ingin mempunyai sedikit kenang-kenangan, Mama hanya ingin tetap bisa mengingatmu, meski terkadang situasinya begitu sulit~
~Mama tidak tahu harus menyebut kamu apa? Cantik? Atau tampan? Yang pasti jika kamu memang masih ada, Mama harapan kamu hidup dengan keluarga yang sangat baik, menyayangimu sepenuh hati~
__ADS_1
I love you too the moon and back, my little love.