
"Kita mau kemana?"
Tanya Ayumi saat Randy melajukan mobil ke arah yang berbeda.
"Grand Lucky." Pria itu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang sedikit padat di arah depan, dimana kendaraan lain ikut mengantri, melaju dengan kecepatan rendah.
"Kenapa kesana? Bukannya kita mau pulang? Atau kita bisa mampir ke rumah Ibu atau Mama saja!" Ayumi mengubah posisi duduknya menghadap sang suami.
"Ini juga pulang, kita punya unit di sana." Jelas Randy, sekilas menoleh, kemudian tersenyum.
Ayumi terdiam dengan ekspresi bingung.
Setelah itu ke adaan di sama mobil sana menjadi hening. Hanya terdengar alunan musik dengan volume pelan.
Ayumi menatap Randy yang terus fokus pada jalanan yang cukup padat di depannya. Sesekali pria itu memegangi sudut bibir yang terlihat memar, juga terdapat bekas darah yang sudah mulai berhenti bercucuran, setelah cukup lama Ayumi membantunya mengompres dengan es batu yang Ayumi minta pada salah satu pedagang es keliling ketika mereka sengaja berhenti di tengah jalan saat Randy mengeluhkan sudut bibirnya terasa begitu ngilu.
"Jangan menatapku seperti itu. Atau aku tidak bisa fokus, rasanya aku ingin menatapmu saja dari pada menatap jalanan macet di depan sana, itu sangat membuatku pusing." Kata Randy tanpa mengalihkan pandangan.
"Astaga! Kamu ini sedang terluka, tapi masih bisa menggombal seperti ini."
"Ahh, … ini biasa untuk kami para laki-laki!" Randy mengusap puncak kepala Ayumi. "Jadi jangan khawatir, hanya sobek sedikit, bukan patah tulang atau semacamnya." Sambung Randy kembali.
"Lain kali jangan begitu, aku takut Bang Amar akan melukaimu. Aku takut, … atau mungkin Dedek Bayi nya yang takut Papa dia terluka." Senyum Ayumi tertahan.
Kini Randy menoleh, dia tersenyum dengan tangan kiri yang dia ulurkan untuk menyentuh perut istrinya.
"Papa? Kamu sudah memanggilku Papa?" Pria itu tersenyum.
Perasaannya begitu bahagia, hatinya terasa merekah persis seperti bunga yang baru saja bermekaran, saat mendengar Ayumi memanggilnya dengan sebutan itu.
"Kenapa? Mau di panggil Papi? Daddy? Ayah? Atau Abah?" Ayumi tertawa.
"Apapun itu, biarkan anak kita yang menentukan." Tukas Randy.
"Ah kamu manis sekali." Kata Ayumi, dia merasakan kebahagiaan yang sama.
Bahkan keduanya tampak melupakan kejadian beberapa saat lalu, yang begitu tegang karena adu jotos yang dilakukan Amar juga Randy yang Ayumi tidak ketahui akar masalahnya apa, kenapa pria itu tiba-tiba berbuat seperti demikian.
Dan setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama. Akhirnya mobil yang Randy kemudikan memasuki kawasan apartemen mewah.
__ADS_1
Ya, tentu saja Ayumi mengetahuinya, dulu dia hanya berangan-angan dapat memasuki kawasan serba mewah ini, tapi hari ini dia benar-benar akan menginjakan kakinya, dengan pria yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Mobil Randy segera berhenti, mereka turun dan berjalan bersama-sama melewati pintu lobi yang dijaga dua orang security disana.
Dua pria bertubuh tinggi besar itu tersenyum, menganggukan kepala, dan menyapa Randy, sosok yang mungkin mereka temui beberapa kali, atau bahkan sering.
"Abang nggak pernah bilang punya unit disini!" Kata Ayumi saat keduanya melangkah memasuki pintu lift yang terbuka.
"Aku pun lupa jika memiliki unit disini." Randy terkekeh.
Ayumi hanya mengangguk, kemudian dia terdiam, menunggu lift itu segera berhenti, setelah Randy menekan tombol angka sepuluh.
Ting!
Setelah beberapa detik berada di dalam sana, akhirnya pintu besi itu perlahan terbuka, dan dengan segera Randy menarik tangan Ayumi, berjalan menyusuri lorong yang begitu sepi, lalu berhenti di hadapan salah satu pintu.
Randy terlihat menekan beberapa kode, tidak lama setelah itu dia maju dan membuka pintunya, mempersilahkan Ayumi untuk segera masuk lebih dulu.
Pandangan Ayumi mengedar, menatap sekeliling ruangan yang tampak temaram, saat sebuah gorden tebal membentang menutupi kata ruangan itu.
"Selamat datang di rumah sayang." Randy seolah menyambut kedatangan Ayumi, sembari menarik gorden tebal berwarna abu-abu tua ke arah sudut.
Ayumi tersenyum, dia segera duduk di sofa ruang tengah yang tersedia. Perempuan itu terlihat sedikit terkesima, saat mampu menatap pemandangan lebih jauh dari atas ketinggian.
Jalanan yang terlihat padat, rumah-rumah warga, juga pantai dan lautan yang membentang begitu luas.
Randy datang mendekat, duduk di samping Ayumi, lalu meraih pipi istrinya.
"Apa kamu baik-baik saja? Aku sempat takut keadaanmu memburuk setelah Amar mengatakan hal buruk." Pria itu terlihat sangat ketakutan.
Ayumi membalas tatapan suaminya. Bagaimana bisa, dia yang terluka justru malah menanyakan keadaannya.
"Aku tidak apa-apa, … hanya saja aku masih bingung! Kenapa Bang Amar selalu seperti itu, aku kira sudah berubah setelah lama tidak bertemu denganku, nyatanya tidak." Ayumi tersenyum getir, dengan perasaan dan hati yang perih.
"Apa lukanya mau aku kompres lagi?" Ayumi menatap luka robek di sudut bibir suaminya, dan mencoba menyentuhnya perlahan.
Randy tersenyum.
"Tidak usah. Kita istirahat saja, nanti malam kita langsung pulang, dan besok kita periksakan Dedek Bayi nya." Dia kembali menyentuh perut istrinya.
__ADS_1
Hal baru yang sangat Randy sukai.
Ayumi merangsek lebih mendekat, dan seperti biasa dia memeluk suaminya, mencari posisi yang begitu dia sukai akhir-akhir ini, mengendus setiap lekuk tubuh Randy tanpa merasa puas sama sekali.
***
"Kerja nggak ada Ayumi kurang asik yah!" Una menatap Aira dengan raut sendu.
"Apalagi sekarang jadi jarang ketemu, dia benar-benar sibuk menjadi ibu rumah tangga." Sambung Una lagi, dia benar-benar merasa kehilangan sosok sahabat.
Mereka berjalan menyusuri trotoar pada sore hari ini setelah beberapa menit lalu jam pulang kerja telah tiba.
"Ayumi sudah hidup senang, Na. Dia dijadikan Ratu oleh laki-laki yang tepat!" Aira tersenyum, kakinya terus melangkah, bahkan tak jarang dia menendang batu kecil di hadapannya.
"Memang kita ini tidak bisa menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Lihat Pak Randy! Dia terlihat galak, sorot matanya selalu memperhatikan ketidak sukaan, bertato pula, tapi lihat saat dia bersama Ayumi? Dia berubah menjadi pria yang sangat manis." Kata Aira lagi.
Tiba-tiba saja dia menahan senyum, menundukan kepala saat halusinasinya kembali berputar-putar di dalam isi kepala. Dimana dia membayangkan dinikahi oleh seorang pria mapan, dan tampan.
Plak!
Una memukul pundak Aira kencang, bahkan saking kencangnya membuat lamunannya buyar begitu saja.
"Ciaelah, ngehalu nih! Dinikahin sama Ayank Egy." Ledek Una.
"Biarin, bahagia gue kan nggak rugiin lu Na! Lagian gua aneh, lu normal nggak yah? Kok nggak pernah gosipin cowok yang lu suka sih!"
"Gue mah tahu diri, Ra. Siapa yang mau sama OG kaya gue, … kalau Ayumi walau pun OG dia cantik, lah gua! Jadi gue nggak mau berharap apa-apa sama laki-laki, sekarang fokus kerja buat nyekolahin Adek gue dulu, Ra!"
"Jangan patah semangat Una. Pelan-pelan kita sisihib gaji, kita urus diri kita sampai bisa dapet om-om kaya raya seperti Ayumi, hidup kedepannya nggak ada yang tahu."
Aira menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Mereka saling menatap dan berbalas senyum, berusaha menyemangati satu sama lain, disaat hidup yang semakin terasa berat setiap harinya.
"Teman kita sudah berhasil mendapatkan Om-om kaya raya, sekarang tinggal kita." Una membalas kekonyolan sahabatnya.
Dua gadis itu terus berjalan, saling merangkul.
"Pak Randy mag umur doang yang tua, mukanya masih muda banget." Bisik Una.
Sementara Aira hanya terus tertawa.
__ADS_1