My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 139 (Mulai mencari)


__ADS_3

Randy keluar dari dalam kamar mandi kamarnya. Setelah dua puluh menit menghabiskan waktu untuk membersihkan diri, berbalut handuk yang menutupi setengah badannya, dan rambut basah meneteskan banyak air.


Pandangan Randy seketika tertuju pada Ayumi yang tengah duduk di sofa kamar. Membiarkan rambut panjangnya tersapu angin pagi hari yang begitu menyegarkan. Namun pria itu sedikit terheran-heran, ketika Ayumi terus mengotak-atik layar ponsel sampai tidak menyadari keberadaannya saat ini.


"Banyak banget!" Perempuan itu menggerutu, dengan ekspresi wajah kesal.


Randy diam sebentar, memperhatikan gerak-gerik istrinya yang terasa sedikit mencurigakan.


"Valter Albert Baldomero."


"Albert Baldomero Valter."


"Valter, … Valter … Al …"


Ayumi terus berbicara sendiri.


"Sedang mencari siapa? Sampai kamu fokus begitu dan menghiraukan keberadaan aku!" Celetuk Randy.


Perempuan itu menoleh.


Pandangan Ayumi langsung tertuju ke arah suara terdengar. Dan disanalah Randy, berjalan mendekati lemari pakaian dengan raut wajah masamnya.


"Eh, kamu sudah selesai mandi?" Ayumi panik.


Dia segera meletakan ponselnya, lalu bangkit dan berjalan mendekati Randy. Pria yang mulai memilah pakaian kerjanya.


"Aku lupa mau siapin baju kamu, maaf." Ayumi tersenyum, tapi Randy tak membalasnya seperti biasa, pria itu justru mendelik, seolah memperlihatkan ketidak sukaannya.


Randy meraih kemeja hitam, juga celana bahan berwarna senada, menjinjing hanger dan meletakan pakaian itu di atas tempat tidur.


"Sayang?" Ayumi mulai merasa tidak enak hati. Karena kesibukannya mencari tahu siapa ayahnya, membuat dia melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


Randy bungkam, dia melenggang ke arah lemari satunya lagi, mengambil boxer juga dasi yang tertata rapi disana.


"Sana. Aku bisa sendiri, selesaikan saja semua urusanmu, seperti kamu sangat sibuk akhir-akhir ini!" Ucap Randy sembari memakai pakaiannya satu-persatu.


"Aku tidak sedang sibuk."


Ayumi meraih celana juga kemeja suaminya, lalu memberikan kepada Randy dengan segera. Tak lupa Ayumi memasangkan kancing, berusaha meredakan kekesalan Randy yang selalu muncul tiba-tiba bahkan hanya karena kesalahan kecil saja.


Randy memperhatikan dalam diam, bahkan pandangannya sedikit menunduk untuk memperhatikan Ayumi yang tengah fokus memasangkan dasi untuk dirinya. Sesekali mata Ayumi melirik, tapi dia tidak banyak berbicara, Ayumi hanya tersenyum ketika gugup mulai menguasai diri.


"Ada yang kamu sembunyikan?" Akhirnya Randy berbicara.


Rasanya tidak tahan mendiamkan Ayumi begitu saja.


"Tidak ada, aku hanya sedang mencari." Jawab Ayumi, dia mengusap bahu suaminya. "Sudah, kamu sudah siap. Sebaiknya ayo sarapan, atau nanti kamu kesiangan!" Ayumi tersenyum.


Kening Randy berkerut.


"Siapa yang kamu cari?"

__ADS_1


Pandangan Ayumi menengadah, menatap pria tinggi di hadapannya.


"Valter. Mantannya Mama!" Dia menjawab.


Setelah itu Ayumi meraih handuk yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur, berjalan memasuki kamar mandi, dan menggantungkan kain itu di sana seperti biasa.


"Mantannya Mama?" Randy kembali membuka suara sekembalinya Ayumi dari dalam kamar mandi.


Perempuan itu hanya mengangguk, dia hendak keluar, namun panggilan Randy tentu saja menghentikan langkah kakinya.


"Kemarilah!"


"Hemm? Tapi Mama sudah menunggu!"


Randy menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mendekat, dengan satu tangan yang menadah, meminda Ayumi untuk menghampiri.


Tidak ada raut wajah masam, ekspresi datar juga jutek. Bahkan sorot matanya berubah menjadi sangat meneduhkan.


"Kamu ingin mencari tahu ayahmu?"


Pria itu langsung membawa Ayumi kedalam pelukannya.


"Iya. Hanya ingin tahun saja, setelah Mama mengatakan nama lengkap dia, aku berusaha mencari tahu sendiri, karena Mama tidak mau."


Randy menghela nafas. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak. Pikirannya selalu kacau, bahkan hanya karena Ayumi terlihat sibuk dengan ponselnya, Randy benar-benar merasa ketakutan, tak jarang dia menyangkut pautkan dengan kisah hidup dimasa lalunya, ketika Randy tak pernah bisa dengan satu wanita.


"Kenapa tidak bilang?" Randy mencium kening Ayumi.


"Memangnya ada apa dengan Mamamu?"


"Mama tidak mengizinkan. Katanya jika memang mau maka Om Valter akan mencari aku, jadi tidak usah aku yang mencari diam." Jelas Ayumi.


Pria itu memejamkan matanya. Menghela nafas panjang, ketika dadanya mulai merasa sesak, namun dia tidak tahu pasti penyebabnya apa.


"Aku tidak sedang berbuat macam-macam, … aku juga tidak sedang berniat mengkhianatimu. Jadi jangan marah, aku hanya sedang berusaha mencari siapa …"


"Maaf!" Tiba-tiba saja Randy berujar demikian.


"Dih! Kok jadi melow begini. Aku tidak apa-apa, mood kamu juga sedang tidak baik kan? Sama seperti aku suka naik turun." Ayumi terkekeh.


"Ya, aku merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak."


Ayumi mendorong dada suaminya. Menatap wajah sendu pria itu dengan dengan senyuman hangat seperti biasa.


"Kamu memang cemburuan. Tapi kali ini cemburunya tidak tepat, aku sedang mencari tahu seseorang, bukan sedang mencari om-om, … rasanya kamu saja sudah cukup menjadi sugar Daddy aku."


"Aku belum om-om tahu!"


"Ya aku tahu. Hanya umur kita yang terpaut jauh, tapi tidak kelihatan kok, kamu masih tampan dan awet muda." Puji Ayumi, yang seketika membuat pipi suaminya memerah.


"Ayo kita sarapan."

__ADS_1


"Apa kamu mau menemui ayahmu?" Tanya Randy, dia menahan tangannya yang Ayumi berusaha tarik.


Perempuan itu menggelengkan kepala.


"Aku hanya ingin tahu. Jika untuk menemuinya aku belum mau, … aku belum siap!"


"Kenapa?"


"Karena dia yang membuang aku, memisahkan aku sama Mam …" Ayumi langsung mengatupka mulutnya. Ketika sadar jika tak semestinya dia mengatakan itu kepada Randy.


Ayumi merasa takut Sumi akan marah, karena dia hanya ingin rahasia ini disimpan oleh mereka, tanpa ada pihak lain.


"Maksudmu?" Dia menatap Ayumi penuh tanya.


Ayumi menggelengkan kepala.


"Tidak. Jangan dibahas, ayo kita sarapan. Dedek Bayi sudah ingin makan."


"Mau aku bantu?"


"Abang!" Cicit Ayumi saat Randy kembali menahan tangannya.


"Aku tidak akan memberi tahu Mama. Jadi apa kamu butuh bantuan aku? Hanya menemukan aku sosialnya itu hal yang sangat mudah." Jelas Randy.


"Benarkah?" Ayumi meyakinkan.


Randy mengangguk, kemudian tersenyum.


"Jika kamu ada nama lengkap, apalagi alamat rumah. Akan sangat mudah aku mencarinya."


Ayumi terdiam sebentar. Mengingat jika pria itu pernah mengirimkan surat, berisikan alamat rumah juga nomor telepon yang tertera.


"Aku tahu, tapi ada di rumah Mama."


"Ya sudah, nanti aku bantu."


Randy segera menarik tangan Ayumi, membawa perempuan itu keluar dari dalam kamarnya ke arah ruang tengah.


Sumi terlihat sedang menata berbagai macam lauk, dia menoleh ketika mendengar suara langkah kaki, dan tersenyum saat pandangannya beradu dengan Ayumi.


"Bagaimana? Masih mual dan muntah di pagi hari? Mama buatkan air gula aren, sama jahe agar bisa mengurangi rasa mualnya."


Ayumi duduk, kemudian meraih mug berukuran besar pemberian Sumi. Dia menghirup aromanya yang begitu dia sukai.


"Nanti sore aku mau Mama bikin lagi yah!? Sepertinya selain tomat aku juga jadi suka minum ini!"


Sumi mengangguk, dia menyiapkan piring dan mengisinya dengan nasi juga lauk-pauk, kemudian Sumi letakan di hadapan anak juga menantunya.


"Terimakasih, Ma." Ucap Ayumi juga Randy bersamaan.


Sementara Sumi hanya mengangguk, dan tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2