My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 22 (Take you)


__ADS_3

Sekitar lima belas menit Maria menunggu. Duduk sendirian di kursi halte yang sedikit terlihat ramai. Akhirnya mobil yang sangat dia kenali tampak menepi, melaju perlahan lalu berhenti.


Maria berdiri, dia tersenyum kearah Randy yang baru saja keluar dari mobil miliknya.


"Ibu sudah lama?" Dia berjalan mendekat, lalu meraih tangan Maria, dan mencium punggung tangan ibunya.


"Jika kamu tidak meminta Ibu untuk menunggu, maka Ibu akan langsung ke rumah mu saja."


"Jangan! terlalu banyak transitnya. Nanti Ibu lelah."


"Kamu ini!" Maria menepuk lengan besar putranya. "Yasudah, bawa tas sama freezer boxnya, ayok kita pulang." Titah Maria yang langsung mendapat anggukan dari Randy.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Randy langsung meraih barang bawaan sang ibu, lalu berjalan di belakang Maria yang saat ini melangkah kearah mobil.


"Ibu bawa apa? banyak sekali." Tanya Randy saat wanita itu hendak masuk kedalam mobilnya.


Sementara Randy, dia berjalan kearah belakang mobil.


"Banyak. Ada sayur, ikan, udang, sotong, sama kerang-kerangan. Tadi Ibu belanja ke dermaga."


"Sea food lagi?" Ujar Randy, lalu menutup pintu bagasi mobilnya.


Dia melangkahkan kaki dengan cepat, kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi.


***


"Rumah kamu rapih, padahal belum ada yang bekerja lagi?" Ucap Maria sembari terus berjalan kearah dapur bersih, yang terletak di tengah-tengah ruangan rumah itu.


Randy tersenyum, meletakan barang bawaan sang ibunda diatas meja wastafel.


"Kan bisa menghubungi jasa untuk membersihkan rumah. Lagi pulak sekarang anak-anak jarang mampir, jadi rumah bisa aku bersihkan sekitar dua sampai tiga hari sekali, Bu!"


"Lho? kenapa?"


"Kemarin sibuk latihan, terus bertanding. Waktu mereka tidak banyak sekarang."


Maria mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kamu sudah lapar? mau Ibu masakin sekarang?"


"Aku sudah makan, Ibu istirahatlah terlebih dulu, aku juga mau mandi."


"Benar tidak mau makan Sekarang?"


Randy mengulum senyum.


"Sekarang istirahatlah dulu, nanti malam baru masak, aku akan mengajak Ayumi kesini, bertemu dengan Ibu."


"Kenapa tidak sekarang saja? Ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis yang mampu meluluhkan teguhnya pendirian kamu."


"Tidak bisa, mungkin sekarang dia masih bekerja."


"Kerja? sampai selarut ini?"


"Yeah, dia bekerja di perusahaan milik istrinya Pak Raga."


Maria tidak menjawab, dia hanya menatap wajah Randy lekat-lekat.


"Dia memang pekerja keras yah!" Maria berujar.


"Begitulah." Randy mulai berjalan menjauh.


"Baiklah selamat beristirahat." Ucap Maria saat melihat Randy berjalan kearah kamarnya.


Sementara pria itu hanya menoleh, tersenyum dan melambaikan tangan.


"Haih, ... rasanya baru kemarin dia belajar berjalan, tapi sekarang sudah mau memperkenalkan kekasihnya." Kata Maria setengah berbisik.

__ADS_1


Klek!


Randy menutup pintu kamarnya, menyampirkan jas pada gantungan baju yang berada disana.


Sebuah ruangan besar, memiliki cat putih dengan desain modern. Di padukan dengan furniture berwarna hitam, membuat ruangan itu terlihat sangat estetik.


Dia masuk kedalam kamar mandi, tak lupa menutup pintunya rapat-rapat hingga suara kunci di putar beberapa kali terdengar.


Tak lama setelah itu suara gemercik air mulai terdengar.


***


Sekitar pukul tujuh malam di dalam sebuah kamar kost milik Ayumi.


Gadis itu tampak bersantai, melepas penat dengan hanya berbaring di atas tempat tidur, dan menjadikan ponsel sebagai mainannya.


Dia terlihat serius, tapi beberapa kali terkikik pelan, saat dia membaca sebuah kisah romantis yang Ayumi baca dari novel penulis favoritnya.


"Ish, ... ish ... ish! kenapa jadi doyan Om-om sih!" Ucapnya gemas.


Namun tiba-tiba saja ponselnya bergetar, saat panggilan suara masuk dari seseorang.


Pak Randy.


Nama yang tertera, yang dihiasi beberapa stiker ular berwarna hijau di belakangnya.


"Hah!" Ayumi terkejut. "Masa dia tahu kalau aku jagi suka sama orang lain ... eh tokoh deh bukan orang." Gumam Ayumi, saraya terus menatap layar ponselnya yang terus bergetar.


Gadis itu segera menggeser tombol berwarna hijau, lalu mendekatkannya kearah daun telinga.


"Hallo?" Ayumi menyapa terlebih dulu.


Dia mengigit bibirnya, berusaha menahan senyum saat tiba-tiba saja perasaannya berubah menjadi berbunga-bunga.


[Hey, sedang apa?]


[Baru selesai bantuin Ibu, kamu suka baca? kok saya baru tahu.]


"Kalo ada waktu senggang, baru aku baca."


Ayumi menjawab.


[Mau kesini?]


"Hah?"


Ayumi langsung mengubah posisinya jadi duduk tegak.


[Ibu hari ini datang, dia mau bertemu dengan mu, apa kamu mau kesini?]


Gadis itu bungkam, dia tampak berpikir.


[Ay?]


"Ih Abang sekarang manggilnya kaya Una."


[Oh ya?]


"Iya."


[Tapi maksud saya Ay itu bukan Ayumi.]


"Apa?"


[Ayank.]


Dan ucapan itu membuat Ayumi semakin diam. Tentu saja, jantungnya semakin bergemuruh, di penuhi kupu-kupu cinta yang berterbangan memenuhi dada.

__ADS_1


Dia menghembuskan nafasnya kencang, saat perasaan didalam hatinya semakin menyeruak.


[Kenapa?]


Randy terkekeh.


"Jantung aku terasa mau meledak."


Pria itu semakin tergelak.


Dan mereka pun diam untuk beberapa saat.


[Bersiap-siaplah, saya jemput sekarang.]


"Eh! nanti dulu, aku belum menjawab mau atau tidak. Kok main jemput-jemput saja."


[Ibu ingin bertemu, lalu kamu mau menolak keinginan nya?]


"Bukan menolak, aku hanya ..."


[Cepat, saya berangkat sekarang.]


"Abang, ... tapi ..."


"Aih!" Ucap Ayumi saat Randy memutuskan sambungan telfonnya.


***


Setelah merasa siap. Gadis itu segera berjalan kearah cermin berukuran sedang yang tersedia di dalam kamar kostnya.


Celana denim panjang, dia padukan dengan kemeja putih polos, juga sweeter rajut lengan pendek, yang mempunyai aksen kotak-kotak, membuat penampilannya terlihat menggemaskan, layaknya seorang remaja lugu pada umumnya. Apalagi dengan Surai panjang yang dia biarkan terurai, hanya hiasan jepitan mutiara kecil yang menempel di rambut untuk menghalau poninya.


"Apa cukup seperti ini? atau aku harus memakai lipstik merah meyala, agar terlihat sebagai seorang perempuan dewasa."


Tok tok tok!!


Ayumi menoleh kearah pintu kamarnya yang tetutup.


"Dia datang." Ayumi tersenyum, lalu berlari kearah pintu tersebut.


Klek!


"Hey, sudah siap?"


Pria itu berdiri tepat beberapa langkah di hadapannya. Membuat senyum Ayumi semakin merekah.


Apalagi kini Randy terlihat semakin tampan, dengan celana jeans hitam ketat, juga Hoodie berwarna abu-abu yang melekat di tubuh kekarnya.


"Ayok berangkat, Ibu sudah menunggu." Randy hendak meraih pergelangan tangan Ayumi, tapi gadis itu menjauhkannya.


"Aku harus ganti warna lipstik dulu, tas aku juga masih ada di dalam, Abang tunggu sebentar yah."


"Tunggu!" Dia kembali meraih tangan kekasihnya. "Untuk apa mengganti warna lipstik mu? kamu sudah cantik, tidak ada yang harus di ubah."


"Agar aku tidak terlihat seperti anak SMP. Jadi ..."


"Tidak-tidak, kau sudah cantik dan menggemaskan. Jadi ambil saja tas mu, ayok kita berangkat."


Randy tersenyum.


"Abang, ... tapi ..."


"Cepatlah!" Tegas Randy seraya melepaskan cengkraman tangan kekasihnya.


Ayumi mengangguk, dia langsung menghambur kearah dalam. Sementara pria itu menggelengkan kepala, juga menatap punggung Ayumi tidak percaya.


"Anak SMP katanya. Astaga, dia memang semenggemaskan itu!" Gumam Randy dengan perasaan gemas.

__ADS_1


__ADS_2