My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 126 (Manis-manis anget)


__ADS_3

"Om minta maaf karena sudah berbuat sejauh ini. Tapi sungguh, tidak ada niat buruk sama sekali, tidak ada niatan untuk memisahkan kalian terus menerus." Alvaro menatap Ayumi.


"Sebenernya nggak sepenuhnya salah Om, toh Om pernah nawarin aku mau ketemu Mama atau tidak waktu itu, tapi aku menolak, … dan Om hanya menuruti apa kemauan aku!"


Jelas Ayumi kepada pria yang duduk di sofa berhadapan dengan dirinya juga Randy, sementara Sisil dan para Ibu-ibu duduk berbincang-bincang di teras belakang rumah. Wanita itu berusaha memperbaiki hubungan dua ibu yang sempat bersitegang.


"Seharusnya bukan Om yang meminta maaf. Tapi aku yang berterimakasih. Terimakasih sudah membawa aku pulang, terimakasih sudah memberikan Ayu keluarga yang lengkap, dan terimakasih karena Om Mama jadi bertahan sampai sekarang, alasan Mama tetep hidup hanya karena ingin menemui aku saat aku sudah besar, dan sekarang kamu sudah berkumpul."


Alvaro tersenyum, dia menganggukan kepala.


"Semuanya sudah selesai. Dan Bapak harap tidak ada lagi kesalahpahaman." Tukas Ali.


"Tidak akan. Aku usahakan semua Ibuku baik-baik saja." Balas Randy sambil terkekeh kencang.


"Ya, kita mempunyai tiga Ibu sekarang, keluarga kita begitu ramai. Apalagi nanti jika sedang berkumpul disini, pasti seru … Om juga sering-sering mampir kesini, bawa Naura untuk bermain, kasian kalau harus bermain di dalam kamar sendirian."


"Kamu benar. Setelah kamu menginap, lalu pulang. Naura menjadi sangat kesepian, padahal dia berharap kamu tinggal bersama kami, … tapi itu tidak bisa kami lakukan karena Randy sudah lebih dulu menikahi kamu bukan?"


Ayumi tersenyum lagi, lalu menoleh ke arah suaminya yang tengah menatap Alvaro sembari mengangguk-anggukan kepala.


Mereka pun melanjutkan obrolan. Berincang dan membicarakan banyak hal, entah itu tentang bisnis, rumah tangga, juga Bayi yang akan segera hadir di tengah-tengah keluarga kecil yang baru saja Randy dan Ayumi bina.


Obrolan itu berlangsung cukup lama. Bahkan Alvaro dan Sisil baru benar-benar berpamitan pulang setelah menyantap sajian makan malam yang Tutih juga Sumi siapkan.


"Om dan Tante tidak bermalam saja?" Tanya Ayumi saat dia berjalan mengantar kepulangan Alvaro juga Sisil.


"Mungkin lain kali, Naura menunggu di rumah bersama Bibi. Sudah pasti dia marah karena Mama dan Papa nya keluar dengan waktu yang sangat lama."


"Meskipun Naura tahu kalian datang kesini?"


Sisil mengangguk.


"Kenapa tidak di ajak?" Ayumi bertanya lagi.


"Hhhheuh! Tahu sendiri, sudah remaja dia malah menjadi gadis yang sangat pemalu, ke warung depan rumah saja Naura tidak mau, apalagi ke tempat ramai, dan disini ada Randy yang membuat Naura tidak mau datang." Sisil terkekeh.


"Sepertinya dia sangat tertutup." Randy menimoali.


Alvaro juga Sisil mengangguk bersamaan. Lalu dia berbalik badan setelah sampai di dekat mobilnya yang terparkir.


"Kami pamit, terima kasih untuk jamuan malamnya." Pamit Sisil.


"Sekali lagi Om minta Maaf, Ay!"


Ayumi hanya mengangguk.


"Kalau begitu kami pamit pulang."


"Iya Om, hati-hati di jalan." Ucap Randy juga Ayumi bersamaan.


Sisil segera membuka pintu mobil, dia masuk dan kembali menutup pintu mobilnya setelah duduk dengan nyaman. Sementara Alvaro berjalan memutari mobil, dan masuk setelahnya.


Derum mesin mobil mulai terdengar, dan kendaraan roda empat itu mulai mundur perlahan, meninggalkan garasi luas rumah Randy.


Pimpim!!


Klakson mobil berwarna hitam itu berbunyi, dan setelahnya melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Randy dan Ayumi segera kembali ke arah dalam.


Suara orang berbincang-bincang terdengar dari arah pintu belakang rumah yang terbuka sangat lebar.


"Akhirnya semua masalah selesai." Ayumi bernafas lega.


"Ya, semoga tidak ada lagi hal yang membuat keluarga kita berantakan." Randy menimpali.


Ayumi mengangguk.

__ADS_1


"Aku kebelakang dulu, mau lihat Mama sama Ibu. Abang kalau mau masuk kamar duluan saja!"


Ayumi hampir pergi, namun tangan Randi segera menahannya, sampai perempuan itu tak lagi bergerak dan berusaha menjauh.


"Kamu mau menghindar?" Randy memincingkan mata.


"Bu-bukan, … aku benar-benar mau melihat keadaan mereka." Ayumi sedikit memaksakan senyum.


Randy menggelengkan kepala pertanda tidak setuju. Dan tanpa banyak bicara dia menarik Ayumi sampai benar-benar masuk ke dalam kamar.


"Papa!?"


Randy hanya tersenyum, dia berjalan mendekati istrinya, dengan seringai penuh keinginan.


"Aku sudah tahu bagaimana cara kamu menghindar. Kamu boleh kembali setelah kita selesai, oke?"


Randy menarik kaos yang dia pakai, membuat dada bidang juga otot perutnya terpampang dengan nyata. Membuat Ayumi mematung, jantungnya berpacu lebih cepat, saat melihat tubuh indah suaminya.


"Abang!" Ayumi berusaha menahan, bahkan dia menyentuh perut suaminya, namun Randy tidak mendengar, dia terus mendekatkan diri sampai bibir keduanya beradu.


Saling terpaut dan mulai merasai satu sama lain. Randy mulai beraksi, tangannya tak tinggal diam, mengusap punggung, lalu turun ke bawah sampai menemukan bagian tubuh Ayumi yang kini terasa semakin sintal.


"Abang, … tapi Baby nya!" Bisik Ayumi saat Randy melepaskan tautan bibir mereka.


"Bukannya boleh kalau pelan-pelan?" Randy balas berbisik.


Retina Ayumi bergerak-gerak, menatap dan menyelami netra indah milik suaminya, sampai mereka sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama, sebelum Randy mendorong Ayumi hingga terjatuh di atas tempat tidurnya.


Randy kembali melanjutkan kegiatan yang sempat terjeda. Tubuhnya membungkuk, menyentuh setiap inci tubuh Ayumi, meninggalkan kecupan basah sampai membuat Ayumi memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat.


Pria itu benar-benar tidak tinggal diam, bibir juga tangannya terus bereaksi, agar membuat Ayumi rileks. Dan terbukti, Ayumi mulai terbawa suasana, tangannya mulai bergerak-gerak menyentuh otot perut milik suaminya yang dia sukai, disertai suara indah yang mulai terdengar namun sedikit tertahan.


Randy menegakan diri, melepaskan sisa kain yang masih menempel di tubuhnya, dan setelah selesai dia melakukan hal yang sama kepada Ayumi, sampai mereka sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.


Ayumi menatap pemandangan di atasnya dengan perasaan berdebar. Tidak ada yang berubah dari tubuh suaminya, bahkan dia sudah sangat sering melihat itu, tapi entah kenapa hatinya begitu berbunga-bunga saat melihat suaminya dalam keadaan seperti ini.


"Hey?" Randy membungkuk, lalu menyentuh pipi Ayumi dengan punggung tangannya. "Kenapa melamun? Tidak usah takut, anak kita akan baik-baik saja." Katanya seraya memberi kecupan di kening Ayumi.


Aktivitas di atas tempat tidur itu terus berlanjut. Randy kembali mencumbu istrinya dengan begitu semangat, sampai membuat Ayumi terus melenguh pelan, ketika sengatan-sengatan itu mulai menjalar hampir ke seluruh tubuh.


Randy kembali berhenti, dia menatap wajah Ayumi yang sudah memerah dengan keadaan yang sangat pasrah.


Pria itu tersenyum, mengecup bibir istrinya dengan gemas, seraya menyentuh kaki Ayumi, dan mulai menekuknya perlahan-lahan.


"Mmmhhhh!" Erangan Ayumi terdengar saat Randy membenamkan miliknya.


"Pelan-pelan!" Kata Ayumi, dia memegangi perut bagian bawahnya, seolah takut jika anaknya akan terluka saat Randy mulai menghentak.


Randy tidak menjawab, dia memfokuskan diri pada hal yang sudah sangat dia rindukan. Sesekali keningnya terlihat berkerut, matanya juga terpejam, dengan geraman pelan yang terus terdengar.


Suara-suara erotis samar-samar terdengar. Keduanya berusaha menahan suara yang keluar dari mulut masing-masing, berusaha terus membuat tersadar dan tidak lepas kendali, walaupun akhirnya Randy tidak bisa melakukan itu.


Dia berpacu dengan sangat kencang, saat Ayumi memeluk tubuhnya erat, juga cengkraman di bawah sana yang terasa semakin kencang, membuat akal sehat Randy menghilang untuk beberapa saat.


Semuanya semakin tak terkendali, Randy semakin mempercepat hentakan saat sesuatu mulai mendesak, sampai membuat Ayumi hampir menjerit, namun dengan segera Randy membungkamnya dengan ciuman dalam.


"Abanghhh!"


***


"Baru selesai mandi? Ibu kira kamu sudah tidur." Tutih bertanya saat Ayumi kembali bergabung dengan para orang tua yang masih berbincang-bincang di taman belakang rumah.


Ayumi mengangguk, kemudian duduk di sofa dan langsung menyandarkan punggungnya.


Dia terlihat sedikit lelah. Wajah pucat tanpa make up, juga mata sayu dengan rambut yang belum benar-benar kering.

__ADS_1


"Mau makan lagi?" Tawar Sumi.


"Masih ada makanan? Bukannya habis?"


"Bisa Mama belikan atau order online jika kamu lapar. Atau kalau tidak minta Randy." Sumi tersenyum.


"Atau bisa Ibu masak kalau memang lapar?"


"Atau Bapak jalan ke gerai nasi goreng di depan?"


Ayumi terdiam, menatap Ali, Sumi dan Tutih bergantian. Kemudian tertawa kencang, saat dia merasa lucu dengan sikap orang tuanya.


"Kalian ini kenapa kompak sekali."


"Ibu hamil muda tidak boleh menahan lapar, kasian Dedek Bayinya. Jika mau bisa kami masakan." Kata Tutih, dia menoleh ke arah Sumi.


"Iya, bahan-bahan juga masih ada di kulkas, mau makan apa?" Sumi menimpali.


Calon ibu muda itu tampak berpikir. Perutnya memang lapar, tapi bukan nasi tujuan utamanya sampai membuat dia sedikit bingung.


"Apa yah! Aku mau yang manis-manis anget." Kata Ayumi.


"Manis anget?" Tutih membeo.


"Bubur kacang?" Sumi bertanya, dia menatap putrinya untuk meyakinkan.


"Nggak. Jangan bubur kacang!"


Mereka diam. Sama-sama memikirkan apa yang Ayumi inginkan saat ini.


Tiba-tiba munculah Randy dari arah dalam dengan keadaan segar. Bahkan pria itu sudah berganti dengan pakaian tidur, kaos polos dengan celana batik panjang.


"Kalian ini kenapa?" Randy bingung.


"Kami sedang memikirkan apa yang Ayumi mau. Dia mau yang manis dan hangat." Ali menjawab.


Randy menatap istrinya.


"Apa yang kamu mau?"


"Nggak tau, tapi mau yang manis hangat."


"Tidak ada clue-nya?" Randy tertawa pelan.


Perempuan ibu menggelengkan kepalanya, dia pun bingun dengan yang dia inginkan. Hingga suasana di taman belakang itu benar-benar hening.


"Oh …" Ayumi baru saja buka suara.


"Apa?" Semua orang bereaksi bersamaan.


"Wedang ronde. Iya, … aku mau wedang ronde!"


"Baik, Abang pesan online yah!"


Randy menyalakan handphone nya, bermaksud memesan apa yang Ayumi inginkan via online.


"Engg … tapi aku mau Abang yang beli langsung, akunya ikut." Ayumi tersenyum lebar.


"Online saja, sudah malam. Jalanan pasti macet di penuhi muda-mudi yang keluyuran."


"Nggak. Aku mau beli langsung!"


"Mau Ibu atau Mama temani? Atau kita pergi berempat? Pake taksi online?" Tawar Tutih.


"Tidak tidak, biar aku saja yang antar. Bapak, Ibu dan Mama istirahat saja!"

__ADS_1


Randy segera bangkit, meraih tangan Ayumi dan membawanya pergi.


__ADS_2