
"Tidak mau menginap di rumah dulu?" Tanya Tutih setelah memeluk tubuh Ayumi, ketika anak dan menantunya berpamitan untuk segera pulang ke rumahnya yang terletak di pusat kota.
Ayumi menoleh ke arah suaminya. Dia sangat berharap jika Randy masih meluangkan waktu agar dia tetap berada di kota kelahirannya, terutama menginap di rumah Tutih juga Ali, setidaknya satu malam saja.
"Sayangnya tidak bisa. Ada banyak pekerjaan besok, mungkin lain kali saja." Randy menatap Ali dan Tutih bergantian.
Ayumi menghela nafasnya, mengeluarkan rasa kecewa yang tiba-tiba melanda.
"Lain kali kita datang lagi, Ay! Atau kapanpun jika kita ada waktu senggang." Randy mencoba menjelaskan kepada istrinya.
"Baiklah, Ayumi pulang dulu yah." Dia berjalan mendekati Ali, beralih memeluk Maria, dan terakhir memeluk Sumi juga berpamitan kepada Valter yang ikut mengantarkan saat mereka berpamitan untuk undur diri terlebih dahulu.
Hal yang sama Randy lakukan. Dia berpamitan, mencium kedua pipi Maria, beralih memeluk Ali juga Tutih, tak lupa juga kepada Sumi dan Valter.
Meski mereka belum terlalu dekat, tapi hubungannya yang terlihat membaik terhadap Sumi, membuat ada jalan tersendiri bagi keduanya untuk saling menghargai dan berkomunikasi.
"Take care!" Valter menatap Ayumi.
Mungkin dia merasa berat harus segera berpisah dengan putrinya, sementara pria itu belum merasa puas karena banyak hal yang belum mereka lakukan.
"Papayo. Aku pulang yah!"
Dia melambaikan tangan, kemudian masuk terlebih dulu ke dalam mobil suaminya.
"Hati-hati, Ay. Jangan lupa semuanya. Obat, vitamin, dan susu hamil, ingatkan Randy juga jika waktu periksa sudah dekat." Maria berpesan.
"Iya, Bu." Jawab Ayumi.
"Kalau begitu kami pamit, sering-sering tengokin Ayumi, … setelah hamil dia menjadi sering bosan apalagi saat dia merasa tidak mempunyai teman untuk mengobrol."
Randy menatap Sumi, Ali, Tutih dan Maria bergantian.
"Dan untuk anda, saya tunggu. Berkunjunglah sebelum pulang nanti." Kata Randy kepada Valter
"Sure." Valter mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.
Setelah itu Randy meraih handle pintu mobil miliknya, menarik dengan perlahan, kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Pulang sekarang?" Randy menoleh ke arah Ayumi yang terus melihat ke arah luar.
"Iya. Tapi kok aku sedih yang ninggalin Mama, … kaya ada sesuatu aja yang nggak Mama punya, sementara Bapak dan Ibu terlihat baik-baik saja."
"Nanti kita minta orang tua kita berkumpul di rumah, ya."
Ayumi mengangguk.
__ADS_1
Derum suara mesin mobil terdengar, dan tak lama setelahnya kendaraan roda empat berwarna hitam itu melaju perlahan keluar dari are parkiran menuju jalanan utama, dan melesat beberapa detik kemudian.
"Kalau begitu kami pamit pulang juga." Ucap Tutih kepada Maria juga Sumi.
"Saya juga mau pulang, Bu." Kata Maria. "Bu Sumi? Mau bareng saya?" Katanya lagi.
Namun Sumi menggelengkan kepala, dia menatap pria yang berdiri menjulang di sampingnya.
"Keluarga saya meninggal semua di Jerman. Dan ada beberapa hal yang harus saya bicarakan mengenai itu. Jika Bu Maria, Bu Tutih dan Pak Ali mau pulang, boleh duluan saja, nanti saja sebentar lagi."
"Baik kalau begitu." Sahut Tutih.
Mereka saling berpamitan, bersalaman sebagai tanda perpisahan. Tapi sedikit berbeda dengan Ali dan Valter, keduanya saling memeluk dan mengusap punggung satu sama lain.
"Terimakasih sudah membesarkan putri saja. Ada banyak kejadian yang sebenarnya ingin saya beritahu, tapi mungkin lain kali." Kata Valter kepada Ali dengan logat yang tidak terlalu fasih.
Ali mengangguk, dia menepuk punggung pria yang beberapa tahun lebih muda dari dirinya.
"Sama-sama, ini semua sudah Tuhan yang menentukan. Kita manusia hanya menjalani apa yang harus kita lalui." Jawab Ali.
"Sekali lagi terimakasih."
"Sama-sama." Ali tersenyum penuh arti.
***
Sumi mengaduk minuman dinginnya.
Satu gelas iced leci tea, dengan beberapa buah utuh di dalamnya.
"Bagaimana?" Valter menatap wanita yang tengah menyesal minumannya.
Sumi tidak langsung menjawab, dia menggeser gelasnya, dan memandang lurus ke arah lautan yang terus terseok-seok hingga menghasilkan ombak yang begitu besar.
"Laras? Jika kau mau. Tidak usah membuang-buang waktu untuk mengumpulkan uang. Aku bisa membelikan satu tiket untukmu!"
Sumi menoleh.
"Itu tidak mungkin!" Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Valter diam lagi, dia menatap wajah wanita di sampingnya lekat-lekat.
"Jangan membuat aku semakin terlihat buruk dan murahan. Randy, Bu Maria, Ayumi dan juga kedua orang tuanya, … apa yang akan mereka pikirkan? Apa yang akan mereka bayangkan jika aku pergi bersama denganmu. Aku memang ingin kesana, tapi dengan uangku sendiri, aku tidak mau menjadi beban orang lain!" Tegas Sumi.
Pria itu menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, memejamkan mata, lalu memijat keningnya yang mulai terasa pusing.
__ADS_1
Sungguh sulit meyakinkan wanita di sampingnya. Dari dulu hingga sekarang dia begitu teguh atas pendirian yang dia buat, jika Sumi mengatakan ingin pergi dengan uangnya sendiri, maka tidak ada satupun yang bisa mengubah pola pikirnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Kita berbicara sejak tadi pagi, membahas segala hal, tapi belum menemukan titik terang." Kata Valter sedikit frustasi.
"Tidak ada. Aku akan menabung dulu dari sekarang! Jika kamu mau pulang lebih dulu, maka lakukan. Aku akan menghubungimu jika sudah bisa kesana nanti."
"Astaga!" Valter mengusap wajahnya kencang.
Valter meraih gelas minumnya, kemudian menyesap dengan perlahan.
"Tidak ada kewajiban untuk melakukan apapun. Aku sudah terbiasa melakukannya sendiri."
"Ada!" Sergah Valter.
Sumi tertawa karenanya.
"Apa? Kita bahkan bukan siapa-siapa selain orang di masa lalu …"
"Kau ibu dari putriku, Laras! Camkan itu, dan tidak akan ada yang bisa mengubahnya."
"Yang satu itu kau benar."
"Lalu apa yang kau masalahkan? Aku hanya ingin membantu agar kau tidak terlalu kesulitan jika benar-benar ingin melihat peristirahatan terakhir kedua orang tuamu dan Susi."
"Ah kau tidak mengerti." Ucap Sumi sedikit kesal.
Valter mengusak rambutnya, dia benar-benar terlihat kesal. Di satu sisi Sumi menyetujui ucapannya, namun dia tetap tidak mau dibantu.
"Langsung saja ke intinya, jika menurutmu aku terus tidak mengerti atas apa yang kau ucapkan."
Kini Sumi yang menghela nafas.
"Aku memang ibu kandung dari Ayumi. Putri biologis mu. Tapi kita tidak ada hubungan apa-apa, tidak mungkin kita pergi berdua dalam keadaan seperti ini, akan berpikir apa orang-orang."
"Jangan terlalu mendengarkan apa kata oran …"
"Kau tidak mengerti Valter! Banyak gunjingan yang aku terima saat memilih mempertahankan bayiku, dan melahirkannya. Jadi aku tahu betapa pedihnya orang-orang memandang kita hina."
"Baiklah kalau begitu aku pinjamkan saja uangnya untuk membeli tiket, kau boleh mencicil untuk melunasi hutangnya kepadaku!"
"Ini bukan tentang uan …"
"Baiklah ayo kita menikah, agar mereka tidak bisa berpikir buruk tentang kita." Valter menyambar sampai Sumi tak dapat menyelesaikan bicaranya.
Dan seketika wanita itu diam dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
"Kau gila!" Pekik Sumi dengan raut wajah tidak percaya.