
Keesokan harinya.
Tok tok tok!!
Junior mengetuk pintu ruangan Balqis, kemudian menekan handle pintu, dan mendorongnya perlahan sampai pintu itu benar-benar terbuka dengan sangat lebar. Setelah beberapa waktu lalu perempuan itu memanggilnya.
Balqis yang sedang fokus pada iPadnya mengangkat pandanga, menatap adik iparnya yang masih berdiri diambang pintu.
"Masuklah!" Ucap Balqis seraya menyandarkan tubuh pada sandaran kursi kerjanya.
Junior mengangguk, berjalan masuk dan menutup pintu ruangan itu kembali.
"Bagaimana? sudah kamu bicarakan dengan Eca?" Balqis langsung bertanya, tanpa berbasa-basi terlebih dulu.
Junior menarik kursi di hadapan Kaka iparnya, kemudian duduk tegap, dengan pandangan lurus kedepan, saat perempuan itu juga tengah menatapnya.
"Sepertinya Kaka harus mencari pria, Bianca tidak suka dengan tawaran itu. Apalagi Ayumi." Jelas Junior.
Balqis diam.
"Atau tidak pakai Asisten pun aku masih bisa, tidak apa-apa." Junior terlihat bersungguh-sungguh.
"Apa? Eca tidak menyukai Ayumi?" Tanya Balqis sedikit tidak percaya.
Junior mengangguk.
"Kenapa? tidak biasanya dia seperti itu." Kening Balqis menjengit, dia tampak bingung.
"Sepertinya dia pernah mendengar sesuatu, ... dan itu mempengaruhi sudut pandangnya tentang Ayumi." Junior menjawab tanpa beban.
Namun hatinya bedegup kencang, saat kembali mengingat ekspresi wajah sang istri, saat dia memberitahukan niatan Balqis yang hendak menjadikan Ayumi sebagai sekretaris nya.
Tidak Kakanya, tidak Adiknya. Kalau sedang marah terluhat sangat menakutkan, bahkan dengan hanya tatapan matanya saja.
Pria itu membatin.
Balqis menghembuskan nafasnya kasar, lalu melipat kedua tangannya diatas dada.
"Kau ini, kalo ngomong itu tidak langsung ke intinya." Cicit Balqis sedikit kesal.
"Kaka tahu aku dan Ayumi itu satu kampung? maksud aku, kampung Papa."
Balqis mengangguk.
"Dulu setiap aku kesana, teman main aku dan Naura ya Ayumi. Bahkan kami cukup dekat, ... mungkin itu yang membuat Bianca sedikit salah sangka, padahal kami tidak pernah ada apa-apa." Jelas Junior panjang lebar.
Balqis yang mulai mengerti pun kembali mengubah posisi duduknya, lalu menggaruk leher yang tidak terasa gatal.
__ADS_1
"Rumit yah, ... tapi sepertinya ada hal lain, tidak mungkin Eca merasa se-cemburu itu kepada Ayumi, jika tidak mengetahui sesuatu yang menurutnya lebih menakutkan. Kau tahu Nior? Bianca bukan tipikal pencemburu!" Balqis sedikit menerka-nerka.
"Itu dia masalahnya, Papa pernah keceplosan. Dia tanpa sadar membahas niatnya yang gagal dulu." Seketika mulutnya mengatup rapat, saat Junior kini menyadari sesuatu.
Kening Balqis menjengit lagi.
"Memangnya Om Al punya niat apa? antara kamu dan Ayumi." Perempuan itu sedikit mencondongkan badan, dengan tatapan sedikit curiga.
Junior diam, dia menatap Balqis dengan perasaan yang tak menentu.
Astaga kenapa bibir ini!
"Kenapa jadi bahas ini? bukannya Kaka mau bahas tentang Sekretaris atau Asisten buat aku ya?"
Junior berkilah, dia mulai mengalihkan pembicaraan, sebelum semakin jauh dia membahas persoalan masa lalunya.
"Yasudah, jadi maunya seperti apa? mau Saya cari laki-laki atau jangan sama sekali. Tadinya Saya menunjuk Ayumi karena dia melakukan semua pekerjaan dengan sangat baik, datang juga pagi-pagi sekali, itu poin plus buat dia. Tapi jika Kamu merasa keberatan, ya saya urungkan saja." Balqis mengendikan kedua bahunya.
"Sebaiknya tidak usah. Memangnya kenapa harus jadi sekretaris? ada banyak bidang yang bisa Ayumi kuasai jika Kaka mau menaikan pangkatnya." Junior memberi saran.
Balqis terkekeh kencang.
"Pangkat kata mu? seperti apa saja." Katanya lalu tertawa kencang.
"Kalau tidak salah Ayumi pernah mengalami kecelakaan, ya? sampai membuat kaki sebelah kirinya dipasang ring karena patah? jadi jika pekerjaan lain, saya tidak yakin. Karena akan banyak berdiri juga berjalan kesana kemari. Apalagi jika ikut saya, dia akan lama berdiri hanya untuk mengerjakan sesuatu." Jelas Balqis.
"Baiklah, kau boleh kembali. Untuk sekarang biarkan Ayumi seperti ini dulu." Ucapnya yang langsung mendapat anggukan dari adik iparnya.
"Baik." Junior mengulum senyum, lalu dia bangkit dan beranjak pergi kearah luar, dimana meja kerjanya berada tepat di depan pintu ruangan tersebut.
Maaf Ayumi, bukan tidak mau membuat diri mu lebih baik. Tapi masa lalu kita yang terbongkar gara-gara Papah, membuat Bianca tidak menyukai mu, bahkan saat semuanya aku jelaskan jika kita sudah berusaha tidak menyetujui itu, Bianca tetap bersikeras dengan pikirannya.
***
Siang harinya, tepat saat jam makan siang tiba.
Seorang wanita cantik, dengan postur tubuh tingginya berjalan sembari tersenyum kearah Randy yang saat ini sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.
Pandangan pria itu fokus kearah layar komputer yang menyala, tapi pandangannya teralih saat Aleesa menepuk lengannya cukup kencang.
"Sibuk banget, Pak!" Sapa Aleesa dengan senyum manisnya seperti biasa.
"Hemm, ... pekerjaan ku memang sangat banyak." Jawab Randy, dengan perasaan terkejut.
"Aku melihatnya!" Aleesa berujar. "Pak Raga aneh ya! padahal pertandingan sudah selesai, timnya juga meraih juara pertama. Tapi kenapa tidak membuat agenda libur untuk mu, ... ya setidaknya kita bisa berlibur jika kamu memiliki waktu luang." Ucap Aleesa penuh harap.
Tiba-tiba saja bayangan wajah Ayumi melintas, ketika Aleesa mengajaknya untuk menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
"Ngg, ... Aleesa? sedang apa kamu disini? tidak pergi ke klinik?"
"Menemui Pak Raga, apalagi."
"Lalu klinik?"
"Sudah selesai sejak jam sepuluh tadi."
"Oh." Randy menganggukan-angggukan kepala.
Ay, aku tidak berbuat apa-apa sungguh. Tapi kenapa aku merasa bersalah ya jika sedang berbicara dengan Aleesa.
Batin Randy berbicara.
"Ran? ayok jalan. Akhir pekan depan jadwal ku kosong." Ajak Aleesa tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
Randy yang sedari tadi berusaha memfokuskan diri, akhirnya kembali menoleh, dan menatap perempuan yang tengah berdiri disamping meja kerjanya.
"Maaf sepertinya aku tidak bisa." Tolak Randy seraya tersenyum.
"Ish kenapa? Ayoklah, kita ajak Egy dan teman-temannya tim yang lain. Kepantai di dekat rumah ibu mu saja bagaimana?"
Randy diam.
"Ayoklah, aku sudah membicarakan ini kepada Pak Raga, dia mengizinkan."
"Anak-anak Club di ajak?"
"Iya, liburan Tim. Tapi sepertinya Pak Raga juga mau ikut terus ajak anak istrinya."
"Baik, rencanakan saja. Aku juga akan mengajak seseorang kalau boleh."
Senyum di kedua sudut bibir Aleesa merekah.
Dia akan mengajak Ibunya? astaga kenapa hatiku semakin berdebar, aku akan menemui calon Ibu mertua. Setidaknya jika tidak bisa mendapatkan hati kamu terlebih dahulu, aku akan berusaha mendapatkan hati ibu mu agar semuanya lebih mudah.
"Baiklah, kalau begitu. Aku senang mendengar kamu akan bergabung."
Randy tersenyum samar, mengangguk dan kembali menatap kearah layar komputer.
"Ran, aku pamit pulang duluan yah. Nanti kabar-kabar lagi saja."
Randy mengangguk, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
"Aku pergi oke?"
Aleesa menyentuh tangan Randy.
__ADS_1
"Ya, ... hati-hati."