
Randy duduk di kursi yang menghadap cermin besar, sementara Ayumi berdiri di belakang, mengeringkan rambut suaminya menggunakan hair dryer.
Pria itu tersenyum, menatap pantulan wajah istrinya dengan berbagai macam ekspresi lucu. Terkadang keningnya mengkerut, bibirnya mengerucut, dan banyak lagi.
"Selesai, ayo pakai bajunya." Kata Ayumi seraya mematikan mesin pengering rambut itu.
Randy segera bangkit, mendekati Ayumi lalu memeluknya dari arah belakang.
"Ambilkan bajunya." Pinta Randy.
"Kenapa tadi nggak sekalian? Kan bisa ambil celana sama bajunya juga!"
"Maunya kamu yang ambilkan." Randy berbisik tepat di daun telinga Ayumi, membuat dia terlihat sedikit kegelian.
"Baiklah, lepaskan dulu! Aku ambilkan bajunya." Ayumi berujar.
Cup!
Randy mencium pipi Ayumi terlebih dulu, kemudian melepaskan lilitan kedua lengan kekarnya, dan membiarkan Ayumi berjalan menuju lemari.
"Mau yang bagaimana?" Tanya Ayumi sambil terus melihat-lihat pakaian dengan warna hitam yang mendominasi.
"Yang tanpa lengan, sayang."
Ayumi tampak terus mencari, dia memang masih bingung dengan tata letak pakaian milik suaminya.
"Aku simpan di lemari sebelahnya, satu tempat sama pakaian tidur kamu." Jelas Randy.
Ayumi mengangguk, dia beralih pada pintu lemari di sebelahnya yang tertutup dengan sangat rapat, membukanya, dan menarik satu baju tanpa lengan berwarna hitam.
Setelah itu dia kembali, menyodorkan baju, tapi Randy tidak menerimanya, dia hanya tersenyum dengan pandangan yang terus tertuju pada wajah Ayumi.
Perempuan itu bingung.
"Ini!" Tukas Ayumi. "Aku mau keringin rambut dulu." Katanya lagi, kemudian melepaskan lilitan handuk di atas kepalanya, yang sedari tadi membalut rambut panjang yang basah.
Randy maju satu langkah, tangannya bergerak ke belakang, dan meraih pinggang Ayumi, untuk kemudian menariknya sampai mereka tak berjarak sedikitpun.
Mata Ayumi mengerjap, berusaha menahan kesadarannya saat hembusan nafas Randy menyapu wajah begitu lembut.
"Pakaikan, boleh?" Randy berbisik.
"Hemmm?"
"Pakaikan bajunya, aku sedang ingin manja kepadamu." Randy begumam dengan suara yang terdengar semakin pelan.
Ayumi segera mengangguk, dia menyentuh pundak suaminya untuk menjauh. Namun dia terhenti, saat melihat bekas gigitannya, lalu pandangannya beralih pada bagian tubuh lainnya.
Astaga!
Batinnya menjerit.
Dan betapa terkejutnya Ayumi saat melihat banyak bekas ungu kemerahan di dada suaminya, bahkan ini lebih parah dibandingkan noda kepemilikan yang Randy lukiskan pada dirinya. Kepala Ayumi sedikit terangkat, dan pandangan keduanya pun beradu.
"Kenapa?" Randy tersenyum.
"Ini …." Ayumi menunjuk luka bekas gigitannya.
"Hemmm, itu hasil karyamu tadi. Saat kita sedang di kamar, dan saat mandi bersama, … bahkan aku terkejut, kenapa kamu bisa se-beringas itu!" Dia tertawa pelan.
Wajah Ayumi seketika bersemu merah. Apalagi bayangan kegiatan panas itu kembali berputar di ingatannya, dimana amukan badai asma itu baru benar-benar selesai setelah keduanya merasa kedinginan di dalam kamar mandi sana.
"Ay? Cepatlah Ibu pasti sudah menunggu kita."
Ayumi menggigit bibirnya kencang, kemudian menganggukan kepala, dan segera memakaikan baju tanpa lengan sampai benar-benar melekat di tubuh atletis suaminya.
"Abang boleh duluan, aku keringin rambut dulu." Katanya, dia segera duduk di kursi tadi, menyalakan hair dryer dan mengarahkan kepada rambutnya.
Dia menghindari tatapan Randy, entah kenapa sekarang rasanya malu, tapi kemana rasa malu itu tadi? Kenapa dia berubah menjadi perempuan yang sangat ganas.
"Ish!" Ayumi menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Sini aku bantu." Randy mendekat, dan berdiri di belakangnya.
Ayumi menoleh dengan gelengan kepala.
"Abang duluan saja."
Randy tidak mendengar, dia malah merebut mesin pengering rambut tadi, lalu membantu mengeringkan rambut panjang Ayumi.
Perempuan itu diam, sesekali menunduk saat Randy mengarahkan tatapan kepadanya.
"Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Apa hair dryer nya terlalu panas?" Dia menggoda istrinya.
"Aku malu." Ayumi berteriak.
__ADS_1
"Kenapa malu?"
Ayumi segera menyembunyikan wajah dibalik kedua telapak tangannya.
"Kita sudah melakukannya dua kali pada sore hari ini. Belum tadi malam, … terus malam ini … dan paginya!"
Sontak Randy tertawa kencang, dia mematikan hair dryer nya, dan meletakan benda itu di atas meja rias.
"Jangan ketawa!" Ayumi merengek.
"Kamu sangat lucu. Apa setiap kita melakukannya, kamu hitung?"
Dan dengan polosnya Ayumi mengangguk.
"Aku selalu tidak bisa menolak, kamu. Bahkan setelah kita melakukan yang pertama, kamu meminta melanjutkan di kamar mandi, aku selalu patuh apapun permintaanmu." Ayumi menahan senyum.
Randy segera bersimpuh di hadapan istrinya, menggenggam kedua tangan kecil itu, seraya mengangkat pandangan, membuat keduanya saling menyelami netra indah satu sama lain.
"Kamu tahu? Aku sungguh tidak pernah merasakan hal segila ini!" Randy berujar.
Ayumi diam, menelisik wajah Randy lebih dalam lagi.
"Aku yang tidak pernah ingin memiliki keterkaitan, kini terjebak bersamamu, menjalani keseharian yang luar biasa. Aku bahkan tidak mengerti, perasaanku muncul begitu saja setelah dekat denganmu, padahal awalnya kita lebih sering berdebat, daripada bersikap manis."
Ayumi tersenyum.
"Kamu membuatku merasakan indahnya jatuh cinta. Merasakan dicintai dengan begitu besar, tanpa melihat siapa aku." Randy mencium punggung tangan Ayumi.
"Kamu berbeda. Mungkin disaat wanita lain mendekat hanya karena uangku, tapi kamu datang dengan cinta yang luar biasa. Bahkan awalnya kamu pergi, hanya takut penilaian semua orang terhadapmu."
"Cukup! Menggombal nya nanti lagi, pipi aku rasanya panas sekali." Ayumi jujur.
Randy tersenyum, dia kembali berdiri, lalu mencium kening istrinya cukup lama.
"Aku mencintaimu." Suaranya terdengar begitu lembut.
Ayumi mengangguk.
"Aku juga." Balas Ayumi tak kalah lembut, bahkan dia menatap pria di hadapannya dengan sorot mata yang begitu indah.
"Baiklah!" Randy meraih sisir, lalu merapikan rambut Ayumu yang masih terlihat sedikit kusut. "Ayo kita temui Ibu, dia membawa banyak cumi-cumi dan ikan laut lainnya hanya untuk menantu kesayangannya, yaitu kamu."
Randy meraih tangan Ayumi, menggenggam lalu keluar dari dalam kamar sana.
Keduanya keluar beriringan, berjalan menuju dapur lain yang terletak di bagian paling belakang rumahnya. Suara Maria berbincang-bincang sangat jelas terdengar, di selingi suara tawa saat perempuan itu membahas masa kecil Randy.
"Ibu memang suka menggosipkan aku!" Kata Randy tiba-tiba.
Dua wanita itu seketika menoleh.
"Ya, ampun menantu Ibu." Maria segera mendekat, lalu memeluk Ayumi erat.
"Maaf aku baru bangun, obat Dokter membuat rasa kantuknya selalu timbul." Dia berbohong.
Dia mulai pintar, pikir Randy sembari menahan senyum.
"Tidak apa-apa, kamu istirahat saja. Nanti kita bakar cumi-cumi di taman belakang."
Ayumi mengangguk, dia segera menatap Sumi yang terlihat menatapnya tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
"Oh iya, Bu Sumi. Ini Ayumi, … istrinya Randy, menantu saja." Maria memperkenalkan.
Sumi mengangguk pelan.
"Ay? Ini Bu Sumi. Dia akan bekerja disini, membantu semua pekerjaan rumah agar kamu tidak kelelahan." Maria menatap menantunya.
Ayumi tersenyum.
"Halo Bu Sumi." Ayumi menyapa.
"I-iya Non."
"Baiklah, kalian boleh kembali." Titah Maria, bahkan dia mendorong tubuh Ayumi untuk menjauh.
"Biar aku bantu cuci udangnya." Ayumi hendak kembali mendekat, tapi Randy meraih tangannya dengan segera.
"Sudah mandi, nanti tangan kamu bau. Biar Ibu dan Bu Sumi yang membersihkan semuanya."
Ayumi menoleh, lalu memukul lengan suaminya pelan.
"Ish, … masa aku biarin Ibu repot-repot!"
"Tidak repot!" Sergah Randy dan Maria bersamaan.
"Ya ampun kalian ini kompak sekali."
__ADS_1
"Memang." Jawabnya lagi bersamaan.
Ayumi mematung, menatap ibu dan anak itu bergantian, dengan ekspresi wajah tidak percaya.
"Kembalilah ke dalam, nyalakan tv nya, lalu ambilan cemilan, sementara menunggu semuanya siap." Titah Maria.
"Ayo!" Randy meraih tangan Ayumi, dan membawanya kembali.
***
Kepulan asap mengudara, menimbulkan bau yang sangat menggugah selera saat Randy meletakan beberapa udang dan cumi di atas pembakaran sana.
"Butuh bantuan?" Ayumi mendekat.
"Jangan mendekat, Ay! Asapnya banyak." Dia mengangkat tangannya, memberi peringatan agar istrinya tidak lagi mendekat.
Ayumi tidak mendengar, dia terus mendekati Randy sampi benar-benar berdiri di sampingnya.
"Bandel!" Pekik Randy sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara, agar asap Bakaran itu tidak terhirup oleh Ayumi.
"Kamu lebay!" Kata Ayumi. "Yang bahaya itu asap rokok, bukan asap cumi-cumi."
Mendengar itu Maria tergelak, dua manusia yang baru saja resmi menjadi suami istri itu selalu bertingkah menggemaskan. Randy yang sedikit emosian, dihadapkan dengan Ayumi yang sedikit memiliki sifat ngeyel, membuat keduanya selalu berdebat, namun pada akhirnya Randy yang akan diam dan mengalah.
Tapi itu bagus, membuat anaknya belajar bersabar.
"Duduklah di sana, bersama Ibu dan Bu Sumi." Randy menunjuk sofa yang terletak di teras rumah belakang.
"Tidak mau, aku mau disini!" Tolak Ayumi
"Ay!?"
"Aku mau disini!" Tegas Ayumi lagi, lalu merebut Capitan dan mengambil alih membolak-balikan cumi-cumi dan udang yang mulai berubah warna.
Randy menghela nafas, menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Untung cinta, kalau saja tidak. Aku sudah …"
"Shuttttttt, … Abang jangan ngomel terus, nanti cepat tua!" Sergah Ayumi memotong ucapan suaminya.
Randy berbalik badan, mengarahkan pandangan kepada Ibunya yang sedari tadi terus terkikik geli.
"Berhentilah, Ibu membuat Ayumi merasa mempunyai dukungan." Randy menggerutu, kemudian berjalan ke arah kursi kayu yang terletak tidak jauh dari Ayumi berada saat ini.
Randy duduk, membuka kotak kecil yang selalu pria itu bawa kemanapun dia pergi. Mengeluarkan satu batang rokok, dan menempatkannya di antara kedua celah bibir.
Dia menghembuskan asapnya ke udara, setelah ujung dari rokok tersebut sudah menyala.
"Sudah matang?" Maria mendekat.
"Kloter pertama sudah, teman-temannya belum." Ayumi tersenyum kepada Maria, lalu menunjuk wadah berukuran besar yang masih berisikan berbagai jenis ikan laut mentah.
Maria mengangguk.
"Makanlah dulu, kita lanjutkan nanti."
"Ibu tidak makan?"
"Ibu sudah makan tadi sama Bu Sumi."
Ayumi menimpali ucapan ibu mertuanya dengan sebuah anggukan kepala pelan. Setelah itu dia membawa satu piring besar, berisi cumi dan udang bakar ke arah dimana Randy berada.
"Ya hallo?" Randy tiba-tiba mendekatkan ponsel miliknya.
"Lewat pintu dapur, tidak di kunci." Katanya lagi.
"Ah jangan manja, memangnya siapa kalian ini!"
Setelah itu Randy meletakan ponselnya kembali di atas meja.
"Siapa?" Tanya Ayumi seraya menjejalkan udah bakar kedalam mulutnya.
"Egy." Sahut Randy, lalu dia kembali menghisap sisa rokoknya.
Namun dia segera melemparkan benda itu, setelah menyadari keberadaan Ayumi.
"Kamu kesini tidak bilang-bilang!"
"Dih!" Ayumi mendelik.
"Selamat malam?" Suara Egy menggelegar, menyapa beberapa orang yang berada di taman belakang.
Disusul beberapa teman-temannya yang berjalan menyusul di belakang. Membuat rumah itu seketika ramai, dipenuhi gelak tawa dan obrolan para laki-laki.
***
__ADS_1