My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 74 (Something)


__ADS_3

Dengan senang hati Ayumi terus berdiri di dekat alat pembakaran, menunggu udang, cumi-cumi dan ikan lainnya matang untuk dia suguhkan kepada beberapa teman suaminya yang datang berkunjung pada malam hari ini, dibantu Sumi yang berdiri di dekatnya.


Wanita itu tak hentinya menatap Ayumi, tapi ketika Ayumi menoleh, dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, membuat perempuan itu sedikit merasa heran, juga aneh.


"Emmm, Bu Sumi umur berapa?" Ayumi memulai obrolan, setidaknya ada interaksi lain. Selain wanita di dekatnya yang terus mencuri-curi pandang.


"Sa-saya?" Dia menunjuk dirinya sendiri.


Ayumi menjawab dengan anggukan, kemudian tersenyum.


"39, Non."


"Oh masih muda." Ayumi menatapnya. "Kenapa Ibu memilih bekerja? Memangnya anak-anak Bu Sumi kemana?"


"Saya tidak punya anak, Non."


Ayumi tertegun, dia terdiam untuk beberapa saat.


"Suami Bu Sumi? Nggak ngelarang Ibu untuk bekerja disini?"


Sumi mengulum bibirnya, lalu menggelengkan kepala.


"Saya juga tidak mempunyai suami."


"Meninggal?" Dia penasaran.


Sumi menggelengkan kepalanya lagi.


"Saya tidak pernah menikah."


Jawaban itu mampu membuat Ayumi mematung, terdiam penuh keterkejutan, sampai membuat beberapa ikan hampir gosong dibuatnya.


"Tidak apa-apa, jangan terkejut seperti ini, saya memang memilih untuk tidak menikah." Ucap Sumi sambil mengangkat ikan-ikan itu.


"Hmmmmm!"


"Non duduk saja, temani Den Randy, dan Bu Maria, ini saya saja yang selesaikan." Dia menunjuk Randy juga Maria yang tengah asik berbaur dengan beberapa teman Randy, yang tergabung dalam Klub bola milik Raga.


"Tidak apa-apa Bu Sumi menyelesaikan ini sendiri?"


"Tidak apa-apa, ini memang sudah tugas saya. Lagi pula dari tadi, Non dipanggil-panggil, masa nggak dateng-dateng." Sumi tersenyum samar.


Ayumi pun mengangguk, meletakan capitan kayu di atas meja samping alat pembakaran.


"Maaf jika tadi saya salah bicara, Bu."


"Tidak apa-apa, Non."


Ayumi segera beranjak, berjalan ke arah sofa teras belakang dimana suaminya berada duduk disana sambil berbincang-bincang.


"Kemarilah!" Randy yang menyadari kedatangan Ayumi langsung mengulurkan tangannya, lalu menarik perempuan itu sampai benar-benar duduk.


Ayumi tersenyum. Membalas senyuman yang beberapa pria itu berikan.


"Jangan senyum-senyum." Randy memperingati.


"Kan Bagas nya senyum, ya aku senyuman lagi!" Ayumi membalas.


Mulai!


Ucap Maria dalam hatinya, kemudian dia menghela nafas kencang.


"Bagas? Kamu tahu nama-nama mereka?"


Ayumi mengangguk.


"Tahu. Ini Bagas, itu Egy, yang disana Evan, terus …."


"Apa kalian sempat berkenalan? Tanpa sepengetahuan aku?" Suara Randy memekik kencang.


Pada pesepak bola itu terdiam, saling menatap satu sama lain.


"Ay? Masuk kamar cepat!" Randy tersenyum, lalu sedikit mendorong pundak istrinya, saat alarm di dalam kepala mulai berbunyi.


"Kenapa?" Maria bereaksi.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit bahaya, Bu!"


"Bahaya apanya?" Ayumi dan Maria berbicara bersamaan.


"Bahaya! Memang sejak awal Egy dan Bagas seperti ingin mendekati Ayumi. Aku tidak mau membahayakan rumah tanggku."


Raut wajah Egy langsung berubah. Dia menatap Randy lekat-lekat dengan kening yang berkerut kencang, karena merasa apa yang Randy katakan itu tidak benar adanya.


"Bro?"


"Sudah-sudah aku tahu akal bulusmu. Banyak sekali perasaan wanita yang kau permainkan, … ish ish nggak baik, sekarang dia sudah menjadi istriku, tidak boleh ada yang melirik apalagi merebutnya!"


Egy terdiam, dengan dahi yang semakin menjengit. Sementara teman-teman nya tertawa dengan sangat kencang, begitupun Bagas yang tidak pernah menganggap serius ucapan Randy.


"Randy memang konyol" Bagas berujar, sambil terus tertawa terbahak-bahak.


"Come on! Kita tidak mencuri kesempatan dalam kesempitan." Kata Evan.


"Mencari!" Tukas Egy.


"Ah terserah saja. Yang terpenting sekarang kita harus meluruskan kesalahpahaman pria Posesif ini kepada kita." Sambung Evan.


Ayumi menggaruk kepalanya, dia bingung saat Randy mulai berdebat dengan teman-temannya. Dia menoleh kepada Maria, namun perempuan itu hanya tersenyum dan mengendikan kedua bahunya.


"Ibu mau masuk dululah, Randy mulai bikin Ibu pusing. Padahal masalahnya hanya karena kamu mengetahui nama-nama pemain bola temannya itu." Maria tertawa pelan.


"Abang!"


Ayumi berusaha menengahi berdebat itu.


"Ay? Masuk kamar, ini urusan laki-laki."


"Abang salah paham deh! Kita nggak kenalan. Memangnya siapa yang tidak tahu mereka? Apalagi Eva, Egy dan Bagas. Mereka pemain U-19, ya aku tahu."


Randy menoleh, menatap wajah istrinya.


"Benarkah?"


Ayumi menghembuskan nafasnya pelan, kemudian memutar kedua bola matanya.

__ADS_1


"Ya benar, memangnya siapa yang tidak kenal mereka. Bawalah mereka ke kostan Bu Amel. Tidak usah kenalan mereka sudah pasti di serbu untuk meminta foto bersama." Jelas Ayumi.


"Kamu juga mau berfoto?"


"Dih. Ngomong sama Abang nggak kelar-kelar, akunya jadi cape sendiri." Cicit Ayumi kesal.


Dia segera bangkit, hendak masuk ke dalam rumah. Namun terlebih dulu dia melambaikan tangan kepada para pria tampan itu, yang juga segera dibalas dengan lambaian tangan.


"Aku duluan yah!" Pamit Ayumi.


"Iya Ay, good night." Kata Bagas.


"Bu Sumi. Aku masuk dulu yah!"


Sumi mengangguk. Dan setelah ikan bakarnya matang, dia segera mengantarkannya kepada Randy.


"Apa itu? Tidak usah melambaikan tangan, ini bukan konten uji nyali!" Randy menepis tangan beberapa temannya, yang tampak sengaja membuat hati dia semakin kesal.


***


Pagi harinya, pukul 05:50 Wib.


"Randy belum bangun?" Maria menatap Ayumi yang baru saja selesai menata beberapa piring diatas meja makan.


"Tidak tahu, coba Ayumi lihat dulu." Katanya yang langsung di timpali Maria dengan anggukan.


"Tidak biasanya dia bangun sesiang ini!"


"Mungkin kelelahan, Bu." Celetuk Ayumi.


"Kelelahan? Kelelahan kenapa? Apa semalam mereka berbicara sambil bermain bola?"


Deg!


"Nggg, … bi-bisa jadi begitu, Bu. Ayumi tidak tahu kan masuk kamar duluan." Dia tersenyum gugup.


Ayumi segera berjalan ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup dengan sangat rapat, dia masuk, lalu menutup pintunya kembali, kemudian menghampiri suaminya yang masih betah berbaring di bawah gulungan selimut.


"Abang?" Ayumi menepuk-nepuk, pipi suaminya.


Randy menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, kemudian mengerjakan mata beberapa kali, berusaha menarik kesadarannya yang sempat menghilang.


"Ayo bangun." Dia mengusap tubuh pria yang saat ini bertelanjang dada.


Randy tersenyum, dia justru memejamkan matanya lagi, lalu menarik tangan Ayumi sampai perempuan itu berbaring di dalam pelukannya.


"Ibu udah nungguin buat sarapan."


"Memangnya ini jam berapa?" Suaranya terdengar malas.


"Udah mau jam enam. Jadi cepat mandi, … Ibu sampe heran, katanya kamu tumben bangun sesiang ini."


Randy terkekeh.


"Ayo bangun, mandi, setelah itu kita harapan. Ini hari Senin, kamu harus bekerja." Ayumi berusaha melepaskan pelukan suaminya.


Namun bukannya terlepas, Randy justru semakin mengeratkan lilitan kedua tangan, sampai membuat Ayumi tak bisa bergerak.


"Diam, aku masih mau begini!"


"Tidurku jadi lebih nyaman sekarang." Randy bergumam, tapi Ayumi masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


"Iya aku tahu, … ayo cepat mandi, nanti aku siapkan pakaian untuk kerjanya." Dia menepuk lengan Randy beberapa kali.


"Baiklah." Randy melepaskan lilitan tangannya, membuat Ayumi segera bangkit, dan berjalan ke arah lain, Ruangan itu.


Ayumi meraih ujung gorden yang masih membentang, menariknya perlahan, sampai terkumpul di ujung, kemudian dia membuka jendelanya, sampai hawa sejuk mulai menyusup, dan membuat Randy sedikit bergidik karena kedinginan.


"Masih disana?" Kata Ayumi saat dia berbalik badan.


"Mau dimandikan boleh?"


"Sekarang tidak, nanti kamu kesiangan."


"Tidak akan, aku janji hanya mandi."


"Cepatlah!"


"Baiklah, baiklah! Tidak Ibu, tidak kamu. Kenapa pada perempuan itu bawel sekali."


Dia turun dari atas tempat tidur, dan menghambur ke dalam kamar mandi.


Ayumi membuka kedua pintu lemarinya sekaligus, menatap setelan kerja milik suaminya dengan mata membulat.


"Bisa-bisanya dia mengoleksi banyak pakaian berwarna hitam. Kenapa hidupnya tidak berwarna? Padahal sesekali pakai kemeja warna ungu, … kan pasti lucu, nggak keliatan galak terus." Dia bermonolog.


Ayumi menatapnya tidak percaya. Hanya ada beberapa pakaian berwarna putih, kemudian abu-abu, dan sisanya berwarna hitam.


Cukup lama Randy berada di dalam kamar mandi sana. Akhirnya dia keluar, menggunakan handuk, juga rambut yang terlihat masih menekan air.


Ayumi mendekat, membawa handuk kecil yang dia bawa dari dalam lemari.


"Duduk." Titah Ayumi.


Randy menurut, dia segera duduk di kursi meja rias.


"Tidak usah pakai hair dryer!" Dia menahan tangan Ayumi yang hendak membawa alat itu.


"Kenapa? Biar cepat kering."


"Pakai handuk saja, aku lebih suka tanganmu yang melakukannya, … rasanya sangat luar biasa."


"Stop, jangan terus berpikiran mesum seperti itu!"


"Aku tidak mesum."


Randy tertawa, dia menatap Ayumi dari pantulan kaca besar yang ada di hadapannya.


"Iya, kamu tidak. Pikiranku saja yang sudah tidak beres." Sergah Ayumi.


Lima menit berlalu hanya untuk mengusap rambut Randy yang basah. Akhirnya Ayumi menjauh, membawa handuk kecil itu kedalam kamar mandi, dan menggantungnya disana.


"Aku bingung, pakaian kerja mu hampir semuanya berwarna hitam." Kata Ayumi saat dia kembali.


Randy yang tengah mengenakan pakaiannya pun menoleh, kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Aku tidak tahu warna yang cocok, jadi pakai jalan pintas saja, beli yang sudah pasti-pasti." Randy menjelaskan.


Kini Ayumi yang mengangguk, dia mendekat, lalu meraih ujung kemeja, dan mengaitkan kancing satu-persatu.


"Aku tidak mengajarimu hal ini? Kenapa kamu pengertian sekali!" Raut wajahnya terlihat berbinar.


Pandangan Ayumi terangkat, menatap wajah tampan suaminya yang selalu membuat perasaannya selalu berdebar.


"Aku lihat di drama Korea. Aku mempelajari semuanya disana." Ayumi tersenyum malu-malu.


"Termasuk dengan ciuman?"


Ayumi hanya diam.


"Ah pelajarannya jelek, kamu terlalu kaku."


"Setidaknya aku sudah mau memulai."


"Kapan-kapan aku yang akan mengajarimu." Ucap Randy, lalu menarik hidung mancung Ayumi cukup kencang, sampai membuat hidung perempuan itu memerah.


"Selesai. Aku tidak bisa memakaikan dasi untukmu."


"Benarkan?"


Ayumi mengangguk.


"Tidak usah dipakai, simpan saja kembali. Hari ini sedikit santai, aku hanya menemani Pak Raga saja, tidak menghadiri rapat ataupun pertemuan seperti biasanya."


"Baiklah."


Ayumi kembali ke arah lemari itu, lalu menyimpan dasi yang sudah dikeluarkan tadi, kembali kepada tempatnya.


"Ayo sarapan."


Randy menggelengkan kepala, dia merentangkan kedua tangannya, berjalan mendekat, lalu memeluk Ayumi, dan meletakan kepalanya di ceruk leher milik istrinya.


"Aku mencintaimu."


"Iya, aku tahu." Ayumi mengusap punggung Randy.


"Apa kita sudah akan mempunyai anak?" Dia mengusap perut istrinya.


"Aku tidak tahu soal ini."


"Oh iya!" Randy menarik dirinya, membuat dia kembali tegak dan sedikit berjarak. "Sudah pikirkan mau masuk kuliah dimana? Dan jurusan apa?" Dia bertanya.


Ayumi diam, lalu menggelengkan kepala.


"Aku, … tidak tahu!" Dia terkekeh pelan, rasanya aneh saat dia menjawab beberapa pertanyaan dengan kata-kata yang sama.


"Pikirkan dari sekarang, apa yang ingin kamu kejar dan wujudkan, lalu ambil mata kuliah yang sesuai."


Ayumi menatap manik indah itu lekat-lekat.


"Untuk sekarang, aku masih takut bertemu banyak orang. Entah kenapa aku lebih nyaman berdiam diri di rumah. Rasanya lebih aman, aku tidak harus menghadapi orang-orang seperti Bu Tara, yang merasa powernya kuat, dan bisa menghakimi siapa saja dengan leluasa."


Kini Randy yang diam, trauma itu benar-benar membuat perubahan besar kepada istrinya, bahkan kini Ayumi takut hanya karena bertemu orang-orang baru.


"Kapan kita harus bertemu Dokter?"


"Dokter?"


"Iya, Dokter kamu. Kapan jadwalnya?"


Ayumi menggelengkan kepala.


"Aku lupa, tapi obatnya sudah mau habis."


"Baiklah, nanti aku tanya Nior."


Ayumi mengangguk.


Randy tersenyum, dia mengusap pipi Ayumi, memiringkan kepala, membungkuk dan mendaratkan beberapa ciuman penuh kasih sayang.


"Kamu harus kembali pulih. Hindari apapun yang membuat pikiran dan perasaan mu merasa cemas, hubungi aku segera jika ada sesuatu yang serius, oke? Kamu mengerti?"


"Iya."


Randy tersenyum lagi, dan kali ini lebih terasa manis.


"Good girl."


"Ayo sarapan, tadi aku buat ayam suwir." Ayumi segera menggenggam tangan suaminya, lalu menarik pria itu ke arah luar.


"Nah, baru mau Ibu panggil."


"Tidak usah, kita sudah datang sekarang." Randy tertawa.


"Tidak usah di kasih tahu!" Maria menggeleng-gelengkan kepalanya.


Randy segera menarik kursi meja makan, kemudian duduk.


Ayumi membawa piring kosong, mengisinya dengan nasi, lalu meletakkan di hadapan Randy, dan hal yang sama dia lakukan lagi, kemudian dia memberikannya kepada Maria.


"Terimakasih." Maria tersenyum.


"Lauknya ambil sendiri, agar bisa lebih menyesuaikan." Ayumi duduk.


"Lho, Bu Sumi?" Ayumi celingukan mencari sosok itu.


"Ada di taman belakang, sedang beres-beres. Tadi Ibu sudah ajak, tapi tetap kekeuh nggak mau sarapan, katanya tidak terbiasa."


"Benarkan?"


"Mungkin belum mau, jadi makan dulu sarapanmu, Ay!" Randy mengusap tangan istrinya.


"Ah, baiklah. Selamat makan!" Ucap Ayumi dengan riang.


Randy dan Maria mengangguk, seraya memulai sarapan pagi hari ini bersama-sama.


Sementara dari teras belakang. Sumi tampak menyandarkan punggung pada tembok, memejamkan mata, juga memegangi dadanya yang sesak setelah mengintip ke arah dalam.


"Ini tidak mungkin." Dia berbisik, dengan suaranya yang terdengar lirih.


"Bagaimana bisa!?"

__ADS_1


Sumi menghela nafasnya pelan, memejamkan mata untuk mengusir segala pikirannya, lalu kembali bekerja, membenahi sesuatu di teras belakang sana, yang tampak sangat berantakan karena hampir semalaman Randy dan kawan-kawannya duduk berbincang disana.


__ADS_2