
Mobil keduanya berhenti tepat di area parkiran mall yang sangat luas, kemudian keluar dengan keadaan langit yang mulai meredup. Mereka berjalan saling bergandengan tangan, memasuki mall terdekat pada petang ini, yang terlihat sedikit lebih ramai dari pada biasanya.
"Dimana kira-kira toko perlengkapan Bayi?" Randy bertanya kepada istrinya.
Pandangan Ayumi mengedar, menatap tempat yang sangat luar itu. Bahkan kepalanya mendongak ke atas, melihat lantai-lantai berikutnya.
"Coba kita lihat ke atas." Usul perempuan itu.
Ayumi berjalan lebih dulu, menarik tangan Randy yang sayang ini tengah menggenggamnya ke arah eskalator yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya.
Wajah perempuan itu tampak berbinar. Dia sangat antusias untuk membeli peralatan bayi, yang mungkin akan dirinya lahirkan 2 bulan lagi.
Lantai 2 mereka lewati begitu saja, ketika tidak mendapatkan toko yang Ayumi dan Randy maksud. Kemudian keduanya kembali menaiki eskalator, beranjak mendatangi lantai 3 dan berharap menemukannya disana.
Dan benar saja. Toko perlengkapan bayi langsung menyambutnya ketika mereka menapakan kaki
di lantai 3. Dengan perasaan tidak sabar Ayumi segera menarik tangan Randy, masuk kedalam toko yang dipenuhi berbagai macam perlengkapan bayi.
"Selamat sore."
Seorang pegawai toko menyapa dengan senyuman ramahnya.
"Ayumi mengangguk, seraya membalas senyuman wanita yang berdiri di antara baju-baju bayi.
"Sore, Mbak. Mau cari baju Bayi baru lahir" Raut wajahnya berbinar.
Pegawai toko itu mengangguk, kemudian berbalik badan, dan berjalan terlebih dulu, untuk menunjukan apa yang Ayumi minta.
Sementara Randy menatap istrinya sambil menahan senyum. Tingkah perempuan itu hampir sama dengan seorang anak gadis, yang sedang bahagia karena mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dia terus bertepuk tangan, berjingkrak pelan, dengan senyuman yang tak hentinya Ayumi perlihatkan.
"Sayang, kamu mau Mommy sama Daddy belikan apa? Disini ada banyak. Ada sepatu, bando, pakaian dengan segala model, stroller juga ada, nanti kita beli buat jalan-jalan pagi di sekitar komplek rumah yah!" Ayumi berbicara dengan putrinya yang masih ada di dalam perut.
Tak lupa mengusap perut bulatnya sampai tendangan samar terasa.
"Ah dia merespon!" Ayumi menoleh, menatap ke arah Randy yang langsung menyunggingkan senyum kepada dirinya.
"Jangan Maruk. Beli yang benar-benar kita butuhkan, soalnya Mama dan Papa sudah memberikan kita banyak pakaian, oke?" Randy ikut mengusap perut istrinya.
Ayumi mengangguk.
"Mbak, mau set buat ke rumah sakit. Tolong ambilkan boleh? Nanti saya pilih." Pinta Ayumi.
"Boleh, tunggu sebentar yah!"
Pandangan Randy mencari beberapa penjaga toko lain. Dan segera mengangkat tangannya setelah menemukan salah satu dari mereka.
"Mbak, boleh minta kursi? Istri saya lelah."
"Oh, tunggu sebentar, Pak!" Katanya lalu pergi, dan segera kembali dengan membawa dua kursi plastik untuk Ayumi dan Randy.
"Terimakasih." Ucap Randy, dan langsung dijawab anggukan oleh pelayan toko tadi.
Keduanya duduk dan menunggu untuk beberapa detik. Lalu datanglah seseorang dengan beberapa model set pakaian yang Ayumi minta.
__ADS_1
Satu kain bedong, satu topi, sepasang kaos kaki dan sarung tangan, dengan Jumper lengan pendek berwarna ungu.
Kemudian Ayumi beralih kepada yang lain. Warna yang sama dengan model yang berbeda. Dan terus Ayumi lakukan sampai keduanya memutuskan kepada beberapa model dengan warna senada.
"Ada yang lain, Bunda?" Mereka bertanya seraya membawa pesanan Ayumi ke arah meja kasir.
"Saya mau lihat-lihat stroller." Randy berujar.
"Boleh, sebelah sini Pak."
Mereka berjalan ke arah sisi lain toko yang cukup luas itu. Dan mereka benar-benar berdiri diantara banyaknya kereta bayi dengan harga dan desain yang berbeda.
"Ini anak pertama saya. Jadi saya tidak tahu harus memilih yang seperti apa, … dan model bagaimana agar bayi saya nyaman nantinya." Jelas Randy.
Sang pegawai toko pria langsung dagangenghampiri setelah beberapa temannya panggil, dan mulai menjelaskan beberapa pungsinya kepada Randy dan Ayumi.
Randy melihat-lihat, untuk menentukan. Sementara Ayumi berkeliling toko untuk melihat-lihat aksesoris yang terlihat begitu menggemaskan.
"Memangnya kaki kamu sebesar ini?" Ayumi menatap sebuah sepatu berukuran sangat kecil.
"Ah, tidak usah pakai sepatu, kan nanti dibedong biar hangat." Jelas Ayumi, lalu dia meletakan sepasang sepatu mungil ke tempat semula.
"Cari yang lain lagi, Bunda?"
Ayumi menoleh ketika tiba-tiba saja terdengar suara di dekatnya. Dia tersenyum kemudian menganggukan kepala.
"Mungkin tas bepergian sama, … pompa Asi." Pinta Ayumi.
Dirinya mulai mengingat apa saja yang memang benar-benar dibutuhkan jika bayinya sudah lahir.
Satu jam berlalu. Akhirnya Randy dan Ayumi selesai, seluruh barang belanjaannya sudah berada di atas meja kasir untuk dihitung dan segera di totalkan.
"Barangnya mau diantar malam ini? Atau besok pagi, Pak?"
"Sekarang saja." Kata Randy.
"Baik."
***
Langkah Sumi terhenti, ketiak melewati pintu ke arah taman belakang, dan mendapati Maria duduk di kursi kayu, dengan cangkir yang ada di genggamannya.
"Bu Maria kenapa duduk di luar sendirian?"
Sumi duduk tepat di samping besarnya.
Maria segera menoleh, lalu tersenyum ketika Sumi mendekat dan memilih duduk bersama dirinya. Menikmati udara malam yang begitu sejuk, dengan langit cerah bertabur bintang-bintang.
"Saya suka suasana disini apalagi sudah malam." Kata Maria.
Sumi mengangguk.
"Mungkin 2-3 hari lagi saya akan kembali ke Jerman, Bu. Ayumi pasti sedikit merajuk, dia meminta ke 3 Ibunya untuk menemani dia saat lahiran nanti. Tapi karena beberapa hal saya tidak bisa menepati keinginan Ayumi."
Maria tersenyum.
__ADS_1
"Ayumi akan mengerti. Dia adalah gadis dengan hati yang sangat lembut, beritahu saja pelan-pelan." Maria menepuk-nepuk pundak Sumi.
Wanita yang 10 tahun lebih muda darinya.
"Terimakasih, Bu. Sudah menyayangi Ayumi seperti Ibu menyayangi Randy. Bu Maria tidak pernah membeda-bedakan, tidak pernah menuntut apapun, bahkan cenderung lebih membuat Ayumi sangat di ratukan di rumah ini."
Maria menatap wanita di sampingnya lekat-lekat.
"Saya tidak memiliki anak perempuan. Lagi pula jauh sebelum Ayumi menjalin hubungan dengan Randy, saya sudah bertemu, … dan entah kenapa Ayumi terlihat manis sekali, dia selalu tersenyum dan lemah lembut dalam bertutur kata. Sampai pada waktu Randy membawa Ayumi bertemu saya, ah waktu itu saya sangat bahagia."
Sumi diam mendengarkan. Bahkan kedua sudut bibirnya terus tertarik melengkung membuat sebuah senyuman tipis.
"Bu Sumi harus ingat. Jangan pernah merasa sungkan, atau apapun itu. Datang saja jika mau, pintu rumah Randy, pintu rumah saya selalu terbuka untuk kalian."
Maria menyentuh tangan ibu kandung dari menantunya itu.
"Jangan berkecil hati. Saya tahu apa yang Bu Sumi rasakan, … tapi ketika Ayumi masih menerima keberadaan Mama dan Papanya, jangan pernah merasa tidak pantas."
Sumi menggelengkan kepala.
"Tidak Bu."
"Ah Bu Sumi bilang tidak, tapi perasaannya tetap sedih bukan?" Maria tertawa pelan. "Ingat, cucu kita akan segera lahir, akan ada terus kebahagiaan di masa tua kita, … bukan kita, tapi lebih tepatnya saya."
Dua wanita itu tertawa bersama. Terus berbincang-bincang, sampai tidak menyadari keberadaan Ayumi disana.
"Aku pulang." Teriak Ayumi seraya berjalan mendekati kedua ibunya.
Membawa bungkusan di tangan kanannya dengan ekspresi wajah riang.
"Bawa apa itu?" Sumi menoleh, dan memperlihatkan senyuman manisnya.
"Bawa ayam, kentang goreng, sundae strawberry, Apple pie sama Pudding."
Dia meletakan bungkusan itu tepat di meja yang berada di tengah-tengah kursi kayu, lalu membuka dan mengeluarkan setiap makanan yang dia beli bersama suaminya satu-persatu.
"Puding lagi?" Sumi menatap putrinya.
Ayumi hanya mengangguk dan tersenyum. Tidak lama setelah itu datanglah Randy bersama Valter.
Sepertinya dua pria itu sudah sangat akrab. Sampai di setiap ada kesempatan keduanya selalu kembali bersama, dan berbicara banyak hal.
"Untuk bibi sudah di pisahkan?"
"Sudah, Ma. Tadi sebelum kesini aku kasih punya Bibi dulu, … ini bagian kita, mengobrol tidak afdol kalau tidak ada camilan."
"Isi kepala Ibu hamil yang satu ini makanan terus. Tapi bagus, nanti cucu Ibu sehat, dan lahir dengan berat badan yang cukup." Tukas Maria.
Randy segera duduk di samping Ayumi, disusul Valter setelahnya.
"Sudah belanjanya?" Maria menatap Ayumi dan Randy bergantian, meraih satu kentang goreng, lalu memakannya.
Ayumi mengangguk. Dia langsung menceritakan apa saja yang dia beli, dan kebahagiaan jelas terlihat di wajah Ayumi, karena dapat membeli apa yang sudah dia mau sejak dari lama.
Di bawah langit malam, satu keluarga besar itu duduk di taman belakang, menikmati makanan yang Ayumi bawa, sambil tertawa-tawa pelan.
__ADS_1