
Dua bulan berlalu.
"Selamat siang Dok!"
Seperti biasa, Ayumi menyapa seorang Dokter perempuan yang kini sedang duduk di meja kerjanya, menatap sebuah hasil pemeriksaan awal yang Ayumi lakukan, seraya mempersilahkan Ayumi juga Randy untuk segera duduk.
"Halo, apa kabar?" Dokter mengulurkan tangan, yang segera Ayumi dan Randy raih sampai saling berjabat satu sama lain.
"Seperti yang Dokter lihat. Saya dan istri saya baik, bagaimana dengan Dokter sendiri?" Randy balik bertanya.
Mereka berdua duduk di kursi yang tersedia, dengan senyum Randy yang tak hentinya terlihat, menggambarkan jika dirinya sedang sangat bahagia hari ini.
"Saya baik juga." Jawab Dokter.
Ayumi mengangguk, dia merebahkan punggung pada sandaran kursi, ketika pinggangnya terasa sedikit pegal.
"Bagaimana? Apa keluhan saat ini selain sakit pinggang?"
"Tidak ada lagi Dok, hanya itu dan sering mengantuk saya, selain selalu merasa lapar tentunya." Ayumi terkekeh.
Dokter mengangguk-anggukan kepala.
"Berat badan Ibunya bagus, tensi darah juga baik. Jadi kalau begitu ayo kita periksa bayinya, bagaimana posisi dia sekarang, … semoga bisa memberikan apa yang Mommy dan Daddy nya mau yah! Sudah melalui dua kali pemeriksaan, tapi dia masih malu-malu dan tidak mau menunjukan dirinya siapa." Dokter tertawa cukup kencang.
Hal yang sama Randy lakukan ketika Dokter melontarkan candaan.
Ayumi segera bangkit, dibantu Randy yang menarik tangannya dengan sangat hati-hati, lalu mengiring sang istri sampai dia berbaring di atas tempat tidur yang tersedia. Seorang asisten Dokter segera menutup bagian bawah tubuh Ayumi dengan selimut, setelah menyingkap kaos oversize yang Ayumi kenakan, sehingga tampaklah perut yang sudah terlihat besar.
Randy tersenyum melihat itu. Rasanya selalu gemas dengan perut buncit dari seorang wanita mungil yang sangat dia cintai.
"Dia menggemaskan sekali!" Randy bergumam.
Dokter mulai membubuhkan gel di atas permukaan kulit perut Ayumi, kemudian mengarahkan alat USG dan menggerak-gerakkan di atas sana, sampai sebuah gambar berbentuk kepala mulai terlihat jelas di dalam sebuah layar yang berukuran cukup besar.
Suasana cukup hening untuk beberapa saat, semua pandangan tertuju melihat gambar yang terus bergerak-gerak, seolah mencari posisi yang sangat pas.
"Usianya 24 Minggu, berat janinnya kira-kira 600 gram. Dan sepertinya dia sangat sehat." Jelas Dokter sambil terus menatap layar monitor.
Pun dengan Randy dan Ayumi yang tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Kita lihat gendernya, … mudah-mudahan posisi dia bagus dan tidak malu-malu sampai dia menutupi area sensitifnya." Tawa Dokter itu kembali terdengar.
Dia merasa lucu sendiri, saat beberapa kali dirinya berusaha memeriksakan jenis kelamin sang jabang bayi, janin itu selalu memposisikan dirinya seolah sedang menutupi area sensitif karena malu.
Alat USG terus bergerak-gerak. Ke atas, samping, dan berakhir di bagian perut bawah Ayumi.
"Hemmm, … sepertinya sekarang dia tidak malu-malu lagi!"
Dokter menatap Ayumi dan Randy bergantian, seraya menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Oh ya? Jadi apa gendernya?" Ayumi dengan antusias.
"Tidak Dok! Jangan katakan sekarang." Sergah Randy.
"Benar?"
"Ya, tolong cantumkan di atas secarik kertas saja. Lalu masukan kedalam sebuah amplop, … saya berniat mengadakan baby shower, dan mungkin itu waktu yang tepat untuk sebuah kejutan kami dan keluarga besar." Jelas Randy.
Namun ekspresi wajah Ayumi langsung berubah. Dia sudah menunggu dengan waktu yang tidak sebentar, lalu setelah keluar hasilnya justru Randy menahan itu untuk acara yang mungkin akan digelar beberapa bulan lagi.
"Sayang itu terlalu lama!" Cicit Ayumi.
"Hanya satu bulan lagi, Ay! Biarkan ini menjadi kejutan kita semua."
Perempuan itu mendengus kesal.
"Jadi, … bagaimana? Apa saya harus memberitahukan sekarang? Atau …"
"Nanti saja." Kata Randy dengan penuh keyakinan.
"Serius? Saya takut terjadi hal yang tidak diinginkan setelah ini. Terutama kepada anda, Pak Randy!"
"Lakukan saja Dok!" Balas Randy sambil terus tersenyum.
Sementara raut wajah Ayumi langsung merengut. Mengerucutkan bibir dengan raut wajah yang tidak ramah.
Namun tentu saja Randy tidak mau mengambil pusing hal itu.
"Baiklah kalau begitu. Nanti saya cantumkan keterangan gendernya di foto USG nya ya."
Setelah itu Dokter menarik beberapa lembar tisu, dan mengusap perut Ayumi dari sisa-sisa gel yang masih berada di permukaan kulit perut ibu hamil itu. Kemudian Randy membatu Ayumi bangkit, dan berjalan mengikuti Dokter yang sudah berjalan ke arah mejanya terlebih dahulu.
Ayumi mendelik saat Randy menatapnya.
"Agar adil, Ay! Semuanya mendapatkan kejutan, temsuk aku juga kamu." Rabsy berbisik.
"Tapi itu anak aku juga! Aku berhak tahu lho!"
"Kan aku juga belum tahu, ini kejutan untuk kita. Nanti clue nya bisa dari warna kue, atau balon yang di pecahin terus muncul warnanya, tinggal pilih Abang yakin kamu suka."
"Kaya selebgram saja!" Pekik Ayumi.
"Aku suka saat melihat beberapa Vidio baby shower, jadi apa salahnya kita membuat acar itu."
Randy menggiring istrinya sampai benar-benar duduk kembali di kursi yang langsung berhadapan dengan Dokter perempuan itu.
__ADS_1
"Karena keadaan Mommy dan bayinya sehat. Saya tidak perlu menambahkan obat lain yah, hanya vitamin seperti biasa. Tapi jangan lupa susunya juga harus tetap di minum, dan makan-makanan sehat yang mengandung asam folat, … karena itu sangat bagus untuk tumbuh kembang janin." Jelas Dokter dia memberikan selembar kertas bertuliskan resep seperti biasa.
Randy segera menerima itu. Kemudian berpamitan, dan keluar dari ruangan itu dengan rasa bahagia yang sangat luar biasa.
Keduanya keluar beriringan, dengan Randy yang menenteng kertas resep dan amplop berisikan hasil Usg dan pemerikasaan hari ini. Dimana sebuah rahasia besar tersimpan di dalam sana.
***
"Untuk temanya mau seperti apa?" Seorang owner penyedia jasa bertanya.
Ayumi yang sedari tadi terlihat bete pun kini dia terlihat sangat antusias, ketika beberapa contoh dekorasi pesta di perlihatkan. Perempuan itu terus tersenyum, raut wajahnya berbinar saat melihat beberapa dekorasi yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Mbak. Saya mau yang simpel saja, hiasan-hiasan nya cukup warna pastel yang cocok untuk jender perempuan dan laki-laki." Pinta Ayumi.
Dia segera menoleh, melihat suaminya lalu tersenyum manis seperti biasa.
"Baik. Untuk kejutannya mau pakai balon atau kue?"
Ayumi tidak menjawab, dia justru terus menatap suaminya, menyerahkan sebuah jawaban kepada pria yang saat ini duduk di sampingnya.
"Yang biasanya sering di gunakan apa?"
"Sesuai keinginan, Pak. Ada kue yang di jadikan sebagai media kejutan, ada juga balon." Wanita itu menjelaskan, dengan tutur kata yang sangat ramah.
"Bedanya apa? Dan bagaimana cara kerjanya?" Tanya Randy lagi.
"Kalau kue. Biasanya kita kasih clue dari warna bolu di dalamnya. Dan kalau balon biasanya akan ada serbuk warna yang muncul setelah balonnya di pecahkan."
Randy beralih kepada Ayumi.
"Jadi, … kamu mau yang mana sayang?" Randy kembali bertanya, dia bingung.
"Emmmm, … yang rekomen apa Mbak?" Ayumi menatap wanita di hadapannya.
"Agar suasananya meriah dan lebih seru, saya sarankan balon. Tapi jika takut akan ledakan balon maka saya sarankan kue saja."
"Baiklah aku mau yang balon." Jawab Ayumi, kini dia terlihat sangat yakin.
"Baik. Boleh tahu kapan tanggal acaranya di adakan? Biar saya liat dari sekarang agar tidak bentrok dengan acara lainnya, atau menghindari tanggal yang sama dengan orang lain."
"Pertengah bukan depan saja. Bagaimana? Bisa?" Tanya Randy.
"Baik, saya minta nomor yang bisa di hubungi." Dia menggeser sebuah buku kehadapan Randy.
Dan tanpa banyak bertanya Randy segera mencantumkan nomor ponselnya.
Setelah berunding, membahas banyak hal juga bernegosiasi. Akhirnya Randy dan Ayumi memutuskan untuk segera undur diri dan pulang.
***
"Jadi bulan depan acaranya?" Maria bertanya kepada Ayumi juga Randy yang baru saja kembali setelah melakukan pemeriksaan rutin.
Membuat Ali, Maria dan Tutih pun ikut tertawa.
"Lalu bagaimana dengan Mamamu? Dia sudah di beri tahu?" Tutih bertanya kenapa Ayumi.
Perempuan itu segera menatap jam yang menempel di dinding ruangan tengah.
"Disana jam sembilan pagi. Apa Mama sudah bangun yah? Kemarin aku telpon nggak di angkat, … pas Mama telepon balik katanya di sana sedang badai salju, dari Mama ketiduran terus." Ayumi berujar.
"Emmm, … karena acaranya masih bulan depan, Bapak dan Ibu sepertinya pamit pulang dulu, kasihan Amar kalau terlalu lama sendiri." Pamit Tutih dengan perasaan sedikit ragu.
Ayumi menatap kedua orang tuanya bergantian. Kemudian beralih pada Maria saat wanita itu memperlihatkan gelagat yang sama.
"Aku curiga Ibu juga mau ikutan pamit!" Ayumi memicingkan mata.
Maria tersenyum.
"Dua bulan ini kita terus bolak-balik. Seminggu disini, kemudian seminggu di rumah sana, dan ini sudah ada seminggu kita disini, … dan mungkin Ibu tidak akan kembali Minggu depan, nanti saja kalau acara syukurannya sudah dekat, jadi nggak bolak-balik lagi!" Jelas Maria.
"Tapi nggak tau sama Pak Ali dan Bu Tutih, mungkin mereka masih mau pulang pergi seperti biasa." Lanjut Maria seraya tersenyum canggung.
"Mungkin kami juga sama. Datang setelah mendekati tanggal acara saja." Ali menjawab.
Ayumi segera menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Dia selalu merasa hilang semangat saat para orang tuanya berpamitan untuk pulang.
"Jangan begitu, Ay!" Randy mengusap kening istrinya.
"Nanti rumah sepi lagi. Seharian aku pasti tidur dan diam menonton tivi." Cicit Ayumi.
"Kan nanti akan ramai, dengan suara tangisan dan jeritan Bayi. Pagi, siang, sore dan malam! Percayalah setelah itu suasana akan sangat ramai."
Ayumi menghela nafasnya.
"Jadi mau pulang hari ini?"
"Iya, … bukan tidak mau berlama-lama disini, tapi ada beberapa hal yang memang tidak bisa Ibu tinggal lama-lama." Kata Maria.
"Baiklah. Kalau begitu biar Abang yang antar kalian, jangan berangkat pakai taksi agar lebih cepat, jadi sampai disana tidak terlalu malam."
"Sama saja. Pakai taksi tidak separah pakai bus, kita harus singgah dibeberapa halte dari sini untuk sampai di halte bus tujuan kampung pesisir." Sahut Tutih.
"Ya sudah. Ayo aku antar sampai halte bus seperti biasa." Randy bangkit dari duduknya.
Di susul Tutih, Ali dan Maria setelahnya. Sementara Ayumi terus duduk di atas sofa sana, dengan mata yang mulai terasa lelah sampai menimbulkan rasa kantuk.
__ADS_1
Sepuluh menit bersiap-siap. Akhirnya mereka berpamitan kepada Ayumi, yang mengantar sampai teras depan rumah. Perempuan dengan perut yang sudah membuncit itu duduk di kursi kayu, menatap orang tuanya yang mulai menaiki mobil satu persatu.
"Ay, baik-baik di rumah. Jangan lupa minum vitami, obat dan susunya." Tutih berpesan.
"Iya." Ayumi melambaikan tangan.
"Kalau ada apa-apa, atau mau Ibu buatkan sesuatu, bilang yah! Nanti seperti biasa, Ibu kirimkan." Maria ikut melambaikan tangan.
Ayumi mengangguk. Dia menatap mobil yang perlahan mulai mundur, meninggalakn kediamannya dengan kecepatan sedang.
Suasana sepi mulai terasa. Tidak ada obrolan para orang tua yang selalu menemani hari-harinya.
Ayumi memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya. Menutup pintu utama rapat-rapat, kemudian berjalan menuju kamar.
"Hening sekali bukan!" Ayumi bermonolog.
Dia mendudukan diri di tepi ranjang, meraih ponsel yang masih berada di dalam tas, lalu mengeluarkannya untuk segera menghubungi Sumi.
Tuuutttt!!
Suara itu terdengar ketika Ayumi mulai melakukan sambungan telepon. Sebuah foto profil dapat dia lihat dengan jelas, dimana Sumi dan Vlater tengah berada di dalam satu frame yang sama, dengan latar belakang pepohonan yang di penuhi salju berwarna putih bersih.
Ayumi tersenyum. Bahagianya Sumi tentu saja menjadi bahagia untuk dirinya juga.
"Halo, sayang?" Seseorang menayapa.
Membuat Ayumi segera tersadar dari lamunannya.
"Papa? Mama dimana?" Tanya Ayumi saat mendengar suara di seberang sana sangat berbeda, namun dia tahu betul jika yang menerima panggilannya adalah sang ayah, Valter Albert Baldomero.
"Mamamu sedang mandi, mungkin sebentar lagi selesai."
Kening Ayumi berkerut.
"Mandi? Bukannya disana musim dingin? Apa Mama masih butuh mandi?"
"Mmmm, … u-untuk berendam airng hangat, … ya untuk berendam disana, selain untuk terus menjaga kebersihan." Kata Valter sedikit terbata-bata.
Ayumi mengangguk, dia terus mendengarkan suara seseorang di seberang sana. Sampai akhirnya suara Sumi terdengar samar, keduanya seperti sedang terlibat obrolan dalam bahasa Jerman, yang tentu saja tidak Ayumi mengerti.
"Cepatlah berpakaian, berikan ponselnya." Suara Sumi terdengar samar.
Ayumi masih setia menunggu, dirinya terus diam mendengarkan sedikit perdebatan antara ayah dan ibunya.
"Iya, Ay? Maaf Mama baru selesai mandi. Ada apa?"
Ayumi tersenyum, tiba-tiba saja ide jahilnya muncul.
"Mama sudah apa? Kok pagi-pagi mandi? Mana badai salju lagi?" Tanya Ayumi sambil menahan senyumannya.
"Oh itu, … Mama sudah tidak mandi selama tiga hari, jadi badan Mama sedikit tidak nyaman, walaupun suhu disini sangat dingin."
"Benarkah?"
"Serius. Kamu jangan berpikir macam-macam yah! Pikiran kamu sangat nakal."
Ayumi tertawa saat mendengar ucapan ibunya, dia berusaha biasanya aja, namun Ayumi tahu benar Sumi sedang gugup dan menahan malu.
"Kata Papa Mama berendam air hangat."
"Iya itu salah satunya, … sudah jangan menggoda Mam terus, katakan ada apa?"
"Bulan depan aku mau baby shower. Aku mau Mama dan Papa pulang." Ayumi sedikit memohon.
Keadaan menjadi hening. Lalu terdengar suara Sumi yang berbisik-bisik dengan Valter disana. Membuat Ayumi merasa sedikit ragu, atas apa yang sudah dia harapkan, ketika dirinya berpikir Sumi akan melakukan apapun untuknya.
"Bulan depan, Ay?" Sumi kembali bertanya.
"Iya."
"Mama dan Papa lihat dulu yah. Soalnya Papamu sedang melakukan renovasi cafe, … ada beberapa hal yang harus terus di perhatikan, jadi kami tidak bisa janji." Jelas Sumi.
Ayumi diam.
Nyatanya memang itulah yang terjadi. Ada banyak persoalan yang akan menghambat seseorang, entah itu pekerjaan atau hal lainnya.
"Mama usahakan bisa, ya! Tapi kalau mungkin nggak bisa, Mama minta maaf dari sekarang."
Ayumi memejamkan mata, kemudian menunduk, berusaha menekan sebuah rasa kecewa yang tiba-tiba saja muncul. Harapannya terlalu tinggi, pun dengan ekspektasi yang dia bayangkan, sampai-sampai rasa yang tidak seharusnya ada pun kini mulai memenuhi diri.
"Baiklah. Kalau begitu aku tutup ya. Ayumi mau tidur, kayanya cape banget, sama ngantuk." Suara itu terdengar lirih.
Dan Sumi menyesali itu.
"Maaf." Kata Sumi.
"Nggak apa-apa. Keadaannya berbeda bukan? Jadi tidak apa-apa, kalau tidak bisa datang Mama dan Papa tidak usah memaksakan diri."
"Cafe Papamu sedang sangat ramai. Jadi butuh renovasi untuk memperluas ruangannya. Karena sekarang musim salju, … terkadang semuanya terhambat, dan tidak bisa terburu-buru."
"Aku mengerti."
"Sekali lagi maafkan Papa dan Mama, oke?"
Ayumi merapatkan bibirnya, dia mengangguk seolah Sumi dapat melihat dia dari kajuahan.
__ADS_1
"Ya sudah, aku tutup. Bye!" Kata Ayumi.
Sumi belum sempat menjawab, namun Ayumi langsung menutup sambungan telepon itu.