
Tutih berlari melewati lorong rumah sakit, diikuti Ali juga putra pertamanya yang memutuskan untuk menemani Ayumi dalam persalinannya, meskipun sesungguhnya dia hanya dapat menunggu dari luar.
Pandangan Tutih tertuju langsung ke arah seorang wanita yang juga sedang duduk tepat di kursi tunggu, dengan raut wajah paniknya.
"Bu? Bagaimana Ayumi?" Tutih segera mendekat.
Mereka segera datang setelah Tutih memberi kabar pagi-pagi sekali, sesuai permintaan Randy agar keluarga istrinya tidak langsung melakukan perjalanan di malam hari hanya karena merasa panik.
"Ayumi sudah di dalam. Mungkin sekarang sedang dilakukan tindakan." Jelas Maria dengan raut sendunya.
Wanita itu bahkan terus melipat tangan di dada, berusaha menahan sebuah rasa takut yang terus terasa, bahkan sejak Ayumi dan Randy masuk kedalam ruang operasi.
"Randy bisa masuk?" Tutih masih panik.
"Bu, tenang. Kita fokus doakan Ayumi saja agar semuanya berjalan dengan lancar." Ali berusaha menenangkan.
Bahkan pria itu segera menarik istrinya untuk duduk di kursi yang sama dengan Maria.
"Hemmm, … Ayumi pasti sedang membutuhkan doa kita." Amar menimpali.
Tutih mengangguk, dia mulai membuat perasaannya setenang mungkin. Walau sesungguhnya dia tidak bisa. Tentu saja putrinya sedang berjuang untuk kehidupan yang akan datang selanjutnya.
"Apa sudah ada yang memberitahu Bu Sumi?" Ali bertanya kepada besannya.
Maria mengangguk.
"Sebelum memberitahu kalian, saya memberi tahu Bu Sumi dulu. Karena akan butuh persiapan lebih, … lagi pula se nekad-nekadnya Bu Sumi, dia tidak akan se nekad Bu Tutih. Mungkin jika kemarin malam saya langsung memberitahukan kabar ini, entah bagaimanapun caranya kalian akan segera datang, padahal jadwal bus pesisir ke kota itu hanya sampai jam 10 malam saja, jadi Randy meminta saya untuk memberitahukan kalian pagi-pagi saja."
Tutih memejamkan matanya, lalu menghirup dan menghembuskan nafasnya beberapa kali.
"Faktor penyebab Ayumi harus melakukan operasi kenapa? Apa ada yang saya tidak tahu, Bu?" Tanya Tutih.
"Kata Randy kehamilan Ayumi mengalami gawat janin. Ada beberapa hal yang membuat asupan oksigen kepada bayi menjadi berkurang, dan itu sangat beresiko. Terlebih HPL nya memang sudah lewat, … mungkin itu juga yang menjadi perhitungan Dokter agar segera melakukan tindakan operasi Caesar." Marian menjelaskan.
"Astaga. Semoga semuanya baik-baik saja, Ayumi dan Bayinya, … juga operasi berjalan dengan lancar agar kita tidak usah menunggu terlalu lama!"
"Semoga, Bu. Kita doakan Ayumi dan Bayi nya kuat."
"Randy juga. Karena mentalnya harus benar-benar kuat, dia harus tegar agar tidak membuat Ayumi ketakutan.
Maria mengangguk. Dan setelah itu suasana menjadi hening, ke 4 orang yang sedang menunggu itu memanjatkan doa untuk Ayumi yang saat ini sedang benar-benar berjuang di antara hidup dan mati.
***
Tutt tutt tutt !!
Suara itulah yang mendominasi di dalam ruangan sana. Para petugas medis terdengar bercakap-cakap dengan suara pelan, melakukan sesuatu dengan sangat serius.
__ADS_1
Sementara Randy, terus berbisik. Mengucapkan kata-kata penuh semangat kepada Ayumi yang sudah berbaring lemas, karena pengaruh obat bius yang membuat setengah tubuhnya tidak bisa merasakan apapun.
Selang infus yang menempel di punggung tangan sebelah kiri Ayumi. Juga selang transfusi darah yang menempel di punggung tangan sebelah kanan, belum lagi selang oksigen yang menempel di pangkal hidung Ayumi, membuat Randy semakin merasa tidak tega dengan keadaan istrinya saat ini.
"Abang?" Dengan suara lirih.
"Iya sayang? Abang disini, tidak kemana-mana, tidak usah takut!"
"Masih lama?"
"Sebentar lagi." Randy berbisik, dia tersenyum ketika Ayumi melirik ke arahnya dengan mata yang terlihat begitu sayu.
"Abang bohong."
"Tidak sayang, mana ada Abang bohong. Sebentar lagi Dokter akan selesai." Randy berusaha tersenyum, walaupun hatinya terasa begitu ngilu.
Bibir Ayumi tampak bergetar, matanya berkata-kata, dengan hidung yang memerah.
Wanita itu menahan tangisannya yang hampir pecah.
"Jangan sedih! Kita mau bertemu dengan Baby Tomato. Tidak boleh menangis, dia akan sedih kalau tahu Mommy nya sedih juga."
Ayumi mengangguk, dia kembali menatap lurus kedepan. Dimana sebuah kain hijau terbentang, dan dia hanya mampu melihat lampu besar yang sedang menyorot ke arah tubuhnya.
Dan setelah waktu yang sangat lama. Dokter berhasil mengeluarkan kepala bayi dari dalam celah sayatan, yang terlihat sudah sedikit memburu.
"Dok!?" Salah satu asisten dosen menginterupsi, dia terlihat sedikit panik ketika tak mendapati tangisan dari Bayi yang baru saja keluar dari perut ibunya.
"Baik."
Sebuah pipa penghisap kecil di berikan, yang langsung Dokter arahkan ke dalam lubang hidung, memastikan agar bayi segera bisa bernafas.
Namun tangisan itu tak kunjung terdengar, kondisi Bayi justru terlihat semakin lemah, membuat semua petugas medis mulai disibukkan, berusaha membuat Bayi yang baru saja dilahirkan untuk memperlihatkan sebuah tanda-tanda kehidupan.
Randy menyadari kepanikan Dokter juga beberapa bidan dan perawat yang berada di dalam sana. Hatinya mencelos, semua hal buruk sudah berputar di dalam kepalanya, membuat Randy harus segera menyiapkan hati, dan menghadapi Ayumi yang mungkin akan semakin down setelah ini.
Dia memejamkan matanya, menekan sebuah kesedihan yang sudah benar-benar tidak bisa dia tampung lagi.
"Tidak, … kamu tidak bisa meninggalkan Mommy dan Daddy begitu saja. Bertahanlah, lihat bagaimana Mommy berjuang, kamu tahu sendiri bagaimana bahagianya Mommy ketika mengetahui jika hari lahirmu sudah dekat. Lalu apa setelah ini kamu akan bisa? Melihat Mommy menangis karena kamu pergi bahkan sebelum kita benar-benar bisa bersama-sama." Bainnya menjerit.
"Daddy?" Panggil Ayumi, dia sedikit mendongak kepalanya, menatap Randy yang sedang memejamkan mata dengan raut kesedihan.
Randy tidak bisa menjawab, dia hanya menatap Ayumi seraya memaksakan senyumannya.
"Baby Tomato sudah keluar? Kenapa semuanya panik?" Ayumi mulai menyadari kejanggalan.
Randy mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak menangis?"
Randy menunduk, mendekatkan wajah pada telinga Ayumi.
"Dengar!" Ucap Randy. "Apa kamu mau mengikuti arahanku?"
Ayumi menatapnya dalam diam.
"Pejamkan matamu, lalu panggil dia." Pinta Randy.
"Hummm?"
"Panggil putri kita, mintalah dia untuk kembali."
"Kembali?"
Air mata Ayumi jatuh begitu saja.
"Ya, pejamkan matamu, carilah dia dan bawa dia kembali."
Randy terus berbicara di dekat telinga istrinya, berusaha mengalihkan perhatiannya dari kekacauan yang mulai terlihat.
Dokter bahkan terus mengusap dan menepuk-nepuk sosok mungil yang tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.
"Kita masih bisa berusaha, siapkan semuanya!" Tegas Dokter.
"Baik, Dok."
"Ayo panggil dia sayang, aku mohon."
Randy mulai menangis, dia benar-benar tidak mampu melakukan apapun. Padahal biasanya dia dapat membolak-balikkan keadaan dengan hanya menjentikkan jari.
Tapi kali ini, Randy benar-benar merasa dirinya tidak berguna.
"Dokter apa ini fatal?" Randy panik.
"Kami sedang berusaha Pak Randy, jadi kami mohon tenanglah."
Ayumi mulai memejamkan matanya, lalu berteriak di dalam hati.
"Sayang? Kesini Nak, ini Mommy. Bukannya kita mau bertemu? Lalu kenapa ketika sudah waktunya kamu justru mau pergi?" Air mata Ayumi terus bercucuran.
"Mommy mohon sayang!"
Dan dengan seketika ruangan itu dipenuhi oleh jeritan bayi yang sangat melengking.
Mata Ayumi terbuka, dan dia menangani sejadi-jadinya, bersama Randy yang juga tampak tak menyangka kejadian menakutkan itu akan dia alami.
__ADS_1
"Oh sayangku! Ini Mommy, Nak!" Ayumi berbisik di sela tangisannya.
Seolah mendengar panggilan Ayumi, Bayi yang sempat tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan itu terus menangis, bahkan semakin kencang saja ketika Ayumi terus mengucapkan kata-kata penuh kerinduan.