
Hanya dua menit berkendara. Lalu di teruskan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan setapak selama lima menit, akhirnya mereka sampai, di depan rumah sederhana milik kedua orang tua Ayumi.
Pandangan Randy mengedar, menatap rumah sederhana itu, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai, tapi dengan tempat yang lebih tinggi.
"Abang?" Panggil Ayumi, saat pria itu terdiam menatap kearah laut dari atas ketinggian.
Randy menoleh, dia tersenyum.
"Pemandangan disini enak. Sayangnya cuaca disini sangat panas yah!?" Dia terkekeh.
"Namanya juga pesisir." Timpal Ayumi.
Tok tok tok!!
Ayumi mengetuk pintu kayu rumahnya. Bangunan yang kini mulai terlihat membaik, setelah beberapa kali mengalami renovasi.
Tentu itu atas hasil jerih payahnya selama dia bekerja di kota, yang bisa Tutih tabung, dan memperbaiki rumah mereka hingga seperti saat ini.
"Bu? Ayumi pulang." Panggil Ayumi sedikit berteriak.
Randy berdiri tegap, dengan kedua tangan yang sengaja dia sembunyikan dibalik saku celana.
"Ehemmm." Pria itu berdeham, berusaha mengusir rasa gugup yang mulai terasa.
Gugup? ayoklah Randy, kau banyak menemui para kolega, menemui orang baru bukan masalah bagi mu.
Klek!
Ayumi mundur satu langkah, saat pintu rumahnya terbuka dengan sangat perlahan.
Tutih menyembulkan kepala, menatap kearah luar beberapa saat, dan membukakan pintu lebar-lebar saat menyadari Ayumi yang datang, bersama seseorang yang sudah dia bicarakan beberapa waktu lalu.
Kaos polos berwarna hitam, di padukan dengan celana bahan berwarna abu-abu. Membuat Randy tampak tampan juga berkarisma. Apalagi postur tubuhnya yang tinggi, dia bahkan terkihat seperti pria dari Negara asing.
"Bu?" Ayumi melambaikan tangan di depan wajah wanita paruh baya itu.
"Hemm? i-iya, kenapa?"
"His, ... Ibu kenapa melamun? kita punya tamu, tidak maukah Ibu meminta kita untuk masuk?" Ucap Ayumi penuh candaan.
"Oh ya ampun!" Tutih menepuk keningnya kencang. "Ibu sampai lupa, ayok masuk." Ajaknya.
Randy mengatur nafasnya lagi, dia berusaha tetap tenang, meski pada kenyataan hatinya terus berdebar-debar, seolah dia akan di mintai banyak keterangan oleh wanita paruh baya itu.
"Abang, ayok duduk. Maaf rumahnya seperti ini, tidak sebesar dan sebagus rumah Abang di kota." Ayumi mempersilahkan.
Sementara Tutih, berdiri dengan pandangan yang tak hentinya tertuju kepada Randy.
Pria tampan, tapi memiliki tato di tangannya.
Apa dia pria baik-baik?
Pikir Tutih, dia mulai mengkhawatirkan banyak hal. Terlihat dari gestur tubuhnya yang terus bergerak-gerak.
"Bu?" Ayumi menatap sang ibu. "Ini orang yang Ayumi bicarakan waktu itu." Jelas Ayumi.
Lalu kini dia beralih pada pria yang berada disampingnya.
"Abang, ini Ibu."
__ADS_1
Randy mengangguk, dia tersenyum, lalu bangkit untuk meraih tangan Tutih, dan mencium punggung tangannya, hal yang sama, dan selalu dia lakukan kepada Maria.
"Saya Randy, Bu." Dia memperkenalkan diri.
"Oh iya nak Randy, silahkan duduk. Biar Ibu ambilkan minum dulu, setelah itu Ibu panggil Bapak."
Randy menimpali ucapan calon ibu mertuanya dengan sebuah anggukan pelan.
"Cie, ... tegang yah!?" Ayumi menujuk Randy.
Dia terus tersenyum meledek.
"Mana ada. Aku sudah biasa menemui orang-orang baru, Ibu dan Bapak mu bukan masalah bagiku, sayang." Elak Randy, meski sesungguhnya dia benar-benar merasa takut.
Takut jika dia akan di tolak. Sedikit banyak Randy paham, tidak semua orang memahami tato itu adalah sebuah seni, ada beberapa orang yang menganggap tato itu sebuah tanda jika perilaku seseorang buruk.
Dan apa tanggapan mereka tentang itu?
"Tenang, Ibu dan Bapak baik kok. Nggak gigit!" Ayumi menepuk-nepuk bahu kokoh kekasihnya.
Randy berdecak sebal, lalu
memutar kedua bola matanya.
"Dia lupa. Bagaimana tingkahnya saat pertama kali akan bertemu Ibu." Randy membalikan ucapannya.
Seketika Ayumi diam, dir tersenyum malu. Apalagi saat mengingat dirinya yang terus meminta pulang, dan keadaannya lebih parah, di bandingkan Randy yang masih bisa mengendalikan diri, juga menghadapi Tutih dengan sangat santai.
Mereka berdua terdiam, sepertinya suasananya mulai serius.
Tak lama setelah itu, Tutih datang, membawa nampan berisikan satu teko air teh panas, gula juga es yang Tutih bawa terpisah.
"Ay, coba ditanya Randy mau minum dingin atau hangat, mau manis atau tawar. Ibu mau telfon Bapak dulu sebentar." Pinta Tutih yang langsung di jawab anggukan oleh Ayumi.
Tutih segera berlalu, wanita itu kembali kearah belakang dengan langkah cepatnya.
Ayumi bangkit, kemudian bersimpuh di hadapan meja, meraih gelas dan berakhir menatap pria yang terus memperhatikannya.
"Manis, tawar?" Tanya Ayumi.
"Tawar saja!" Jawab Randy dengan senyuman tipisnya. "Manisnya sudah ada di kamu, takutnya aku kena diabetes kalau terlalu merasakan yang manis-manis." Katanya dengan suara yang sangat pelan.
Seketika Ayumi menoleh kearah belakang. Memastikan jika Tutih tidak ada disana, dan mendengar ucapan konyol dari pria itu.
"Astaga nanti Ibu dengar, aku malu."
Randy terkekeh.
"Mau dingin atau hangat?"
"Dingin saja, cuaca sekarang sedang panas." Sahut Randy.
Ayumi mengangguk, dan segera menuangkan teh kedalam gelas berukuran sedang, lalu memberinya batu es, seperti permintaan Randy.
"Nah, ... minumlah!"
Ayumi memberikannya langsung kepada Randy.
"Terimakasih. Calon istri!" Ucap Randy dengan raut wajah berbinar.
__ADS_1
"Ya ya ya, ... katakan apa yang mau Abang katakan."
***
[Iya Bu?]
Sapa Ali dari sambungan telfon.
Tutih berjalan perlahan memasuki kamarnya, menatap sekitar dengan was-was, lalu menutup pintu kamar itu rapat-rapat, tak lupa menguncinya dari dalam.
"Ayumi sudah datang." Ucap Tutih sedikit berbisik.
[Dengan seorang pria yang beberapa waktu lalu ingin dia kenalkan kepada kita?]
"Ya." Jawab Tutih pelan.
Hening.
Ali terdiam cukup lama.
"Rasanya Ibu belum siap, bagaimana kita akan mengatakan ini?" Raut wajah wanita itu berubah seketika.
Dia merasa takut, juga khawatir dalam bersamaan.
"Pak?"
[I-iya, Bapak pulang sekarang. Warung Bapak tutup saja!"
"Apa kita akan mengatakannya hari ini?"
[Mungkin secepatnya, tapi tidak hari ini.]
Tutih menggelengkan kepala, lalu dia duduk di tepi ranjang.
"Sekarang atau pun nanti akan sama saja. Sebaiknya hari ini, jika menunggu nanti, Ibu takut justru Ayumi ...."
[Kita lihat nanti. Kita bicarakan jika pria itu membawa keluarganya untuk menemui kita! untuk saat ini jangan merusak kebahagiaannya,]
Tutih menghela nafasnya kencang.
"Tapi jika kita mengatakan itu nanti, Ayumi akan sangat tertekan, Pak! Bagaimana jika pernikahannya akan batal? tidak semua orang bisa menerima seorang menantu perempuan dengan latar belakang seperti Ayumi."
Ali diam lagi.
"Hari ini kita harus berkata jujur. Mengungkap semua kebenaran, agar kita tahu reaksinya, dia akan tetap melanjutkan hubungannya dengan anak kita, atau mundur sebelum keadaannya semakin jauh.
[Bagaimana keadaan Ayumi sekarang?]
"Anak kita ceria seperti biasa. Tapi sekarang Ibu takut, sikap cerianya akan pudar setelah mengetahui kenyataannya."
Pria itu terdengar menghela nafas, sepertinya keadaan ini juga membuat dirinya berpikir keras.
"Pulanglah dulu."
[Yasudah Bapak matikan dulu, mau tutup warung.]
"Iya."
Dan sambungan telfon itu terputus.
__ADS_1