My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 111 (Satu garis samar)


__ADS_3

Lima menit berlalu. Akhirnya Randy memberhentikan mobil tepat di parkiran salah satu apotek yang buka 24 jam, yang tidak jauh dari hotel mereka menginap saat ini. Mereka keluar dari dalam mobil bersama-sama, berjalan masuk dengan langkah pelan, karena sesekali rasa nyeri itu kembali terasa jika Ayumi melangkah cepat, dan itu benar-benar membuatnya sedikit takut jika dirinya memiliki penyakit yang serius.


Randy membawa Ayumi duduk tepat di kursi tunggu. Sementara dirinya berjalan mendekati salah satu petugas yang berjaga.


Pria itu tampak berbicara, menjelaskan keadaan istrinya sampai wanita yang kini berdiri di dekat meja kasir mengangguk-anggukan kepala.


Randy segera kembali, diikuti perempuan tadi yang langsung menunjukan salah satu pintu ruangan untuk segera memeriksakan keadaan Ayumi.


"Terimakasih." Randy berucap.


Perempuan tadi mengangguk, dan setelah itu segera kembali ketempat asalnya berada, berjaga di dekat meja kasir, dan melayani beberapa pembeli yang terlihat masih berdatangan.


"Selamat malam?" Seorang perempuan muda yang memakai jas putih menyapa, tersenyum ramah untuk menyambut kedatangan Randy juga Ayumi.


"Malam." Balas Ayumi dan Randy bersamaan.


Randy menuntun Ayumi, dia segera duduk di depan meja Dokter muda yang berjaga.


"Kenapa?" Dokter cantik itu bertanya.


"Emmm, … perut bagian bawah saya sedikit kurang nyaman Dok!" Jelas Ayumi.


"Tidak nyaman? Sejak kapan? Apa sakitnya terus menerus, atau hilang timbul?"


Dokter terus bertanya, seraya meraih tangan Ayumi dan memasangkan alat pengukur tekanan darah.


"Hilang timbul Dok, seperti mau datang bulan. Tapi saya baru selesai sekitar 2-3 Minggu yang lalu!" Jelas Ayumi.


Dia terlihat meringis saat tangannya terasa begitu di remas.


"Tekanan darahnya bagus."


Dokter dengan Nama Cynthiara yang menempel di jas nya itu tersenyum, dia segera bangkit, dan berjalan ke arah tempat pemeriksaan.


"Baik, kita periksa disini!"


Ayumi mengangguk, dia segera berdiri dengan bantuan suaminya.


"Kita timbang dulu, yah?" Dokter menggeser satu timbangan digital.


Tanya banyak bicara Ayumi segera naik, berdiri menundukan kepala, menatap anggak yang terlihat terus berubah-ubah, sampai akhirnya berhenti di angka 45.


"Empat lima yah!"


"Iya, Dok."


"Baik sekarang ayo tidur ran, kita cari tahu penyebab rasa nyeri di perut bagian bawah itu apa." Dia membantu Ayumi untuk naik dan berbaring di tempat yang sudah tersedia.


Sementara Randy berdiri di belakang, dengan ekspresi biasa-biasa saja, namun perasaannya sangat cemas.


Dua perempuan itu tampak bercakap-cakap di sela pemeriksaan. Dokter Cynthiara terus bertanya seraya meletakan stetoskop pada perut Ayumi.


"Sebenarnya ada beberapa wanita yang bisa mengalami menstruasi dua kali dalam sebulan. Tapi coba kita periksa urine nya agar lebih yakin yah!"


"Untuk apa Dok?" Ayumi sedikit takut.


"Nanti saya jelaskan. Sekarang boleh p***s dulu, dan masukan urine nya pada tempat ini yah!"


Dokter kembali berjalan ke arah mejanya, berjongkok membuka satu laci, dan mengeluarkan wadah kecil bening, kemudian dia berikan kepada Ayumi.


Randy kembali mendekat, dan membantu Ayumi turun. Keduanya keluar dari ruangan Dokter, beranjak menuju toilet yang berada tidak jauh dari ruangan tersebut.


"Aku kok deg-degan yah!" Kepala Ayumi terangkat, menatap Randy dengan raut wajah sendu.


Dia terlihat begitu gelisah.


Randi terkekeh.


"Memangnya kamu pikir aku tidak? Aku lebih deg-degan lagi!"


Ayumi menghembuskan nafasnya perlahan.


"Mau aku antar masuk?"


"Tidak usah, aku sendiri saja." Ayumi segera masuk, dan menutup pintu toilet itu, meninggalkan Randy berdiri di sana untuk menunggunya.


Randy melipat kedua tangan di dada, berjalan mondar-mandir menunggu istrinya dengan perasaan berdebar-debar.


Ini kali pertama Randy melihat sebuah pemeriksaan seperti ini. Pemeriksaan tekanan darah, timbangan berat badan, kemudian Dokter meminta untuk melakukan tes urin setelah memeriksakan perut Ayumi beberapa waktu lalu.


"Apa ini serius?" Gumam Randy.


Pria itu bertanya pada pikiranya sendiri.


Randy menyapu wajahnya cukup kasar, lalu menghela nafasnya. Berusaha mengusir rasa takut yang mulai menguasai diri.


Klek!


Pintu toilet yang sempat tertutup rapat kembali dibuka, dan munculah Ayumi dari dalam sana, membawa satu tempat kecil yang Ayumi bungkus dengan tisu.


"Sudah?" Randy tersenyum, berusaha menghilangkan kecemasannya.


"Sudah." Ayumi mengangguk pelan.


"Baiklah ayo kembali ke ruangan Dokter, dan memeriksakan keadaannya. Mudah-mudahan tidak ada yang serius yah!" Randy terkekeh.


Dia benar-benar gugup dengan hasil yang akan Dokter katakan nanti.


"Dok?" Panggil Ayumi saat dia masuk ke ruangan itu terlebih dulu.


Dokter menoleh, dia tersenyum sembari memasangkan sarung tangan karet ke tangannya, lalu membuka salah satu bungkusan, dan mengeluarkan satu benda pipih berukuran kecil.

__ADS_1


"Letakan disini." Dokter menepuk meja pemeriksaan lain yang berada di sudut ruangannya.


Ayumi berjalan mendekatinya, lalu meletakan wadah yang dibalut tissue di dekat Dokter.


"Boleh duduk dulu, jangan terlalu tegang ini hanya pemeriksaan biasa." Dokter Cynthiara terkekeh saat menyadari ekspresi wajah Ayumi yang terlihat begitu gelisah.


"Saya takut Dok." Kata Ayumi jujur.


"Tidak apa-apa, hanya pemeriksaan awal." Kanya, lalu memasukan benda yang sudah dia siapkan.


Ayumi memutar tubuh, lalu berjalan mendekati suaminya yang terus berdiri di dekat kursi yang berada di dekat meja Dokter.


Perempuan itu duduk, dia meraih tangan suaminya, yang kemudian saling menggenggam untuk saling menguatkan dalam situasi yang cukup menegangkan.


Sementara Dokter cantik itu berdiri memperhatikan benda yang baru memperlihatkan satu garis berwarna merah.


Dan setelahnya munculah garis merah kedua dengan sangat samar.


Dokter Cynthiara merasa kurang yakin, lalu dia membawa satu alat tes lagi, membuka nya dan mencelupkan kembali ke dalam uri*e Ayumi.


Hasil yang ditunjukkan tetap sama, dua garis merah dengan satu garis yang terlihat samar.


Dia tersenyum, mengusap kedua benda itu dengan tisu, lalu membawanya dan meletakan di atas meja.


"Hasilnya apa Dok? Apa sakit yang istri saya alami cukup serius?"


Dokter hanya tersenyum lagi.


"Apa kalian tidak mengerti?" Dia menggeser dua benda yang diletakkan di atas tisu.


Randy dan Ayumi menggelengkan kepala bersamaan.


"Baiklah kalau begitu selamat." Katanya seraya mengulurkan tangan kepada Randy.


Kening Randy berkerut, dia tidak mengerti.


"Maksudnya?" Tak urung Randy menerima uluran tangan itu, sampai keduanya berjabat tangan.


"Untuk hasil yang saya dapatkan sekarang, istri anda positif hamil, … sekali lagi selamat!" Dia menjabat tangan Ayumi.


Perempuan yang seketika membeku saat mendengar penuturan Dokter muda dan cantik di hadapannya.


"Dari setiap penjelasan yang tadi saya dengar dari istri anda. Kira-kira janinnya sudah berusia 2 Minggu. Dan kram perut yang anda alami, memang sering di alami ibu yang tengah mengalami hamil muda."


"Benarkah?" Wajah Randy seketika berbinar.


"Tapi sebaiknya kalian periksakan ke Dokter spesialis kandungan, mereka pasti mempunyai penjelasan lebih."


"Baiklah." Sahut Randy.


Ayumi hanya tersenyum, dia tidak tahu harus berbuat apa. Rasa bahagia juga perasaan tidak menyangka beradu menjadi satu, membuatnya bingung harus bagaimana sekarang.


"Dengan nyonya siapa?" Dokter itu mengeluarkan satu lembar kertas.


Dokter Cynthiara mengangguk, kemudian menulis nama Ayumi dan beberapa resep di dalamnya.


"Ada obat yang sedang di konsumsi?"


"Antidepresan, Dok!" Randy bantu menjawab.


"Baiklah kalau begitu saya berikan vitaminya dulu, juga beberapa kotak susu hamil, anda boleh menebus dan melakukan administrasi di depan."


Randy segera meraihnya.


"Sekali lagi terimakasih, Dok." Kata Randy yang langsung mendapatkan anggukan dari Dokter Cynthiara.


Ayumi segera bangkit.


"Mari Dokter, sekali lagi terimakasih."


"Ya, sehat-sehat ya Baby sama Mommy nya."


"Iya Dok."


Dan mereka berdua keluar dari dalam ruangan sana, beranjak mendekati kasir untuk melakukan administrasi dan membawa resep vitamin yang Dokter resepkan.


***


Klek!


Randy kembali menutup pintu kamarnya, dan setelah itu dia berjalan mendekati Ayumi yang sudah duduk di tepi ranjang, menatap beberapa vitamin juga susu strawberry khusus ibu hamil dalam kemasan Kotak.


Randy meraih plastik itu, meletakan di atas nakas, bersimpuh dan segera memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Bahkan Randy menempelkan wajah pada perut Ayumi, juga sesekali menciumnya.


Dia menengadahkan pandangan ,menatap Ayumi yang terus terdiam dengan rasa tidak percaya. Keduanya saling menatap satu sama lain.


"Eh, … ko malah nangis?" Ayumi segera bereaksi setelah sama-sama terdiam cukup lama.


Perempuan itu mengusap air mata Randy yang terjatuh.


"Benarkah? Aku tidak menyangka. Apa janinnya sudah benar-benar tumbuh di dalam perut mu?" Randy tersenyum.


"Aku juga tidak tahu. Aku hamil tapi … ini aneh!" Dia tertawa.


"Sembilan bulan lagi. Rumah kita akan ramai, ada suara tangisan Bayi, dan beberapa tahun kemudian, akan ada yang menyambut kedatanganku saat aku pulang bekerja, dia berlari sambil berteriak, memanggil ayahnya."


"Abang senang?"


Randy mengangguk.


"Ini kado terindah di ulang tahun ku yang ke 30!"

__ADS_1


"Hemmm, … kamu sudah cocok jadi bapak-bapak." Ayumi membingkai wajah tampan suaminya yang terus tersenyum.


Walaupun pelupuk matanya sedikit basah, tapi dia tahu bahwa itu sebuah tangisan bahagia.


"I will be a Daddy now!"


Randy bangkit, dia berteriak sekencang-kencangnya, lalu melompat.


Reaksi itu membuat Ayumi tertawa, sepertinya kebahagiaan itu tengah menyelimuti keluarga mereka. Belum genap 2 bulan menikah, dan mereka sudah diberi kabar bahagia yang cukup mengejutkan. Tak perlu waktu yang lama, harapan yang terus Randy ucapkan kini sudah menjadi kenyataan.


Randy kembali mendekati Ayumi, mendorongnya sampai perempuan itu berbaring diatas tempat tidur, dan menghujani wajah istrinya dengan ciuman basah.


"Abang!" Ayumi berusaha menjauhkan kepala Randy darinya.


"Diamlah aku akan menjadi Ayah, aku bahagia … sangat bahagia!" Katanya yang kembali menciumi wajah Ayumi.


"Stop! Nanti ada yang bangun."


"Tidak akan."


"Abang stop! Nanti perut aku sakit lagi, Adik bayi protes karena Papanya menghentak sangat kencang sampai membuat si Dedek terguncang di dalam perut aku!" Ayumi merengek penuh permohonan.


Randy segera berhenti.


"Aku lapar!!" Kata Ayumi sambil menatap wajah suaminya.


Randy mengangguk, dia segera menjauh dari Ayumi, dan mendudukkan diri di atas sofa besar yang tersedia.


Dia salah tingkah.


"Mau aku pesankan disini? Atau mau kebawah lagi? Sepertinya di bawah masih sangat ramai."


Dia benar-benar tak bisa berhenti tersenyum.


"Ahhh setelah ini aku akan memberi tahu Pak Raga, bahwa tidak hanya bibitnya yang unggul, tapi bibitku juga."


"Kamu ngaco!"


Randy menggelengkan kepala, berdiri dan kembali mendekati Ayumi untuk memeluknya.


"Aku hanya bahagia."


"Iya tapi tidak usah bilang apa-apa, cukup minta doa agar kita sehat-sehat." Randy terdiam setelah itu, dia hanya asik mengusap-usap perut Ayumi yang masih rata.


"Apa sekarang masih sakit?"


"Sedikit."


"Bisa jalan kebawah?"


Ayumi mengangguk.


"Baiklah. Kalian mau makan apa? Makan yang banyak agar sehat dan Dedek Bayi cepat besar yah!"


"Baiklah."


Dan dengan keadaan yang sangat berbahagia, mereka kembali turun, mendatangi restoran yang terletak tidak jauh dari pantai.


Kencangnya deburan ombak terdengar, menyambut Ayumi juga Randy yang malam ini memasuki restoran terbuka, dan memilih duduk di salah satu sudut yang langsung mengarahkan pemandangan ke arah laut.


"Silahkan." Seorang waiters datang dan meletakan sebuah buku menu.


"Terima Kasih, saya lihat-lihat dulu. Nanti saya panggil lagi!" Jelas Randy kepada waiters tersebut.


"Baik, Pak." Setelah itu dia berlalu pergi.


Sementara Randy mulai membuka buku menu. Menggeser lebih dekat kepada Ayumi, agar wanita itu dapat segera memilih.


"Mau apa?" Tanya Randy sambil tersenyum, juga satu tangan yang kembali menyentuh perut Ayumi.


Hal yang sangat menyenangkan, hatinya terus bergetar kala tangan itu menyentuh perut istrinya, dimana si jabang Bayi mulai tumbuh.


Ayumi tidak langsung menjawab, dia melihat-lihat menu yang memperlihatkan berbagai olahan ikan laut.


Namun, kali ini Ayumi tidak terlihat bersemangat seperti biasanya saat dia melihat menu kesukaannya. Bahkan dia melewatkan cumi bakar begitu saja.


"Tidak mau seafood?" Randy bertanya.


"Nggak. Aku mau yang ada kuahnya, dicampur sambal juga jeruk nipis supaya segar."


"Apa?" Randy ikut melihat.


"Eh tapi sate Padang kayaknya enak deh." Ujar Ayumi.


"Mau?"


"Boleh?"


"Ya boleh, kenapa tidak!"


"Ya sudah aku mau sate Padang, minumnya jus sirsak." Pinta Ayumi.


"Itu saja?" Randy meyakinkan.


"Tambah dimsum, sama puding coklat."


Ayumi tersenyum.


"Ada lagi?"


"Cukup."

__ADS_1


"Baiklah."


Randy mengedarkan pandangan, mencari waiters tadi. Dan setelah dia menemukannya, Randy segera mengangkat tangan, meminta orang tersebut untuk mendekat.


__ADS_2