My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 158 (Pulang)


__ADS_3

"Mau kemana?" Egy bertanya ketika Randy mulai bangkit dari duduknya, dan eletakan stik game begitu saja.


"Pulang, kemana lagi!" Balas Randy seraya melenggang ke sisi lain rumah besar milik salah satu temannya.


"Game nya belum selesai!"


"Mainin aja lah, udah jam setengah dua juga."


Egy tidak berbicara lagi, dia hanya terus berjalan mengekor di belakang tubuh Randy. Pria itu keluar, mendekati garasi rumah dan masuk kedalam mobilnya.


"Thanks, ya." Randy mengangkat satu tangannya.


"Santai aja!" Egy menjawab.


Mesin mobil hitam milik Randy mulai menyala, kemudian mundur perlahan, dan segera berbelok memasuki jalanan komplek perumahan yang sudah sangat sunyi.


Tentu saja, malam sudah beranjak pagi bukan?


Sementara Egy menatap mobil milik Randy yang terus pergi menjauh. Setelah tadi sore dia membawa pria yang terlihat sedang tidak baik-baik saja pulang ke rumahnya, dan menghabiskan waktu bersama dengan bermain game.


***


Randy mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan kota yang masih terlihat sangat ramai, juga ditemani musik dari seorang musisi yang mengalun kencang di dalam mobil sana.


Tenda-tenda pedagang makanan masih terlihat di penuhi muda-mudi. Padahal jam sudah menunjukan hampir pukul dua dini hari, namun aktivitas masih saja terlihat.


Tiba-tiba dirinya teringat kepada Ayumi. Sedang apa dia sekarang? Ada sudah tertidur? Atau menangis karena dirinya yang tak kunjung datang bahkan sampai selarut ini.


Dan untuk pertama kalinya mereka bertengkar sampai seperti sekarang. Sampai membuat Randy benar-benar pergi meninggalkan kediamannya. Mood Ayumi yang naik turun, berhadapan dengan egonya yang sangat tinggi, membuat pertengkaran antara keduanya tak lagi dapat dihindari.


Masalahnya memang sepele, bahkan Randy terus merutuki dirinya sendiri kenapa dia tak mampu mengerti keadaan emosi istrinya yang tidak pernah bisa stabil apalagi setelah mengandung. Lalu siapa yang harus disalahkan disini? Tentu saja dirinya, karena pergi dalam keadaan marah itu tidak dibenarkan, masalah tidak akan selesai hanya karena di hindari.


"Astaga! Laki-laki macam apa aku ini, meninggalkan istriku begitu saja. Bagaimana jika dia belum makan, atau bahkan sampai melupakan obat juga vitamin nya!" Randy bermonolog, dia terlihat begitu menyesal.


Setelah berkendara cukup memakan waktu. Akhirnya dia memutar setir mobilnya, memasuki garasi rumah yang tampak begitu sunyi, bahkan lampu di beberapa ruangan terlihat sudah di padamakan, membuat Randy yakin jika sang penghuni rumah sudah terlelap.


Dia menekan beberapa kode, kemudian menekan handle pintu, dan mendorongnya dengan sangat perlahan setelah kuci pintunya benar-benar terbuat.


Namun dia tertegun saat mendapati Dini duduk di ruang tengah dengan keadaan temaram, menatap ke arah pintu taman belakang yang sedikit terbuka.


"Den!" Wanita yang juga mulai menyadari keberadaan Randy segera bangkit.


"Sudah malam. Kenapa pintu taman belakang masih terbuka, … terus kenapa diam gelap-gelapan begini!?"


"Saya sedang menunggu Non Ayumi."


Deg!!


Tubuh Randy seketika mematung.

__ADS_1


"Dia pergi?"


"Bukan. Non Ayumi baru kembali setelah mengantarkan makanan ke pos security di depan …"


"Makanan?" Sergah Randy, dia tak membiarkan Dini menyelesaikan ucapannya.


"I-iya. Tadi sore Non Ayumi masak beef banyak banget, terus nungguin Den Randy nggak pulang-pulang, jadinya sama Non Ayumi di bungkus, terus di kasih ke security di depan, … padahal Non Ayumi belum makan sama sekali."


Ucapan itu persis seperti Godam besar yang langsung menimpa dadanya, sampai menimbulkan rasa sesak, juga menyesal karena dirinya terlalu mementingkan ego.


"Sekarang dimana Ayumi?" Raut wajahnya terlihat panik.


"Setelah satu jam berada di luar, Non Ayumi pulang. Masuk kamar, keluar lagi bawa selimut dan sekarang lagi tiduran di kursi taman."


"Baiklah." Kata Randy.


"Kalau begitu Bibi masuk kamar dulu, tadi Bibi tungguin soalnya khawatir. Di suruh masuk nggak mau, katanya mau di sana dulu."


Randy mengangguk.


Pria itu segera berjalan mendekati pintu penghubung antara ruang tengah dan taman belakang yang tampak sedikit terbuka, mendorong perlahan-lahan, dan terdengarlah nyanyian pelan Ayumi yang terdengar tercekat beberapa kali.


"You said, … forever in the end i, …fought it …" Perempuan itu menghela nafas terlebih dahulu.


"Please be honest, … are we better, … for it." Dia menghela nafasnya lagi.


"Thought you'd hate me but instead you called."


Suara Ayumi terdengar bergetar. Dan sepertinya dia sedang mencoba menahan tangis. Di bawah langit malam yang mulai pagi, berbaring terlentang di atas kursi kayu, di bawah lampu-lampu bohlam, dengan selimut yang dia pakai. Entah apa yang sedang dia lakukan, namun yang pasti Ayumi berusaha membuat perasaannya baik-baik saja.


Dadanya terasa semakin diremat hingga menimbulkan rasa sesak, ketika melihat Ayumi mengusap sudut mata dengan punggung tangannya.


Hembusan angin terasa semakin menusuk, meski dirinya memakai baju hangat, juga selimut, tetap saja wajahnya terasa menjadi beku, namun dia belum berniat untuk kembali ke dalam.


Dia betah berbaring disana, menatap langit cerah dengan bintang-bintang yang terlihat kelap-kelip. Setidaknya itu membuat rasa kecewanya sedikit hilang, dan mampu mengendalikan diri saat dirinya ingin pergi jauh, hal yang sama suaminya lakukan.


"Sudah sangat larut, kenapa masih disini?" Ucap Randy dengan sangat lembut.


Ayumi menoleh, perempuan itu terdiam ketika melihat keberadaan Randy yang berdiri di ambang pintu masuk. Keduanya terdiam, hingga membuat pandangan mereka beradu untuk beberapa saat.


"Masuklah, sudah hampir jam tiga pagi!" Kata Randy lagi, dia mulai melangkahkan kaki untuk mendekat.


Namun Ayumi masih diam. Menatap suaminya dengan hati yang begitu ngilu.


Susah payah sejak dari tadi Ayumi menahan tangisnya, lantas keberadaan Randy membuat air mata itu terus berjatuhan tanpa dia sadari.


"Masuklah sudah hampir pagi, angin malam tidak baik untuk Mommy juga Baby nya!"


Randy berjongkok tepat di samping kursi yang Ayumi tempati. Menggenggam tangan perempuan itu dengan raut wajah sendu.

__ADS_1


"Maaf." Bisik Randy.


Bola mata Ayumi bergerak-gerak, menatap wajah Randy dari jarak yang sangat dekat. Dia mulai tidak mengerti dengan perasaannya. Bukankah seharusnya Ayumi senang suaminya pulang, tapi kenapa dia malah ingin menangis.


"Kau dingin sekali!" Randy menyentuh pipi Ayumi. "Ayo kita masuk, … nanti sakit jika terlalu lama di luar seperti ini."


Ayumi masih tidak merespon apapun. Dia hanya terus diam, sambil menahan tangisannya yang mungkin saja akan segera meledak.


Randy menelusupkan kedua tangannya di punggung juga paha istrinya, lalu mengangkat dan membawa perempuan itu masuk kedalam rumah.


Klek!


Pintu kamar tertutup setelah Randy mendorongnya menggunakan kaki. Terus melangkah, sampai dia membungkuk dan meletakan Ayumi di atas tempat tidur. Ayumi seketika memutar tubuhnya, berbaring miring, meringkuk memeluk lututnya di bawah gulungan selimut.


Sementara Randy tak mampu mengatakan apapun. Dia hanya kembali menegakan tubuh sambil terus menatap punggung Ayumi dengan perasaan bersalah yang semakin besar.


Kata-kata Dini seolah menjadi alarm, sampai terus terdengar di dalam isi kepala. Dimana istrinya susah payah memasak, namun dirinya tak kunjung pulang sampai Ayumi memilih memberikan hasil masakannya kepada petugas pengamanan cluster tempat mereka tinggal.


"Tidurlah, aku mau mandi dulu!" Katanya kemudian memberanikan diri untuk kembali mendekat, dan memberikan ciuman di pipi sebelah kanan Ayumi.


Sempat takut di tolak, karena dia tahu betul Ayumi kini sedang benar-benar merasa kecewa, namun nyatanya tidak, perempuan itu hanya benar-benar diam tanpa merespon apapun, walau hanya dengan gestur tubuh.


Randy menarik lepas pakaian yang dia kenakan, berjalan memasuki pintu kamar mandi yang terbuka lebar, kemudian menutupnya rapat-rapat.


Suara gemericik air mengalir mulai terdengar, menandakan jika pria itu memulai ritual mandinya.


"Jangan menangis sekarang aku mohon, … jangan sekarang. Besok saja kalau dia sudah berangkat bekerja, maka menangislah sepuas yang kamu mau." Ayumi bermonolog dengan suara yang sangat pelan.


Dia mulai memejamkan mata. Berusaha mengusir rasa sedihnya dengan cara menjemput rasa kantuk yang tak kunjung datang meski dia sudah mencoba beberapa kali.


Lima belas menit berlalu. Suara pintu kamar mandi terdengar dibuka dari dalam, disusul derap langkah kaki dan berhenti beberapa detik sesaat sebelum Randy membuka lemari pakaian.


Pandangan Randy menoleh sekilas, menatap Ayumi yang tak mengubah posisinya sedikitpun.


"Jika dia marah tapi masih bila mengomel, maka itu bagus. Daripada seperti sekarang, kekecewaannya membuat dia tak mau berbicara bahkan sampai saat ini." Pria itu bergumam.


Selesai mandi, berpakaian, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia segera mendekati ranjang tidur, naik dan mulai membaringkan diri di samping Ayumi, untuk dia peluk seperti yang dia lakukan meski perempuan itu tak berbalas memeluknya.


"Sudah tidur?" Tanya Randy.


Hening. Hanya terdengar hembusan nafas yang begitu teratur, tapi Randy sangat yakin jika istrinya belum benar-benar terlelap.


"Aku tahu kamu kecewa." Randy berbisik, dia memainkan helaian rambut Ayumi. "Kamu memasak hari ini? Dan aku tidak pulang. Itu sebabnya kamu kecewa? Jadi maafkan aku sudah pergi dan berusaha menghindari semuanya, lebih mementingkan ego daripada keadaan dirimu. Bukankah seharusnya aku lebih bersabar? Dan mengerti karena keadaan kamu yang sedang hamil sekarang?"


Randy meracau.


Dan Ayumi terdengar menghembuskan nafasnya kencang, seperti sedang membuang sebuah rasa kurang nyaman di dalam diri. Randy semakin merapatkan diri, menarik Ayumi sampai benar-benar menempel dengan dirinya, dan membenamkan wajah di ceruk leher perempuan itu.


Akhirnya pertahanan Ayumi runtuh. Dia menangis cukup kencang, sampai suaranya terdengar pilu tanpa mengubah posisinya.

__ADS_1


"Maaf." Dan hanya kata itu yang mampu Randy katakan setelah apa yang sudah dia lakukan kepada istrinya.


__ADS_2