My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 92 (Tanam bibit)


__ADS_3

"Hahhh!" Dia menghembuskan nafasnya kencang, berusaha membuang sesuatu yang terasa kurang nyaman di dalam dada sana.


Ayumi menutup buku tersebut, menyimpannya di samping, lalu menatap langit-langit kamar dengan perasaan sesak di dalam dirinya.


"Kok dada aku sesak yah!" Ucap Ayumi seraya merabanya, lalu mengusap perlahan.


Dia benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, tapi dia tidak tahu apa, yang pasti rasa cemas begitu mendominasi, sampai hatinya terus bertanya 'kenapa' tapi dia tidak tahu maksud hatinya itu apa.


Ayumi seperti ingin mengetahui sesuatu kebenaran apa, dia butuh jawaban, tapi kali ini dia benar-benar tidak mengerti dengan isi hatinya.


"Bukunya keren." Perempuan itu melirik sekilas, menatap lekat-lekat, cover buku yang terlihat sudah sedikit usang.


Ya, sepertinya buku itu terbit sudah sejak lama.


Lalu pikirannya berkelana. Jika dirinya dibuang oleh kedua orang tuanya, sampai dia dibesarkan oleh Ali dan Tutih. Lalu bagaimana dengan nasib anak dari wanita itu? Apakah anak itu seberuntung dirinya? Setelah Laras tak dapat menemukan dia bahkan hingga saat ini.


Pikirannya terus berputar-putar.


"Ahh, … kenapa dadaku terasa begitu sakit." Ayumi mengeluh.


Dia bergeser, turun dari atas tempat tidur seraya membawa buku itu untuk dia kembalikan kepada Sumi. Kakinya kemudian berhenti, menekan handle pintu lalu keluar.


Klek!


Ayumi menarik pintu kamarnya sampai kembali tertutup seperti semula. Pandangannya langsung tertuju ke arah pintu taman belakang yang masih terbuka, lalu berjalan ke arah sana.


"Non!"


Panggilan itu membuat langkah kaki Ayumi terhenti, lalu dia berbalik badan.


"Eh iya, … ini Bukunya, aku kembalikan." Ayumi tersenyum. "Terimakasih, Bukunya sangat bagus, saking bagusnya sampe jleb, hati aku rasanya sakit banget, dada juga sesak, perasaan aku malah ikutan gelisah, kenapa yah!" Dia terkekeh, lalu menyodorkan buku tersebut kepada Sumi.


Kamu merasakannya, Ayumi! Dan itulah perasaan saya jika sedang merindukanmu.


Batin Sumi berbicara.


Wanita itu bungkam, meraih bukunya dengan tatapan yang tak teralihkan sedikit pun. Dia menatap wajah Ayumi yang sedang tersenyum tipis, menatap netra indah yang begitu persis dengan pria yang dulu sangat dia cintai.


"Bi?"


Sumi diam, matanya memerah dan berkaca-kaca.


"Bi Sumi baik-baik saja?" Ayumi semakin mendekat.


Sumi masih tidak merespon, tapi air matanya jatuh begitu saja, membuat Ayumi merasa semakin bingung.


"Bibi ingat keluarga Bibi lagi? Mau izin pulang kampung? Kalo mau nanti aku izinin sama Abang." Dia bertanya, bahkan sampai memiringkan kepala untuk memperjelas penglihatannya.


Dada Sumi semakin bergemuruh, kali ini dia benar-benar tidak bisa membendung rasa rindunya lagi. Tapi harus bagaimana dia sekarang? Anak yang dia cari-cari, kini ada di hadapannya tapi dia tidak bisa berbuat apapun.


"Bi Sumi? Halo?" Ayumi melambaikan tangan di depan wajahnya.


Bukannya menjawab, Sumi justru memeluk Ayumi dengan sangat erat, lalu menangis sejadi-jadinya, membuat beberapa orang yang berada di luar berhamburan masuk kedalam.


"Ada apa ini?" Maria datang, menatap Ayumi yang sedang berada dalam pelukan asisten rumahnya, dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


"Bu Sumi? Apa terjadi sesuatu?" Maria mendekat, dan berusaha memisahkan mereka.


Meski awalnya sulit, tapi akhirnya Sumi mengurai pelukannya, membiarkan Ayumi di bawa oleh Randy dengan segera memasuki kamar mereka.


"Ada apa ini?" Tanya Randy dengan suara rendah.


Ayumi menggelengkan kepala.


"Aku bingung, kenapa Bi Sumi begitu. Awalnya terus natap aku, tiba-tiba peluk terus nangis!"


Jelas Ayumi, menatap Randy yang kini tampak menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


"Dia mengatakan sesuatu?"


"Tidak, Ni Sumi tidak mengatakan apapun. Aku hanya mengembalikan buku milik Bi Sumi tadi."


Mata Randy bergerak-gerak, menatap mata istrinya, mencoba mencari sebuah kebohongan, namun dia tidak mendapatkannya.


"Pipi kamu kenapa?" Ayumi bereaksi, dia sedikit berjinjit, lalu mengusap pipi kiri suaminya.


"Ditampar Ibu." Katanya.


"Ibu? Kenapa Ibu nampar kamu?" Ayumi terheran-heran.


"Ada nyamuk, tapi Ibu kebablasan." Randy berbohong.


Tentu saja, mana mungkin dia menjelaskan kenapa Maria bisa menamparnya, sedangkan dia belum siap dengan reaksi Ayumi, terlebih mereka yang baru saja akan menggelar acara pesta pernikahan, dan Randy tidak mau merusak momen indah itu.


"Sakit?" Ayumi terlihat sedikit khawatir.


"Iya, rasanya panas." Randy menahan senyum, dia menggerakan alisnya naik-turun, seperti sedang menggoda Ayumi.


"Mau aku kompres?" Tawar Ayumi.


Randy menggelengkan kepalanya.


"Mau di sun saja." Suara pria itu terdengar sangat rendah, dan dia tahu betul dengan suara itu, suara andalan Randy untuk menggoda istrinya.


Mendengar itu Ayumi tersenyum, kembali berjinjit, kemudian mencium pipi kiri Randy yang terlihat sangat merah. Entah tamparannya yang kencang, atau kulit suaminya yang memang terlalu putih, sampai dapat menimbulkan bekas kemerahan seperti itu.


Cup!


Ayumi mencium pipi kirinya, beralih ke pipi kanan, lalu kening dan berakhir di bibir.


"Apa kamu sudah mengantuk?" Tanya Randy.


Ayumi menimpali dengan gelengan kepala terlebih dahulu.


"Sepertinya belum, … kenapa? Mau ajak aku jalan malam?" Raut wajah Ayumi berubah berbinar, pikirannya benar-benar teralihkan, setelah tadi terlihat cemas dan bingung, kini wajah cerianta kembali terlihat.


Randy bungkam, matanya menatap sekitar, dia tersenyum samar tapi terlihat mencurigakan, lalu meraih pinggang Ayumi, dan menyatukan kening keduanya.


"Mungkin besok malam, … malam ini bagaimana kalau kita coba buat adik Bayi?" Bisik Randy.


"Hemmm?"

__ADS_1


Ayumi mendorong dada suaminya cukup kencang, sampai keduanya kembali sedikit berjarak, dan memandang satu sama lain.


"Kan sudah." Ayumi tersenyum malu.


Apalagi saat saat dia mengingat kegiatan panasnya, membuat Ayumi merasakan malu.


"Yang tadi tidak bisa jadi Bayi, … kamu tahu kenapa? Karena bibitnya terhalang permen." Jelas Randy.


Wajah Ayumi menjadi sangat merah, lalu menundukan kepala karena merasa gugup.


"Aku nggak mau pakai permen lagi, rasanya aneh, tidak nyaman, … sakit!" Rengek Ayumi.


Randy tersenyum gemas mendapati tingkah istrinya yang tengah malu-malu seperti sekarang ini. Dengan segera dia menarik kaos rumahan yang dikenakan nya, melemparkan ke sembarang arah, lalu mengangkat tubuh sang istri dan membawanya hingga terjatuh di atas tempat tidur.


"Abang!" Ayumi terkekeh geli, saat pria di atasnya mulia mengecup lehernya.


"Sssttt, diamlah. Jangan berisik … atau orang tua kita akan mendengar suara-suara seksi yang keluar dari mulutmu." Randy berbisik lagi dan lagi, hal yang dia sukai apalagi saat melihat ekspresi wajah istrinya.


Dia menegakkan tubuhnya, mulai menarik pakaian Ayumi satu-persatu. Dari kaos, legging hitam panjang, lalu sepasang pakaian berenda berwarna hitam.


Sampai lekuk tubuh berbalut kulit putih itu terpampang nyata. Ini bukan pertama kalinya Randy melihat Ayumi dengan keadaan seperti ini, namun keadaan istrinya saat ini benar-benar selalu membuat darahnya berdesir. Seperti dialiri listrik tegangan tinggi.


Randy kembali membungkuk. Pertama dia mencium kening, lalu kedua pelipis, pipi dan berakhir memangut dua belahan kenyal berwarna merah alami.


Tangan Ayumi bergerak, mengusap lengan kekar, bahu kokoh, dan berakhir meremat rambut cukup kencang, hingga mampu membuat pria di atasnya terus terdengar menggeram pelan.


Randy menghentikan kegiatannya terlebih dulu, mengubah posisi Ayumi sampai kini memunggunginya. Dia mulai memposisikan diri, lalu mengarahkan benda itu, mendorongnya sampai benar-benar terbenam sepenuhnya.


"Nghhh!"


Ayumi melenguh, dengan kening menjengit kencang, mulut terbuka juga kedua mata yang terpejam.


Perempuan itu mencengkram kuat bantal yang ada di bawah pelukannya, membenamkan wajah saat berusaha meredam suara-suara aneh yang mungkin saja bisa didengar oleh penghuni rumah.


Beberapa kali Ayumi terdengar merintih kesakitan, saat dia benar-benar belum terbiasa dengan posisi demikian. Namun perlahan suara itu berubah, dengan suara-suara indah yang Randy sangat sukai.


Tangan Randy terus meremat, kadang memukul saat merasa gemas, membuat Ayumi semakin tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.


Ayumi terus m**d***h, merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. Begitupun dengan Randy, dia menggeram, sambil memejamkan mata, merasakan semuanya yang entah harus bagaimana dia menjelaskannya.


"Emmmm, …. Sayang!!" Ayumi meracau.


"Ya, aku disini." Randy membalas, dengan suara tersengal-sengal.


Semakin lama kegiatan itu semakin tak terkendali. Randy terus berpacu kencang, apalagi saat merasakan sesuatu hampir meledak, tapi sekuat tenaga dia menahannya.


Ayumi menekan wajahnya pada bantal yang sedari tadi dia peluk, lalu menjerit ketika pelepasan menyapanya terlebih dulu.


"Baiklah sekarang aku!" Pria itu menggeram.


Randy terus berpacu, kali ini lebih cepat lagi. Keningnya berkerut, hingga hampir mempertemukan kedua alisnya, dengan nafas yang semakin terdengar menderu-deru.


Dan setelah itu Randy menghujam begitu dalam, berbarengan dengan sesuatu yang keluar dari dalam dirinya memenuhi Ayumi.


"Sayanghh!!" Keduanya melenguh.

__ADS_1


Dan setelah itu suara menjadi hening. Hanya terdengar deru nafas juga jarum jam yang terus berdetik memutari waktu.


***


__ADS_2