My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 165 (Ruang bersalin)


__ADS_3

Tubuh Bianca membungkuk, dengan kedua tangan yang bertumpu di atas lutut. Wajahnya terlihat pucat, keringat bercucuran, mata terpejam juga bibir yang terus-menerus meringis, menahan kontraksi rahim yang mulai terasa sangat intens.


"Sakit lagi?" Junior berjongkok di hadapan istrinya, berusaha melihat wajah Bianca yang terlihat sudah sangat mengkhawatirkan.


"Astaga ini sakit sekali!" Rintihannya kembali terdengar.


"Tidak apa-apa diam dulu, sudah tidak sakit nanti jalan-jalan lagi, agar Baby-nya cepat keluar." Dia mengusap pinggang Bianca.


Hal yang selalu perempuan itu minta, saat kontraksi mulai terasa.


"Sayang aku nggak kuat!" Suara Bianca bergetar.


Dia meraih pundak Junior, kemudian ikut bersimpuh, menyandarkan kepala di dada suaminya ketika Bianca sudah benar-benar tidak dapat menahan rasa sakit. Pinggang yang terasa panas sekaligus pegal, perut bagian bawah yang terasa semakin kencang, membuat Bianca tak lagi mampu menahan kakinya agar terus berdiri.


Junior melihat sekitar ruangan yang memang rumah sakit sediakan sebelum nantinya Bianca di bawa ke ruangan bersalin.


"Suster?" Junior berteriak.


Perasaannya semakin panik kala rintihan Bianca terdengar semakin lirih, juga tangan perempuan itu yang mencengkram pundaknya semakin kencang.


"Nior ini sakit sekali, aku nggak bisa." Bianca akhirnya menangis.


"Ya aku tahu sayang, tapi kamu hebat, kamu bisa, kamu mampu. Ingat! Sebentar lagi kita akan melihat Baby-nya." Pria itu memberi semangat lagi dan lagi.


"Sus? Suster tolong!"


"Mama!"


"Apa?"


"Aku mau Mama dan Papa. Kamu sudah memberitahu aku masuk rumah sakit?"


Namun Junior menggelengkan kepala. Jangankan untuk memberitahu sanak saudara, pekerjaannya dia tinggalkan begitu saja, ketika seorang asisten rumah tangga memberitahukan jika Bianca sudah mulai merasakan mulas yang begitu luar biasa.


Bahkan ketika dirinya datang, keadaan Bianca sudah benar-benar lemas, dan entah sudah berapa lama dia menahan rasa sakit itu, hingga bukaan lahir sudah mencapai 7, ketika pertama kali mendapatkan pemeriksaan.


"Nior aku mau Papah!" Pintanya lagi di sela suara yang semakin melemah.


"Baiklah, jika kontraksinya sudah reda nanti aku telepon orang tua kita. Yang terpenting sekarang kamu sudah di sini, bukaannya sudah 7. Tinggal menunggu bukaan selanjutnya, pecah ketuban lalu kamu siap melahirkan anak kita."


Bianca diam. Sepertinya rasa sakit karena kontraksi nya mulai mereda. Nafasnya mulai teratur, juga reaksi tubuh yang semakin melemas.


"Mau istirahat di atas tempat tidur?" Tanya Junior yang langsung Bianca jawab dengan anggukan pelan.


"Baiklah."

__ADS_1


Junior memegangi tangan istrinya, mencoba membantu Bianca untuk berdiri, dan di detik berikutnya dia mengangkat tubuh sang istri untuk Junior letakan di atas tempat tidur.


Perempuan itu berbaring miring, matanya terpejam, dengan wajah yang terlihat kembali tenang.


Klek!


Pintu ruangan itu terbuka, berbarengan dengan Junior yang berbalik badan, membuat dirinya juga sang petugas medis saling beradu pandang.


"Ada sesuatu Pak?" Dia mendekat.


"Tadi istri saya mengalami kontraksi yang sangat luar biasa, … dan saya tidak tahu harus melakukan apa." Kunir berujar.


"Tinggal sebentar lagi, hanya tinggal bersabar. Mungkin Bapaknya mau menghubungi keluarga dulu? Sepertinya saya dengan Bu Eca terus meminta orang tuanya."


Junior mengangguk.


"Mau saya telepon." Kata Junior seraya menunjukan ponsel miliknya, kemudian dia berjalan ke arah luar, meninggalkan Bianca yang masih tenang.


Namun tidak lama setelah Junior keluar. Perempuan itu kembali meringis, memegangi pinggangnya yang kembali terasa sakit dan begitu panas, apalagi bagian perut yang terasa semakin kencang dari waktu ke waktu.


"Bu Eca, bagaimana sekarang? Mau saya periksa lagi bukaannya?" Suster segera mendekat.


Dia bahkan menunduk, memeriksakan plester selang infus yang terlihat sedikit terbuka, lalu merekatkannya kembali.


"Bu?"


"Sebentar lagi, sudah tujuh. Nanti kalau sudah bukaan delapan, kita pindah ke ruang bersalin yah."


Bianca tidak menyahut, dia hanya terus meringis dan mengatur nafas seperti yang selalu Dokter juga para perawat sarankan.


"Sus!"


"Baik kita periksa bukaannya lagi ya."


Wanita berseragam rapih itu memakai sarung tangan karek berwarna putih. Kemudian bersiap berdiri di samping Bianca, dan mulai melakukan pemeriksaan.


Calon ibu muda yang selalu menolak, karena rasanya yang sedikit kurang nyaman kini hanya diam, membiarkan seseorang terus memantau perkembangan bukaan lahirnya.


Bianca memejamkan mata, dia berdesis kencang ketika jemari wanita yang sedang memeriksakannya terus bergerak-gerak.


"Maaf ya Bu. Atur nafasnya seperti biasa agar rasa tidak nyaman nya sedikit berkurang."


Bianca langsung melakukan apa yang disarankan.


"Sudah sembilan ternyata." Katanya sambil membuka sarung tangan, kemudian membuang ke dalam bak sampah yang tersedia disana.

__ADS_1


***


Setelah mengalami kontraksi yang begitu hebat. Akhirnya Bainca siap untuk melahirkan, ketika ketubannya pecah sekitar beberapa menit lalu.


Anna, David, dan Junior diperbolehkan untuk mendampingi Bianca. Perempuan yang sudah berbaring diatas tempat tidur, dengan kedua kaki yang di tekuk dan dibuka selebar mungkin.


Dokter sudah bersiap-siap, dia duduk tepat di hadapan Bianca yang sedang menunggu rasa mulas.


"Kalau mulas seperti mau buang air, langsung dorong yah. Jangan bersuara, cukup dorong."


Bianca mengangguk.


"Atur nafasnya juga jangan lupa."


Bianca mengangguk lagi, dia menoleh ke arah samping kiri dimana David dan Anna berada, kemudian beralih ke sebelah kanan dimana Junior berdiri disana, menggenggam tangannya dengan sangat erat. Bahkan tak jarang pria itu mengucapkan kata-kata penuh semangat, di saat Bianca berbicara ingin menyerah.


"Ayo Ca! Kamu bisa, kamu hebat." Anna mengusap kepala putrinya yang sudah dibasahi oleh keringat.


Mata Bianca berkaca-kaca, apalagi saat dia melihat David. Pria tua yang selalu ada untuk dirinya, dikala segala sesuatu terasa sulit dan tidak mungkin.


"Ayo kamu bisa. Anak Papa hebat-hebat, tidak mungkin langsung menyerah tanpa berjuang terlebih dahulu." David tersenyum ketika Bianca kembali mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Hhhheuh!"


Bianca mulai merasakan kontraksi kembali. Kali ini lebih dahsyat, sampai tangan Junior menjadi salah satu korban cengkramannya.


"Atur nafas, kalau merasa sudah mau keluar, … dorong." Dokter mengarahkan.


Bianca mengatur nafasnya, menarik dan menghembuskan beberapa kali, kemudian mendorong kencang sampai posisi tubuh bagian atasnya sedikit bangkit, dengan tangan yang terus berpegangan kepada sang suami.


"Eeeeeeeuu!!"


"Kamu bisa sayang, kamu bisa." Ucap Junior tepat di telinga istrinya.


"Ahhhh!" Bianca menghempaskan punggung nya kencang ke arah belakang.


Dia berhenti beberapa detik, lalu kemudian kembali melakukan apa yang sudah dia pahami.


"Bagus, kepalanya sudah kelihatan." Dokter tersenyum.


Bianca merasa semakin takut, dia membayangkan kepala manusia akan keluar dari dalam inti tubuhnya. Sempat berhenti dan ingin menahan, nyatanya dia tidak mampu, rasa mulas begitu mendominasi sampai Bianca kembali menarik nafas sebanyak mungkin, membuangnya sambil mendorong sesuatu di dalam dirinya agar segera keluar.


Bianca kembali menghempaskan punggungnya. Dan terdengarlah suara jeritan Bayi ketika Dokter wanita itu berhasil menariknya dengan sangat perlahan dan hati-hati.


Senyum di bibir Junior mengembang, berbarengan dengan jatuhnya air mata haru, begitupun dengan Anna juga David, keduanya tersenyum penuh arti dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sudah aku katakan kamu bisa, kamu berhasil." Junior mencium kening istrinya.


Bianca mengangguk lemas, dia tersenyum kepada suaminya.


__ADS_2