My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 110 (Klinik)


__ADS_3

"Ay?"


Pria itu memanggil Ayumi yang masih berbaring di atas ranjang sana, sementara dirinya baru saja selesai membersihkan diri.


Perempuan itu segera menoleh, menatap Randy dengan mata sayu.


Sepertinya dia mengangguk.


"Kirain sudah tidur." Dia yang hanya menggunakan bathrobe dengan rambut acak-acakan yang kasih basah mendekat, dan duduk di samping Ayumi.


"Baru mau, Abang keburu manggil!" Katanya sambil terus bergeser, lalu menempatkan kepada di atas paha Randy.


Ayumi menghadapkan wajah pada perut suaminya, dengan kedua tangan memeluk erat pria itu, kemudian memejamkan mata.


"Apa masih sakit?" Randy mengusap kepala istrinya.


Ayumi mengangguk.


"Apa mau datang bulan?"


"Baru selesai, … masa datang bulan lagi!" Jawabnya sedikit terus.


"Atau mungkin kamu lapar!"


Ayumi menghela nafasnya, mengangkat pandangan sampai dapat melihat Randy yang juga sedang menundukan kepala dengan ekspresi bingung.


"Abang apa-apa di sangkut pautkan dengan isi perut. Memangnya aku makan terus apa? Atau Abang mau bilang aku rakus ya?"


Astaga dia mulai lagi!


Batin Randy berbicara.


"Kok diam? Jawab? Abang kesel yah aku makan terus." Ayumi segera bangkit, duduk menghadap Randy sambil membenahi selimut agar terus menutupi bagian tubuhnya yang mungkin saja akan memancing sesuatu di dalam diri suaminya bangkit.


Randy melongo. Menatap istrinya yang bersikap menyebalkan, namun tetap membuatnya merasa gemas. Apalagi saat bibir itu mengerucut, rasanya ingin menghisap dan mengigigit dengan sangat kencang.


"Ish Abang jadi nyebelin sekarang!"


Ayumi mendelik, dia berniat membersihkan diri. Namu Randy meraih tangannya terlebih dulu, menariknya sampai membuat Ayumi kembali terhuyung ke belakang.


Perempuan itu diam. Mengerjapkan mata beberapa kali, menatap pria yang mulai bergerak dan mengungkung tubuhnya.


"Kamu ini kenapa jadi sangat cerewet, huh?"


Suaranya terdengar pelan, juga mata yang menatap begitu tajam, membuat Ayumi merasakan seluruh bulu di tubuhnya berdiri.


(Jangan mikir aneh-aneh, flis deh)


"Tadi saat aku datang, kamu bilang kamu rindu? Tapi setelah aku ada bersamamu, … kau malah terus mengomel seperti ini!" Randy kembali berbisik, menatap Ayumi yang terdiam membisu.


Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Ayumi berbaring terlentang dengan Randy yang berada di atasnya, saling merasakan perasaan masing-masing, apalagi saat jantungnya terus berpacu kala menatap dua benda kembar yang sedikit terlihat.

__ADS_1


"Apa aku harus melakukannya lagi? Agar kamu berhenti mengomel, sayang?" Bisik Randy dengan seringai yang begitu menyeramkan.


Ayumi menggelengkan kepala tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Lalu aku harus bagaimana? Jauh-jauh kesini hanya untuk menemui cintaku, tapi dianya seperti tidak mau aku temui? Apa aku harus pergi agar kamu terus merasakan rindu yang begitu berat, dan membuatmu merengek memohon agar aku segera menemuimu?" Suaranya semakin terdengar rendah.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya lagi.


"Jangan. Aku nggak bisa." Jawab Ayumi pelan, lalu memeluk tubuh Randy dengan sangat erat.


"Aku tidak bisa. Aku memang baik-baik saja saat bersama Mama, tapi hati aku kosong, seperti ada yang hilang, dan itu menyakitkan sekali … aku tidak bisa terlalu lama jauh dari kamu!" Lanjut Ayumi.


Mendengar itu Randy mengulum senyum. Rasa bahagianya begitu membludak, apalagi saat Ayumi terdengar memohon, mengungkapkan isi hatinya yang tidak bisa berjauhan dengan dirinya.


Pelukan Ayumi terasa semakin erat, bahkan hidung Ayumi terasa menempel di bahunya, dan kembali mengendus seperti beberapa saat lalu setelah mereka melakukan hal yang begitu gila, dan indah tentunya.


"Sayang!" Randy memperingati.


Ayumi mendorong tubuhnya, sampai benar-benar menjauh, dengan ekspresi wajah Ayumi yang terlihat masam.


"Kamu kok bau!" Dia menjepit kedua hidungnya.


"Apa!?" Suara pria itu memekik kencang.


Kemudian mencium aroma tubuhya sendiri.


"Ini wangi sabun, … bau dari mana nya?"


"Iya maksud aku. Aku nggak suka baunya, aku suka wangi kamu, bukan bau sabun itu."


"Kamu ini kenapa?" Ucap Randy.


Ayumi tidak menjawab, dia segera bangkit dan berjalan memasuki kamar mandi.


***


Dan setelah saling meluapkan rasa rindu masing-masing dengan cara mereka sendiri. Akhirnya Ayumi juga Randy menapakan kakinya di salah satu tempat tongkrongan di tepi pantai, setelah Ayumi selesai membersihkan diri tanpa mengaplikasikan sabun ketubuhnya karena memang dia tidak menyukai aroma dari benda tersebut.


"Aneh, yah! Cuma aku yang pakai daster. Yang lain malah pakai bi***i, padahal ini malam." Bisik Ayumi sambil terkikit karena merasa geli sendiri.


Randy menatap Ayumi, dia menyeringai.


"Nanti kita honeymoon. Kita sewa satu villa, dan kamu harus memakai pakaian seperti itu!" Randy memainkan alisnya.


Ayumi tersenyum.


"Memangnya boleh?" Mata Ayumi berbinar.


Dia benar-benar merasa senang, karena memakai pakaian pantai seksi seperti itu adalah keinginan dia sejak dari dulu.


Memang terdengar aneh, hanya saja besar di sebuah desa pesisir membuat Ayumi memiliki keinginan lebih saat melihat para wanita cantik memakai pakaian seperti itu, yang membuat mereka terlihat begitu seksi.

__ADS_1


"Malah senyum-senyum."


Randy mencubit ujung hidung Ayumi, dan menariknya pelan sambil tertawa.


"Aku lagi bayangin." Ucap Ayumi jujur.


Mereka terus melangkahkan kaki, menyusuri pantai pada malam hari, dibawah lampu bohlam yang membentang, saling terhubung dari kabel satu ke kabel lainnya.


Tangan Randy memeluk pinggang Ayumi dengan erat, begitupun Ayumi, dia terus melilitkan tangan di perut suaminya, seolah takut terpisahkan.


"Duh!"


Langkah Ayumi berhenti, lalu dia memegangi perutnya.


"Sakit lagi?" Randy berjongkok.


"Ini aneh. Rasanya nggak nyaman, … kram sampai kulit perutnya terasa kencang." Keluh Ayumi.


Wajahnya terlihat sedikit meringis.


"Apa bisa kamu tahan? Atau mau periksa saja?" Tangan Randy ikut menyentuh punggung tangan istrinya yang terus menyentuh perut bagian bawah.


Ayumi diam, dia terlihat sedang berpikir.


"Jika bisa di tahan ayo kita makan dulu, tapi kalau sakitnya sudah semakin intens sebaiknya kita periksakan, … mungkin asam lambung kamu naik, kemarin kamu memakan banyak markisa!"


"Lambung disini!" Ayumi menyentuh bagian lain. "Ini sakitnya disini!" Dia kembali mengusap perut bagian bawah.


"Memangnya beda?" Tanya Randy.


"Ya beda." Sergah Ayumi dengan rasa kesal.


Randy mengangguk, dia memberi waktu untuk Ayumi menetralkan rasa nyerinya yang sedikit mengganggu, setelah mereka melakukan kegiatan panasnya.


Apa dirinya sedikit keterlaluan? Sampai Ayumi mengalami sakit di bagian sana. Bagian yang juga terasa sakit saat mereka baru saja melakukan untuk pertama kali.


"Bagaimana?" Pandangan Randy menengadah, menatap wajah Ayumi yang terlihat masih menahan rasa sakit.


"Sepertinya … ah tapi aku tidak mau ke Dokter, aku takut nanti ada fonis yang akan membuat aku kepikiran sampai tidak bisa tidur."


Randy tersenyum, kemudian dia kembali berdiri seperti semula.


"Setidaknya kita bisa mengantisipasi lebih awal."


"Jadi harus ke Dokter yah?"


"Kita ke klinik atau ke IGD. Mereka pasti mempunyai obat untuk rasa nyeri yang terus terasa." Jelas Randy.


Pria segera berbalik badan, lalu menarik tangan Ayumi untuk meninggalkan are sana.


"Abang pelan-pelan!" Perempuan itu memperingati, saat suaminya berjalan cukup kencang.

__ADS_1


"Ah baiklah, maafkan aku."


Randy sempat menghentikan langkahnya, menoleh untuk melihat ke adaan Ayumi, dan kembali berjalan, memasuki gedung yang masih terlihat ramai, untuk mencari klinik terdekat agar bisa memeriksakan keadaan Ayumi saat ini.


__ADS_2