
Ayumi duduk di kursi kayu yang terletak di tengah-tengah taman belakang. Memperhatikan Raizel yang tengah merawat tanaman-tanaman kesayangannya, sembari menikmati kue coklat buatan sang ibu mertua, dengan segelas teh panas.
"Ay? Kuenya mau tambah lagi tidak?" Maria berdiri di ambang pintu.
Dia berteriak cukup kencang, sehingga membuat dua wanita berbeda usia yang berada di area taman menoleh bersamaan.
"Memangnya Ibu sudah memenuhi semua toples?"
Maria mengangguk.
"Sisa yang agak gosong, kesukaan kamu!" Ujar Maria, kemudian dia tersenyum.
Ayumi mengangguk penuh semangat. Jelas, kehamilannya saat ini tidak terlalu menyusahkan. Dia hanya mual dan muntah di waktu-waktu tertentu, dan yang lebih menyenangkan adalah dia mampu memakan semua jenis tanaman tanpa merasakan reaksi apapun seperti sedang hamil Raizel 6 tahun lalu.
Maria kembali ke arah dalam, dan tidak lama setelah itu membawa satu tempat, dimana terdapat kue-kue dengan penampilan tidak sempurna.
"Cepat habiskan. Nanti kalau Randy pulang, ini sudah pasti habis sama dia!" Ucap Maria seraya meletakan wadah berisi kue coklat itu di atas meja yang sama.
Ayumi mengangguk.
Perempuan itu meraih gelas minumnya, meniup-niup beberapa kali, kemudian menyesapnya perlahan-lahan.
"El? Mau kue tidak?" Maria memanggil cucunya yang masih asyik bermain tanah dengan bibit tomat.
Raizel menoleh, menatap wajah Maria cukup lama, lalu menggelengkan kepala.
"Aku lagi sibuk, Oma!" Katanya.
"Benarkah? Tidak bisa di tunda dulu berkebun nya?"
"Tidak bisa. Kalau Dad pulang aku pasti tidak boleh main tanah, … jadi harus selesai sebelum Daddy pulang, kalau tidak nanti semua orang kena omel, termasuk aku."
Raizel kembali pada apa yang sedang dia sebagian, sementara Maria tersenyum dengan ekspresi tidak percaya.
"Kamu yang berulah, El. Jelas kamu yang akan kena omelan Daddy." Kata Ayumi.
"Seharusnya Mommy juga kena omel. Kan Mommy juga kasih izin kalau aku mau main sama Toto."
"Toto!?" Cicit Maria.
Dia memasang ekspresi wajah yang cukup aneh, lalu menoleh pada menantunya, mencoba mencari jawaban atas apa yang baru saja Raizel ucapkan. Awalnya Maria berusaha tidak peduli, akan tetap kata-kata itu terus Raizel ucapkan sampai membuat dirinya sedikit penasaran.
"Nama tanaman tomat Raizel." Ayumi menjelaskan.
"Oh." Maria mengangguk paham.
__ADS_1
"Oma? Kenapa Daddy hanya suka mengomel kepada orang lain? Tapi kepada Mommy sayang-sayangan terus. Kenapa? Padahal aku cuma siram Toto, tapi Dad malah suka merembet kemana-mana." Gadis kecil itu kembali bertanya.
Dia bangkit, menepuk-nepuk tangannya yang sedikit kotor oleh tanah, lalu menatap Ayumi dan Maria bergantian.
"Kalau begitu, El harus mendengarkan Daddy, baru Daddy tidak akan mengomel lagi!"
"Ah nggak adil. Padahal Mommy sering nakal!"
Kening Ayumi menjengit, dengan tatapan heran.
"Kenapa jadi Mommy?" Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri.
"Nggak tau ah, aku males. Sama aku aja Daddy ngomel terus, kalau sama Mommy sayang-sayangan aja!" Dia mendekati kran air, kemudian membasuh tangannya.
Maria melirik Ayumi, dan seulas senyuman tipis wanita itu perlihatkan.
"Daddy begitu, karena sedang ada adik bayi di dalam perut Mommy, sayang!" Maria menjelaskan.
Raizel menatap neneknya.
"Yasudah, kalau begitu El juga mau masukin adik bayi ke perut El biar Daddy sayang-sayang El terus." Dengan lugunya gadis kecil itu berbicara.
"Aduh!" Ayumi menepuk jidatnya. "Bukan begitu, …" Belum selesai dirinya berbicara, Raizel segera berlari ke arah dalam, seraya berteriak memanggil-manggil asisten rumahnya.
"El? Astaga!" Maria terkekeh.
Maria bangkit, kemudian beranjak masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ayumi yang masih diam dengan mulut yang sedikit menganga.
"Kenapa dia semakin aneh?" Gumam Ayumi.
***
Tepat pukul 17.00 sore hari.
Mobil Randy terlihat memasuki garasi rumahnya, dan tidak lama setelah itu keluarlah sosok pria dari dalam mobil sana, membawa satu kantong hitam berukuran sedang, bersamaan dengan beberapa perlengkapan kerjanya.
"Hey, Daddy pulang!" Teriak Randy setelah berhasil membuka pintu utama yang terbuat dari kayu jati asli.
Rumah terasa hening, tidak terdengar teriakan atau racauan Raizel yang selalu terdengar. Lalu suara langkah kaki terdengar, datanglah Maria dari arah dapur, di susul Ayumi setelahnya.
"Rumah sepi sekali? Kemana si sulung?" Lantas Randy segera bertanya kepada ibu dan istrinya.
"Tidur. Setelah sedikit merajuk dan membuat sedikit drama yang membuat Ibu dan Bi Dini pusing." Jelas Ayumi.
Kedua sudut bibirnya tertarik berlawanan. Menimbulkan senyuman tipis yang tertahan. Entah kenapa rasanya ingin terus tertawa saja jika mengingat beberapa jam lalu, ketika Raizel merengek ingin memasukan adik bayi ke dalam perutnya.
__ADS_1
Randy terlihat bingung, kemudian dia menyerahkan jas yang sudah tidak dipakai, beserta tas kerjanya kepada Ayumi.
"Itu bawa apa?" Tanya Ayumi ketika suaminya tidak memberikan bungkusan hitam di genggaman tangannya.
Randy mengangkat plastik tersebut.
"Oh, … aku beli asinan buah, kamu mau?" Dia bertanya kepada istrinya.
Ayumi menoleh pada Maria.
"Bu? Tolong mangkuk, aku mau makan sekarang." Pintanya dengan senyuman khas.
Maria tersenyum, lalu menerima apa yang Randy berikan, sebelum akhirnya dia membawa ke arah dapur bersih yang ada di area ruang tengah.
“Tadi Papa kirim pesan.” Kata Randy kepada Ayumi.
“Oh ya? Apa?”
Ayumi tampak sangat antusias, bahkan raut wajahnya seketika berbinar, tersenyum lebar sampai giginya terlihat dengan jelas.
“Hanya menanyakan keadaan kamu saja.”
Maria kembali dalam waktu yang tidak lama, membawa semangkuk asinan mangga berwarna kuning segar.
“Oh ini asam sekali, Ibu yakin kamu tidak akan kuat, Ran!” Ujar Maria sambil meletakan mangkuk itu di atas meja.
Bukannya menjawab, justru Randy segera meraih sendok yang disediakan, membawanya satu potong, dan menjejalkan asinan mangga itu ke dalam mulutnya. Tidak ada reaksi apapun yang terlihat mencolok, pria itu hanya memejamkan mata, sambil bergumam.
“Emmmm, … ini enak sekali!” Ucap Randy. “Sayang, kamu mau?” Dia kembali membawa satu potong mangga dengan sendok, lalu memberikannya kepada Ayumi.
Perempuan itu langsung memejamkan mata, dengan ekspresi lucu saat merasakan masam yang luar biasa.
“Oh astaga!” Ayumi bereaksi.
“Ibu bilang juga apa?” Maria terkekeh.
“Ah aku tidak sanggup!”
Randy menatap istri dan ibunya bergantian, kemudian kembali melanjutkan acara makannya. Tanpa henti pria itu terus menjejalkan asinan mangga itu kedalam mulutnya. Mata kembali terpejam, bibir terus bergumam, sambil sesekali menggelengkan kepala, ketika merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Sementara Ayumi dan Maria mengerutkan dahi, saling menatap dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan oleh kata-kata.
“Oh kalian payah sekali, … ini enak tahu!” Katanya, lalu menyeruput air dari asinan itu sendiri. Yang mempunyai rasanya manis, asam, asin dan pedas.
“Emmm, … kenapa aku baru tahu kalau asinan mangga ini enak sekali. Kalau begitu besok aku mau coba asinan yang lainnya!”
__ADS_1