
Setelah membantu Randy mengenakan dasinya. Ayumi segera berjalan mendekati meja rias, duduk seperti biasa dan menunggu Randy untuk membantu mengeringkan rambutnya. Salah satu kegiatan yang tidak pernah terlewatkan, selain melakukan mandi bersama-sama di setiap pagi.
Pria itu menghidupkan mesin hair dryer, dan mengarahkannya ke arah rambut Ayumi, yang sudah lebih dulu perempuan itu rapikan dengan menggunakan sisir agar mempermudah suaminya. Dengan telaten Randy melakukan itu, menyibak dan mengusak rambut panjang Ayumi hingga setelah kering, lalu memberinya vitamin dan memasangkan jepitan agar rambut terurainya sedikit lebih rapih.
Randy membukuk, menyimpan benda itu di atas meja, menoleh dan mencium pipi Ayumi dengan perasaan gemas.
"Kamu cantik." Katanya.
"Kita kaya main salon-salonan yah! Setiap pagi begini, kamu membantu mengeringkan rambut, lalu mengaplikasikan vitamin dan memasangkan jepitan." Dia terkekeh kencang sampai membuat kepalanya mendongak ke arah belakang, dimana Randy berdiri dan menahannya agar tidak terjatuh.
"Kita saling melengkapi bukan? Kamu membantu aku berpakaian, … ah maksudnya memasangkan dasi, lalu aku membantu kamu mengeringkan rambut."
Randy membungkuk lagi, dan meraih bibir Ayumi dan mendaratkan kecupan beberapa kali.
"Baiklah ayo kita sarapan." Randy tersenyum.
Ayumi mengangguk, dia segera bangkit sampai pantulan dirinya di dalam sana terlihat. Perutnya terlihat semakin maju, bahkan ketika dia memakai dress rumah berukuran besar, perut itu masih tetap terlihat.
Dia mengusapnya dengan lembut.
"Ayo kita sarapan dan minum susu. Hari ini mau susu apa? Ada Vanila? Coklat? Strawberry dan Mocca?" Seperti biasa Ayumi menyapa bayinya.
Randy mengulum senyum. Dia meraih pundak Ayumi, dan membawanya berjalan ke arah pintu kamar untuk segera mendatangi meja makan yang sudah tersedia sarapan seperti biasanya.
"Selamat pagi, Bi?" Ayumi menyapa asisten rumahnya saat, yang saat ini terlihat membawa sebuah keranjang pakaian bersih, hendak membawanya ke arah taman belakang dimana tempat jemuran berada.
Sementara Randy berjalan mendekati meja makan lebih dulu, membawa gelas berniat membuatkan susu untuk istrinya.
"Pagi, Non. Sarapannya sudah siap yah! Bibi mau jemur baju dulu."
"Bibi sudah sarapan?" Ayumi bertanya.
"Sudah." Dini menjawab.
Ayumi mengangguk lagi, dia kembali melangkahkan kaki mendekati suaminya.
"Mau rasa apa hari ini?" Randy menatap Ayumi.
"Vanila."
Ayumi menarik salah satu kursi meja makan, kemudian duduk, memperhatikan Randy yang sedang memasukan beberapa sendok susu dan menambahkan air hangat.
Pembawaannya yang selalu terlihat galak, sikapnya yang tegas, tidak ramah kepada siapapun orang yang baru dia temui, termasuk Una juga Aira, namun di sisi lain pria itu selalu bersikap lembut, dan tak jarang membuat Ayumi terharu.
"Jangan diliatin terus, nanti kamu tidak mengizinkan aku pergi bekerja." Kata Randy tanpa mengalihkan pandangannya dari gelas susu yang sedang dia aduk menggunakan sendok.
"Abang kalau sama aku baik, manis, lembut dan ramah. Kok kalau sama orang lain galak? Termasuk sama Una da Aira, bahkan Abang selalu ketus, kenapa?"
Randy membawa gelas susu Ayumi, lalu meletakkannya di atas meja makan, dan segera duduk.
"Memangnya kamu mau? Abang ramah kepada semua orang?"
"Tidak begitu. Tapi Abang jutek sama Una dan Aira, padahal mereka teman seperjuangan aku tahu, apalagi Una, dia kalau Mamanya bawain makanan suka inget sama aku. Aira juga, kalo pulang kampung suka bawain oleh-oleh buat aku, … jadi jangan galak-galak, mereka jadi segan datang kesini."
Ayumi meraih piring kosong dan mengisinya dengan sedikit nasi merah.
"Lauknya ambil sendiri oke!"
Randy mengangguk.
"Terimakasih, sayang." Ucap Randy, yang langsung Ayumi jawab dengan sebuah anggukan dan senyum manis.
"Aku tidak bisa bersikap tiba-tiba ramah, kamu pasti tahu. Terkecuali kepada orang tua, aku tidak mungkin bersikap tidak sopan bukan?"
"Hemmm, … baiklah selamat makan!" Kata Ayumi, dia mulai menyendok nasi dan daging ayam panggang bagian dada.
Keduanya diam, menikmati sarapan masing-masing. Sampai setelah beberapa menit lamanya, mereka selesai, menjauhkan piring bekas pakai, lalu membawa satu botol air berukuran kecil yang memang selalu tersedia di atas meja makan, sedikit memudahkan Ayumi dan Randy jika tiba-tiba tersedak atau kepedasan.
Ayumi meraih toples kecil berisikan vitamin dan obat miliknya.
"Bagaimana dengan obat antidepresan milikmu? Sudah mau habis?"
"Masih ada. Kan sekarang dosisnya semakin di kurangin, … aku sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Aku lebih bahagia, dan tekanan yang selalu aku rasakan mulai tidak ada, kepala aku juga sudah jarang berisik kalau aku lagi kesel atau marah." Jelas Ayumi.
Dia membuka kemasan vitamin, meletakan di atas lidah, lalu meminum air sebanyak mungkin.
Randy diam melihat istrinya. Seorang wanita yang tidak pernah tahu caranya minum obat, namun kini terlihat ahli karena memang seharusnya begitu.
"Kakimu?"
"Masih begitu. Kalau berdiri lama pasti akan sakit, atau terasa ngilu saat kamu menekuknya cukup kencang." Tiba-tiba saja obrolan tersambung ke arah sana.
Randy memicingkan mata, seraya tersenyum miring penuh arti.
"Pagi-pagi membahas itu!" Pria itu berbisik, namun masih bisa Ayumi dengar dengan jelas.
"Astaga aku tidak bermaksud kesana, maksud aku …"
Randy tertawa.
"Dasar mesum. Pikirannya kemana-mana!" Tawanya terus terdengar sampai membuat wajah Ayumi merah merona.
"Ish, … ayo cepat aku antar kamu sampai teras depan."
Ayumi bangkit lebih dulu, membasuh tangannya dengan sabun dan air bersih di wastafel yang tersedia di dapur bersih, berjalan ke arah kamar, kemudian keluar lagi menenteng jas dan tas kerja milik Randy.
"Sayang, ayo nanti kamu terlambat." Ibu hamil itu berteriak cukup kencang, sampai suaranya menggema di dalam sana.
__ADS_1
Randy terus menyunggingkan senyum, dia meraih tissue dapur setelah membasuh tangannya, lalu berjalan mendekati Ayumi.
"Nanti siang mau masak?"
"Nggg, … kayaknya hari ini aku mau keluar sama Una dan Aira yah? Mereka lagi free, mungkin makan-makan atau belanja beberapa pakaian adik bayi, nyicil sedikit-sedikit." Ayumi meminta izin.
Randy menundukan kepalanya, sambil terus berjalan mendekati laci penyimpanan kunci mobil.
"Boleh yah?!"
"Sendirian?"
"Bertiga, Abang!"
"Berangkat dari sininya sendirian?"
Ayumi mengangguk, melepaskan genggaman tangan yang sempat terpaut saat Randy hendak membawa kunci mobil miliknya.
"Tidak boleh!" Ucap Randy tegas.
Pria itu melenggang ke arah luar, berjalan mendekati mobil Lexus abu-abu kesayangannya. Disusul Ayumi yang membawakannya tas kerja, dan jas yang belum Randy pakai.
"Abang!" Ayumi merengek.
Randy menggelengkan kepalanya, dengan ekspresi wajah yang sudah mulai terlihat serius, dan artinya pria itu benar-benar tidak bisa di bantah.
"Biarkan Una dan Aira datang, tidak boleh keluar sendirian. Bahaya, ay! Kamu sedang hamil besar seperti ini, bagaimana kalau terjadi seuatu? Melahirkan itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja. Walaupun usianya belum genap 7 bulan, tetap saja bahaya."
Randy meraih jasnya, kemudian dia kenakan.
"Beneran nggak boleh?"
"Iya, aku tidak akan bisa fokus bekerja kalau kamu benar-benar pergi keluar, bahaya."
Ayumi cemberut.
"Ajak saja mereka kesini, order makanan yang banyak, nonton film kesukaan kalian. Tidak usah pergi keluar, oke?"
Dia menunduk, mencium kening Ayumi, mengusap perut, dan meraih tas kerjanya untuk segera Randy masukan kedalam mobil.
"Aku berangkat dulu, baik-baik di rumah." Randy mengusap pipinya, dia tersenyum kemudian beranjak memasuki mobil.
Dengan raut wajah sendu Ayumi menatap kepergian suaminya. Melihat mobil yang selalu Randy kendarai saat hendak bekerja, melaju semakin menjauh, dan menghilang di salah satu tikungan.
***
Beberapa toples berisikan kue kering. Minuman kaleng, dan berbagai macam makanan tersedia dengan rapi di atas meja sana, setelah Ayumi memesannya via online beberapa waktu lalu. Dia duduk di sofa besar ruang tengah, bersandar menatap layar televisi yang memperlihatkan film roman fantasi di salah satu aplikasi berbayar.
Ting tung!!
Akhirnya Bell rumah terdengar menyala. Sudah Ayumi pastikan itu dua temannya yang baru saja tidak.
Klek!
"Selamat siang, Bi. Kita mau cari Ayumi!" Aira berbicara.
Dini tersenyum, dia mengangguk dan mundur beberapa langkah sampai pintu rumah itu terbuka dengan sangat lebar.
"Masuk Neng. Non Ayumi sudah siap menonton." Katanya.
Una dan Aira mengangguk. Mereka segera masuk, dan berjalan menuju ruang tengah dimana Ayumi berada. Dan benar saja, perempuan dengan perut besar sudah duduk santai di sofa, menyantap kentang goreng yang sudah ditempatkan pada wajah besar di atas meja.
"Ayumi." Aira tersenyum.
"Buset, ibu-ibu makin hari makin gede aja perutnya." Celetuk Una.
Mereka berjalan semakin mendekat, kemudian memeluk Ayumi bergantian.
"Dede bayi sehat?" Una mengusap perut Ayumi, setelah dirinya dan Aira duduk menghimpit ibu hamil itu.
"Baik. Sehat, udah mau brojol, tendangannya semakin manteb!" Kata Ayumi sambil tertawa.
"Cewek? Cowok?" Aira ikut mengusap perutnya, berusaha menahan agar tidak melakukan itu karena malu, namun akhirnya dia tidak tahan dengan ke gemasan perut milik sahabatnya.
Ayumi menggelengkan kepalanya, dia mengulum senyum.
"Belum di kasih tahu. Nanti kejutannya pas Baby shower, sekitar 2 mingguan lagi." Jelas Ayumi. "Datang yah! Disini acaranya, nanti Ayank kamu datang juga!" Perempuan itu tertawa.
Sementara Aira mencebikan sudut bibir dengan bola mata mendelik.
"Apaan deh!" Cicit Aira dengan nada kesal.
"Ya kan emang kamu manggilnya gitu. Ayank Egy, kan?"
"Ay, malu tau. Jangan gini terus! Kamu kebiasaan kalau ada orangnya juga suka gitu!"
Ayumi terus tertawa terbahak-bahak, namun tidak dengan Una, dia mulai celingukan menatap setiap makan yang terhidang di atas meja.
"Ambil aja Una!" Ayumi menepuk punggung gadis itu.
"Boleh, Ay?"
"Boleh, aku sengaja order pas kalian benar-benar mau kesini." Jelas Ayumi.
Senyum di kedua sudut bibir Una tampak merekah, dan tanpa menunggu lebih lama dia membawa beberapa kentang goreng, lalu mengunyah dengan ekspresi riang.
Aira menatap Una dengan ekspresi tidak percaya, kemudian dia dan Ayumi saling melirik.
__ADS_1
"Pikirannya cuma makan. Pantesan jomblo sampe sekarang!" Celetuk Aira.
Tawa Ayumi semakin kencang terdengar. Sementara gadis yang di maksud berusaha tidak peduli, dia hanya menikmati dan mencoba makanan-makanan yang Ayumi sediakan.
Ada kentang goreng, Onion ring, Apple pie, puding, ayam goreng tepung, naget dan masih banyak lagi.
"Una. Makannya jangan rakus-rakus, ada cctv lho!"
Una tersentak, dia menoleh ke arah Aira.
"Masa!"
"Dih, noh liat." Una menatap sebuah benda bulay yang menempel di sudut dinding ruang tengah.
Dan itu berhasil membuat Una terdiam untuk beberapa saat.
"Mati gue!"
"Nggak makan aja, Una." Kata Ayumi.
"Pak Randy periksa cctvnya nggak? Wah gue ngeri nih dompet bininya kekuras habis gara-gara nyiapin makanan buat gue!"
Aira dan Ayumi tertawa. Membuat Una semakin panik sampai gadis itu bangkit dan memukul-mukul hampir seluruh tubuh Aira.
"Aduh, … duh … sakit Una!"
"Rese lo, rese banget sih!" Kaya Una dengan mulut penuh.
"Hey hey! Sudah sudah!"
"Kalian rese tahu. Aku lagi menikmati banyak makanan ini!"
Ayumi berusaha menahan tawanya, sampai wajah perempuan itu memelahan.
"Kalian masih kaya kucing dan anjing!"
"Hemmm, … Aira anak anjing emang."
"Ahahhhhha." Aira hanya tertawa.
"Filmnya sudah mulai. Diam dan nikmati makanannya oke!"
Una kembali ketempat duduknya semula. Mulai tenang, duduk bersandar dan menikmati alur ceritanya. Pun dengan Aira dan Ayumi, mereka benar-benar fokus pada tayangan di hadapannya sampai membuat suasana tiba-tiba hening.
"Una. Mau Apple pie satu!" Pinta Aira.
Una mengangguk, dia membawa piring berisikan makanan yang Aira minta, lalu menyodorkan kepadanya.
Dini mengintip dari arah pintu kamarnya, melihat tiga gadis muda yang sedang berkumpul.
"Non Ayumi ada di rumah, Den. Sedang menonton film dan makan-makanan yang Non Ayumi order via online."
Dini menekan tombol kirim.
Wanita itu kembali melihat ke arah dimana Ayumi dan teman-temannya berada. Sempat terdengar beberapa obrolan, mengira-ngira akhir dari sebuah film yang mereka tonton, namun setelah itu Ayumi benar-benar diam, tidak memperlihatkannya pergerakan apapun seperti sebelumnya.
Kedua temannya terus berdebar, sambil menikmati beberapa makanan disana tanpa menyadari jika mungkin saja Ayumi tertidur secara tidak sengaja, karena memang biasanya seperti itu.
Tring!!
"Ya sudah kalau begitu. Asal jangan izinkan dia kalau mau keluar, selain itu Bibi boleh santai dan istirahat saja." Balas Randy.
Dini kembali masuk, dan menutup pintu kamarnya.
"Gila jahat banget yah itu manusia!" Kata Una dengan nada kesal.
"Ay? Lo nggak kesel? Dari tadi diem mulu!"
"Ay?" Una mencondongkan tubuhnya, melihat Ayumi yang sedari tadi diam.
Dan betapa terkejutnya Una saat mendapati Ayumi yang tertidur dalam keadaan duduk bersandar.
"Lah! Ini calon ibu-ibu udah tidur aja!" Suara Una memekik.
Aira menoleh, dia ikut melihat Ayumi.
"Yaolo yaolo! Anak bunda kasian banget, nonton, makan sampe keboboan!" Aira tertawa pelan.
Kejadian itu mengingatkan mereka pada beberapa bulan yang lalu. Dimana mereka sempat keluar bersama, menghabiskan waktu di sebuah tempat makan kesukaan Ayumi, dan perempuan itu tertidur beberapa menit setelah menghabiskan makanannya.
"Ay? Benerin gih tidurnya, gue takut nanti pinggang lo sakit lagi." Aira menepuk pundak Ayumi pelan.
Namun tidak ada tanda-tanda jika gadis itu akan bangun.
"Biarin aja lah, tunggu sampe 15 menit, kalau masih nggak bangun kita panggil Bibi buat bantu pindahan ke kamar." Kata Una.
"Pindahin!" Ralat Aira.
"Ya seterahlah, pokoknya itu."
"Haih!"
Una kembali membenarkan posisi duduknya, menatap lurus ke arah layar tv berukuran besar.
"Gila! Kenyang yah liat yang ganteng kalo tv nya Segede gini. Tuh, … bulu hidungnya sampe keliatan." Una tertawa.
"Shuuuttt, … ketawa lo berisik banget, mode silent dong!"
__ADS_1
"Iya iya sorry!"