
Waktu terus berlalu, berjalan sebagaimana mestinya saat sinar matahari bergulir, bergantian dengan indahnya cahaya rembulan.
Hari terus berganti.
Dan sampailah pada hari itu. Hari yang tidak pernah Tutih harapkan di dalam hidupnya. Hari yang mungkin akan menjadi sejarah terburuk, bagi dia serta Ali suaminya, tapi tak menutup kemungkinan jika hari ini akan menjadi hal terburuk bagi Ayumi juga.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup Panjang. Akhirnya kedua orang tua Ayumi itu sampai di depan sebuah gerbang rumah besar milik Alvaro yang berada di pusat kota.
Ali masuk terlebih dulu, di susul sang istri dengan langkah juga perasaan sedikit ragu.
“Pak!” Wanita itu menyentuh lengan suaminya.
Ali menoleh.
“Kita sudah sampai Bu, … jangan terus membuat Bapak ragu.” Ali berujar.
“Apa sebaiknya kita pulang saja? Sepertinya Ibu benar-benar tidak siap dengan kenyataan ini!” Wanita paruh baya itu memohon.
Ali menggelengkan kepala.
“Kita harus benar-benar menghadapinya, Bu. Bagaimana pun hari ini akan tiba, … dan Ayumi berhak tahu siapa dia sebenarnya!” Ali meyakinkan.
Namun raut wajah penuh ketakutan itu terus saja terlihat.
“Tapi, … Pak …”
Klek!!
Pintu rumah itu tiba-tiba terbuka dari arah dalam, hingga membuat dua orang yang sedang sedikit berselisih paham terkejut, dan menoleh kearah suara terdengar.
“Bu Tutih dan Pak Ali sudah datang rupanya!” Sisil menyambut dengan senyum hangatnya. “Ayok silahkan masuk, … kirain ada apa cekcok di depan, ternyata kalian sampai yah! Mari Bu … Pak, suami saya sudah menunggu.” Ucap Sisil lagi.
Ali menganggung seraya tersenyum canggung. Sementara Tutih menatap Sisil dengan raut wajah tak biasa.
“Pak!?” Panggil tutih lagi.
Ali memejamkan mata beberapa saat, menggelengkan kepala, lalu membawa istrinya masuk ke dalam rumah milik Alvaro itu.
“Selamat pagi.” Ali berucap saat dia masuk, dan sudah terdapat Alvaro duduk di sofa besar sana.
Ayah dari Junior Alexander itu tersenyum, lalu berdiri dan meraih uluran tangan pria di hadapannya.
“Bu Tutih?” Alvaro beralih pada Wanita paruh baya yang berdiri di belakang Ali.
“I-iya Pak Al, maaf kami mengganggu pagi hari anda.” Tutih berbasa-basi.
Alvaro hanya tersenyum, kemudian mempersilahkan keduanya untuk segera duduk. Tak lama setelah itu Sisil kembali, bersama seorang asisten rumah tangga yang membawa satu nampan berisikan air minum juga toples kue kering.
“Pak Ali, … Bu Tutih! Silahkan di minum dulu, perjalanan dari desa kesini selain memakan banyak waktu, juga memakan banyak tenaga.” Katanya lalu duduk di samping suaminya.
***
Alvaro menatap jam yang menempel di dinding ruang tamunya.
“Apa Ayumi tahu kalian datang hari ini?” Dia bertanya, dan langsung di jawab anggukan oleh Tutih.
“Malam tadi saya menghubunginya via telfon. Mungkin dia sedang di jalan.” Jelas Tutih.
“Semua orang punya ketakutannya sendiri, saya juga tahu Ibu sedang takut atau mungkin disertai gelisah. Tapi percayalah, … semuanya akan baik-baik saja, meski Ayumi mengetahui siapa dia sebenarnya. Percayalah ini untuk kebaikan Ayumi juga!” Tukas Sisil yang mengerti ke khawatiran Wanita yang tampak beberapa tahun lebih tua darinya.
Tutih menghembuskan nafasnya berat.
“tapi bagaimana jika dia ingin tahu siapa orang tua kandungnya? Kami harus menjawab apa?” Tutih menatap Alvaro.
Alvaro diam, dia menyelami raut wajah sendu dengan mata yang mulai berkaca-kaca itu.
“Jika Ayumi meminta, maka dengan senang hati saya mencari tahu siapa orang tua Ayumi.”
“Apa semudah itu, Pak?” Ali kepada Alvaro.
Alvaro mengangguk, dia mengulum senyumnya.
“Itu akan sangat mudah, … jadi percaya saja …”
__ADS_1
Suara derum mobil memasuki pekarangan rumahnya terdengar. Sontak Alvaro menghentiak ucapannya, dan menatap kearah luar melalui jendela ruang tamu yang memang terbuka sangat lebar.
“Dia datang bersama kekasihnya.” Cicit Ali dengan suara yang terdengar lirih.
Mendapati itu perasaan Tutih semakin terasa tak karuan. Bahkan dia terus meremat tangannya sendiri, hingga siapapun yang melihatnya akan tahu jika dia sedang gelisah.
Semua pandangan tertuju kearah luar, dimana Ayumi yang terlihat baru saja keluar dari dalam mobil mewah itu, di susul seorang pria tinggi besar dengan tampilan yang terlihat sangat rapih.
“Sepertinya dia pandai mencari calon suami yah!” Alvaro bergurau, berusaha membuat suasana yang menegang menjadi sedikit tenang.
“Yah. Bapak benar, dia pandai mencari pria tampan di kota besar ini! Bahkan tanpa melihat siapa Ayumi dan latar belakangnya.” Ali menimpali.
Tok tok tok !!
Gadis itu tampak berdiri di ambang pintu.
Dia menatap kedua orang tuanya bergantian, kemudian beralih kepada Alvaro dan Sisil.
“Maaf aku terlambat, kami terjebak macet tadi.” Kata Ayumi dengan senyum yang terus terlihat.
“Masuklah! Bawa kekasih mu juga.” Sang tuan rumah mempersilahkan.
Ayumi mengangguk, lalu dia menarik lengan Randy.
“Selamat pagi menjelang siang, Bu … Pak!” Randy sedikit membungkukan badan, saat menayapa para orang tua.
“Silahkan duduk.” Alvaro menunjuk sofa kosong yang tersisa.
Dan kedua anak muda itu duduk berdampingan.
“Mama ambilkan minum dulu.”
Sisil bangkit, dan beranjak kearah dapur.
Setelah itu mereka terlihat saling berbincang. Membicarakan banyak hal termasuk pekerjaan Randy, yang ternyata dia adalah asisten dari suami Balqis, sosok yang juga sangat Alvaro kenali.
Tak hentinya Ayumi tersenyum, bahkan beberapa kali gelak tawanya terdengar saat Randy dan Alvaro saling bercanda gurau. Sementara Ali dan Tutih diam menyimak, seraya memikirkan bangaimana keadaan gadis itu setelah ini.
Apa senyumnya akan terus terlihat setelah ini?
Dia terkekeh, saat rasa gugup juga mulai menyerang perasaannya.
Randy dan Ayumi mengangguk bersamaan.
“Sangat serius, Pak.” Randy menjawab.
“Mereka benar-benar serius, Pak.” Kini dia beralih kepada Ali.
“Baiklah, jika begitu tanpa basa-basi lagi. Kami mau menyampaikan sesuatu …” tenggorak Ali tiba-tiba saja terasa kering.
“Bagaimana pun tanggapan kamu. Ibu mohon jangan kecewa sampai berlarut-larut.” Ucap Tutih.
Wanita itu sedikit memohon.
Ayumi terdiam sebentar. Menatap semua orang yang terlihat mulai serius, begitu pun Sisil. Bahkan Wanita itu lebih banyak diam, dan itu membuat Ayumi heran, karena tidak biasanya Sisil sependiam itu.
“Kalian membuat aku takut.” Ayumi tertawa cukup kencang.
“Jadi begini!”
Alvaro menegakan posisi duduknya, lalu berdeham.
“Randy? Apa kamu serius dengan Ayumi?” Tanyanya sekali lagi.
“Iya.” Randy mengangguk tanpa merasa ragu sedikit pun.
“Janji tidak akan menyakiti dia?” Alvaro menatap pria muda itu lekat-lekat.
Dan lagi-lagi Randy mengangguk penuh keyakinan. Tentu saja, dia sangat mencintai Ayumi, bahkan tidak hanya ucapan, dia pun selalu memperlakukan Ayumi seistimewa mungkin.
“Baiklah.” Alvaro menghela nafasnya.
Dan setelah itu dia menatap Tutih juga Ali bergantian.
__ADS_1
“Ada yang ingin Bapa dan Ibu mu katakana, Ayumi. Tapi bersikap tenanglah, cerna semuanya dengan baik, agar amarah tidak akan mengendalikan mu.”
Kening Ayumi menjengit keras, menatap Alvaro penuh tanya, dan beralih pada sepasang manusia yang kini duduk di sofa yang bersisian dengannya.
“Apa Bapak dan Ibu tidak setuju? Lalu kenapa tidak bilang pas Abang datang saja! Kenapa harus sekarang? di hadapan Om Al pula.”
Tubuh renta Tutih menegang, matanya membulat sempurna, menatap Ayumi dengan raut wajah yang tidak biasa.
“Bukan begitu. Kami tidak bilang kalau kami tidak setuju.” Ali berusaha menjelaskan.
“Lalu ap …”
Randy menyentuh tangan Ayumi, dia tersenyum, sedikit mengangguk, saat gadis itu menatap kearahnya.
“Dengarkan dulu.” Pinta Randy dengan suara lembutnya.
Ayumi pun diam, dan kembali menatap kedua orang tuanya.
“Ayumi dengar.” Ali meraih tangan putrinya.
Gadis itu menatap pria paruh baya di hadapannya lekat-lekat.
“Kamu anak Bapak dan Ibu, sampai kapan pun akan tetap seperti itu, …” Dia tampak memejamkan mata, dan menghirup oksigen sebanyak mungkin, saat berusaha menahan air matanya yang mungkin akan segera keluar dengan sangat deras.
“Aku nggak ngerti, ini kita mau bahas apa?”
Ayumi beralih kepada Sisil juga Alvaro, sementara mereka hanya tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban apapun.
“Akhirnya ada pria baik yang datang kepada kami. Miminta mu dengan perasaan penuh cinta dan kasih, dan tentu saja kami merestui kalian berdua. Hanya satu yang harus kami katakan sebelum kita bertemu orang tua Randy.”
“Apa?”
“Jika nanti kalian menikah, … kamu harus di nikahkan oleh wali hakim.” Jelas Ali dengan suara bergetar.
Seketika tangis Tutih pecah, dan tentu saja itu membuat Ayumi menjadi lebih bingung lagi.
“Apa kamu tidak mengerti maksud kami Ayumi?” Sisil mulai berbicara.
Ayumi diam, dia kembali menoleh kepada Randy. Pria yang juga terlihat sangat terkejut, bahkan raut wajahnya berubah seketika saat mendengar pernyataan Ali.
“Aku nggak ngerti!” Gadis itu terkekeh kencang, dengan pelupuk mata yang juga sudah tampak memerah.
Semua orang yang berada di sana bungkam, apalagi Tutih. Wanita itu sudah tak sanggup melihat Ayumi, dia merasa sangat bersalah karena telah mengatakan ini.
Alvaro tahu Ayumi mengerti maksud Ali, hanya saja dia berusaha menolak kenyataan itu dengan dalih bahwa dia tidak memahami setiap ucapan yang ayahnya katakan.
“Kamu ngerti nggak sih!?” Ayumi beralih pada Randy.
Gadis itu terus tertawa. Bahkan saat air matanya mengalir dengan sangat deras.
Randy menatapnya dalam diam.
“Kalian ini bicara apa? Berhentilah berbasa-basi. Jauh-jauh aku kesini dan hanya umtuk mendengar kalian melontarkan bualan? Ayoklah.”
“Om tahu kamu mengerti, Ayumi.” Sergah Alvaro.
“Astaga, … aku benar-benar tidak mengerti, Om!” Gadis itu terus mengelak.
Ayumi bangkit.
“Ayumi!” Sisil hendak mendekat.
Namun Ayumi segera berlari kearah luar. Dengan tangisan, juga perasaan yang begitu ancur.
“Ayumi, … sayang!?” Tutih menjerit histeris.
“Biarkan saya saja.” Randy ikut bangkit.
“Tolong tenangkan dia, saya mempercayakan semuanya kepada mu!” Alvaro berpesan.
Randy mengangguk.
“Baik, kalau begitu saya permisi. Ayumi akan baik-baik saja, … jangan khawatir.” Randy menatap kedua orang tua kekasihnya.
__ADS_1
Randy segera beranjak setelah mendapat anggukan dari Ali. Berlari kearah luar, seraya mengedarkan pandangan, mencari kearah mana Ayumi pergi.
“Ya Tuhan, … kenapa jadi begini!” Gumam Randy, kemudian masuk kedama mobilnya.