My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 78 (Mengulangi)


__ADS_3

Randy kembali memasuki kamar, setelah keluar beberapa saat, membawakan air minum untuk sang istri yang kini mengeluh tenggorokannya sakit, bahkan tak jarang perempuan itu berdehem berusaha menetralkan rasa yang sedikit kurang nyaman di dalam tenggorokan sana.


Dia berjalan mendekati Ayumi yang tengah duduk di kursi meja rias, mengeringkan rambut panjang kecoklatannya.


"Abang!" Ayumi merengek pelan, lalu mematikan mesin hair dryer, dan meletakkannya begitu saja.


Dia menoleh, mengangkat pandangan untuk menatap wajah suaminya yang saat ini berdiri.


"Aku mau air dingin." Katanya, yang langsung Randy jawab dengan gelengan kepala.


"Nanti radang, jadi minum air hangat saja."


"Tapi sakit tenggorokan aku bukan karena mau pilek."


Randy mengangguk, dia tersenyum lalu berjongkok di hadapan istrinya.


"Aku tahu. Sakit tenggorokannya bukan karena gejala flu, tapi kamu terlalu banyak berteriak, memanggil-manggil nama suami tampan mu ini! Seperti tadi misalnya, aku ada di dekatmu, kamu juga memeluk aku, tapi kenapa terus menjerit dan berteriak?" Randy mengangkat satu alisnya, dengan seringai penuh arti.


Tangan Ayumi bergerak, terangkat, hendak memukul, tapi Randy Sudan lebih dulu mencekalnya.


"Ay? Rasanya sakit seperti tadi!" Bisik Randy dengan seringai yang tak kunjung surut.


Dia berusaha mengingatkan sesuatu. Dimana mereka sama-sama menggila, mencoba hal baru dan dengan gemasnya Randy terus memberikan pukulan pada tubuh bagian belakang Ayumi, saat perempuan itu memposisikan diri membelakanginya.


"Bahkan pukulan yang kamu berikan lebih sakit, … dibandingkan tamparanku tadi!" Dia terus menggoda istrinya.


Dan dengan segera Ayumi mengubah posisinya menjadi berdiri, menyingkap dress rumahan yang dikenakan nya, seraya berusaha menatap ke arah belakang, dimana tadi Randy terus memukulnya lagi dan lagi tanpa merasa puas.


Mereka berdua saling memandang, dengan raut wajah yang tidak bisa dijabarkan oleh kata-kata.


"Apa sakit? A-aku tidak sadar tadi." Randy menyentuhnya, menatap dengan rasa bersalah.


Ayumi mengulum senyum, menurunkan dressnya, dan kembali duduk, menatap wajah suaminya yang saat ini berubah muram.


"Dih! Kok jadi sedih begini?" Ayumi terkekeh saat pandangan mereka semakin mendekat.


"Maaf, pasti sakit yah!"


Ayumi diam, matanya bergerak-gerak sambil terus menahan senyum. Betapa konyolnya Randy bertanya seperti itu, sudah jelas pasti sakit apalagi dengan bekas kemerahan yang sangat jelas terlihat.


Tapi apakah dia benar-benar kesakitan, atau bahkan menikmati rasa sakit itu!


"Sakit yah! Sampai merah seperti itu."


"Menurut Abang bagaimana?" Perempuan itu bertanya.


"Dari bekasnya, mungkin saja iya, … tapi tidak tahu! Antara aku lepas kendali, atau kulit kamu yang terlalu putih, sampai pukulan seperti itu saja membuat kulit b**ong mu sanga memerah."


Ayumi terkekeh geli, ingatan demi ingatan terus berputar, dan betapa malunya dia saat mereka sama-sama menggila, benar-benar menggila hingga melupakan apapun.


"Malah ketawa." Cicit Randy.


"Ish aku malu kalau inget tadi." Dia menggigit bibirnya kencang.


"Kenapa?" Randy mengerutkan dahi.


Sepertinya dia belum benar-benar sadar, karena kali ini dia masih terus fokus bapa tubuh Ayumi yang sedikit terluka karena kelakuannya.


"Tidak usah merasa bersalah seperti itu!" Ayumi menarik tangan suaminya, meminta untuk berdiri.


"Masa Abang tidak bisa bedain, … mana teriak sakit, sama enak." Katanya setelah memeluk tubuh Randy, dan menyandarkan pipi pada perut suaminya, berusaha menyembunyikan wajah yang sudah bersemu merah.


Kening Randy semakin mengkerut kencang, berusaha mencerna ucapan Ayumi. Dan setelah dia sadar, akhirnya dia ikut tersenyum, dan merasa gemas.


Dengan sekali gerakan Randy langsung meraup tubuh Ayumi, lalu mengangkatnya dan melemparkan tubuh mungil itu ke atas ranjang tidur.


"Ampun!" Ayumi tertawa.


Sementara Randy, dia naik dan mulai menggelitik perut Ayumi, sampai tubuh perempuan itu terus bergerak, menggeliat tak tentu arah.


"Dasar nakal, nakal sekali! Bisa-bisanya aku lagi khawatir kamu jawab seperti itu." Dia menggeram.


Ayumi berteriak, memohon ampun, bahkan matanya sudah mengeluarkan air, tapi Randy masih tak menghentikan aksinya.


"Abang!"


"Siapa yang mengajarimu, humm?!"


"Abang, ahahah … memangnya siapa lagi."


"Dasar!"


Tawa Ayumi terdengar semakin kencang, saat Randy terus menggelitiknya tanpa ampun.


"Sudah, … aku nggak kuat tenggorokan aku sakit." Dia memohon.


Dan akhirnya Randy melepaskan Ayumi. Perempuan itu beringsut menjauh, menyandarkan diri pada sandaran ranjang dengan nafas yang tersengal-sengal.


Lagi-lagi dia berdehem, saat rasa tidak nyaman kembali terasa di dalam tenggorokan sana.


"Duh, perut aku keram." Ayumi mengeluh, lalu mengusap-usap perutnya dengan sangat pelan.


Randy hanya diam, menatapnya sedang seulas senyum tipis yang terukir.


"Mau jalan-jalan?" Tawarnya, dia mendekat.


"Abang? Boleh minta tolong ambilkan Minumnya? Aku haus." Ayumi menunjuk gelas berisikan air hangat yang Randy ambilkan dan belum sempat dia minum.


Suaminya mengangguk, dia turun dari atas tempat tidur, berjalan ke arah meja rias, membawanya, dan memberikan gelas itu kepada Ayumi.


"Terimakasih."


Ayumi langsung meneguk air minumnya hingga tandas.


"Sudah?" Tanya Randy saat menerima gelas kosong dari Ayumi.


Perempuan itu mengangguk, lalu mengusap bibirnya.


"Ayo ganti pakaiannya. Dandan yang cantik! Kita keluar, makan malam dan mencari cincin nikah."


"Cincin nikah lagi? Ini saja masih ada."


"Itu emas biasa." Kata Randy.

__ADS_1


"Memangnya Abang mau cari emas yang luar biasa? Ada yah?" Wajah polosnya terpampang nyata.


"Astaga, sayang!" Randy mendesah pelan.


Dia semakin merasa gemas.


"Setidaknya disini aku bisa membelikan kamu berlian, mungkin tidak akan bisa semewah yang Pak Raga berikan kepada Balqis. Tapi aku ingin memberikan yang terbaik untukmu, untuk istriku."


Ayumi diam.


"Dan mengenai pesta, …"


"Harus ada pesta yah? Wajib banget?" Ayumi memotong ucapan suaminya.


Randy tersenyum, segera meraih tangan Ayumi, dan merapatkan jemari satu sama lain.


"Tadinya aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Memberikan semua yang aku bisa berikan, tapi jika kamu merasa terbebani, atau tidak nyaman. Kita adakan acara makan malam keluarga saja, … dan kita bisa mengundang teman-teman terdekat."


"Acara keluarga saja?"


Randy mengangguk.


"Hanya orang-orang yang benar-benar dekat dengan kita. Aku tidak mau egois, aku takut itu akan membuat keadaan mu semakin memburuk."


Perlahan kedua sudut bibir Ayumi mulai tertarik, melengkung membentuk sebuah senyuman hangat dan manis.


"Aku setuju kalau soal yang ini. Aku mau undang Una, dan Aira. Aku mau mengenalkan Aira kepada Egy, dia menyukai Egy tahu, begitu-begitu Aira penggemar bola."


"Maksudmu Aira penggemas Egy?"


"Iya, di kamar kostnya ada banyak foto Egy, belum lagi dia yang mempunyai kaos-kaos dengan nomor dan nama punggung Egy."


"Wow, ada juga yang menggemari anak tengil itu."


"Ya iyalah, Egy kan ganteng! Masa nggak ada yang suka." Ayumi tertawa.


Sementara suaminya langsung terdiam, dengan raut wajah yang berubah saat Ayumi melontarkan pujian pada pria lain.


"Eh, aku salah ngomong yah." Tukas Ayumi yang mulai menyadari kesalahannya.


Randy tidak menjawab, tapi matanya memicing, membuat hawa dingin segera menyeruak.


"Abang mau ajak aku jalan kan yah? Aku siap-siap dulu. Mau dandan yang cantik, agar semuanya tahu jika kamu mempunyai istri yang sangat luar biasa, bukankah aku sangat beruntung!" Dia segera turun.


Ya, bukan kamu yang beruntung, tapi aku.


Batinnya berbicara.


"Baiklah, aku bawakan dulu baju yang tadi aku beli, tunggu!" Randy segera turun, dan menghambur ke arah luar kamar.


***


Ayumi berdiri menghadap ke arah kaca, memutar tubuh beberapa kali, menatap tampilan yang begitu luar biasa, saat dia memakai dress panjang berwarna hitam yang suaminya berikan beberapa waktu lalu.


"Astaga, ini bukan Ayumi Kirana. Tapi Nyonya Danendra!" Dia berdecak kagum.


Tidak ada corak, atau apapun disana, dressnya terkesan polos, hanya beberapa kancing besar yang tampak mencolok.


Namun mampu membuatnya benar-benar berbeda.


Make Up tipis dengan lipstik ombre, lukisan alis yang begitu sempurna, juga bulu mata lentik saat dia mengenakan maskara disana, dan jangan lupakan soflen berwarna abu-abu yang Ayumi pakai, membuat perempuan itu benar-benar terlihat sangat memukau.


Dia berdiri mendekat sambil menggulung lengan kemeja hitamnya sampai siku, lalu meraih pinggang Ayumi, dan memeluknya dari arah belakang.


"Kamu cantik sekali." Bisik Randy tepat di daun telinga Ayumi, lalu menciumnya dan memberi gigitan kecil.


"Istri kamu memang harus cantik, agar gadis-gadis yang ingin mendekatimu berpikir dua kali, … kamu tidak akan tertarik kepada siapapun, karena istrimu saja sudah secantik aku."


"Kamu benar."


Randy memejamkan mata, lalu menghirup aroma wewangian yang kini menempel di tubuh Ayumi. Tiba-tiba saja dia berubah pikiran, Randy takut jika pria di luar sana akan tertarik kepada istrinya, dan itu bahaya, keberadaannya mulai terancam.


"Berangkat kapan?" Ayumi menepuk lengan suaminya.


"Hemmm?"


"Berangkat kapan? Kita sudah sama-sama siap."


"Emmm, … aku jadi takut. Takut kamu bisa menggaet pria lain."


Plak!


Ayumi memukul lengan suaminya pelan.


"Abang ngaco! Mana bisa aku begitu."


"Benarkah?"


"Iya."


Randy tersenyum lagi, lalu melepaskan lilitan tangannya.


"Ayo kita berangkat, mau pakai mobil yang mana?" Dia bertanya saat hendak menekan handle pintu kamarnya.


Ayumi terkekeh, mereka keluar kamar dalam keadaan menggandeng lengan suaminya.


"Ah beruntungnya aku menikahi pria kaya, sampai mau pergi pun ditanya mau pakai mobil yang mana." Dia semakin mengeratkan pelukan di tangan suaminya.


Sementara Randy hanya tertawa pelan.


"Cepat, mau pakai yang mana? Randy menarik laci Meja yang terletak di dekat pintu masuk, dimana kunci mobilnya tertata dengan rapih disana.


Ayumi menatap itu tidak percaya.


"Cepat, mau yang mana? Pilih mobilmu untuk menemani kita jalan-jalan sore ini."


"Aku tidak tahu, tapi ayo ambil kunci mobil kesayanganmu saja."


Randy terkekeh.


"Yang mana yah!?"


"Terlalu banyak mobil sih, jadi bingung kan." Ayumi ikut tertawa.

__ADS_1


"Baiklah, kita pakai BMW saja!"


Randy meraih kunci mobil itu, kembali menutup laci meja penyimpanan, lalu meraih tangan Ayumi untuk dia genggam, dan membawanya ke arah garasi rumah yang terlihat sedikit luas.


"Bu Sumi, kami pamit pergi dulu." Pamit Randy juga Ayumi bersamaan, saat mendapati perempuan itu tangah menyiram pohon dan tanaman-tanaman yang ada di depan rumah.


"Iya Den."


***


Mobil BMW 218i berwarna abu-abu melaju dengan kecepatan tinggi, melesat membelah jalanan kota yang sedikit leng-lang pada sore hari ini.


Tangan Randy terus mencengkram setir mobil, mengendalikan mesin roda empatnya agar berjalan sebagaimana mestinya.


Ayumi menoleh, saat beberapa kali dia mendapati Randy yang terus mencuri-curi pandang, dengan raut wajah sumringah.


"Aku tahu aku cantik, tapi fokuslah berkendara, sayang." Ayumi tersenyum menggoda.


"Kamu senyum-senyum terus, aku jadi heran." Balas Randy tak mau kalah.


"Aku sedang bahagia. Jadi ya tersenyum, … aku sedikit tidak menyangka, kadang aku berpikir aku ini sedang bermimpi atau bagaimana, sampai hidup aku sekarang semudah ini. Pergi dengan mobil, kemana-mana bersama kamu, belum lagi jika ada sesuatu yang aku inginkan kamu selalu mengabulkannya."


Ayumi sedikit bergeser, memeluk lengan kiri Randy, dan merebahkan kepalanya di sana.


"Terimakasih, yah! Aku lebih bahagia setelah bersama kamu.


Randy tersenyum.


"Kita sama-sama bahagia, jadi berhentilah berterima kasih, kamu terdengar berlebihan, aku hanya seorang suami yang ingin memberikan semuanya yang terbaik untukmu, untuk anak kita nanti."


Ayumi mengangguk, dan keadaan menjadi hening. Keduanya terdiam dengan posisi Ayumi bersandar pada lengan Randy, juga pria itu yang fokus pada jalanan di hadapannya.


45 menit berkendara. Akhirnya mobil BMW abu-abu itu berbelok, memasuki sebuah hotel bintang lima yang terlihat begitu mewah.


"Hotel? Lagi? Abang tidak lelah?" Ayumi menatap suaminya tidak percaya.


Pria itu melirik sesaat, bukannya menjawab tapi justru dia turun terlebih dulu.


Dreuk!!


Randy membuka pintu di sampingnya, membungkuk, meraih tombol seat belt dan membukakannya untuk sang istri.


"Bukannya kita mau cari cincin? Jalan-jalan? Kok malah ke hotel, … Abang? Nanti akunya lecet." Dia berbisik.


Tak!


Randy menyentil kening Ayumi, sampai gadis itu mengaduh kesakitan.


"Dasar mesum."


"Bukan tapi …"


"Cepat turun, kita hanya akan makan malam disini, dan aku ada sedikit kejutan untukmu." Jelas Randy.


Ayumi meraih tangan Randy yang sudah terulur, menggenggamnya erat, lalu turun dari dalam mobil sana dengan begitu anggun.


Mereka berjalan beriringan, memasuki sebuah ruangan cukup luas, di lengkapi dekorasi yang terlihat begitu elegan.


Ayumi menoleh.


"Kita menghadiri acara orang lain? Tumben sepi!" Dia menatap suaminya, mencari sebuah jawaban.


"Ini acara kita, hanya berdua. Kamu dan aku." Jelas Randy.


Pandangan Ayumi mengedar, menatap setiap sudut ruangan itu yang tampak temaram, hanya lampu-lampu kuning yang menyala, menghiasi ruangan itu, namun terasa begitu tenang.


Langkah kakinya berhenti saat mereka mendapati satu meja dengan hanya dua kursi. Terdapat satu botol minuman berukuran besar, juga gelas bersamanya, dan jangan lupakan satu kotak kecil berwarna biru, juga Bunga mawar yang bertaburan memenuhi karpet.


"Abang?" Dia menengadahkan pandangan, melihat pria tinggi itu.


"Duduklah."


"Ini kita mau senang-senang kan yah? Kok aku sedih sih." Ayumi mengibas-ngibaskan tangannya pada wajah, berusaha tidak menangis saat matanya mulai terasa memanas.


Ayumi maju satu langkah, lalu duduk di kursi yang sudah Randy tarik terlebih dulu.


"Ah, kamu berlebihan."


Randy menggelengkan kepala, dia tersenyum lalu duduk.


Dia mengulurkan tangan ke arah Ayumi, tersenyum simpul, membuat perempuan di hadapannya mengerutkan kening.


"Hai, biarkan aku memperkenalkan diri dengan baik sekarang. Randy Danendra!" Ucapnya seolah mereka baru saja bertemu.


"Abang?"


"Siapa namamu?" Dia menggerakan tangan, meminta Ayumi untuk segera meraih dan menggenggamnya.


Ayumi tersenyum, meraih tangan Randy dengan perasaan berdebar-debar.


"Halo Bapak Randy, aku Ayumi Kirana, … senang sudah bisa menjadi istrimu." Dia terkekeh kencang, namun tiba-tiba saja air matanya terjatuh.


"Jangan menangis." Cicit Randy.


Dia mencondongkan tubuh, lalu mengusap pipi Ayumi.


"Tidak tahu, padahal aku sangat bahagia, tapi kenapa malah menangis yah." Ayumi terus terkekeh.


Randy tersenyum, dia meraih kotak di hadapannya, lalu membuka dan meletakan di hadapan Ayumi. Membuat perempuan itu semakin mematung, dengan mulut yang tampak sedikit menganga.


"Ukuran cincinnya aku tambah satu. Yang kemarin itu minor 12, sekarang aku ambil yang ukuran 13, semoga kamu suka dengan desainnya."


Satu cincin berlian putih mengkilap, dengan batu permata berwarna biru muda, Randy berikan sebagai cincin kawin yang sebenarnya.


"Sini aku pakaikan."


"Tapi, … aku juga menyukai cincin yang ini."


"Kamu boleh memakainya bergantian."


Randy menarik tangan Ayumi, melepaskan cincin yang melingkar di jari manis sebelah kanan, dan menggantikan dengan cincin berlian yang baru saja dibelinya tadi sebelum dia pulang.


"Indah, semua yang kamu pakai akan terlihat sangat indah." Ucap Randy.

__ADS_1


Ayumi menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang kini sudah berkumpul. Namun Ayumi tak dapat menahannya, dan dia kembali menangis.


Randy menggeleng-gelengkan kepala, dia bangkit dan kembali mendekati Ayumi. Dan tanpa dia duga Ayumi pun bangkit, lalu menghambur ke dalam pelukannya, dengan ungkapan rasa cinta dan terimakasih yang terus Ayumi katakan.


__ADS_2