
"What happened?!"
Valter menatap Sumi, juga Randy bergantian. Pria itu tak hentinya bertanya sejak mendudukkan diri di kursi tunggu, setelah memutuskan untuk ikut ketika Ayumi hendak melakukan beberapa pemeriksaan rutinya.
Sumi tidak menjawab, karena memang dia tidak terlalu tahu mengenai perihal gangguan mental Ayumi. Sampai dia mengalihkan pandangannya kepada Randy, meminta bantuan untuk menjelaskan.
"Jelaskan kenapa dia harus mendatangi Dokter psikologi?" Tanya Valter lagi.
"Ayumi, … mengalami Anxiety Disorder. Trauma dimasa lalu membuat mentalnya terganggu." Sedikit ragu, tapi Randy berusaha menjelaskannya.
Raut wajah Valter seketika berubah muram, dia beralih menatap Sumi dengan raut tak percaya.
"How?" Valter tampak gelisah. "Bagaimana bisa putriku mengalami ini? Bagaimana bisa?" Pria itu meracau, hatinya begitu perih ketika sebuah kenyataan pahit harus dia hadapi.
Banyak sekali tanggung jawab yang dia lewatkan. Memberikan kehidupan yang layak, memberi segala rupa kebutuhannya, mendidik penuh kasih dan cinta. Dan sekarang kenyataan tidak seperti itu, putrinya memang sangat ceria, tumbuh besar sebagaimana mestinya dengan orang tua asuh yang sangat luar bias.
Tapi kenapa Ayumi harus mengalami itu? Trauma apa yang dia alami sampai mentalnya sedikit terguncang dan mengharuskan penanganan Dokter spesialis, hal yang paling menyedihkan dia baru mengetahuinya sekarang.
Valter meremat rambutnya sendiri, membungkuk dan memejamkan mata, berusaha membuat dirinya setenang mungkin, ketika sesuatu di dalam dirinya berteriak, dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang Sumi dan putrinya alami.
"Oh God!" Valter berbisik lirih.
Melihat itu Sumi dan Randy tampak saling beradu pandang. Keduanya bingung ketika melihat Valter menjadi sangat terpuruk, padahal jauh sebelum mereka sampai di rumah sakit. Pria itu satu-satunya orang yang paling bersemangat, dia benar-benar bahagia saat Ayumi mengatakan jika harus memeriksakan keadaan kandungannya.
Sumi memejamkan mata, mengatur nafasnya beberapa kali, kemudian bergeser, dan menyentuh pundak Valter.
"Ayumi sudah lebih baik, bahkan dosis obatnya sudah Dokter kurangi." Kata Sumi seraya menepuk-nepuk pundaknya.
Valter menggelengkan kepala.
"Ini salahku, … semuanya berasal dari kesalahanku Laras!"
"Tidak, ini bukan salah siapapun. Jalannya memang harus seperti ini, tidak ada kehidupan yang sempurna. Semua orang sedang berjuang dengan masalah hidupnya masing-masing. Setidaknya kita sedang berusaha untuk kesembuhan Ayumi, terutama Randy, dia yang paling banyak membantu Ayumi sampai keadaan putrimu bisa sebaik saat ini!"
Dan untuk pertama kalinya Sumi berbicara lembut kepada dirinya setelah sekian lama. Tak lagi ada ucapan ketus atau sindiran pedas, semuanya seolah berubah.
"Astaga bahkan dia sedang mengandung." Valter mendesah pelan.
"Ya, bukankah dia hebat? Semangat Ayumi bahkan lebih besar untuk sembuh ketika dia mengetahui ada kehidupan lain yang sedang berlangsung di dalam dirinya." Sumi berusaha terus menyemangati Valter.
__ADS_1
Randy diam melihat interaksi keduanya. Dua manusia yang pernah saling mencintai, lalu salah satunya membenci, namun dia yakin jika cinta keduanya terus tumbuh, terutama Valter. Pria itu bahkan rela berlama-lama di negeri orang hanya untuk memperbaiki hubungannya bersama Sumi, walau wanita itu sempat menolak, tapi pada kenyataannya hati Sumi tak dapat bertindak lebih agar dapat menjauh dari Valter.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Itu kata-kata Ayumi untuk kita, … terutama kamu! Semuanya memang harus terjadi, garis Tuhan tidak dapat diubah oleh kita! Kita hanya harus menjalani semuanya dengan ikhlas dan lapang dada."
Valter melepaskan cengkraman jemari di kepalanya, lalu kemudian mengangkat pandangan sampai dia juga Sumi saling menatap.
"Ayumi akan baik-baik saja. Ayumi hanya membutuhkan Randy, aku, kamu, Bu Maria, Pak Ali dan Bu Tutih untuk selalu ada dan mendukung apapun dan kapanpun."
Valter tersenyum, begitu juga dengan Sumi.
"Kamu lembut sekali hari ini." Katanya.
Senyuman di bibir Sumi surut, berubah jadi raut wajah yang begitu masam. Dan di detik berikutnya Sumi melayangkan beberapa pukulan di pundak pria itu, hingga Valter berusaha untuk menangis tangan Sumi, sementara Randy menggelengkan kepala dengan senyum samar di bibirnya.
"Kau ini selalu merusak suasana! Padahal aku sedang berusaha menenangkan kamu dengan kata-kata baik, tapi kau malah berulah." Sumi mengumpat pelan dengan tangan yang terus memukul-mukul pria itu.
Sementara Valter terus bergeser, menghindari pukulan Sumi. Beruntung suasana rumah sakit tidak terlalu ramai daripada biasanya, bahkan bisa dibilang sepi pengunjung yang datang.
Randy tertawa pelan menyaksikan keduanya. Namun Sumi dan Valter tampak tak terganggu.
Klek!!
"Abang?" Perempuan itu menatap suaminya dengan ekspresi wajah bingung.
Randy terus terkekeh, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mama? Papa?" Panggil Ayumi.
Dia menutup pintu ruangan tersebut, kemudian berjalan mendekati mereka.
"Ada apa?" Ayumi memiringkan kepala agar dapat menatap wajah Sumi dengan jelas.
Sontak wanita itu berhenti memukul, dan merapihkan pakaiannya.
"Eheum!" Sumi berdeham. "Sudah selesai, Ay?" Wanita itu gugup.
"Kalian ini kenapa? Ini rumah sakit, tidak bisa ya akur dulu untuk sehari atau dua hari." Dia tersenyum, saat merasa gemas.
"Ibumu memang seperti itu." Valter menyahut.
__ADS_1
Sumi memutar kedua bola matanya.
"Baiklah, ayo kita ke poli kandungan. Waktu kita tidak banyak, atau pendaftaran agar segera ditutup, ini sudah terlalu siang, bahkan hampir sore." Randy berujar.
"Belum lagi nanti kita harus mengantri obat yang harus di tebus." Sambung Randy lagi.
Tangan Randy merentang, menarik Ayumi dan membawanya pergi terlebih dulu.
"Biarkan saja, kau tahu? Itu adalah pertengkaran yang mengisyaratkan bahwa keduanya masih saling mencintai." Randy berbisik tepat di telinga Ayumi.
Perempuan itu menoleh, kemudian menengadahkan pandangan, menatap wajah suaminya yang terus tersenyum-senyum.
"Oh iya, berikan resep yang Dokter resepkan." Pinta Randy.
Ayumi menurut, dia memberikan selembar kertas putih kepada Randy tanpa banyak bertanya.
***
"Janin nya berusia 12 Minggu, keadaannya sangat baik. Tapi ingat, jangan stres, banyak pikiran, apalagi sedih ya, … itu sangat mempengaruhi! Berat badan bayinya tidak naik, tapi coba kita lihat bulan depan yah. Perbanyak makanan sehat, asam folat dan vitamin."
Dokter menjelaskan sambil menatap layar monitor, dimana gambar janin mulai terbentuk dengan sempurna, hanya saja ukurannya masih sangat kecil.
Randy menggigit bibirnya cukup kencang, menatap Ayumi dengan tatapan penuh penyesalan. Dimana egonya telah membuat keadaan Ayumi sedikit tidak baik, dan berpengaruh hingga perkembangan bayinya.
Sumi tersenyum melihat gambar janin itu. Sementara Valter diam tidak menyangka. Inilah pertama kalinya dia melihat pemeriksa secara langsung, dan rasanya begitu mendebarkan.
"Bagaimana? Apa kalian lega melihat cucu kalian? Dia sehat hanya saja berat badannya tidak naik, tapi masih bisa diperbaiki, asal ibunya tidak banyak pikiran, makan, dan vitamin nya di pertahatikan … jangan sampai lupa."
"Usia saya sudah menginjak 45 tahun. Tapi ini kali pertama saya melihat janin di dalam kandungan, … ternyata sangat kecil, apa dia begitu lemah?" Ucap Valter dalam bahasa Inggris.
Namun semua orang terdiam. Termasuk Dokter perempuan yang sedang memeriksakan Ayumi.
Dia heran.
"Ummm, … kami pernah berpisah! Dan saya tidak dapat memantau perkembangan putriku waktu itu." Jelas Valter.
Dokter hanya tersenyum.
"Baiklah, pemeriksaan selesai." Dia bangkit, membawa beberapa tisu dan mengusap sisa gel di atas perut Ayumi.
__ADS_1
"Mari mengobrol di meja sana. Katakan apa saja keluhan yang Mommy nya alami di usia kandungan yang sudah menginjak 3 bulan ini."