
"Bagaimana keadaannya?" Seseorang berbicara melalui sambungan telepon.
Junior menyandarkan dirinya pada sandaran kursi kerja, setelah beberapa jam yang lalu dia mengantarkan Ayumi kerumah kedua orang tuanya. Dengan sedikit drama karena gadis itu terus menolak, dan dia harus benar-benar meyakinkan Ayumi jika dia tidak bisa tinggal sendirian untuk beberapa waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tentu, dia khawatir dengan keadaan teman masa kecilnya.
"Ini sangat serius." Jawab Junior.
"Serius? Maksudmu?" Randy tampak sangat penasaran dengan keadaan kekasihnya saat ini, tapi dia tidak bisa berbuat apapun, mengingat Ayumi yang mulai menolak setiap perlakuan manis yang dia lakukan.
Dan itu rasanya tidak nyaman, saat kita memberikan perhatian, dan orang yang kita perhatikan merasa keberatan.
Junior memejamkan mata, dan menghela nafasnya di waktu yang bersamaan.
"Trauma yang Ayumi alami. Membuat dia mengidap Anxiety Disorder!" Suara Junior merendah, dia benar-benar menyayangkan hal ini akan terjadi kepada Ayumi.
Gadis dengan segala keceriaan dan senyuman hangatnya. Mereka berteman dari kecil, tentu Junior tidak menyangka Ayumi akan mengalami sakit mental yang cukup serius.
Randy terdiam.
"Kau masih disana?" Junior bertanya, dia menatap layar ponselnya sekilas.
"Ya." Jawab Randy pelan.
Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu.
"Dia sudah ditangani. Sekarang dia tinggal bersama kedua orang tua ku, awalnya dia menolak dan ingin pulang, tapi karena harus ada pemeriksaan rutin, juga mengikuti beberapa terapi, akhirnya dia mau tinggal disana."
Helaan nafas Randy terdengar jelas.
"Pantau dia, beri tahukan setiap perkembangannya. Aku tidak bisa menemui Ayumi dalam waktu dekat. Dia menolak ku, jadi aku biarkan keadaannya seperti ini saja." Jelas Randy dengan nada sedikit kecewa.
"Baiklah." Junior menjawab.
"Biayanya …"
"Tidak usah! Kami sudah menanganinya, ini memang kewajiban kami, terutama aku … orang yang mungkin mempunyai andil besar karena tidak mampu menjaga Ayumi dengan baik." Randy memotong ucapan.
"Kirimkan saja nomor rekeningnya, saya tidak mau mempunyai hutang budi kepada siapapun."
Junior memutar bola matanya, dia jengah dengan ucapan pria yang dia ketahui sebagai calon suami dari Ayumi.
"Ayumi sudah kami anggap keluarga." Balas Junior sedikit malas.
"Ya, … aku juga sudah menganggap dia istriku! Jadi Ayumi tanggung jawabku sebagaimana mestinya seorang suami kepada istrinya." Randy tak mau kalah.
"Baiklah terserah kau saja!"
Dan sambungan telfon itu terputus, membuat Junior menjauhkan benda pipih tersebut, dengan raut wajah tak biasa.
"Kenapa dia ini!?" Kening Junior berkerut.
Dia meletakan benda pipih itu kembali ke atas meja, kemudian pintu ruangan di samping meja kerjanya terbuka, dan tampaklah Balqis menyembulkan kepala.
Raut wajahnya terlihat tidak biasa, sepertinya dia marah, pikir Junior.
__ADS_1
"Nior, panggil Tara, Gilang, Bela dan Erna ke ruangan ku sekarang juga!" Wajah wanita itu tampak sangat serius.
Junior mengangguk, dia segera bangkit dari kursi kerjanya, dan berjalan ke arah depan, dimana para karyawan diam tanpa melakukan apapun, karena Balqis melarangnya.
"Hey!" Junior berteriak. "Kalian berempat dipanggil ke ruangannya, Bu Balqis."
Mereka mengangguk, ketiga wanita itu terlihat panik juga ketakutan, sementara Gilang terlihat lebih tenang. Dia bahkan berjalan lebih dulu dari pada teman-temannya yang lain.
"Tara! Ini semua gara-gara lo!" Bela berbisik.
"Gimana ya kalo dipecat? Cicilan gue masih banyak bengat. Pinjol, cicilan hape, belum lagi harus bayar kost apartemen gue!" Erna menimpali.
Sementara wanita yang mereka maksud hanya diam seribu bahasa.
Tok tok tok!
Junior mengetuk pintu ruangan Balqis, lalu membukanya dan mempersilahkan keempat orang itu masuk.
Balqis berdiri, bersedekap dengan ekspresi wajah dinginnya.
"Duduk!" Tegas Balqis tanpa basa-basi.
"I-iya, Bu!" Ketiga perempuan menjawab.
Mereka duduk di sofa.
"Siapa yang menghapus rekaman cctv?" Suaranya terdengar rendah, tapi terdengar sangat menyeramkan.
Mereka diam.
"Saya tanya siapa yang hapus rekaman cctv nya?" Balqis berteriak.
Erna mengangkat tangannya sedikit ragu, lalu menengadahkan kepala, dan memberanikan diri untuk menatap Balqis.
"Yang hapus saya, Bu. Tapi itu semua Tara yang meminta, bahkan sedikit memaksa." Erna membela diri.
Balqis diam, matanya melirik ke arah Tara.
"Benar begitu, Tara?"
Tara bungkam.
"Berbicaralah, jawab pertanyaan atasan mu, jangan hanya bisa berteriak kepada Ayumi. Kecil sekali nyalimu, hanya berani pada orang yang tak berdaya." Sindir Junior.
"Maaf."
"Apa?" Balqis membungkuk, dan menatap wajah Tara dari jarak yang sangat dekat, sampai gadis itu memundurkan kepala karena takut.
"Kenapa minta maaf pada ku? Kenapa tidak meminta maaf kenapa Ayumi?"
"Kami tidak sengaja, Bu." Sambung Bela.
Balqis menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.
"Saya tidak mau berbasa-basi. Saya hanya ingin bertanya kenapa kalian melakukan itu?"
__ADS_1
"Saya tidak melakukan apapun, Bu." Gilang mulai membuka suara.
"Ya, … saking bodohnya kau hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Entah itu menghentikan perbuatan Tara, atau menghentikan perbuatan Erna, yang keduanya sama-sama tidak dibenarkan! Kantor ini mempunyai aturan, … saya yakin kalian tahu." Junior mulai gemas.
Gilang menggelengkan kepala, menatap Junior dengan penuh keyakinan.
"Jika Tara sudah saya ingatkan beberapa kali, hanya saja dia tidak pernah mau mendengarkan saya. Dan untuk rekaman cctv yang dihapus, itu saya benar-benar tidak tahu."
Junior hampir saja membuka mulutnya, saat Balqis tiba-tiba saja mengangkat satu tangannya.
"Kemasi barang-barang kalian, saya sudah benar-benar malas menghadapi kalian ini."
Tiga perempuan itu tersentak, dia menatap Balqis dengan mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca.
"Jangan pecat saya, Bu!" Erna dan Bela memohon, mereka tampak menyesal.
"Seharusnya kalian memikirkan akibat dari apa yang kalian lakukan."
"Kami minta maaf, tapi jangan pecat kami." Dua perempuan itu terus memohon.
Sementara Gilang dan Tara hanya diam.
"Saya jadi penasaran, kenapa Tara membenci Ayumi sampai seperti itu! Kalian tahu? Ayumi sampai terkena mental down gara-gara kejadian ini!" Balqis kembali duduk di atas kursi kebesarannya.
Mereka tidak menjawab.
"Kalian ini bisu atau bagaimana? Kenapa setiap saya tanya tidak dijawab, huh?"
Junior menatap Tara tajam.
"Sa-saya hanya merasa, Ayumi terlalu dianak emaskan. Banyak pekerja senior dengan segala pengalamannya disini, tapi kenapa harus terus Ayumi."
"Kalian ini terlalu sibuk melihat perlakuan saya kepada Ayumi. Saya melakukan itu karena kinerjanya memang benar-benar bagus, dan dia patut mendapatkan apresiasi dari saya!" Balqis menunjuk dirinya sendiri.
Balqis tertawa getir, dia tidak menyangka salah satu pegawainya bisa berpikir demikian.
"Ayumi datang lebih awal. Melakukan pekerjaannya dengan baik, bahkan dia selalu merapikan meja kalian! Yang notabene nya meja itu tugas pribadi masing-masing."
Nafas Balqis memburu, bahkan dadanya terlihat naik turun dengan sangat cepat.
"Pernahkah kalian berpikir? Jika pekerjaan dia itu tidak mudah. Ayumi harus naik turun tangga, membersihkan setiap sudut ruangan ini, bahkan sampai lembur atau melupakan makan siangnya." Balqis mendesah pesan, dia frustasi.
Keadaan hening untuk beberapa menit, mereka semua sama-sama diam, tak terkecuali Balqis yang berusaha meredam amarahnya yang terus memuncak.
"Nior bawa mereka keluar, urus surat pemecatan. Dan segera buka lowongan kerja dengan segera, … banyak orang-orang di luar sana yang menginginkan pekerjaan, dan pastikan mereka tidak mempunyai sifat iri dengki, saya malas jika terjadi lagi di perusahaan kita." Balqis berteriak kencang, dengan kedua bola mata yang sangat memerah.
"Baik."
Junior mengangguk, pria yang sedari tadi berdiri di dekat pintu pun segera membukakan benda tersebut, mempersilahkan keempat pekerja itu segera keluar dari ruangan pribadi atasan sekaligus Kakak iparnya.
"Beruntung kalian tidak berhadapan langsung dengan suami saya!" Balqis berteriak kencang, sampai ruangan itu menggema.
"Saya tidak akan membela diri, Bu. Setidaknya saya sudah beberapa kali memperingati Tara, jika keputusan Ibu akan tetap memecat saya, maka saya akan menerima itu! Kalau begitu saya pamit, senang bisa bekerja disini selama kurang lebih satu tahun lamanya."
Gilang berpamitan.
__ADS_1
Dan setelah itu pintu ruangan tertutup, meninggalkan Balqis dengan amarahnya yang masih berkobar.
"Benar kata Junior, mungkin jika Ayumi resmi diangkat menjadi sekretaris, kekacauannya akan lebih dari sekarang! Tapi kenapa mereka tidak mengerti? Aku melihat semua orang dari kinerjanya, tak peduli dia lulusan apa, atau siapa, asal dia bisa bekerja dengan baik, maka aku akan mempertimbangkan semuanya." Balqis bermonolog.