
"Ada sesuatu?" Tanya Raga saat asistennya terus memfokuskan perhatian pada layar laptop di atas meja kerjanya.
Jam makan siang sudah tiba, namun Randy masih sibuk dengan laptop miliknya dengan sangat serius.
Pandangan Randy terangkat, menatap Raga yang keluar dari dalam ruangannya, membawa satu dokumen dan meletakan di atas meja milik orang kepercayaannya.
"Hanya sedang mencari tahu, Pak." Jawab Randy.
Tanpa diduga Raga duduk di kursi kosong sana, sampai keduanya kini duduk saling berhadapan.
"Ada masalah? Atau ada yang aku tidak tahu?"
"Semuanya baik, Pak. Saya hanya membantu Ayumi untuk mencari tahu siapa ayahnya, … sepertinya setelah hamil perasaannya begitu sensitif, hingga selalu ingin tahun tentang sejarah orang tuanya."
Raga mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan asistennya. Namun dengan raut wajah yang terlihat kebingungan, dan sepertinya pria itu ingin tahu lebih dalam tentang masalah yang satu ini.
Beberapa kali Raga mendengar obrolan Junior dengan ayah mertuanya saat mereka berkumpul. Dan kali ini sepertinya dia tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"Istrimu sudah tahu siapa ayahnya?"
"Belum. Baru mengetahui namanya saja, … dan itu hasil memaksa."
"Memaksa siapa? Kamu?"
Randy menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menatap layar laptop sekilas, kemudian menatap Raga, yang sedari tadi terus memperhatikan kegiatannya.
"Bukan saya, tapi Mamanya, … Bu Sumi. Dia terus memaksa walaupun ibunya sempat menolak."
Raga mengangguk.
"Lalu?"
"Sekarang saya mencoba membantu Ayumi. Ya hanya foto tidak terlalu sulit lah, apalagi ada nama lengkap bisa langsung saya akses, … hanya satu masalahnya." Randy menghela nafas.
"Apa?" Raga bertanya.
"Ada banyak nama Valter Albert Baldomero. Entah foto yang mana yang harus aku ambil!"
Raga tertawa kencang.
"Hanya itu? Tapi sudah membuatmu frustasi? Carilah pria dengan kisaran umur ayah Ayumi, singkirkan pria muda, maka itu akan membantu dan meringankan beban dan pikiranmu!"
Randy memutar kedua bola matanya, dia meraih laptop, untuk kemudian mengarahkan layar pada Raga sampai pria itu dapat melihat dengan sangat jelas.
"Itu semua pria paruh baya, Pak!" Kata Randy.
Senyum di bibir Raga seketika menghilang, berganti dengan ekspresi wajah datarnya, lalu menatap Randy.
"Kau serius?"
"Ya, dan mereka semua berasal dari Jerman."
"Astaga pekerjaanmu semakin bertambah saja!" Celetuk Raga, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Randy memejamkan mata, dia mengusap wajahnya cukup kencang.
"Sudah jam makan siang. Sebaiknya gunakan waktu senggangmu untuk makan atau minum kopi, jam dua nanti ada pertemuan lagi."
__ADS_1
Raga segera bangkit, tetap berdiri di sana menunggu Randy untuk melakukan makan siang bersama, seperti yang selalu mereka lakukan akhir-akhir ini.
Keluhan Randy tentang permintaan aneh Ayumi, membuat keduanya sering berbincang lebih jauh, bahkan tak jarang Randy meminta solusi kepada Raga sang atasan.
Randy meraih laptopnya kembali, mematikan benda tersebut, menutupnya kemudian berdiri.
Kedua pria hampir sebaya itu berjalan beriringan, keluar dari ruangan kerja mereka, melewati beberapa karyawan yang tampak tersenyum dan mengucapkan sapaan akrab kepada Randy juga Raga.
***
"Bagaimana? Sudah baikan?"
Sumi bertanya saat Ayumi menyodorkan gelas air hangat yang sudah habis dia minum. Sore hari ini Ayumi kembali mengalami mual, muntah. Dan penyebabnya hanya satu, yaitu susu khusus ibu hamil yang tidak Ayumi sukai.
"Aku kan sudah bilang, Ma. Aku suka muntah-muntah kalau minum susunya. Aku nggak suka, baunya amis, rasanya hambar, aku lebih suka air gula jahe buatan Mama dari pada susu itu!"
Ayumi menggerutu, sementara Sumi hanya tersenyum ketika melihat anaknya kesal. Perempuan itu memang selalu menolak di awal, tapi pada akhirnya meminum susu yang Sumi sediakan walau akan berujung dengan hal yang sama.
Keadaannya tiba-tiba menjadi terlihat lemas. Mata Ayumi sayu, wajahnya pucat, juga keringat yang bercucuran membasahi wajah.
"Setidaknya masuk sedikit, daripada tidak sama sekali."
Sumi mengusap keringat di kening Ayumi.
"Aku mau rujak tomat sekarang, boleh?" Pintanya.
Sumi tersenyum, kemudian menganggukan kepala.
"Tunggu sebentar, Mama siapkan dulu. Mau Mama bikinin yang lain? Agar sekalian."
Sumi bangkit dari duduknya, berjalan ke arah luar kamar untuk segera menyiapkan apa yang putrinya inginkan. Meninggalkan Ayumi yang saat ini sudah berbaring di atas ranjang tidur.
Dia merogoh sesuatu di bawah bantal, menarik keluar dan menghirup aroma yang begitu dia sukai.
"Bajunya memang wangi, tapi pemiliknya lebih wangi lagi.
Tiba-tiba saja Ayumi merindukan sosok suaminya. Tanpa pikir panjang Ayumi meraih ponsel, kemudian menghubungi nomor Randy dengan segera.
Tuuutttt!!
Suara sambungan telepon mulai terdengar.
"Ya? Kenapa? Ada sesuatu?"
Randy langsung bertanya.
"Abang kapan pulang?"
"Kenapa?"
"Aku nanya duluan, kok malah balik nanya!"
"Selesai pertemuan aku langsung pulang. Kenapa? Ada makanan yang harus aku beli? Atau minuman? Jajanan abang-abang taman seperti cilor, bilor, atau seblak dan takoyaki?"
Ayumi menggigit bibirnya kencang, menggelengkan kepala, seolah Randy dapat melihatnya dari kejauhan.
"Aku muntah lagi barusan." Dia mengadu dengan suara pelan.
__ADS_1
Membuat pria di seberang sana merasa terenyuh.
"Penyebabnya susu lagi?"
"Hu'um, sekarang aku lagi minta Mama bikinin rujak tomat sama air gula jahe."
Randy terdengar menghela nafas.
"Bagaimana vitaminya?"
"Sudah aku minum."
"Pinter."
"Aku mau Abang pulang. Baby-nya mau Daddy cepet pulang, dia kangen." Ayumi merengek.
"Baiklah, nanti Daddy cepat pulang yah! Sekarang istirahat dan tunggu, banyak-banyak minum air putih hangat, oke?"
"Iya."
Ayumi mengangguk lagi.
"Sekarang aku tutup dulu yah, sebentar lagi mereka datang, dan meetingnya akan segera dimulai."
Ayumi tidak menjawab.
"Sayang?"
Perempuan itu masih diam, matanya berkaca-kaca. Di waktu yang bersamaan Sumi datang, membawa nampan berisikan semangkuk rujak tomat, dan satu mug besar gula jahe.
"Kenapa menangis lagi?" Kata Sumi seraya meletakan nampan di atas nakas.
Ayumi menggelengkan kepala, dia menyimpan ponselnya tanpa memeriksakan terlebih dahulu.
"Kamu sedih?"
"Abang nggak mau pulang, padahal aku mau Abang. Wangi bajunya sudah beda sekarang." Suara Ayumi bergetar.
"Kan sibuk. Pekerjaan sebagai asisten pribadi itu tidak mudah, tanggung jawabnya sangat besar. Jadi doakan saja agar dia selalu sehat, jadi bisa menemani kalian sampai kapanpun."
Ayumi menangis pelan.
"Tapi aku mau Abang." Suaranya begitu lirih.
"Bukannya tadi mau rujak tomat sama air gula jahe?" Sumi tersenyum, berusaha menghibur Ayumi.
"Nggak tahu. Aku kok aneh yah! Sebentar-sebentar kangen Abang, sebentar-sebentar mau Abang. Hamil itu gini yah, … aku sampai bingung, kadang sedih tapi nggak tau sedih kenapa."
"Tidak apa-apa itu normal. Ibu hamil memang seperti itu."
Ayumi menangis pelan, rasanya begitu berat saat meminta Randy pulang tapi pria itu tak dapat memenuhi keinginannya.
"Sudah jangan menangis. Ini Mama buatkan rujak tomat yang banyak, air gula jahenya juga Mama senagaja buat hangat agar kamu bisa meminumnya langsung."
Ayumi mengangguk, dia mengubah posisinya menjadi duduk.
Sementara Randy diam, mendengarkan tangisan samar Ayumi, juga obrolan antara ibu dan anak itu dengan perasaan sedikit bersalah. Sampai pria itu baru benar-benar memutuskan sambungan telepon saat Raga memanggilnya untuk segera menghadiri pertemuan.
__ADS_1