
"Ma? Apa kabar?"
Tanya Ayumi setelah dia menerima panggilan Video dari ibunya di Jerman sana. Mereka saling menatap, lalu tersenyum satu sama lain, ketika melihat keadaan masing-masing yang tentu saja terlihat sangat baik.
Ayumi yang terlihat sedikit berisi, dengan aura keibuannya yang semakin terlihat. Juga Sumi yang saat ini tampak semakin terawat, khusunya dari penampilan.
"Baik, seperti yang kamu lihat Ay!" Suara wanita berusia 44 tahun itu terdengar begitu lembut.
Ayumi mengangguk.
"Bagaimana kabar kamu, Randy dan El? Kalian sehat?" Sumi balik bertanya.
"Baik, Ma. Seperti biasa Daddy nya El sibuk, kalau El sedang tidur siang, … seharian dia menangis di sekolah. Padahal sudah hampir satu Minggu, tapi El masih tidak mau aku tinggal!"
Ayumi mengeluh. Persis seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu kepada sang ibu, saat mendapati kesusahan.
Sumi tersenyum.
"Kenapa?"
"Tidak tahu. Padahal ada Bryan disana! Tapi El tetap tidak mau aku tinggal, … jadinya aku pusing setiap sekolah El pasti menangis histeris, pulangnya ngambek sama Abang, … besoknya mau di manja dan berjanji tidak akan cengeng, tapi kejadian sebelumnya di ulangi terus menerus."
Ayumi menghela nafasnya cukup kencang. Sementara Sumi kembali tersenyum, apalagi saat membayangkan polah tingkah laku dari cucu pertamanya yang menurut Sumi selalu menggemaskan.
"Dia itu persis seperti kamu. Sulit berbaur dengan orang baru, juga merasa tidak nyaman saat berada di tengah-tengah keramaian. Sementara sikap keras kepalanya persis seperti Randy, … makanya susah di kasih tau sampai tidak ada yang bisa memberi pengertian jika sekolah itu tidak bisa terus di antar." Jelas Sumi.
Ayumi diam mendengarkan.
"Kapan-kapan Mama yang bicara sama El. Siapa tahu dia mengerti kalau Mama yang menjelaskan." Kata Sumi lagi.
Ayumi tersenyum, lalu menganggukan kepalanya.
"Mulai Senin depan El harus aku tinggal. Mau dia menangis ataupun tidak, … aku harus tetap menunggu di area yang sudah disediakan. Tidak boleh di area sekolah, apalagi di dalam kelas."
Wanita itu tampak terlihat sangat khawatir. Jangankan untuk menjalaninya, membayangkan Raizel menangis histeris saja membuat Ayumi kelimpungan bukan main.
"Semua ibu pasti merasa cemas. Tapi karena kamu pengidap Anxiety Disorder, coba di Konsultasikan lagi! Rasa cemas yang kamu rasakan berbeda dari kebanyakan orang, hingga perkara yang seharusnya tidak kamu pikirkan, justru terus kami ingat-ingat sampai menimbulkan rasa panik dan cemas yang cukup berlebih."
"Aku udah baikan, Ma!"
"Tetap saja, kamu masih mengonsumsi obat-obatan itu, walaupun dengan dosis rendah. Kamu selalu memikirkan apa yang belum kamu jalani, membayangkan hal-hal yang buruk, sampai kamu merasa cemas padahal belum menghadapinya."
"Mama benar. Kepala aku berisik, seperti ada dua orang yang sedang beradu argumen. Yang satu bilang tidak apa-apa, yang satu lagi takut, dia bilang bagaimana kalau setelah ini Raizel justru semakin tidak mau sekolah."
__ADS_1
Sumi tersenyum.
"El pasti baik-baik saja, Ay! Dia hanya sedang berusaha menyesuaikan diri. Setelah terbiasa tidak akan menangis lagi."
Sumi mencoba memberikan semangat kepada putri semata wayangnya.
"Papa dimana?" Tanya Ayumi dengan segera, saat tidak mendapatkan ayahnya disana.
"Sedang mandi. Sebentar lagi Papamu mau berangkat ke kedai seperti biasa."
Ayumi memejamkan matanya, menepuk jidat, lalu terkekeh.
"Aku lupa kalau disana baru jam tujuh yah?!"
"Ya, kamu benar. Selisih waktu disini dan di Indonesia itu enam jam." Jelas Sumi. "Ya sudah, nanti kalau El bangun, telepon Mama lagi yah, sekarang Mama harus menyiapkan segala hal untuk Papamu, Ay!"
Ayumi mengangguk, dan sambungan telepon itupun terputus, setelah beberapa menit melakukan obrolan santai. Bukan, lebih tepatnya Ayumi yang sedang mengungkapkan rasa khawatirnya kepada sang ibu.
***
Suara bell rumah berbunyi beberapa kali. Membuat Dini segera berlari ke arah suara terdengar. Sementara Ayumi tengah sibuk menemani putrinya yang sedang menikmati semangkuk sereal gandum yang di siram susu full cream dingin.
Persisi seperti apa yang ibunya sukai.
"Eh, … Amar." Dini menyapa.
Sementara pria itu hanya tersenyum, berdiri di ambang pintu dengan dua kantong kresek berukuran besar di antara kedua tangannya.
"Ayumi ada di rumah?"
"Ada di belakang, Mar. Langsung ke sana saja, Non Ayumi sedang menemani El bermain."
Amar mengangguk, lalu dia melangkah masuk dan berjalan ke arah sebuah pintu yang terbuka lebar. Dan benar saja, disanalah sosok adik perempuannya, duduk bersisian dengan seorang gadis kecil berambut panjang yang di biarkan terurai, mereka terlihat berbincang-bincang tanpa menyadari keberadaan Amar disana.
"Mommy El kenyang!" Raizel menggeser mangkuknya yang sudah hampir habis.
"Ya sudah. Minum air putih yang banyak kalau begitu, serealnya biar Mommy yang habiskan." Jelas Ayumi.
Raizel menurut, meraih air minum dalam botol kemasan, dan meneguknya hingga habis setengah.
"Eheum!"
Dua perempuan berbeda usia itu segera menoleh, saat mendengar suara seseorang yang tentu saja sangat mereka kenali.
__ADS_1
"Bang Amar?" Kata Ayumi dengan ekspresi sedikit terkejut.
Sementara Raizel langsung turun dari atas tempat duduknya, berlari ke arah Amar untuk kemudian melopat sampai dia dapat memeluk pundak kakak dari ibunya dengan sangat erat.
"Om!"
"Uwa, El! Bukan Om." Ayumi memberitahu.
Namun Raizel tidak menggubris perkataan ibunya.
"Ah kamu kebiasaan. Untung bisa di tangkap, kalau tidak kamu bisa terjatuh, … lalu Mommy mu mengomel sampai nanti malam tanpa jeda sedikitpun." Amar terkekeh.
"Nenek sama Kakek kemana? Tidak ikut?" Gadis kecil itu langsung bertanya.
"Nanti sore datang."
"Om kesini duluan?" Tanya Raizel lagi, dan hanya di jawab anggukan oleh Amar.
"Uwa, El! Nggak boleh manggil Om."
"Ish, … Mommy bawel sekarang! Apa-apa protes. Kuping aku sampai panas lho, Om." Dia mengadu.
Amar tertawa lagi, bahkan sekarang semakin kencang apalagi saat melihat raut masam adiknya yang dia perlihatkan. Hampir saja Ayumi membuka mulut untuk kembali meluruskan ucapan Raizel, namun Amar segera menghentikannya.
"Biarkan saja, Ay. Jika dia mau memanggi aku seperti itu, biarkan saja asal dia tidak rewel. Sudah aku katakan dia itu dirimu versi kecil, hanya saja di perparah karena ada aliran darah Randy di dalamnya, jadi semua terasa semakin Complicated."
"Haih." Ayumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Om bawa apa? Banyak sekali?"
"Banyak. Ada coklat, susu, keripik talas dan masih banyak lagi!"
Raizel segera turun dari atas gendongan pamannya, kemudian dia meraih kantung kresek yang sempat pria itu simpan, kemudian memeriksanya isi di dalamnya. Mata Raizel berbinar, senyum di bibirnya tampak sangat merekah, ketika mendapati beberapa makanan dan minuman yang sangat dia gemari.
"Ayo Om, kita nonton Pororo sambil ngemil di dalam." Katanya, lalu menarik Amar masuk ke dalam rumah.
Sementara Ayumi tetap duduk di kursi kayu yang terletak di tengah-tengah taman. Melihat Raizel yang meninggalkannya begitu saja.
"Dia itu kenapa?" Gumam Ayumi, yang kembali heran dengan sikap putrinya. "Seharusnya perpaduan yang bagus, antara manja dan keras kepala. Tapi kenapa justru kelakuan Raizel membuat aku pusing seperti ini!" Ayumi mendesah frustasi, seraya memijat dua pelipiskanya, saat tiba-tiba saja perempuan itu merasa sangat pening.
......................
Aduh El 🙈🙈
__ADS_1