
"Baik-baik ya, jangan lupa makan dan minum obatnya agar lekas membaik. Kapan-kapan Ibu datang lagi, atau sesekali panggilah orang tuamu jika kesepian. Dan jika Randy marah-marah tidak jelas dan tanpa sebab, segera adukan kepada Ibu." Maria berpesan, dia terus memeluk Ayumi, dang mengusap-usap punggungnya lembut.
Sementara sepasang mata terus memperhatikan, dengan seulas senyum tersungging, menatap dua wanita yang sangat berarti di dalam hidupnya.
"Ayumi akan segera sembuh, Ibu do'akan saja. Dan soal Abang, … jangan khawatir, dia tidak akan berani marah-marah!" Kata Ayumi.
Maria mengangguk, dia mendorong tubuh Ayumi pelan, sampai pelukan keduanya terlepas.
"Ran? Ibu pulang dulu." Maria beralih kepada putra semata wayangnya.
Dia berjalan mendekat, lalu memeluk Randy tak kalah eratnya, mengusap kepala hingga punggung sampai membuat Randy sedikit membungkukkan tubuh untuk mengimbangi Maria yang tingginya hampir setara dengan Ayumi.
"Jaga Ayumi, kebiasaan marah-marahnya sedikit di turunkan, ya kalau bisa dihilangkan saja. Kamu tahu? Kamu terkadang mengedepankan emosi, tanpa mencari tahu sesuatu kebenarannya terlebih dahulu, lalu tiba-tiba marah dan tidak mau mendengar penjelasan apapun." Maria berpesan.
"Ibu ini bicara apa?" Randy terkekeh.
Mereka mengurai pelukannya.
"Namanya pernikahan, pasti ada pasang surut. Pasti ada salah paham. Dan Ibu tahu bagaimana kamu, jangan sampai kamu menghancurkan sebuah hubungan hanya karena kesalahpahaman, tidak boleh marah-marah, tidak boleh berteriak, apalagi main tangan, … ingat itu!" Dia menatap manik kelam Randy lekat-lekat.
Pria itu pun tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya.
"Dan jika itu terjadi, maka ingatkan aku. Aku juga seorang manusia biasa, yang terkadang hilang arah dan tak tahu apa yang aku perbuat." Ujar Randy seraya menatap Maria dan istrinya bergantian.
"Baiklah Ibu harus pulang." Maria segera meraih freezer box yang selalu dia bawa jika menghantarkan berbagai macam ikan laut segar untuk anak-anaknya.
"Ay? Aku berangkat kerja sekarang yah!" Randy berpamitan kepada istrinya.
"Ya, hati-hati. Jangan ngebut!"
Randy tersenyum, dia maju satu langkah, dan mencium kening Ayumi cukup lama, dan baru melepaskannya saat Ayumi mengingatkan.
"Ibu sudah menunggu." Dia menatap wajah suaminya, lalu tersenyum.
"Rasanya berat sekali meninggalkan kamu di rumah sendirian." Raut wajahnya berubah sendu.
"Sekarang ada Bu Sumi. Kamu tenang saja, jangan terlalu mengkhawatirkan aku, jika ada apa-apa aku langsung telpon nanti."
Randy tersenyum, lalu mengacak-acak rambut istrinya sampai Ayumi memekik kesal dan mundur beberapa langkah untuk menghindar.
"Ibu pulang, ya." Maria melambaikan tangan.
"Hati-hati!" Ayumi membalas lambaikan tangan ibu mertuanya, menatap punggung Maria juga Randy, yang kini berjalan ke arah mobilnya, kemudian masuk.
Suara derum mesin mobil mulai terdengar, dan setelah itu Lexus abu-abu milik suaminya mulai melaju perlahan, meninggalkan garasi rumah.
Randy menekan klakson mobil dua kali, sebagai penanda perpisahan kepada istrinya yang terus berdiri di teras depan rumah.
Ayumi segera masuk setelah mobil yang Randy kendarai berbelok dan menghilang dari pandangannya. Tak lupa dia menutup pintu rumah rapat-rapat, kemudian berjalan ke arah ruang tengah, duduk di sofa dan kembali menikmati tayangan kartun di pagi hari.
"Non, mau saya buatkan minum?" Tiba-tiba Sumi datang dari arah pintu taman belakang.
Ayumi menoleh, lalu menggelengkan kepala.
"Aku mau pudding saja. Bu Sumi bisa tolong ambilkan?" Ayumi dengan senyum manisnya seperti biasa.
Sumi mengangguk, lalu dia segera berjalan mendekati lemari pendingin, mengeluarkan satu gelas berukuran kecil, yang Maria jadikan sebagai wadah pudding, saat kemarin dia membuatnya.
"Terimakasih." Ucap Ayumi saat dia menerima apa yang Sumi berikan.
Wanita itu tersenyum, mengangguk dengan sorot mata yang terus menatapnya lekat-lekat, hingga membuat Ayumi sedikit merasa tidak nyaman.
"Bu Sumi mau membicarakan sesuatu?" Ayumi memberanikan diri untuk bertanya.
Sumi diam.
"Duduklah, sepertinya Bu Sumi penasaran dengan saya." Kata Ayumi dengan senyum hangatnya.
"Tapi, …"
"Apa Bu Sumi pernah melihat saya? Atau orang yang mirip dengan saya? Tatapan Bu Sumi berbicara seperti itu setiap kali melihat saya." Jelas Ayumi.
__ADS_1
Lagi-lagi wanita 39 tahun itu hanya diam, dia bingung dengan perasaannya, dan entah harus bagaimana pula dia menjelaskan kepada perempuan muda di hadapannya itu.
"Duduk, Bu." Ayumi mengusap sisi kosong di dekatnya.
"Ah, … itu tidak sopan, Non. Saya tidak berani nanti Den Randy marah." Katanya sedikit ragu.
"Marah kenapa? Dia tidak akan marah hanya karena Bu Sumi duduk bersama saya."
Akhirnya Sumi pun mengangguk, lalu duduk di samping Ayumi dengan perasaan gugup.
"Bu Sumi tetanggaan sama mertua saya?"
"Kalau tetangga sih, bukan. Kami hanya satu kampung, tapi beda RT." Jelas Sumi kepada Ayumi.
Perempuan itu mengangguk-angguk kepala, menyendok sedikit puding coklat dengan Fla vanila, kemudian menjejalkan ke dalam mulutnya, dan mengunyah dengan sangat perlahan.
"Kalau Non Ayumi, tinggal dimana?"
"Aku?" Dia menoleh, dengan mulut penuh dan tak berhenti mengunyah.
"Iya, lahir di kota sini? Atau di kota lain?"
"Kampung kedua orang tua saja hanya berjarak 20 menit dengan rumah Ibu Maria."
Sumi mengangguk, hatinya semakin berdebar.
"Pesisir juga berarti yah!?"
"Iya, tapi rumah saya ada di atas, jadi kalau mau lihat pantai, … ya harus turun ke bawah."
Sumi tersenyum. Dan mereka pun sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Ayumi menikmati pudingnya, sementara Sumi mengalihkan pandangan ke arah televisi.
"Bu Sumi masih memiliki keluarga?"
Sumi menggelengkan kepala, bibirnya terus tersenyum. Namun gurat kesedihan jelas terlihat.
"Orang tua saya sudah meninggal, hanya satu Kaka yang masih tersisa. Tapi dia pergi ke Jerman, sudah hampir 20 tahun tidak pulang."
Sumi mengangguk lagi.
"Iya. Lihat dari sosial medianya mereka baik-baik saja, hidup dengan ekonomi yang sangat baik."
"Bu Sumi rindu?"
"Ya, hanya saja hubungan kita sudah hancur, benar-benar hancur, … makanya dia berani meninggalkan saya sampai saat ini, bahkan saat Abah dan Abu meninggal pun mereka tidak datang." Sumi tersenyum getir.
Ayumi diam memperhatikan. Menatap wanita yang terlihat begitu kesepian, bahkan matanya berkaca-kaca saat dia menceritakan soal keluarganya yang kini tinggal jauh di Jerman sana, tanpa kabar apapun, dan hebatnya Sumi masih bertahan sampai sekarang, meski kerasnya hidup terus menerpa.
"Bu Sumi tidak usah sedih. Sekarang di rumah ini kita adalah keluarga." Ayumi menyentuh tangan Sumi, dan merematnya.
Sumi terkekeh.
"Hati saya terlalu lemah." Dia tertawa. "Mengingat mereka saja sudah membuat saya ingin menangis. Bahkan saat hidup saya dihancurkan oleh salah satunya, saya masih mengharapkan mereka kembali, tidak usah melihat saya, tapi berkunjunglah ke makam Abah dan Abu."
"Itu manusiawi, Bu. Jika ingin menangis, maka menangislah."
Sumi menunduk, lalu mengusap kedua sudut matanya.
"Kalau begitu saya kembali ke belakang dulu, jika ingin sesuatu, Non Ayumi boleh panggil saya saja, nanti saya siapkan."
Sumi segera bangkit, kemudian berlari cepat ke arah dapur belakang, setelah mendapatkan anggukan dari majikannya.
Sementara Ayumi, menatap kepergian Asisten rumahnya itu dengan raut wajah berbeda, ada sendu juga sedikit bingung.
Lalu kenapa Bu Sumi selalu menatapku seperti itu? Apa aku mirip Kakaknya?
Batin Ayumi berbicara.
"Ah, aku jadi ikut pusing." Katanya pelan, lalu menggaruk kepalanya.
***
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit berkendara, akhirnya dia memutar setir mobil, berbelok memasuki garasi rumah pada siang hari ini.
"Den?" Sumi menyambutnya saat dia membuka pintu rumah.
Randy hanya mengangguk, sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang selalu mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
"Non, Ayumi baru saja masuk kamar." Sumi berujar, bahkan tanpa Randy menanyakannya.
"Bu Sumi sudah masak?"
"Sudah, Den." Katanya sambil menganggukan kepala.
"Istri saya sudah makan?"
"Sudah juga, Den Randy mau saya siapkan makan?"
Randy berhendi di dekat pintu kamarnya, dengan tangan kanan yang juga sudah terletak di atas handle pintu.
"Tidak usah, saya sudah makan siang di kantor."
Sumi mengangguk.
Randy segera menekan handle pintu kamarnya dengan sangat perlahan, membuka sedikit, kemudian masuk dan menutup pintunya kembali.
"Ay? Kamu tidur?"
Dia meletakan jas juga tas kerjanya begitu saja, melangkah cepat menghampiri Ayumi yang sedang berbaring memunggungi dengan selimut yang membalut tubuhnya.
Perempuan tersebut menoleh.
"Kamu pulang?" Ayumi segera mengubah posisinya menjadi duduk.
Ranjang tidur itu bergerak, saat Randy duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan yang merentang, meminta Ayumi untuk mendekat dan memeluk dirinya.
"Kemarilah, aku merindukanmu." Suaranya terdengar sangat lembut.
Membuat Ayumi mengulum senyum, juga mendekat dan masuk kedalam dekatapn hangat suaminya.
Cup!
Kecupan basah Randy berdikan dikening.
"Sedang apa? Aku datang kamu sampai tidak sadar!" Dia mengusap kelapa istrinya.
"Baca Novel." Ayumi menarik diri, lalu memperlihatkan layar ponselnya.
Dimana sebuah gambar tulisan terlihat begitu jelas.
"Baca novel di hape?"
"Hu'um. Banyak karya bagus di aplikasi ini!"
"Oh yah? Kisah tentang apa yang kamu baca?" Pria itu tampak sedikit penasaran.
"Untuk sekarang komedi romantis."
Randy mengangguk.
"Kamu sudah mandi?"
Tiba-tiba saja Randy bertanya demikian.
"Sudah, tadi pagi bareng kamu."
Randy meraih tangan Ayumi, lalu menariknya sampai perempuan itu turun dari atas tempat tidur, dengan raut wajah penuh tanya, apalagi saat senyuman Randy memiliki arti yang sudah sangat dia hafal apa maksudnya.
"Abang?"
"Shuuttt, … jangan banyak protes."
Randy merebut ponsel Ayumi, meletakan di atas meja rias, lalu menarik tangan istrinya sampai mereka benar-benar masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1