
Setelah cukup lama berpikir juga terganggu hal lain. Akhirnya Ayumi memutuskan untuk membuat ayam suwir kuah santan. Selain praktis, gadis itu juga tidak terlalu menghambiskan waktu banyak, karena perutnya sudah merasa keroncongan.
Ayumi mematikan kompornya, meraih sendok yang sudah Randy siapkan tidak jauh darinya. Sementara pria itu terus berdiri, memperhatikan Ayumi yang tampak serius dengan perkakas dapur dan bahan-bahan masakan sejak dari tadi.
"Kemarilah!" Titah Ayumi sembari menyodorkan sendok berisikan sedikit kuah santan untuk Randy cicipi.
Pria itu tersenyum, mengangguk dan mencondongkan tubuh untuk meraih sendok yang Ayumi sodorkan kearahnya.
"Bagaimana? ada yang kurang?" Ayumi menatap Randy dengan mata berbinar.
Kening Randy menjengit, juga mata yang tiba-tiba membulat sempurna.
"Whaw!!" Dia bereaksi.
"Apa? keasianan atau kurang?" Ayumi sedikit panik.
"Ini enak."
Randy merebut sendok yang berada di dalam genggaman Ayumi, lalu beralih pada panci sedang berisikan ayam suwir kuah santan itu.
"Ini enak! dari mana kamu mempunyai ide memasak ini? saya belum pernah memakan masakan seperti ini. Kamu tahu? Ibu suka masak ayam suwir, hanya saja bumbu yang dia masukan adalah balado, bukan kuah santan gurih seperti ini!" Jelas Randy penuh pujian.
Mendengar itu Ayumi hanya mengulum senyum. Bahagia sudah pasti, tapi yang mendominasi adalah rasa malu. Malu karena Randy sudah memujinya dengan sangat berlebihan.
Iya, dia memang berlebihan. Pikir Ayumi.
"Tunggu apa lagi!" Cicit Randy. "Ayo ambil nasinya, dan bawa ke meja ruang tengah, kita makan sambil nonton tivi." Titah Randy yang saat ini tengah memindahkan ayam suwir itu kedalam sebuah mangkuk.
"Baik." Gadis itu mengangguk.
Dia segera berjalan kearah rice cooker, kemudian membukanya. Namun gadis itu di buat mematung, saat sesuatu di dalam sana masih berbentuk beras yang di genangi air.
"Astaga!" Ayumi menutup mulutnya dengan kedua tanga.
Randy menoleh, melihat kearah Ayumi yang saat ini terlihat sedang membulatkan matanya, dengan ekspresi wajah penuh keterkejutan.
"Kenapa?"
Randy datang menghampiri setelah meletakan mangkuknya terlebih dulu.
"Bapak gimana sih!" Cicit Ayumi dengan nada sedikit kesal.
"Apanya yang gimana?" Randy balik bertanya.
"Nasinya masih jadi beras, Bapak lupa pencet tombol cook nya yah!?" Dia beralih menatap pria yang masih terlihat kebingungan di sampingnya.
Randy mencondongkan tubuhnya, melihat kearah sana. Namun ekspresi wajahnya terlihat datar seperti biasa, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Oh."
__ADS_1
"Oh?" Cicit Ayumi. "anya oh?" Suara Ayumi semakin meninggi.
"Lalu saya harus apa? ini sangat mudah Ayumi. Tinggal tutup lalu tekan tombol cook nya!" Katanya seraya menutup dan menekan tombol tersebut.
"Kita tunggu sebentar lagi." Randy tersenyum tipis, meraih tangan Ayumi dan membawa gadis itu kearah sofa ruang tengah.
Gadis itu cemberut, susah payah dia menahan lapar, berharap penuh saat masakan yang di buatnya sudah siap. Namun harapan itu di patahkan saat nasi yang Randy masak sejak dari tadi belum matang.
"Duduklah, saya akan membawakan cemilan untuk mu."
"Ish, ... baru kali ini aku nahan laper sampe segininya! tau gitu aku masak mie rebus aja tadi." Dia bergumam kesal.
Ayumi menarik tangan dari genggaman Randy, lalu dia duduk dan melipat kedua tangannya diatas dada.
Gadis itu cemberut.
Randy tergelak cukup kencang.
"Ya maaf, saya juga manusia biasa. Bisa lupa!" Kata Randy kepada kekasihnya, kemudian duduk.
"Haih, ... cacing di perut aku udah demo dari tadi!"
"Dasar tukang makan. Tunggu sebentar lagi kenapa, saya ambilkan cemilan. Tapi jangan terus terlihat kesal seperti ini!"
Ayumi menarik nafas sebanyak mungkin, kemudian menghembuskannya perlahan, dan dia mengulanginya hingga beberapa kali.
"Bapak sudah tahu aku tukang makan, tapi malah seperti ini." Rengeknya menyerupai anak kecil yang sedang ingin bermanjaan dengan orang tuanya.
Ayumi menoleh. Wajah merah, mata yang juga mulai berkaca-kaca, dan jangan lupa raut wajah masam yang terus dia perlihatkan.
"Nggak usahlah, nanti keburu kenyang, aku nggak makan nasi deh."
"Astaga, ternyata begini rasanya mempunyai pacar gadis kecil seperti kamu."
"Bapak nyesel yah!?" Suara Ayumi pelan, bahkan hampir berbisik.
"Tidak. Kamu hanya menggemaskan, dan membuat saya ..."
"Stop!" Ayumi membungkam mulut Randy dengan tangannya. "Jangan lanjutkan, nanti ngaco lagi." Dia berujar sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Randy meraih tangan mungil itu, segera menjauhkan dari mulutnya, tanpa melepaskan genggaman pada tangan Ayumi.
Randy tertawa pelan.
"Jangan begini terus! rumahnya sepi." Ayumi menepuk-nepuk lengan Randy.
Randy bungkam, dia hanya tersenyum.
"Apa rumah Bapak akan se-sepi ini? jika teman-teman Bapak tidak datang." Tiba-tiba saja Ayumi bertanya.
__ADS_1
Kini Randy mengangguk.
"Kenapa? padahal rumahnya luas?"
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa Bapak membiarkan rumah menjadi sepi. Kemana orang tua Bapak? lalu kemana asisten rumah ini? kenapa mereka pergi meninggalkan Bapak?"
"Asisten rumah sedang pulang kampung, sudah satu tahun dia tidak pulang untuk menemui anak dan keluarga lainnya. Sementara orang tua saya ... saya hanya memiliki ibu sejak dari kecil, dan sekarang dia memilih tinggal di kampung, tempat dimana dia dibesarkan dulu." Pria tampan itu menjelaskan panjang lebar.
Kini Ayumi yang diam. Dia cukup terkejut dengan apa yang baru saja Randy ucapkan.
"Awalnya saya tidak mempercayai adanya cinta, apalagi hubungan seperti pernikahan. Menurut saya tidak dengan menikah pun sebuah hubungan bisa bahagia, tidak seperti ibu saya, dia menikah, tapi saya tidak pernah melihat laki-laki itu, apalagi kebahagiaan pada ibu saya!"
"Lalu bagamana dengan kit ..."
"Saya sudah mengubah sudut pandangan tentang itu semenjak saya melihat kamu. Sosok gadis yang berusaha keras agar bisa membantu ekonomi keluarga nya tetap stabil. Saya melihat cinta yang kamu berikan kepada mereka dengan kerja keras mu." Dia menatap Ayumi penuh kagum.
Gadis itu semakin diam.
"Kamu tahu? sekacau apa saya saat kamu abaikan?"
Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Saya sampai meminta pekerjaan tambahan kepada Pak Raga, dan melakukan banyak hal untuk mengalihkan pikiran saya terhadap kamu."
"Maaf, ... waktu itu aku merasa aku tidak pantas. Bapak terlalu tinggi untuk saya gapai, dan aku tidak siap dengan cercaan mereka. Bapak tahu? saya di hadapkan dengan orang-orang yang tidak menyukai saya, jangan tanya sebabnya. Saya juga tidak tahu, mereka tidak menyukai aku tanpa sebuah alasan." Ayu menimpali.
"Kata siapa? kamu pantas karena saya yang menginginkan kamu."
"Status kita jauh berbeda. Dan itu membuat saya dan Bapak tidak sama. Bapak asisten pribadi, sementara saya hanya seorang office girl ... kita sangat berbeda bukan!"
"Tidak." Sergah Randy lagi.
"Beda, Pak!"
"Tidak."
"Be ..."
Trek!!
Suara rice cooker itu membuat Randy berhenti, dan menoleh kearah alat itu terletak.
"Ini rumah saya, kamu harus mendengarkan apa kata saya. Kita tidak berbeda, kita sama Ayumi Kirana!" Tegas Randy dengan bersungguh-sungguh.
"Saya ambil nasinya dulu, sudah matang." Katanya lagi lalu bangkit dan segera pergi.
Ayumi menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
"Hubungan macam apa ini! lima persen romtis, sembilan puluh lima persennya lagi hanya di habiskan untuk berdebat." Gadis itu menepuk keningnya kencang.