
Tidak sebentar Ayumi berdiam diri di dalam kamar. Mencoba menenangkan diri dan pikiran setelah merasa sangat kesal kepada suaminya. Perempuan itu diam, duduk di sofa menatap ke arah luar dimana langit mulai berubah menjadi gelap. Bahkan sedari tadi, ketika Randy pergi mengendarai mobil hitam miliknya.
Ayumi bangkit, segera menutup jendela juga gorden kamarnya, kemudian menekan saklar lampu sampai ruangan itu terang benderang.
Klek!!
Dia keluar, mendapati Dini yang juga tengah menutup pintu taman belakang.
"Non?" Dini menyapa, wanita itu terlihat sedikit khawatir.
"Bibi sudah masak?"
"Belum, tadi mau tanya tapi nggak enak takut Non Ayumi sedang istirahat." Katanya, kemudian berjalan masuk setelah mengunci pintu penghubung ruang tengah dan taman belakang.
Ayumi mengangguk, dia segera berjalan mendekati lemari pendingin. Pandangannya menatap setiap bahan-bahan yang tersisa, stok makanan sudah mulai habis, karena memang mereka belum sempat berbelanja bulanan.
"Kayaknya besok harus belanja bulanan deh!" Kata Ayumi seraya menatap isi kulkas yang kosong melompong.
Hanya tersisa bawang bombai, dua paprika berwarna merah dan kuning, juga 500g beef slice di dua tempat yang berbeda. Ayumi membawa bahan-bahan tersebut keluar, dan meletakan di atas meja.
"Mau masak apa Non? Biar Bibi saja!"
"Ayumi saja, Bi. Siapa tahu nanti Abang cepet pulang, dia belum makan sore." Perempuan itu berujar, dan mulai membawa segala alat untuk memasak.
Pertama-tama Ayumi membasuh dua paprika di dalam bak cuci dengan air mengalir. Kemudian beralih memindahkan beef kedalam sebuah mangkuk untuk dia marinasi.
"Bibi bantu kupas bawang bombai nya Non!"
Dini segera menarik laci dimana tempat pisau dan perkakas dapur lainnya berasal. Sementara Ayumi hanya tersenyum dan membiarkan Dini membantunya kali ini.
Ayumi membawa minyak wijen, menuangkan sedikit kedalam mangkuk feeb slice tadi, memberi sedikit kecap manis, garang, lada dan penyedap rasa, kemudian menutupnya untuk dia biarkan beberapa menit agar bumbu menyerap dengan benar.
"Paprikanya mau dipotong gimana, Non?" Dini bertanya terlebih dahulu.
"Dipotong dadu saja, Bi. Jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil."
Dini mengangguk, dan mulai memotong paprika yang sudah Ayumi cuci tadi.
Keduanya berbincang santai. Bahkan tak jarang Ayumi terkekeh pelan saat Dini menceritakan hal lucu. Tentu saja, wanita itu tahu raut sedih wajah majikannya, hingga dia mencoba untuk menghibur Ayumi meski dengan cerita konyol.
Satu jam berlalu.
__ADS_1
Satu porsi beef slice paprika lada hitam Ayumi letakan di atas meja makan. Tak lupa menata piring juga sendok garpu disana, sampai segalanya siap dan dia hanya tinggal menunggu Randy pulang.
"Bibi makan duluan saja! Aku tunggu Abang mungkin pulang sebentar lagi." Kata Ayumi kepada Dini yang terlihat memegangi mangkuk berisi beef paprika lada hitam, sambil mencium aroma lezat hidangan yang Ayumi masak.
Wanita itu tersenyum, Dini merasa tak enak hati jika harus mendahului majikannya makan, sementara Ayumi yang kerepotan memasak saja masih mau menunggu sampai suaminya benar-benar pulang untuk makan malam bersama.
"Bibi makan saja. Aku sebentar lagi kalau Abang pulang, … setelah makan Bibi bisa istirahat!"
"Beneran?"
"Iya, aku nunggu di sini sambil nonton tv."
"Bibi makan duluan kalau begitu, makannya di kamar. Kalau ada apa-apa panggil saja yah!"
Ayumi pun tersenyum, mengangguk dan mengangkat kedua ibu jarinya pertanda setuju.
***
Ayumi menghela nafasnya dengan rasa kecewa yang mulai muncul. Dia berdiri, melangkahkan kaki ke arah ruang tamu, dan mengintip di balik tirai putih tipis untuk melihat ke arah luar. Perempuan itu berharap suaminya segera kembali, meski kata-kata Randy tadi sore terus terngiang-ngiang, jika suaminya sempat berniat tidak kembali, dan Randy meminta agar tidak menyalahkannya jika dia benar-benar tidak pulang. Lalu kenapa dirinya masih menunggu? Berharap suaminya akan kembali meskipun Ayumi tahu Randy benar-benar marah.
"Setidaknya biarkan aku meminta maaf karena sudah meminta kamu pergi, pulanglah dan ayo kita makan. Aku lapar belum makan dari sore!" Ayumi bergumam.
Ayumi menengadahkan pandangan, menatap jam dinding yang berada di ruang tamu sana. Perasaan perempuan itu tidak karuan, ketika jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
"Mungkin sebentar lagi!" Dia mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Mencoba menepis pikiran buruk yang sempat terlintas.
Ayumi kembali duduk di sofa ruang tengah, menyaksikan tayangan malam saat rasanya mulai sangat mengantuk juga bosan. Tapi entah kenapa rasa laparnya tiba-tiba hilang, padahal setelah selesai masak dia merasakan perutnya sangat keroncongan, karena hanya Ayumi isi dengan air putih hangat, dan dia lakukan agar dapat makan malam bersama dengan suaminya.
Dua jam berlalu, dan Randy masih belum menampakan batang hidungnya. Bahkan pria itu sama sekali tak berniat menghubunginya, meski beberapa kali Ayumi melihat kontak Randy terlihat online dengan jangka waktu yang sangat lama.
Ayumi kembali bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah dapur bersih yang terletak di ruangan yang sama, membuka lemari penyimpanan untuk membawa Tupperware, dan segera mengisinya dengan nasi, juga beef paprika yang dia masak.
Hatinya sedikit merasa sakit, dadanya sesak, juga perasaan yang entah harus bagaimana dia menjelaskannya. Dia merasa bersalah memang, hanya saja sikap Randy kali ini benar-benar membuatnya merasa kecewa.
Dan setelah beberapa bulan menikah, baru kali ini mereka benar-benar bertengkar sampai membuat Randy pergi bahkan lupa untuk pulang.
Sementara Dini mengintip dari ambang pintu kamarnya, melihat Ayumi yang sedang memasukan kotak makan kedalam sebuah kantong plastik.
"Non Ayumi mau kemana yah!?" Dia bermonolog dengan suara pelan.
__ADS_1
Pikirannya mulai menerka-nerka, apalagi saat perempuan itu masuk kedalam kamar, dan kembali dengan baju hangat berwarna ungu miliknya.
Dini bergegas menghampiri.
"Non? Mau kemana sudah lewat tengah malam!"
Ayumi menatap Dini, dengan mata memerah dan berkaca-kaca. Namun masih tetap mampu menyunggingkan senyum.
"Mau ke Gerbang Utama, … ngasih masakan aku!" Katanya dengan raut wajah kecewa.
"Bibi antar?"
"Nggak usah. Orang ke gerbang depan doang, kasih makanan buat Bapak-bapak security!" Ayumi tersenyum lagi.
"Bibi saja yang antar. Sudah malah, nanti Den Randy marah kalau tahu saya membuatkan Non Ayumi keluar tengah malam sendirian."
"Cuma ke pos depan, Bi! Hanya sebentar, aku juga mau cari angin buat pikiran aku tenang sedikit."
"Ta …"
"Cuma nganterin ini!"
Ayumi mengangkat satu kantong plastik, berisikan dua tempat berukuran besar.
"Non masukin dagingnya semua? Tapi kan Non Ayumi juga belum makan! Terus kenapa kasih nasinya sebanyak itu? Tempatnya terlalu besar!"
"Security nya ada lima orang, Bi. Nggak mungkin aku kasih sedikit, kasihan nanti nggak kebagian."
"Langsung pulang yah."
Ayumi mengangguk, lalu dia berjalan ke arah pintu utama, menenteng kantung plastik tadi. Dia membuka pintu, yang seketika hembusan angin pagi menerpa wajah cantiknya.
"Aku antar makanannya dulu, ya Bi!"
"Jangan lama-lama ya, Non."
"Nggak, paling kalau telat dikit aku beli nasi goreng di depan sana."
Dini kemudian diam, menatap punggung Ayumi yang berjalan perlahan menyusuri area perumahan elit yang sudah beberapa bulan terakhir menjadi tempat tinggalnya.
Ayumi semakin jauh, dan jauh lagi sampai Dini tak lagi melihat Ayumi ketika perempuan itu menghilang di sebuah tikungan cluster.
__ADS_1
"Haduh, Pak Randy juga kenapa nggak pulang, padahal udah Non Ayumi masakin, … saya telepon malah tidak di angkat, padahal kasihan banget istrinya kelihatan kecewa, jarang-jarang lho gadis muda seperti Non Ayumi mau mengalah dan menyadari kesalahannya, … selain cantik, berhati lembut, Non Ayumi juga tidak egois dan keras kepala." Kata Dini, kemudian menutup pintu rumah majikannya rapat-rapat