My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 163 (Kunjungan Valter)


__ADS_3

"Hari ini jadwal bertemu dengan Psikiater?" Tanya Randy seraya memulai sarapannya.


Ayumi menggigit roti lapis berisikan selai strawberry keju, kemudian mengangguk-anggukan kepala.


"Hu'um, hari ini terapi lagi." Sahut Ayumi singkat.


"Kamu tahu?"


"Dokternya Chat aku tadi." Jelas Ayumi, sampai membuat Randy menghentikan kegiatan makannya untuk beberapa saat.


"Bagaimana isi chatnya?" Pria itu bertanya penuh curiga.


"Halo Ayumi, hari ini jadwal bertemu saya lagi ya, kita terapi seperti Minggu sebelumnya!" Ayumi memperagakan dengan nada bicara yang sama.


Sementara Randy tersenyum melihat itu.


"Kenapa bicaramu seperti itu?" Dia terkekeh gemas.


"Logat Dokternya memang begitu, … aku hanya memperagakan. Bukannya tadi Abang tanya?"


Randy tersenyum, lalu mengangguk pelan.


"Lalu bagaimana dengan pemeriksaan kandungannya? Kapan?"


Ayumi tidak langsung menjawab, dia berusaha menghabiskan rotinya terlebih dulu. Mengunyah dengan cepat, kemudian meminum air hangat yang sudah dia sediakan terlebih dahulu sebelum memulai sarapan.


"Jadwalnya hari ini juga. Mungkin aku datangnya tidak bisa lebih awal karena harus melakukan terapi dulu! Sementara kamu kalau sibuk biar aku yang periksa sendiri, … aku akan baik-baik saja." Ayumi tersenyum.


Dia berusaha meyakinkan suaminya, karena tidak mungkin setiap ada pemeriksaan Randy harus menyimpan pekerjaannya terus menerus.


"Hari ini aku agak santai, nanti aku jemput seperti biasa."


Randy menyelesaikan sarapannya dengan segera, minum, kemudian bangkit dari duduknya.


"Mau berangkat sekarang?" Istrinya bertanya.


Randy melirik Arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian menganggukan kepala.


"Sudah waktunya berangkat sayang, … jangan lupa minum susu, obat dan vitamin. Jangan terlalu banyak melakukan sesuatu yang akan membuat kamu kelelahan." Randy berpesan.


"Iya."


Ayumi ikut bangkit, lalu mengikuti langkah Randy yang tertuju ke arah pintu kamar mereka yang terbuka, setelah Dini merapihkannya beberapa menit lalu.


Pria itu meraih tas dan jas kerja, menyemprotkan parfum hampir ke seluruh tubuh, memeriksakan penampilannya, lalu mendekati Ayumi.


"Aku harus berangkat." Katanya.


Dia meraih pinggang Ayumi, menariknya lebih merapat, kemudian membungkuk dan menyambar bibir istrinya tanpa sebuah peringatan.

__ADS_1


"Sudah. Nanti terlalu jauh, dan kamu tidak mau berangkat bekerja." Ayumi mendorong dada bidang suaminya.


Randy tersenyum lebar.


"Hubungi aku jika ada apapun."


"Iya Daddy, … sudah berapa kali kamu berbicara seperti ini? Dari bangun tidur, sebelum mandi, bahkan saat mau pergi pun masih tetap mengatakannya." Ayumi tertawa kencang.


"Aku hanya khawatir." Randy mengusap pipi Ayumi dengan punggung tangannya.


"Aku baik-baik saja, ada Bi Dini." Ayumi menggandeng tangan Randy. "Ayo aku antar sampai teras!" Dia menarik lengan suaminya, berjalan ke arah luar kamar, dan mendekati laci dimana kunci mobil-mobil tersimpan di dalam sana.


Keduanya berjalan ke luar rumah, dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti, saat mendapati mobil yang tidak mereka kenali melaju dengan kecepatan rendah di pekarangan rumah, dan berhenti tepat di garasi mobil.


Ayumi dan Randy saling menatap.


"Siapa?" Randy berbisik.


"Mama!" Pekik Ayumi ketika melihat orang pertama yang keluar dari dalam mobil sana.


Dan senyumnya semakin merekah ketika melihat Valter juga ikut turun. Pria tinggi, berkulit putih dengan rambut coklat keemasan itu tersenyum, berjalan tepat di belakang Sumi.


"Apa mereka sudah berbaikan?" Tanya Randy pelan.


Pandangannya terus tertuju ke arah dimana orang tua Ayumi berada.


Ayumi melangkahkan kaki lebih dulu, mendekati Sumi yang kemudian langsung menghambur ke dalam pelukan wanita itu. Keadaannya terlihat lebih baik, dari suasana hati juga segi penampilan yang dia perlihatkan, dan tentu saja itu membuat Ayumi sedikit lebih lega.


"Kenapa tidak mengabari?"


Ayumi mengurai pelukannya, menatap wajah Sumi dengan senyuman tipis.


"Papamu ingin bertemu, maaf mengganggu kalian pagi-pagi." Kini Sumi beralih menatap Randy yang berdiri di belakang Ayumi.


Pria tersenyum tersenyum.


"Tidak sama sekali, Ma."


Randy mendekat, kemudian menyambut keduanya bergantian, memeluk dan mencium punggung tangan seperti biasa, wujud sebagai penghormatan seorang menantu kepada mertuanya.


"Om, saya berangkat kerja dulu." Pamit Randy.


Valter mengangguk, dia menepuk-nepuk pundak kokoh suami dari putrinya.


"Ya ya, … maaf saya datang sepagi ini!"


"Its okay." Randy terkekeh.


Setelah itu dia beralih kepada Ayumi. Melambaikan tangan mengisyaratkan agar perempuan itu segera mendekat.

__ADS_1


"Kemarilah aku harus berangkat kerja."


Ayumi mendekat, dia menghambur kedalam pelukan Randy. Sementara pria itu memeluknya begitu erat, tak lupa memberikan kecupan di kening beberapa kali, membuat Valter dan Sumi saling memandang dengan seulas senyum yang terlihat.


"Look! Sudah aku bilang anakmu akan baik-baik saja! Ayumi hidup bersama pria yang sangat mencintai dia!" Sumi menatap wajah Valter, lalu tersenyum.


"Aku tidak bilang sedang mengkhawatirkan Ayumi. Aku bilang aku ingin bertemu." Sergah pria itu mencoba membela diri, meski jauh di dalam hatinya dia memang merasa takut.


"Ya memang, tapi setiap ucapan dan kata-kata mu di sepanjang perjalanan, sudah cukup menjelaskan setiap rasa takutmu."


Mereka berdebat lagi, dan kali ini dengan suara pelan.


"Hati-hati Daddy!" Ayumi berjinjit, memberikan kecupan di pipi suaminya.


"Baik, aku berangkat nanti seperti biasa aku jemput."


"Iya."


"Randy berangkat dulu, Ma … Om!"


Dua orang itu mengangguk, dan mengangkat tangan kemudian melambai pelan. Randy segera membuka pintu mobil, masuk dan segera pergi setelah menghidupkan mesin mobilnya.


"Hey, kamu tidak merindukan Papa?"


Valter segera merentangkan tangan ketika Ayumi mulai mendekat setelah selesai memperhatikan mobil suaminya.


Dia tersenyum manis dan terkesan malu-malu, namun tak urung juga memeluk Valter, dan menempelkan wajahnya di dada sang ayah, merasakan kenyamanan di dalamnya.


"Bagaimana keadaanmu?" Ucap Valter setelah puas menciumi puncak kepada anak perempuannya.


"Aku baik, Papa sendiri bagaimana?" Dia balik bertanya tanpa melepaskan pelukan satu sama lain.


"Seperti yang kamu lihat, Papa baik-baik saja. Tapi mungkin sebentar lagi kita akan berpisah lagi …"


Ayumi mendorong tubuh pria di hadapannya, sampai mereka sedikit berjarak, dan mampu menatap satu sama lain.


"Papa mau pulang?" Matanya bergerak-gerak, menatap wajah Valter yang sedang menunduk.


Valter mengulum senyum. Rasanya begitu bahagia mendapatkan tatapan menyejukkan penuh cinta. Namun juga sedih karena memang cepat atau lambat keduanya akan kembali berpisah.


"Kenapa tidak tinggal di sini? Kenapa harus ke Jerman lagi?"


"Karena izin tinggal Papa hanya beberapa Minggu, lagi pula sudah membeli tiket untuk pulang, jadi tidak bisa lama-lama disini." Jelas Valter, suaranya terdengar begitu lembut.


Sumi tersenyum melihat kedekatan keduanya.


"Apa kalian akan terus berpelukan disini? kaki Mama pegal sekali." Ucap Sumi yang seketika membuat keduanya saling melepaskan diri.


"Astaga, aku sampai lupa. Ayo masuk, dan mau minuman apa? Atau Mama dan Papa mau sarapan? Bi Dini buat sup ayam." Tawar Ayumi seraya menggiring kedua orang tuanya masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2