My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 21 (Tara)


__ADS_3

Dua hari berlalu.


Ayumi tampak sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia berjalan kearah loker, membawa Tote bag, dan merogoh benda pipih yang selama bekerja gadis itu simpan di dalam sana.


"Eh, Abang kirim pesan!" Gumam Ayumi saat mendapati beberapa pesan singkat masuk dari Randy.


[Ay, sore ini saya nggak bisa antar kamu pulang. Ibu akan datang, juga beberapa pekerjaan belum selesai. Pulang sendiri bisa? naik taksi, oke? tidak boleh jalan. Uang yang saya berikan kemarin masih ada kan?]


Setelah membaca itu Ayumi segera mengetik untuk membalas pesan dari kekasihnya.


[Iya tidak apa-apa, nanti aku naik taksi.]


Dan langsung saja Ayumi memasukan ponselnya kedalam Tote bag sana. Berjalan kearah luar, untuk segera pulang meski jam masih menunjukan pukul empat sore.


Beruntung tidak banyak pekerjaan hari ini, sampai dia bisa pulang lebih awal. Hal yang sangat sulit ia rasakan saat bekerja di sana.


Ayumi menundukan pandangan, saat melewati beberapa karyawan yang juga hendak pulang dalam waktu yang sama.


Mereka menatap Ayumi dengan tatapan tidak suka, entah apa yang membuat mereka melakukan itu, meski dalam pekerjaan Ayumi selalu melakukan tugasnya dengan benar.


"Denger-denger ada yang lagi deket sama Pak Randy, nih!" Tara berbicara kencang.


Dia menyindir.


Ayumi mempercepat langkah kakinya.


"Yah, ... lumayan lho buat biaya hidup. Nemplok sama orkay kan memang sangat menguntungkan besti." Timpal karyawan lainnya.


Gadis itu hanya menghela nafasnya pelan, berusaha terus sabar meski selalu di perlakukan buruk. Bukan oleh Balqis sang pemilik perusahaan, melainkan dengan bawahan-bawahannya yang selalu merasa lebih baik, dan cenderung memiliki sifat iri dengki.


"Heh! sudah kenapa sih. Kedengaran Pak Nior celaka kalian!" Seorang pria tampak menghentikan prilaku Tara juga beberapa temannya.


"Bodo amat, toh orangnya juga sudah pulang. Bang Gilang kok belain Ayumi? mulai suka juga yah!" Tara memincingkan mata, menatap pria itu penuh ejekan.


"Saya nggak belain, hanya aneh saja. Ayumi tidak pernah berbuat apapun, tapi kenapa selalu kalian ganggu."


Mata gadis itu mendelik, berdecih seraya mengalihkan pandangan kearah lain, dengan perasaan kesal yang semakin menguasai diri.


Sementara Ayumi, dia terus bungkam, dan hanya fokus berdiri di depan pintu lift yang masih belum terbuka juga, meski dia sudah menekan tombol yang tersedia beberapakali.


Ting!!


Akhirnya pintu besi itu terbuka. Ayumi melangkah masuk, disusul Gilang, Tara juga teman-temannya.


Ayumi terus mundur kebelakang, sampai dia benar-benar berdiri di pojok dengan Gilang yang berdiri tepat di hadapannya, seolah dia ingin melindungi Ayumi dari gangguan Tara juga teman-teman perempuannya itu.


Kotak besi itu terus terasa bergerak, hingga setelah beberapa detik, barulah berhenti, dan dentingan terdengar, lalu pintu lift segera terbuka.


Gilang keluar terlebih dulu, kemudian Ayumi, menyisakan Tara juga teman-temannya di dalamnya.


Namun tanpa di duga, kaki Tara maju secara sengaja, sampai mengenai kaki kiri Ayumi.


Ayumi pun terjatuh, tersungkur kedepan cukup kencang.


"Awhhh!" Ayumi menjerit dengar sangat kencang, saat kaki kirinya terasa benar-benar sakit.


"Ups!" Teman Tara berucap.

__ADS_1


Berbeda dengan Tara, gadis itu hanya melihat Ayumi, lalu tersenyum licik.


"Ck! begitu saja teriak. Dasar drama Queen." Tara berdecik.


Ayumi berusaha tidak memperdulikan itu, dia hanya terus duduk, dengan tangan yang memegangi kakinya.


"Bahkan ini sudah hampir sepuluh tahun, tapi kenapa sakitnya masih terasa?" Katanya sambil memijat pelan kaki kirinya.


Beruntung suasana mulai sepi, jadi Ayumi tidak menjadi tontonan para karyawan yang bekerja disana.


"Memangnya kenapa sih? salah ya kalau aku Deket sama Pak Randy? apa salah juga yah kalau Pak Gilang baik sama aku? sebenernya salah aku itu apa? kok Bu Tara benci sampai segitunya!"


Ayumi berujar, sembari berusaha bangkit.


"Eh!"


Suara Una terdengar memekik. Dan dengan cepat dia berlari, saat matanya mendapati Ayumi yang hendak berdiri, tepat di depan pintu lift.


"Kamu belum pulang?" Ayumi tersenyum, dia berbasa-basi.


Una tidak menjawab, dia hanya membantu Ayumi berdiri.


"Aira pasti udah pulang bareng Ayank nya yah?!" Tanya Ayumi lagi.


Tapi Una masih belum menjawab, dia fokus melihat Ayumi dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Ish, ... dari tadi aku lho yang tanya kamu duluan."


"Hilih, kamu mengalihkan pembicaraan. Biar aku nggak nanya kamu kenapa? padahal sudah jelas kamu jatuh, iya kan?"


"Ayok pulang."


"Iya, ... tapi kemana Aira? baru kemarin kita pulang bareng beberapa kali, eh mulai ngilang lagi."


"Biasalah, yang punya Ayank mah begitu. Kaya kamu! sekarang kan mulai di jemput terus yah? Pak Randy emang baik, keliatannya aja begitu. Mirip berandalan, punya tato dimana-mana. Tapi hatinya hello Kitty." Tukas Una sambil berjalan membopong Ayumi, yang saat ini berjalan tertatih-tatih.


"Kamu keseleo?"


Ayumi menoleh, melihat kearah sahabatnya.


"Bukan. Tadi kaki aku nggak sengaja nendang kaki Bu Tara, jadi jatuh."


"Kaki kiri?"


Ayumi mengangguk.


"Iya."


Una membelalakkan mata.


"Bukannya, ..."


"Iya, tapi nggak apa-apa kok. Santuy!" Ayumi menggerakan alisnya naik dan turun.


"Hati-hati lho Ay, kaki kiri kamu kan pernah di pasang ring. Kaki yang pernah patah itu jangan teledor, ngeri aku. Gimana kalau patah lagi."

__ADS_1


Tak!!


Ayumi langsung menjitak kening Una.


"Kamu doa in aku?"


"Eh bukan, aku cuma update status." Katanya sembari mengusap keningnya yang terasa sedikit panas.


"Kamu konyol!" Ayumi terkekeh.


"Ya tahu sendiri, aku ini Human error'."


Tawa Ayumi semakin kencang, tingkah laku Una memang selalu membuatnya tertawa.


Dan mungkin dia pula, yang membuat Ayumi bertahan selama ini. Di perusahaan, yang jelas-jelas beberapa karyawan terus mempercundangi nya.


Ya, dia bahkan tidak pernah di sukai oleh Tara dan teman-temannya, hanya karena cara dia masuk kesana dengan bantuan orang dalam, yang tidak lain dan tidak bukan adalah mertua dari adik sang pemilik perusahaan.


Kedua gadis itu terus berjalan perlahan, keluar dari gedung tempat mereka bekerja.


"Nggak di jemput Ayank?" Goda Una.


Ayumi menggelengkan kepala.


"Dia mau ****** Mamanya."


"Mama mertua?"


"Haih. Sana pulang! lama-lama kamu bikin kesel Un!"


"Uunaaa, ... Ayumi! an un an un. Emangnya apaan." Gadis itu mendelik.


Sementara Ayumi hanya tersenyum.


"Yaudah aku duluan." Pamit Una saat mereka.


"Nggak mau ikut aku naik taksi?"


Una menggelengkan kepala.


"Beda arah juga, kali ikut kamu dulu, kejauhan Ay!"


"Yasudah, Papay."


"Papay."


Una segera pergi, begitu pun dengan Ayumi. Gadis itu berjalan kearah Halte untuk menunggu taksi.


Sebenarnya bisa saja dia berjalan kaki. Namun jika Randy mengetahui itu, dia akan marah karena permintaannya tak pernah di turuti.


Ayumi berdiri, melihat kearah taksi yang tampak melaju pelan di belakang bus, yang juga melaju kearahnya.


"Terimakasih." Seorang wanita paruh baya berteriak, saat pintu bus itu terbuka.


Dia turun dan berjalan melewati Ayumi, untuk duduk di kursi yang tersedia.


"Taksi Pak!" Ayumi melambaikan tangannya.

__ADS_1


Taksi yang Ayumi maksud mulai melaju, setelah berhenti beberapa detik saat bus di hadapannya berhenti.


Dengan segera Ayumi masuk, menutup pintu taksi itu rapat-rapat, lalu kendaraan roda empat itu beranjak pergi dengan kecepatan sedang.


__ADS_2