
"Ya, halo Na?"
Ayumi menempelkan handphone di daun telinganya, setelah berdering begitu kencang beberapa detik lalu.
"Ini gue udah di depan, cepetan keluar! Gue segan masuk ke halaman rumah Pak Randy, gede banget anjir." Una menjawab di seberang sana.
"Tungguin."
Ayumi langsung mematikan sambungan telepon dari sahabatnya, kemudian keluar kamar, dan berlari ke arah pintu utama yang tertutup sangat rapat.
Klek!
Perempuan itu berjalan ke arah luar, melewati teras rumah seraya mencari keberadaan kedua sahabatnya, yang dia panggil untuk datang pada hampir petang hari ini.
Dan disanalah Una juga Aira, berdiri di dekat tiang lampu jalan, membawa beberapa kresek makanan ringan pesanan Ayumi.
"Heh? Ngapain berdiri disana? Kejauhan!"
Aira juga Una tersenyum, keduanya segera mendekati Ayumi.
"Gila! Nyonya Danendra tinggalnya di cluster elite, nggak main-main." Una berbisik.
"Duh, liat dong garasi rumahnya … penuh banget, kalo bosen bolehlah lemparin ke gue, Ay!" Sambung Aira.
"Dasar pada gila!" Ayumi terkekeh.
Dia merentangkan kedua tangannya, menyambut kedua sahabat yang sudah cukup lama tidak bisa Ayumi temui. Biasanya mereka bertiga berkumpul hampir setiap hari, melepas penat bersama-sama setelah seharian bekerja, dan menguatkan satu sama lain saat hidup memang benar-benar sedang terasa sangat sulit.
Tiga perempuan muda itu saling berpelukan.
"Hayu masuk, kita ngobrol di taman belakang rumah." Ajak Ayumi, sambil menarik tangan kedua sahabatnya.
"Ay, lo pasti seneng kan sekarang? Tinggal di rumah gede, ekonomi membaik, nggak usah kerja, mau apapun Pak Randy kabulin, … apalagi ponakan Gue bentar lagi launching!" Kata Aira saat mereka memasuki rumah besar itu.
Una menengadahkan pandangan, menatap kagum ruang tamu rumah tersebut. Cat berwarna putih yang mendominasi, beberapa sofa besar juga meja kaca yang berada disana, dan jangan lupakan beberapa hiasan, seperti guci, vas bunga dan lampu ruangan yang tampak begitu mewah.
"Betah, Ay disini?" Una menepuk bahu sahabatnya.
Ayumi hanya tersenyum, sambil terus melangkahkan kaki ke arah pintu belakang rumah.
"Gila, jauh banget ya sama kamar kost lo dulu!" Kata Aira.
"Kalian ngelindur nih! Dari tadi ngomongnya ngawur." Balas Ayumi.
"Ya ampun Ay, pantesan lo mau dinikahin Om-om kaya Pak Randy. Ternyata dia setajir ini yah? Gua kira mah biasa aja, ternyata nggak. Asisten pribadi Raga Biantara memang rada beda nih!"
Una menatap taman belakang rumah dengan kagum. Beberapa tempat di penuhi pot bunga mawar, lalu di sisi lain terlihat keberadaan pohon hias yang begitu indah, juga beberapa kursi dan meja kayu di atas rerumputan, belum lagi lampu-lampu kecil berwarna kuning yang sudah menyala, membuat kediaman sahabatnya itu terasa begitu nyaman.
Aira meletakan kantong belanjaan di atas meja kayu, kemudian dia duduk disana, disusul Una juga Ayumi.
"Kalian bawa apa?" Ayumi terlihat sangat antusias.
"Ya bawa pesenam lo, Ay! Apalagi? Coklat, keripik talas, pop mie dower, sama susu Full cream dingin." Jelas Aira.
"Mau makan sekarang? Atau mau ngobrol dulu?"
"Kayanya makan sambil ngobrol enak." Ucap Una.
"Yaudah, tungguin."
__ADS_1
Ayumi segera beranjak, membawa beberapa cup mie instan ke arah dapur, untuk mengisinya dengan air panas.
"Non?"
Dini datang mendekat, membuat Ayumi menoleh seketika.
"Iya, Bi?" Jawab Ayumi sambil tersenyum.
"Mau apa? Kenapa tidak panggil Bibi?"
"Ini mau bikin mie. Takutnya Bibi lagi sibuk masak buat makan malam nanti!"
"Tidak. Sudah selesai, Non boleh kembali ke taman, ini biar saya yang isinya air panasnya, nanti kalau sudah selesai Bibi antar ke belakang."
"Beneran?" Ayumi meyakinkan.
"Iya Non."
"Terimakasih, Bi."
Ayumi memutuskan untuk kembali mendatangi teman-temannya, yang saat ini terlihat sedang asik berbincang-bincang.
"Kalian pulang cepat hari ini? Gimana kantor? Aman?" Cerca Ayumi kepada dua temannya.
"Sekarang aman, Bu Tara sudah di pecat. Tapi kamu malah tidak kerja lagi, bahkan barang-barang kamu di loker masih ada." Kata Una.
"Jangankan kesana lagi, mikirinnya aja aku nggak bisa. Pikiran aku udah aneh sekarang, berpikir bahwa semua orang bakalan ngerendahin aku, … dan kalian tahu? Aku semakin takut akan dunia luar, banyak hal yang terjadi apa lagi akhir-akhir ini!" Jelas Ayumi, dengan ingatan tentang kejadian-kejadian yang terputar dengan sangat jelas.
Aira juga Una terdiam, menatap wajah sahabatnya lekat-lekat.
"Ada sesuatu yang kita nggak tahu yah?"
"Kalian malu nggak sih kalau aku jujur?"
"Kok malu? Kita sahabatan lho padahal. Tapi kok kamu masih ngerasa kita bakal malu sih!"
Ayumi mengangkat pandangannya, melihat Una dan Aira bergantian. Hendak membuka mulut, tapi kedatang Dini membuatnya kembali berhenti.
"Ini mie sama air dinginnya. Apa mau tambahan lain? Seperti teh manis hangat?" Tawar Dini sembari meletakan nampan berisi cup pop mie dan botol air mineral, yang terlihat mengembun karena baru saja di keluarkan dari lemari pendingin.
Air tersenyum, lalu mengangguk saat Dini mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Terimakasih, Bi." Kata Aira dengan ekspresi gugup.
"Iya, Non. Sama-sama!"
Setelah itu Dini segera kembali ke arah dalam, meninggalkan tiga sahabat yang mulai membuka penutup cup mie kuah dengan rasa pedas itu.
"Berapa jadi orang kaya gue di panggil, Non!" Aira terkekeh.
"Yaaa, … berandai-andai aja dulu, siapa tau Ayank Egy tiba-tiba kepincut, terus jadiin kamu istri. Pemain bola kaya-raya lho jangan salah, bisa jadi sebelas-duadua sama Pak Randy." Celetuk Una, lalu dia mulai memakan mie pedas miliknya.
Aira mendengus sebal, sampai kedua bola matanya terlihat mendelik. Keadaan menjadi hening. Ketiganyaa mulai melahap mie berkuah pedas dengan sangat hati-hati.
"Mmmm, … Ay? Gimana rasanya hamil? Maksud aku, ada bedanya nggak setelah aja Bayi di dalam perut kamu?" Una tampak penasaran.
"Nggak biasa aja. Selain nafsu makanku meningkat, dan sensitif terhadap bau, … aku tidak suka bau karbol, dan satu-satunya yang membuat aku tidak mual adalah bau baju bekas pakai punya Abang." Jelas Ayumi.
Yang seketika membuat Aira dan Una membelalakan mata. Menatap Ayumi penuh keterkejutan, sementara Ayumi hanya tersenyum, karena dia merasa malu saat mengatakan itu.
__ADS_1
"Aku aneh yah?" Ayumi terkekeh.
"Aneh banget sumpah. Apa nggak bau?"
Ayumi menggelengkan kepala.
"Parfum Abang itu wangi tahu, beda sama parfum kalian … yang harganya cuma 25 ribu, paling mahal yang 90, itu pun isi ulang." Ayumi tertawa kencang.
"Haih, kamu juga gitu Ay!" Aira tak mau kalah.
"Iya deh iya. Aku juga sekarang masih pake minyak wangi isi ulang, jangan salah begitu-begitu juga wangina nempel sampai Abang suka."
"Bucin nih manusia satu." Kata Una kepada Aira.
"Lo nggak denger? Dia sampe ciumin baju kotor lakiknya. Itu sudah menjadi sinyal gimana dia sekarang sama Pak Randy."
Mereka bertiga tertawa bersamaan, membuat rumah itu tiba-tiba terasa menghangat, setelah terasa sangat hening saat Tutih, Ali dan Sumi memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
***
Gelak tawa Ayumi juga kedua temannya terdengar begitu nyari memenuhi ruang tengah saat Randy memasuki rumahnya, membuat kening pria itu berkerut kencang, dan memutuskan untuk berjalan menuju taman belakang rumahnya.
Dia berdiri diambang pintu saat melihat Ayumi sedang tertawa lepas, begitupun dua gadis yang saat ini sedang bersamanya, mereka benar-benar terlihat bahagia, meski Randy hanya mendengar sebuah obrolan konyol.
"Entar kalo Aira nikah sama Egy, dia bakala cium-cium ketiaknya juga, Ay! Kan Aira bucin banget sama Egy, pas ada orangnya aja dia so cantik, tiba-tiba jadi pendiem, padahal biasanya suka ngereog." Kata Una lagi.
"Astaga perutku keram." Cicit Ayumi, dia terus tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan Aira.
"Dari pada Una. Lo nggak normal, banyak cowok ganteng tapi sibuk terus sama makanan." Aira membalas.
"Ah gue nggak mau, nanti sakit hati kaya Ayumi dulu pas Pak Nior nikah sama Bu Bianca, … ya dia bilang nggak suka, tapi jauh di dalam hatinya Pak Nior adalah laki-laki pertama yang berbuat manis dan selalu mempehatikan apapun yang Ayumi lakukan."
Randy yang sedang menyimak obrolan mereka pun memicingkan mata. Melihat Ayumi yang terus tertawa, dan menunggu jawaban apa yang akan istrinya katakan.
"Ah jangan bahas itulah, nanti Pak Randy denger bahaya, kita nggak boleh main kesini lagi!" Aira menepuk punggu Una kencang.
"Ya kan emang bener, cinta mereka nggak berlanjut karen …"
"Eheum!"
Una, Aira dan Ayumi sontak terdiam, matanya membulat sempurna dengan jantung yang tiba-tiba berpacu sangat kencang.
"Mati gue!" Geram Ayumi seraya menatap kedua sahabatnya tajam.
"Gue juga mati Ay!" Kata Una.
"Gue bilang juga apa! Jangan bahas ya jangan bahas!" Cicit Aira pelan, sehingga mereka terdengar berbisik-bisik.
Ayumi berdeham, berusaha menetralisir kan ternggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Dia menegakan tubuh, kemudian berbalik badan, melihat ke arah suaminya yang saat ini memang berdiri di ambang pintu masuk.
Ekspresi wajahnya masam, matanya memincing tajam, juga kedua tangan yang terlihat di lipat di atas dada.
Pria itu memang terbilang sedikit kesal.
Ya, tidak mungkin jika tidak. Tingkat kecemburuannya diatas rata-rata, jadi sepertinya sekarang aku harus membuat dia luluh dan tidak marah!
Batin Ayumi berbicara.
"Sayang kamu sudah pulang?" Ayumi tersenyum manis.
__ADS_1
Dia bangkit, berjalan ke arah Randy dan memeluknya dengan sangat erat.