My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 99 (Dedek Bayi)


__ADS_3

Tangan Randy menggenggam dua cup susu jahe merah, yang mereka beli saat baru saja sampai di salah satu taman kota pada sore hari ini, dengan suasana yang tidak terlalu ramai.


Langkahnya terhenti, saat Ayumi menoleh dan tersenyum ke arahnya.


"Duduk disini ya sayang!?" Ayumi menunjuk satu kursi taman yang menghadap ke arah danau, yang terlihat memantulkan cahaya oranye yang begitu indah.


Randy hanya mengangguk, kembali melangkah dan meletakan minuman hangat itu, di dekat beberapa jajanan yang Ayumi juga beli. Mereka duduk sedikit berjarak, dipisahkan dua cup minuman, bakso goreng, telur gulung, juga cilok ayam.


Ayumi meraih cup tersebut, menghirup aroma perpaduan jahe dan susu yang terasa begitu sedap.


"Aku suka susu jahe." Kata Ayumi setelah meneguk minuman tersebut, yang membuat tenggorokannya seketika menghangat.


Randy menoleh, menatap wajah cantik tanpa polesan make up, dengan rambut yang tersapu menghalangi wajah, saat angin sore hari menerjang.


Pria itu tersenyum. Entah berapa kali dia merasa beruntung telah mendapatkan gadis pujaannya, meski dia sempat menolak, keadaan sedikit merenggang karena Randy yang merasa kesal kepada Ayumi. Namun, kini semuanya sudah baik-baik saja.


Ya sekarang mereka baik-baik saja, tapi ada banyak ke khawatir atas apa yang belum tersampaikan. Apakah dia harus menutupinya, atau menceritakan dengan segera sebelum Ayumi mengetahui dari orang lain.


"Di bilangin jangan liatin aku kaya gitu! Aku malu." Cicit Ayumi sambil mengusap wajah suaminya, lalu tertawa


Randy mendekatkan tangannya pada wajah Ayumi, menyingkirkan beberapa anak rambut yang terus bergerak-gerak menghalangi wajah cantik istrinya, lalu menyelipkan di daun telinga, dengan kedua sudut bibir yang tampak melengkung, membuat sebuah senyuman samar, namun terlihat manis.


"Pantas saja kamu begitu cantik." Gumam Randy pelan, tapi Ayumi masih dapat mendengarnya sangat jelas.


"Maksudnya gimana?" Kening Ayumi menjengit.


"Tidak." Randy menggelengkan kepala. "Ayo makan jajanan yang kamu beli. Ingat! Harus di habiskan."


"Huuum?"


"Habiskan. Telur gulung, Bakso goreng, cilok ayam, agar kamu sehat dan kuat tentunya."


Ayumi meraih plastik berisikan sepuluh telur gulung yang dicampurkan dengan saus sambal, lalu mengeluarkannya satu, dan mulai memakannya.


"Memangnya kenapa? Kok aku harus kuat?" Tanya Ayumi sambil menyodorkan telur gulung itu kepada Randy.


Pria itu tersenyum lagi, menarik satu jajanan lezat itu dan menghabiskannya dengan satu kali gigitan.


"Karena terus bersamaku butuh tenaga yang sangat banyak." Randy melirik, yang kemudian menggerakan kedua alisnya.


Perempuan itu tidak menjawab, tapi malah menyentuh pinggang suaminya, dan mencubit dengan cukup kencang sampai membuat pria itu meringis saat mengerti maksud dari ucapan Randy.


"Jangan mesum disini. Ini tempat umum!" Dia berbisik.


"Tapi kondisinya sepi Ay, tidak seperti di Mall tadi!"


Ayumi melepaskan capitan kedua jatinga pada kulit pinggang Randy, lalu mengangguk.


"Padahal aku mau nonton, tapi malah penuh!" Kata Ayumi, seraya menjejalkan cilok ayam kedalam mulutnya dengan perasaan sedikit kecewa.


"Kapan-kapan bisa. Sebenarnya dari pada kita pergi ke Mall atau kemanapun itu, lebih baik kita menghabiskan waktu berdua saja."

__ADS_1


"Itu maunya kamu."


"Nah itu tahu."


Ayumi bergeser, mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Randy.


"Memangnya kalau kita terus seperti tadi, … Dedek Bayi nya pasti cepet ada yah di perut aku?"


Randy terdiam, menatap wajah istrinya lekat-lekat.


Kenapa dia sepolos ini!


Batin Randy.


"Abang?"


"Ya?"


"Dedek Bayi nya sudah ada di perut aku?" Ayumi bertanya lagi.


Namun, bukannya menjawab. Randy justru meraih tangan dan merematnya cukup erat.


"Kita lihat saja nanti." Randy tersenyum.


"Ohh, … aku kira sudah ada di perut aku, soalnya kita bikinnya setiap hari." Celetuk Ayumi dengan ekspresi datar, membuat Randy terkekeh pelan


"Memangnya kamu sudah mau?"


"Kalau begitu tidak usah terlalu dipikirkan. Fokus saja agar kamu segera pulih, … dan kuliah, sesuai yang kamu inginkan dulu sebelum kita menikah."


Ayumi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi taman, menatap lurus kedepan, memperhatikan air danau yang bergerak-gerak mengikuti arah angin berhembus.


"Kalau aku berubah pikiran boleh nggak? Maksud aku, Abang malu nggak kalau punya istri yang nggak kuliah, aku mulai nyaman dengan keseharian aku di rumah, mengurus semua keperluan kamu sebelum dan sepulang bekerja, … ya walaupun belum ahli."


Randy diam.


"Akhir-akhir ini perasaan aku lagi aneh. Kaya ada yang hilang, tapi nggak tau apa. Mood aku juga jadi kurang bagus, aku nggak bisa fokus."


Ayumi memejamkan matanya, lalu menghirup udara sebanyak mungkin, dan menghembuskan perlahan.


"Lakukan apa yang mau kamu lakukan. Jika mau Kuliah, aku bisa mengurusnya dari sekarang, dan jika mau di rumah saja, … ya tidak apa-apa diam saja di rumah nikmati waktumu sebelum anak kita lahir nanti." Ujar Randy yang langsung dijawab anggukan oleh istrinya


Kemudian keadaan menjadi hening. Keduanya terdiam, Ayumi dengan jajanannya, sementara Randy dengan pikiran yang melayang-layang, membayangkan beberapa hal yang masih dia sembunyikan dari istrinya.


Di satu sisi dia ingin jujur dan melepaskan beban itu, namun di sisi lain dia juga merasa takut dengan reaksi istrinya. Randy takut Ayumi kecewa dan tidak bisa memaafkan dirinya, apalagi ini menyangkut dua hal yang sangat sensitif.


"Kayanya aku gelisah gara-gara baca cerita di bukunya Bi Sumi deh."


"Cerita?"


Ayumi mengangguk.

__ADS_1


"Yang waktu itu aku baca bukunya itu lho!" Ayumi berusaha mengingatkan suaminya.


"Memangnya cerita tentang apa yang kamu baca? Sampai kamu gelisah di buatnya."


"Ah, … kalau diceritain panjang."


"Kalau di ceritakan semuanya, iya. Hanya jelaskan garis besarnya saja."


Entah kenapa Randy terlihat sangat penasaran.


"Jadi, … buku itu mengisahkan seorang perempuan muda berusia 19 tahun, yang suka sama salah satu pria berkebangsaan Jerman. Nggak nikah, di hamilin lalu dia pergi tanpa bertanggung jawab, terus buang Bayinya tanpa sepengetahuan si protagonis wanita." Jelas Ayumi.


"Lho, kenapa?"


"Si cowoknya nikah sama Kaka protagonis perempuan itu. Terus keluarganya malu, karena yang di nikahin siapa yang punya bayi siapa, … ah pokonya gitu deh, aku pusing jelasinnya!"


Randy mengangguk.


"Kasian yah! Padahal tokoh utamanya nggak salah lho, dia korban, tapi di hakimi sampai-sampai keluarganya pergi meninggalkan dia."


"Begitu?" Randy menatap Ayumi, begitupun dengan perempuan tersebut yang tengah menatap ke arahnya.


"Iya, kayanya gara-gara mikirin itu aku jadi gelisah. Novelnya keren sih, bisa bawa pembaca masuk kedalam ceritanya."


Randy melipat kedua tangannya di atas dada.


"Menurutmu bagaimana? Jika anak itu besar, dan protagonis wanita menemukan anaknya dalam ke adaan yang sudah berbeda. Anak yang dulu terbuang kini sudah besar, apakah ada kesempatan untuk ibunya? Sementara sudah di pastikan bayi itu tidak tahu kebenarannya seperti apa?"


Ayumi berpikir.


"Ini rumit!" Kata Ayumi, dia mengetuk-ngetuk pipinya sendiri. "Dari sisi Ibunya, tentu saja dia tidak bersalah karena bukan dia yang membuang anaknya sendiri. Tapi dari sudut pandanga anaknya, pasti berpikir bahwa masih banyak cara jika memang protagonis wanita ingin menemukan Bayinya."


"Ah aku pusing kalau mikirin ini."


"Yasudah jangan di bahas lagi."


Ayumi mengangguk, lalu meneguk susu jahenya yang mulai dingin hingga tandas. Dia bangkit, merapihkan beberapa plastik sisa jajanannya, lalu membuang ke tempat sampah yang tersedia.


"Ayo pulang, aku ngantuk." Ajak Ayumi.


Randy mengangguk, dia juga melakukan hal yang sama, meneguk susu jahenya sampai habis, lalu membuang cup tersebut kedalam tong sampah.


"Ayo!" Randy mengulurkan tangan, yang segera di raih Ayumi.


"Aku mau tidur beneran. Jangan di ganggu yah! Aku cape." Pinta Ayumi kepada Randy.


"Iya iya." Randy tersenyum, dengan tangan yang mengusak rambut istrinya, membuat perempuan di sampingnya menghindar dan merapihkan kembali rambut panjang kecoklatan yang terlihat begitu indah.


Mereka berdua berjalan meninggalkan taman kota ketika langit yang sudah hampir gelap, mendekati parkiran mobil untuk segera pergi dari sana, menuju hotel untuk segera beristirahat.


......................

__ADS_1


Guys, boleh bantu like, sama komen? atau yang mau share juga boleh, biar temen-temennya pada mampir, othor syedih banyak banget silent readers 🤧


__ADS_2