
Ayumi menutup kran air yang sedari tadi terus terbuka, ketika tak hentinya perempuan itu memuntahkan isi perutnya pada pagi hari ini saat tidak mendapati Randy ketika dirinya terbangun.
"Mommy kira kamu tidak akan protes lagi kalau Daddy tidak ada di kamar pas kita bangun." Ayumi mengusap perutnya.
Kakinya terasa begitu lemas, tenaganya bahkan terasa hilang. Namun dia tetap berjalan ke keluar dari kamar mandi sana, dan berniat mencari keberadaan Randy, yang sudah tidak ada bahkan saat dia membuka mata, sampai membuat dirinya merasa pusing, mual lalu muntah.
Udara segar langsung Ayumi hirup, ketika pintu utama rumah terbuka sangat lebar. Belum lagi jendela-jendela yang berada hampir di setiap sudut. Membuat udara pagi hari masuk kedalam rumah dengan leluasa.
"Bi? Abang keluar?" Ayumi bertanya kepada sang asisten yang sedang memberikan bagian depan rumah.
"Tadi masuk ruang Gym, Non!" Dini menjawab.
Ayumi mengangguk. Dia berjalan menuju satu pintu ruangan yang tertutup, meraih handle pintu dan menekannya dengan perlahan.
Suara alunan musik terdengar kala pintu itu terbuka. Ayumi menimbulkan kepala. Dan disanalah Randy, berdiri di antara dua besi, mengangkat beban di antara sisi dan kanan, dengan melakukan gerakan squat.
Randy yang menyadari keberadaan Ayumi langsung berhenti. Mengaitkan benda tersebut, kemudian menghampiri istrinya yang baru saja duduk di salah satu kursi ruangan itu.
"Sudah bangun?" Pria itu bertanya.
Randy meraih handuk kecil, lalu mengusap keringatnya yang bercucuran begitu deras.
"Jangan sayang!" Cicit Randy berusaha menjauh ketika Ayumi mendekatinya.
Namun terlambat, Ayumi sudah memeluknya, bahkan menempelkan wajah di dada sambil memejamkan mata.
"Aku muntah pagi ini. Sampai perut aku sakit, sama tenggorokan rasanya panas sekali!" Ayumi merengek dengan suara pelan, persis seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ayahnya.
Randy mengecup puncak kepala istrinya dengan perasaan tak tega. Bahkan ketika kandungannya sudah hampir menginjak 4 bulan Ayumi masih mengalami mual dan muntah, dan yang lebih parah lagi Ayumi benar-benar tidak bisa jauh darinya juga pakaian kotor kesayangan perempuan itu. Jika salah satunya tidak ada maka Ayumi akan merasa pusing, mual dan berujung muntah.
"Ay, aku masih berkeringat!" Suaranya terdengar begitu lembut.
"Memangnya kenapa? Dia balik bertanya, dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Ya tidak kenapa-kenapa, takutnya kamu ikut lengket. Dan aku takut juga beu tubuhku sedikit tidak sedap." Dia terkekeh.
"Yang benar saja. Bahkan aku terus menyimpan baju kotormu. Kamu itu wangi tahu, parfumnya kan menempel terus walaupun kamu berkeringat seperti sekarang." Katanya.
Ayumi mengangkat pandangan, menatap wajah suaminya dengan senyum sumringah.
Wajah yang terlihat memerah di beberapa titik. Seperti kedua pipi misalnya, juga rambut acak-acakan terlihat klimis karena cucuran keringat yang luar biasa, tapi tak mengurangi tingkat ketampanannya, justru terasa semakin bertambah.
"Sudah selesai olahraganya?" Tanya Ayumi.
Randy pun mengangguk.
"Baik ayo kita mandi." Ayumi menggerak-gerakkan alisnya naik dan turun.
Tampaknya perempuan itu sedang menggoda suaminya. Menggoda agar Randy segera menyelesaikan kegiatannya di pagi hari ini.
"Apa maksudnya ini?" Randy berusaha menahan senyum, ketika perasaannya tiba-tiba meledak, dan langsung dipenuhi oleh bunga-bunga yang beterbangan.
"Daddy?" Panggil Ayumi dengan suara rendah.
"Mandi beneran atau mandi yang lain?" Randy mulai terpancing.
"Abang mau yang mana? Mau mandi beneran boleh, mandi yang lain juga boleh."
"Dasar nakal!" Randy menggeram pelan.
"Kan Abang yang ngajarin aku, … awalnya aku nggak tahu apa-apa, tapi Abang ajarin aku sampai tahu semuanya yang berhubungan dengan …"
Belum selesai Ayumi bicara, Randy segera membekapnya dengan telapak tangan. Yang seketika membuat Ayumi berhenti berbicara.
"Cepat tunggu aku di kamar mandi. Isi bathtub nya dengan air hangat, … aku beresin ruangan ini dulu." Kata Randy tepat di dekat telinga Ayumi, lalu menggigitnya cukup kencang sampai membuat perempuan yang sedang mendekap tubuhnya memekik kencang.
"Sakit!" Denger Ayumi sambil terkekeh pelan.
Keduanya saling tersenyum.
"Cepatlah aku harus merapikan ruangan ini dulu." Pria itu menyentuh beberapa helai rambut panjang Ayumi, dan menyelipkannya di daun telinga seperti biasa.
"Tidak Bi Dini saja?" Tanya Ayumi.
"Bi Dini?" Randy mengulangi ucapan istrinya.
"Hu'um." Ayumi mengangguk-anggukan kepala.
"Memangnya Bi Dini bisa beresin Barbel yang beratnya sampai 25 kg? Itu cuma sisi kanan. Belum lagi yang sisi kiri. Totalnya 50 kg." Pria itu semakin mendekatkan wajah pada Ayumi.
Memberinya tatapan tajam, sampai Ayumi merasa begitu gugup karenanya.
"Ahh, … a-aku lupa kalau barang-barang disini itu berat-berat." Dia tersenyum gugup.
"Tentu saja. Kalau tidak berat tidak akan bisa membuat otot di tubuhku!" Tukas Randy semakin merasa gemas.
__ADS_1
Ayumi mengguk.
"Mmmm, … kamu benar. Otot-otot di tubuhmu terbentuk dengan sempurna, bahkan saking sempurnanya tidak ada satupun yang terlewatkan." Dia meracau, dengan pikiran yang mulai berkelana kemana-mana.
"Cepat tunggu aku, dan siapkan airnya." Randy meremat b*kong Ayumi dengan gemas.
"Ya, … semua yang ada di dalam tubuhmu berotot. Termasuk itu!" Dia sengaja menggantung kata-katanya.
"Apa?" Randy tersenyum miring.
"Ngg … tidak mungkin aku menyebutnya, nanti readers protes! Kau tahu? Mereka masih sangat polos."
Ayumi tertawa, dia segera melepaskan diri dari Randy, dan berlari keluar ruangan itu dengan langkah yang sangat cepat.
"Dasar nakal!" Dia berbisik, dengan seringai penuh arti yang dia perlihatkan.
***
Setelah melakukan mandi pagi bersama-sama. Akhirnya Ayumi keluar terlebih dulu, dengan bathrobe dan handuk kecil yang melilit rambut panjangnya yang basah.
Dia berjalan mendekati lemari pakaian. Membawa kaos juga celana pendek, lalu memakainya dengan segera.
"Ay, tolong siapkan pakaian kerjaku. Hanya kemeja dan celana saja, tidak usah pakai jas. Hari ini cukup santai, bahkan mungkin aku pulang cepat."
"Baiklah."
Ayumi menurut, dia membuka pintu lemari satunya lagi. Membawa beberapa pakaian, dan meletakkannya di atas tempat tidur yang masih terlihat berantakan.
"Bagaimana perutnya? Apa sakit?" Tanya Randy seraya mengenakan pakaiannya satu demi satu.
Dia merasa sedikit takut, karena setiap kegiatan panas mereka akan berujung tak terkendali.
"Tidak."
"Bukankah kalau terlalu sering akan membuatnya tidak nyaman?" Dia bertanya.
Ayumi duduk di kursi meja riasnya, kemudian membawa pengering rambut.
"Terakhir melakukannya satu Minggu yang lalu, sebelum kita pergi menjenguk Bayi Ka Eca." Jelas Ayumi. "Jadi kayaknya aman lah!"
Ayumi mulai menyalakan hair dryer, dan mengarahkan ke arah rambut yang sudah sangat memanjang.
"Aku tidak ingat." Randy terkekeh.
Pria itu mendekat, kemudian merebut hair dryer dari tangan Ayumi.
"Abang?" Panggil Ayumi sedikit berteriak, menatap ke arah cermin, memperhatikan Randy yang sedang mengusap rambutnya.
"Ya."
"Kira-kira, Baby-nya kapan bergerak? Perut aku sudah agak besar. Tapi kenapa belum bergerak? Apa ini normal?"
Randy mematikan mesin pengering rambut itu, lalu meletakkan di atas meja, dan merapikan rambut Ayumi dengan sisir.
"Bukankah Bayi akan mulai bergerak di usia 16 Minggu? Kamu lupa apa yang Dokter katakan?"
Mereka saling beradu pandangan melalui pantulan cermin meja rias.
"Benarkah? Setelah Ka Eca melahirkan aku jadi kepikiran terus. Kenapa dia tidak bergerak, terus usianya juga terasa sangat lambat untuk bertambah, padahal aku sudah tidak sabar ingin bertemu dia, membelikan berbagai macam pakaian yang sangat lucu." Dia menunduk, kemudian mengusap perutnya.
"Sabar. Yang penting dia sehat." Kata Randy, dia ikut membungkuk dan menyentuh perut Ayumi.
"Baiklah, ayo sarapan. Nanti kamu terlambat!"
Ayumi segera bangkit. Dia membantu memasukan segala sesuatu keperluan pekerjaan suaminya ke dalam tas yang selalu Randy bawa. Kemudian mereka berjalan ke luar, mendekati meja makan yang sudah tersedia berbagai macam hidangan.
***
Sore harinya tepat pukul tiga.
Ayumi tengah bersantai di sofa ruang tv. Menyaksikan kartun dua bocah berkepala plontos yang begitu menggemaskan. Beberapa kali dia tertawa, sambil terus menjejalkan makanan ringan kedalam mulutnya.
Randy yang baru saja tiba, masuk kedalam rumah disambut tawa Sumi yang begitu renyah.
"Bahagia sekali!" Ucap Randy.
Pria itu meletakan tas kerjanya, lalu mendekati Ayumi, mencium bibirnya kemudian duduk.
"Sudah makan?" Randy menyentuh perut Ayumi, dan mengusapnya dengan sangat lembut. Seolah tengah memberitahukan kepada sosok di dalam rahim sana jika dirinya sudah pulang.
"Belum. Aku nungguin kamu, lagian aku larang Bi Dini masak, aku mau makan angkringan. Minum susu jahe enak tahu, mana suasana sorenya bagus banget." Perempuan itu tampak membujuk.
Randy menundukan pandangan sampai keduanya saling melihat. Lalu tersenyum manis seperti biasanya.
"Angkringan yang di depan?" Randy bertanya.
__ADS_1
"Iya, kita ajak Bi Dini juga."
"Memangnya Bi Dini mau? Bukankah beberapa kali kita ajak dia selalu menolak yah!?"
"Ya cobain aja dulu, kasian di rumah terus. Nanti kadaluarsa lho!" Ayumi tertawa kencang.
Namun tawanya segera terhenti, ketika notifikasi ponsel milik Ayumi berbunyi nyaring. Dia segera meraih benda pipih itu, menatap layar ponsel dimana tulisan 'Mama' melakukan panggilan suara.
"Siapa?" Tanya Randy.
"Mama!"
Katanya lalu menggeser tombol berwarna hijau, dan mendekatkan benda itu ke arah telinga.
"Iya, … Ma!?"
Ayumi menyapa terlebih dulu. Raut wajahnya terlihat begitu serius untuk waktu yang cukup lama, mendengarkan setiap kata yang diucapkan wanita di seberang sana. Sementara Randy, pria itu hanya diam memperhatikan dengan perasaan sedikit cemas.
"Hah!?"
Ayumi bereaksi. Bola matanya membulat sempurna, dengan mulut yang ikut terbuka, namun segera Ayumi tutupi dengan telapak tangannya.
Dan tentu saja reaksi itu membuat Randy begitu cemas. Dia segera mendekat, dan mengguncang bahu istrinya.
"Ay kenapa? Terjadi sesuatu kepada Mama?"
Ayumi menoleh. Dia memandang suaminya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan. Ayumi begitu terkejut, tapi bukan raut ketakutan atau kekhawatiran yang perempuan itu perlihatkan.
Melainkan rasa penuh ketidak percayaan, ketika Sumi mungkin memberikan kabar yang sangat mengejutkan.
"Ay ada apa?" Randy mengguncang pundak istrinya lagi.
"Nanti dulu!" Katanya berbisik dan memposisikan jari telunjuk di hadapan bibir.
Randy langsung diam.
"Jadi Papa nggak pulang?" Ayumi tersenyum.
"Aaaaaaaa, … aku seneng denger kabar bahagian ini!" Kata Ayumi lagi, sambil mengusap sudut matanya.
"Nggak apa-apa, … beneran nggak apa-apa! Yang penting Mama bahagia, aku ikut bahagia. Mama tahu? Aku nggak akan khawatir lagi sekarang, karena Papa sudah benar-benar bisa jagain Mama." Suaranya bergetar menahan tangis.
Air matanya bercucuran begitu saja ketika Ayumi mendengar Sumi mulai menangis. Bukan tangisan kesedihan, namun tangisan penuh dengan kebahagiaan.
"Iya. Jagain Mama oke? Aku marah kalau Papa jahatin Mama lagi!" Dia terus menangis.
"Mama? Papa? Kamu ini sedang bahas siapa sih!?" Kata Randy.
"Baiklah." Dan setelah itu Ayumi menjauhkan handphone miliknya dari telinga, kemudian kembali meletakan di atas meja.
Ayumi beralih melihat ke arah suaminya, dia tersenyum dan menghambur memeluk Randy dengan sangat erat. Tangisnya semakin pecah, membuat Randy merasa sangat bingung.
"Tunggu. Kamu ini tertawa, … tapi kenapa menangis!?"
"Aku bahagia. Aku seneng akhirnya Mama nggak sendiri lagi!"
Randy tertegun.
"Mamamu sudah menikah?" Otaknya masih terasa kosong, dia benar-benar bingung sampai tidak bisa mencerna kata-kata istrinya tadi.
Ayumi mengangguk, dia mengurai pelukan pada suaminya, lalu mengusap kedua pipi dan tersenyum.
"Dengan siapa? Kenapa tidak memberi tahu? Setidaknya kita bisa datang."
"Sama …"
Ayumi menangis lagi.
"Hey?"
"Ahhh akhirnya Mama benar-benar nggak sendiri lagi, aku nggak bakalan takut kalau Mama kesepian."
"Dengan siapa Mama menikah, Ay? Siapa prianya? Lalu bagaimana dengan Om Valter? Dia sudah di beri kabar apa belum? Apa dia akan marah? Karena tepat setelah seminggu dia pulang Mamamu …"
"Mama ya nikahnya sama Papa!" Sergah Ayumi.
Randy langsung diam. Dia tak kalah terkejutnya dengan kabar ini.
"Bagaimana bisa? Bukannya dia mau pulang Minggu lalu yah!?"
"Nggak jadi." Ayumi terkekeh.
"Dasar. Ternyata kamu memiliki gengsi sebesar itu yang diturunkan Mamamu yah! Bilang tidak mau, tapi ujung-ujungnya …"
"Memangnya aku gengsian yah?"
__ADS_1
"Coba saja pikir dan ingat lagi bagaimana kamu dulu." Randy berusaha mengingatkan.
Sementara Ayumi terus tertawa, seolah sedang memperlihatkan bahwa dirinya sedang benar-benar bahagia saat ini.