My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 100 (Sebuah kabar)


__ADS_3

Setelah beberapa hari menghabiskan waktu bersama. Berjalan-jalan, menonton, mengobrol santai saat hendak tertidur, dan jangan lupakan agenda membuat Bayi yang sudah direncanakan sejak awal, akhirnya Randy dan Ayumi pulang, kembali menapakan kakinya di rumah besar pada hampir tengah hari.


Mereka keluar dari dalam mobil bersama-sama, disambut Ali, Tutih, juga Maria dengan senyum hangat yang tampak terlihat.


Ayumi mendekati para orang tua terlebih dulu, mencium tangan lalu memeluknya dengan ucapan rasa rindu, sementara Randy berjalan ke arah bagasi mobil, dan menurunkan koper besarnya, yang kini sudah beralih fungsi menjadi tempat pakaian kotor.


"Empat hari Bapak tidak melihatmu, … kamu jadi berubah, … jadi sedikit berisi." Kata Ali kepada Ayumi yang menempel memeluk pinggangnya.


"Masa sih? Aku nggak merasa begitu, padahal tiap hari ngaca terus." Ayumi terkekeh.


"Ah Bapak tidak tahu saja! Setelah makan dia masih merengek pergi keluar untuk mencari jajanan abang-abang kaki lima." Balas Randy sembari terus berjalan masuk kedalam rumahnya.


Ayumi yang berjalan di depan Randy ikut menoleh.


"Dih, kok kaki lima. Kakinya dua lho, … Abang suka ngaco emang!" Dia menatap Tutih juga Maria, membuat dua wanita itu terkekeh.


Randy menghela nafasnya, lalu menggelengkan kepala, sementara Ali hanya menahan senyum saat mendengar jawaban Ayumi.


Putrinya tidak pernah berubah, dia selalu membuat orang-orang di sekelilingnya mempunyai perasaan ceria, walaupun kadang-kadang ucapan Ayumi terdengar sedikit melenceng, dan itu bisa membuat kesal siapapun.


Randy meletakan koper besar itu di ambang pintu masuk kedalam kamarnya, segera berjalan ke arah sofa besar ruang tengah, dimana kedua mertua, istri dan ibunya berada duduk disana.


"Bagaimana empat hari kalian?" Maria bertanya.


"Emmm, … jalan-jalan ke taman, mall, nonton bioskop. Wisata kuliner malam, sama bikin …"


"Ay! Yang itu privasi." Sergah Randy.


Ayumi hanya tersenyum, saat para orang tua tertawa karenanya.


"Itu pakaian kotor?" Tutih mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, tapi nanti saja aku bawa ke laundry." Jawab Randy.


"Lho? Kenapa? Ada mesin cuci. Biar nanti Ayumi dan Ibu yang cuci, tidak usah pakai jasa laundry, kelamaan."


"Ah tidak usah, Ceu!" Maria ikut melarang. "Lagian Bu Sumi kenapa belum pulang juga? Mana tidak memberi kabar lagi!" Maria beralih kepada anaknya.


Randy belum menjawab, dia justru merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Mungkin Bu Sumi kelelahan. Dia mengurus rumah sebesar ini sendiri, belum lagi menyiapkan makanan untuk kita."


"Butuh tambahan pekerja?" Tawar Ali. "Kemarin ada yang ke rumah, tanya-tanya soal lowongan pekerjaan, katanya tidak apa-apa cuci gosok juga … gimana? Kalau mau nanti Bapak kasih tahu orangnya."


Randy mengangguk.


"Boleh, nanti suruh saja datang kesini. Atau kalau tidak berikan saja nomor Ayumi, agar dia bisa menghubungi, takutnya dia datang saat aku sedang bekerja."


"Baiklah, mungkin besok kami pulang. Ada warung yang tidak bisa kamu tinggal terlalu lama, begitupun Kakanya Ayumi, dia menunggu disana sendiri."


Randy mengangguk, begitupun Maria dan Tutih, sementara Ayumi diam menatap wajah Ayahnya lekat-lekat.


"Abang masih marah yah?"

__ADS_1


"Bukan, … dia baru datang saat kamu mau berangkat kesini." Ali berbohong.


Ayumi diam, dia tidak berbicara lagi. Karena dia tahu jelas itu adalah alasan Ali hanya agar dirinya tidak merasa berkecil hati, dan sedih. Walaupun pada kenyataannya Ayumi selalu merasakan itu jika menyangkut hubungan antar Adik dan Kaka yang tidak kunjung membaik.


"Mungkin kapan-kapan dia akan main kesini." Tutih berujar.


"Atau kamu mau berkunjung ke rumah Ibu dan Bapak untuk menemui Bang Amar?" Tawar Randy yang mengerti kesedihan istrinya.


Tapi Ayumi menggelengkan kepala. Ada rasa rindu juga rasa bersalah, namun yang mendominasi adalah rasa takut. Bagaimana tidak, kesan terakhir pertemuan mereka terkesan kurang baik.


"Sudah siang, ayo minum obatnya." Kata Randy tiba-tiba. Saat dia melihat gestur tubuh Ayumi yang mulai berbeda.


Dia segera bangkit, berjalan ke arah dispenser yang terletak di dekat meja makan, meraih mug, dan mengisinya dengan air hangat.


Ayumi membuka tasnya, mengeluarkan beberapa obat, meraih mug berisi air yang Randy berikan, lalu menegak obat itu dengan segala tegukan.


"Nah, istirahatlah. Perasaan kamu mulai gelisah, dan kamu harus mengalihkannya, oke?"


Ayumi mengangguk, dia meraih tasnya, berjalan memasuki kamar bersama Randy, setelah berpamitan kepada orang tuanya terlebih dulu.


Perempuan itu segera menaiki tempat tidurnya, berbaring telentang, memperhatikan Randy yang berjalan mendekat, kemudian menarikan selimut agar menutupi tubuhnya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Atau kepala kamu akan terasa sangat berisik." Randy duduk di tepi ranjang, dia mengusap kepala Ayumi lembut, juga seulas senyum manis yang terpancar.


Ayumi mengangguk.


"Abang tidak ikut istirahat?"


Ayumi mengangguk lagi, seraya menarik selimutnya sampai menutupi leher.


"Mau aku nyalakan AC nya?"


"Boleh, tapi jangan terlalu dingin."


Randy meraih remote berwarna putih yang terletak di atas nakas, menekan salah satu tombol sampai alat itu benar-benar menyala, dan menghembuskan hawa dingin.


"Kecilnya kurangin lagi, ini masih terlalu dingin."


"Ini sudah 18° sayang."


"22 saja, aku nggak kuat. Nanti aku tiba-tiba tidak bisa nafas, tenggorokan aku kering dan gatal."


"Baiklah."


Randy mengurangi suhu dinginnya, dan setelah itu dia ikut merebahkan diri, berbaring miring dengan tangan yang menjadi penyangga kepalanya.


Dia menatap istrinya dengan raut wajah berbinar.


Ayumi mulai bergeser mendekat, tangannya menyelinap di antara celah lengan dan pinggang suaminya, lalu memeluk erat sambil memejamkan mata.


"Tidurlah." Randy berbisik pelan, lalu mencium kening Ayumi dengan sangat lembut.


***

__ADS_1


Tutih datang menghampiri suami juga menantunya yang tengah asik berbincang di kursi taman. Sesekali Randy terlihat menganggukan kepala, begitupun Ali yang tampak tersenyum saat keduanya membahas sesuatu yang tidak diketahui Tutih.


"Ayumi masih tidur?" Tanya wanita itu seraya meletakan piring berisi pisang goreng.


"Sepertinya iya. Kalau bangun dia pasti segera datang kesini, lagi pula obat yang Ayumi konsumsi sekarang memang membuat dia merasa tenang, bahkan mungkin tertidur sangat pulas saking tenangnya."


Tutih mengangguk, dia duduk di salah satu kursi di samping suaminya.


"Jadi, … empat hari kemarin Ayumi lebih banyak tertidur?"


"Tidak juga. Kami keluar sore hari, setelah dia bangun tidur."


Tutih mengangguk. Dia menatap menantunya dengan bibir yang berkedut, seolah ingin menanyakan sesuatu, namun merasa begitu canggung.


"Ibu mau mengatakan sesuatu?" Randy bertanya, saat dia sadar Tutih terus mencuri-curi pandang kepada dirinya.


Tutih diam, dia justru menoleh ka arah suaminya, seolah meminta persetujuan.


Ali pun mengangguk.


"Ada apa?" Randy mulai penasaran.


Dia meraih satu pisang goreng, lalu mengunyah dengan sangat perlahan. Karena keadaannya memang masih sangat panas.


"Malam itu … Pak Al mengatakan sesuatu kepada kami." Tutih mulai membuka suara.


Seketika Randy menghentikan makannya, lalu meneguk air dingin kemasan yang ia bawa beberapa waktu lalu.


"Soal …" Randy menggantung kata-katanya.


"Iya, kami sudah mengetahui semuanya." Ucap Tutih dengan suara sedikit bergetar.


"Semuanya?" Randy menatap wajah mertuanya bergantian.


Ali mengangguk, begitupun dengan Tutih.


"Apa yang Om Al katakan."


"Ya, mengenai sosok Ibu kandung Ayumi. Dan kenapa dia berada kerja bersama kalian disini."


Randy menghela nafas.


"Kenapa kalian tidak memberitahu Ayumi? Sementara dia adalah orang yang paling berhak mengetahui ini, sebelum mengatakan kepala kami!"


"Mungkin Om Al mempunyai alasan tersendiri kenapa beliau belum mengatakannya. Terlebih aku pun masih bingung, bagaimana harus mengatakan soal tabrak lari yang pelakunya adalah aku sendiri. Randy takut Ayumi akan marah, Bu. Mungkin aku akan menyampaikannya satu-persatu." Randy menjelaskan ke khawatirannya.


"Ayumi akan memaafkan kamu, dia pasti mengerti jika kamu berkata jujur." Jelas Ali, lalu mengusap punggung menantunya agar merasa sedikit tenang.


"Iya, dia …"


Belum selesai Tutih berbicara, suara Maria terdengar dari arah dalam rumah.


"Lho! Kenapa Ayumi berdiri disini? Kenapa tidak bergabung dengan mereka?" Suara itu membuat Randy, Tutih dan Ali seketika menoleh.

__ADS_1


__ADS_2