My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Gagal KB


__ADS_3

"Pusing, mual, dan lemas?"


Dokter menatap Ayumi yang saat ini duduk bersila di atas tempat pemeriksaan. Sementara Randy menunggu di kursi sebelahnya, dengan perasaan harap-harap cemas.


"Saya sudah minum obat asam lambungnya. Entah itu yang berbentuk kapsul, pil, atau cair. Tapi tidak menimbulkan efek apa-apa." Jelas Ayumi dengan lemas.


"Sebelum sampai suhu tubuh istri saya juga masih tinggi, Dok. Saya takut ada hal yang cukup serius, karena sebelumnya istri saya tidak pernah seperti ini." Ujar Randy.


Dokter mengangguk paham, kemudian pria berjas putih itu kembali mendekati meja kerjanya, seraya menuliskan sesuatu, sehingga membuat ruangan itu hening dalam beberapa waktu. Karena memang pasien di IGD sana hanyalah Ayumi dan beberapa lansia yang sedang menunggu antrian pemeriksaan, membuat tempat itu tidak ramai seperti biasanya.


"Ini." Dokter memberikan secarik kertas kepada Randy setelah kembali. "Setelah dari sini jangan dulu pulang yah, bawa catatan ini ke Dokter Obgyn." Katanya sambil tersenyum.


"Saya tidak bisa memberikan obat, … jadi saya berikan hal tersebut kepada ahlinya. Yang tentu saja lebih tahu." Dokter tersenyum.


Randy dan Ayumi terlihat sedikit kebingungan, kemudian mereka saling menatap dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di jabarkan oleh kata-kata.


"Apa ada masalah serius, Dokter?" Ayumi terlihat panik.


Seperti biasa, Anxiety yang perempuan itu idap belum benar-benar membaik, sampai dapat membuat dirinya panik di waktu-waktu tertentu karena polah pikirnya sendiri.


"It's okay, Mom. Jangan panik, ada aku dan kita jalani pemeriksaan ini bersama-sama." Randy segera meremat telapak tangan Ayumi.


Berusaha membuat ibu dari satu anak itu agar merasa lebih baik.


"Tidak ada yang parah, begitu juga penyakit yang serius seperi apa yang Ny. Ayumi pikiran. Hanya bertemu saja dengan Dokter, dan berikan catatan dari saya, … setelah itu baru benar-benar bisa di diagnosis. Saya hanya seorang Dokter umum, sepertinya untuk lebih meyakinkan anda butuh Dokter spesialis."


Ayumi pun mengangguk.


Dan setelah melakukan beberapa pemeriksaan, lalu bercakap-cakap sebentar. Akhirnya Ayumi dan Randy memutuskan untuk segera beranjak dari tempat tersebut, dan melakukan pendaftaran ulang untuk bertemu dengan Dokter Obgyn yang memang sempat disarankan.


Dengan hati dan perasaan yang berdebar-debar Ayumi duduk menunggu. Pikirannya sudah melayang entah kemana, dengan segala bayang-bayang buruk dari terkaan dirinya sendiri.


"Astaga!" Ayumi menundukan pandangan, seraya menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


Akhirnya mereka duduk di ruang tunggu setelah melakukan pendaftaran ulang. Lagi-lagi suasana tidak seramai biasanya, bahkan antrian terlihat lebih sedikit. Hanya terdapat beberapa ibu hamil yang tampak menunggu ditemani para pria.


"Jika terjadi sesuatu bagaimana dengan Raizel. Dia masih kecil, bahkan sikapnya masih sangat manja, lalu bagaimana ini? Dia sangat butuh perhatian, sementara kamu juga semakin hari semakin sibuk saja." Dia menyingkirkan tangannya, lalu mengarahkan pandangan ke arah Randy.


Pria itu mengulum senyum, menyentuh helaian rambut Ayumi, dan menyelipkannya di daun telinga seperti biasa.


"Kamu ini bicara apa? Mau aneh tapi kamu pengidap Anxiety Disorder. Semua rasa panik mu bertambah berkali-kali lipat. Percayalah, mungkin ini hanya pemeriksaan biasa saja, untuk memastikan sesuatu. Terkadang Dokter meminta kita memeriksakan diri bukan karena penyakitnya, tetapi harus menjaga sejak dini agar kita dapat mengatasi kemungkinan yang bisa saja terjadi. Lagi pula kamu baru saja suntik KB, mungkin ada hubungannya dengan itu, … semacam gejala atau apapun aku tidak mengerti." Kata Randy dengan suara lembutnya.


Pria itu berusaha membuat kepanikan Ayumi sedikit menurun. Karena memang itulah yang bisa dirinya lakukan, untuk meredakan rasa gelisah yang selalu tiba-tiba datang.


"Kalian itu membingungkan tahu! Terkadang terlihat seperti musuh, … tapi jika keadaan seperti ini. Entah terjadi kepadamu atau Raizel. Kalian pasti memikirkan keadaan masing-masing!" Randy terkekeh.


"Tentu saja aku memikirkan, El. Dia putriku!"


Randy terkekeh pelan.


"Masih ingat waktu Raizel dehidrasi yang membuatnya harus di rawat inap? Dia bahkan menangis kepadaku karena takut membuat Mommy nya khawatir. Aneh memang, dia yang sakit, dia yang khawatir kepada ibunya. Tapi itu juga terjadi sekarang, selain sikap Raizel tadi pagi, kamu juga sangat khawatir dengan keadaan Raizel setelah melakukan pemeriksaan pertama."


"Hemmm, … dia menyebalkan karena merasa aku selalu menarik perhatian Daddy nya."


Randy meraih pundak sang istri, kemudian merangkulnya.


"Apa sekarang kamu merasa lebih baik? Tubuhmu tidak demam lagi."


"Tubuhnya memang tidak demam. Tapi pusing dan mualnya masih terasa." Sahut Ayumi.


Dia sedikit menarik diri, kemudian mendongakan pandangan, menatap wajah tampan suaminya yang tampak sedikit memperlihatkan senyum.


"Jika terjadi sesuatu yang serius bagaimana? Kamu mau mengurusku tidak?"


Raut wajah Ayumi tampak berubah.


"Kamu ini bicara apa? Kita akan baik-baik saja sampai Raizel besar nanti."


Randy mengeratkan rangkulannya, membuat Ayumi kembali tenggelam di dalam tubuh kekarnya.


Dan setelah menunggu cukup lama, menunggu antrian beberapa pasien sebelum nya. Akhirnya Ayumi mendekati salah satu meja dimana petugas medis berada disana, ketika namanya beberapa kali terdengar di panggil.


"Harus ada pemeriksaan lanjut, ya Mom?" Dia menatap Ayumi.


Sementara Ayumi menjawab dengan anggukan lemas.


"Baiklah. Karena semuanya sudah diperiksa di IGD tadi. Tensi darah dan semuanya normal, tentunya tidak perlu ada pemeriksaan lagi, anda boleh masuk sekarang juga."


Ayumi menoleh ke arah suaminya duduk. Kemudian memberikan isyarat untuk mendekat dengan menggerak-gerakkan tangannya. Randy menurut, dia bangkit lalu berjalan menuju tempat Ayumi berdiri.


Pintu ruang pemeriksaan di buka lebar-lebar, seorang asisten Dokter tadi menyambut keduanya untuk segera masuk.

__ADS_1


"Selamat siang, Dokter." Randy lantas menyapa Dokter yang sedang membaca keterangan yang diberikan oleh Ayumi dari hasil pemeriksaan pertamanya.


"Selamat siang." Wanita berkerudung dengan jas putih itu mengangkat pandangan, lalu tersenyum ramah.


"Mau konsultasi lagi? Atau langsung kita lakukan pemeriksaanya saja?"


Ayumi menatap suaminya.


"Kalau bisa periksa langsung. Langsung saja, Dok! Konsultasinya nanti saja setelah tahu hasilnya." Ujar Randy.


"Baik."


Seorang Dokter dengan name tag Fajira itu segera bangkit, kemudian berjalan mendekati tempat pemeriksaan, di ikuti sang asisten seperti biasa.


Randy memegangi tangan sang istri yang mulai menaiki tempat pemeriksaan. Sampai perempuan itu berbaring, dan segera dibantu oleh asisten Dokter untuk memakaikan selimut ketika pakaian yang Ayumi kenakan sedikit diangkat. Dan terlihatlah kulit mulus Ayumi, yang langsung saja diberikan sebuah gel sebelum akhirnya alat pemeriksaan menyentuh permukaan kulit perut perempuan itu.


"Dok? Apa ada sesuatu yang sangat serius? Sampai Dokter di IGD menyarankan saya untuk memeriksakan diri ke Dokter spesialis seperti anda?" Ayumi cemas.


"Aku berusaha baca catetan nya tadi. Tapi aku nggak ngerti sama tulisannya." Kata Ayumi dengan polosnya.


Pandangan Dokter yang semulanya terus menatap layar monitor, sekilas menoleh ke arah perempuan yang saat ini tengah berbaring di atas tempat pemeriksaan.


Dokter Fajira tersenyum.


"Menurut Mom sendiri bagaimana? Apa anda merasa ada sesuatu yang begitu serius?"


"Saya juga tidak tahu, … makanya tanya Dokter. Eh Dokter malah tanya saya balik!" Celetuk Ayumi.


Yang membuat senyuman di bibir Randy terlihat. Raut kesal dengan gaya bicara ceplas-ceplos Ayumi selalu mampu membuat pria itu tersenyum dengan perasaan gemas.


"Ish kamu malah ketawa! Aku lagi panik tahu!" Cicit Ayumi.


Kepanikannya semakin terlihat, saat alat USG terus bergerak-gerak di atas perutnya. Dokter seperti sedang mencari sesuatu, dan ini kali pertama Ayumi mengalami pemeriksaan demikian, sehingga membuat pikirannya tak terhindar dari bayangan buruk. Bagaimana tidak, seingatnya pemeriksaan kehamilan tidak selama itu.


"Anda mengalami terlambat haid?"


"Tidak. Hormon saya memang sedang tidak bagus, apalagi setelah mencoba suntik KB tiga bulan." Jelas Ayumi.


Dokter mendengarkan sambil terus menatap layar monitor.


"KB? Apa anda masih menggunakannya?"


Ayumi mengangguk.


"Telat melakukan KB ulang?"


"Oh nggak Dok, awalnya pake, … lama nggak. Nah kemarin di KB lagi."


Dan penuturan Ayumi sudah cukup membuat Dokter Fajira mengerti.


"Nah!" Dokter kembali bersuara setelah beberapa detik diam dan berusaha memfokuskan diri. "Apa kalian baru saja menikah?"


Dokter menatap Randy dan Ayumi bergantian.


"Tidak, usia pernikahan kami sudah hampir tujuh tahun. Bahkan anak pertama saya sudah masuk TK." Pria itu menjelaskan.


Kemudian Dokter menimpali dengan anggukan pelan.


"Lalu kenapa kalian bingung? Padahal sebelum ini sudah pernah mengalaminya."


Sepasang suami istri itu saling beradu pandangan.


"Lihatlah!" Dokter menunjuk layar monitor. "Ada sebuah bulatan kecil disini, apa tidak membuat kalian mengerti juga apa yang sedang dialami? Terutama bagi anda, Nyonya. Danendra?" Dia mengingat nama belakang suami dari pasiennya.


Yang sudah pasti dia kenali, karena pria itu menjadi salah satu kepercayaan sosok berpengaruh dalam dunia olahraga, khususnya bola.


"Apa ada tumor di sana?"


Entah bagaimana cara pikir Ayumi, sehingga sesuatu yang sudah jelas diterangkan Dokter masih membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.


"Atau sesuatu …"


"Kantung janinnya sudah terbentuk. Diperkirakan usianya baru saja memasuki empat Minggu. Dia masih sangat kecil bukan? Dan gejala yang anda rasakan mungkin karena keberadaan janin ini di perut anda, Nyonya. Bukan karena gejala KB yang anda pakai." Dokter tertawa gemas.


"Sepertinya kalian melakukan sesuatu sebelum KB. Sampai alat itu tidak berfungsi karena janinnya sudah ada di sana lebih dulu." Dokter Fajira tampak bercanda.


Ayumi diam, begitu juga dengan Randy. Anxiety nya membuat dia mempunyai panik yang berlebihan, dan merasakan jika dirinya dalam bahaya, padahal sesungguhnya gejala itu pernah Ayumi alami sekitar kurang lebih 6 tahun yang lalu.


Namun, saat ini Ayumi merasa sedikit malu karena penjelasan Dokter. Membuat pipi Ayumi terlihat merah merona, bak kepiting rebus.


"Kantung janin?" Ayumi tergugu.

__ADS_1


Dia benar-benar terlihat seperti orang linglung, yang berusaha mengerti sesuatu yang tidak dapat dia pahami.


Dokter Fajira mengangguk.


"Ti-tiga Minggu?" Randy meracau.


"Ya, dan gejala yang istri anda rasakan bukan asam lambung atau penyakit serius. Melainkan gejalan kehamilan yang beberapa ibu hamil rasakan di setiap trimester pertama."


Keadaan hening untuk beberapa detik. Ayumi juga Randy merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa, sampai tidak tahu harus bereaksi bagaimana selain diam dengan perasaan dan pikiran masing-masing.


"Dokter di IGD tadi membuat kami takut saja. Padahal hanya tinggal katakan jika istri saya hamil, dan dia butuh melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Katanya sambil tersenyum-senyum.


"Terkadang kejutan kecil akan sangat berarti bagi sebagian orang." Dokter menuturkan.


"Oh astaga. Pikiran aku sudah kemana-mana, … tapi baguslah tidak ada hal serius."


Ayumi menghela nafasnya.


"Tentu saja ini serius. Anda harus menjaganya dengan sangat baik."


Dokter meletakan alat USG yang sedari tadi ada di dalam genggamannya. Kemudian menatap sang asisten, memberi isyarat agar segera membersihkan sisa gel di atas permukaan kulit perut Ayumi.


"Maaf ya, Mom." Ucap sang asisten Dokter, kemudian mengusap perut Ayumi dengan menggunakan beberapa lembar tisu.


Dan setelah selesai, Ayumi kembali turun, di bantu Randy seperti biasa. Mereka berjalan mendekati meja Dokter, lalu mendudukan diri di kursi yang sempat keduanya tempati.


"Mau saya resepkan vitamin? Atau nanti saja di Dokter anda?"


Ayumi dan Randy terlihat bingung.


"Siapa tahu mau ke Dokter yang sempat menangani anda dulu?" Dokter mengulangi ucapannya.


"Oh." Ayumi mengangguk.


"Sama Dokter aja tidak apa-apa. Lagi pula Dokter yang dulu membantu saya sudah meninggal dunia sekitar dua tahun lalu."


Dokter Fajira mengangguk, seraya menuliskan apa saja yang Ayumi butuhkan, sehingga dia dapat menebus resep dan vitamin di apotek rumah sakit seperti biasa.


"Ini!" Dokter menggeser secarik kertas ke hadapan Randy. "Anda bisa menebusnya di apotik rumah sakit, atau dimanapun yang anda mau. Jangan lupa untuk selalu makan-makan yang bergizi, obat penguat kandungan dan vitaminya jangan di lewatkan, oke?"


Ayumi dan Randy mengangguk bersamaan.


"Perlu diketahui. Memasang alat KB setelah melakukan hubungan seksual, … tidak akan bereaksi apa-apa. Beruntung tidak terjadi apa-apa."


Ayumi tersenyum gugup.


"Terimakasih, Dok." Kata Randy sembari membawa kertas tersebut.


Wanita yang di maksud mengangguk.


"Kalau begitu kami pamit, terima kasih untuk pertemuan hari ini."


Randy berdiri, lalu membantu Ayumi. Namun, ketika mereka hendak pergi, sang asisten yang sedari tadi ada disana memanggil keduanya.


"Anda melupakan hasil USG nya." Dia memberikan sebuah amplop kepada Ayumi.


Membuat perempuan itu tersenyum manis.


"Terimakasih, Sus."


Dan setelah itu keduanya benar-benar pergi, keluar dari ruang pemeriksaan dengan hati yang gembira.


***


"Dad. Kita langsung ke sekolahan El?" Dia menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian menoleh ke arah pria tampan yang sudah hampir 7 tahun menemaninya dalam keadaan suka maupun suka.


Randy menoleh sekilas, mengangguk, dan kembali mengarahkan pandangan ke arah jalanan yang tampak padat di siang hari ini.


"Ada sesuatu yang mau kamu beli?" Lantas Randy bertanya.


Kehamilan Ayumi di masa lalu, membuat Randy sedikit peka terhadap keinginan tiba-tiba yang terkadang dirasakan seorang ibu hamil.


"Nggak ada. Langsung saja ke sekolahan Raizel, aku tidak sabar bagaimana reaksinya saat dia tahu, … jika gadis kecil kita akan segera menjadi Kakak."


Ayumi tersenyum sendiri. Apalagi saat membayangkan raut wajah menggemaskan dari putrinya.


"Siapa tahu mau di belikan tomat. Kamu akan memakannya setiap hari tanpa jeda, Mom! Dan ajaibnya tidak terjadi sesuatu kepada dirimu." Randy terkekeh.


Dia mengingat momen-momen saat Ayumi menjalin kehamilan pertamanya. Dan itu luar biasa, mampu membuat kenangan yang cukup indah. Sehingga menyisakan satu hal yang sedikit aneh.


Dimana gadis kecil itu senang berkebun. Dan salah satu tanaman kesayangannya adalah pohon tomat, yang selalu dia jaga dengan baik, sampai Raizel selalu melihatnya di setiap jam jika tidak lupa. Bahkan saking sayangnya, dia selalu terlihat berkaca-kaca ala pohon tomatnya mati dan tidak berbuah karena terlalu banyak disiram air.

__ADS_1


......................


Nyiram pohonya kira-kira dong, El😭😭


__ADS_2