My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 20 (Renca bertemu)


__ADS_3

"Kamu duluan aja deh, pekerjaan aku masih banyak. Bersihin ruangan Bu Balqis, lap gelas sama piring, sama gosok toilet."


Ayumi melihat kearah Una juga Aira yang saat ini terlihat duduk menunggu.


"Beneran? ini udah jam lima lebih?" Aira menatap wajah Ayumi lekat-lekat.


Gadis itu mengangguk. Dia bahkan sudah menggulung rambutnya, pertanda siap melakukan tugas terakhir yang Balqis perintahkan sebelum wanita itu beranjak pulang.


"Nggak besok pagi aja di terusinnya? jangan di paksain lagi! nanti kaki kamu sakit, Ay." Kata Una, dia terlihat sedikit khawatir.


"Besok ya besok, tugas besok pasti nggak kalah banyaknya."


"Kadang aku suka mikir. Kamu ini OG, atau pembantu. Kok kerjaannya seberat ini, ... apa karena kamu di tempatkan di lantai paling atas yah? yang otomatis pekerjaan kamu juga semakin berat, beda sama kita-kita yang santai. Nyapu, pel, bikinin kopi. Nggak harus beresin ruangan pribadi." Aira berseru.


Lagi-lagi Ayumi hanya tersenyum. Lelah sudah pasti gadis itu rasakan, tapi dia hanya tidak ingin terus mengeluh, mendapatkan pekerjaan dengan gajih besar seperti sekarang adalah sebuah keberuntungan baginya.


Ya. Dia berhutang Budi kepada Alvaro, ayah dari Junior atasnya. Atas bantuan beliau Ayumi bisa masuk dan bekerja tanpa susah payah melewati beberapa interview.


"Duluan aja, aku sebentar lagi pulang. Lagian kostan aku deket di bandingin sama kostan kalian."


Una menghela nafas, seketika dia bangkit, diikuti Aira setelahnya.


"Yakin? aku udah cape sih jujur. Rasanya udah mau rebahan, badan aku pada sakit."


"Iya, kalian pulang aja. Aku aman kok disini. Ada Pak satpam yang jaga di bawah, kalo ada apa-apa tinggal teriak."


"Baiklah, kami duluan kalau begitu." Pamit Una juga Aira bersamaan.


Sementara gadis itu tertawa kencang.


"Kompaknya!"


"Baik-baik disini, Ay." Aira tersenyum, lalu melambaikan tangan.


"Ingat! kalau ada apa-apa teriak, atau telfon aku saja!" Tegas Una. "Eh, ... ada Pak Randy kan yah." Sambungnya lagi, lalu menutup mulut dengan satu tangannya.


"Ups, ... keceplosan Ay!"


"Curiga, bentar lagi bakalan ada yang berhenti kerja. Terus nikah!" Aira menimpali.


"Kalian ini ngomongin apa! sudah sana pulang. Kalau ngobrol terus kapan selesainya!"


Ayumi mendorong punggung kedua temannya.


Setelah itu Una juga Aira pergi, meninggalkan Ayumi sendiri di gedung tempat mereka bekerja.


Dengan segera Ayumi masuk kedalam ruangan Balqis. Membersihkan setiap sudut ruangan itu, lalu menata barang-barang pada tempatnya kembali.


Sekitar sepuluh menit Ayumi menghabiskan waktu untuk membenahi ruangan milik Balqis. Akhirnya dia kembali ke pantry, membasuh, juga mengeringkan beberapa perabotan, sebelum dia menatanya ketempat semula.


Waktu terus bergulir, matahari juga semakin terbenam. Sampai kini langit berwarna hitam pekat, berhiaskan bulan sabit juga percikan bintang di sekeliling nya.


"Seleaai!" Ayumi mengusap keringat di keningnya. "Tinggal gosok toilet, terus pulang." Dia terlihat semangat.


Gadis itu segera berjalan kearah lain, dimana sebuah toilet untuk para karyawan tersedia.


"Yuhu semangat Ayumi, aroma uang lembur sudah tercium lezat." Katanya lalu tertawa.


***

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain tempat itu.


Randy tampak memberhentikan mobilnya di dekat halte, kemudian berjalan masuk kedalam sebuah kawasan perkantoran, untuk menemui sang kekasih hati, yang dia cari di tempat tinggalnya, tapi Randy mendapati Ayumi belum ada disana.


"Pak Randy." Satpam yang berjaga di pintu masuk menyapa.


"Ayumi masih di dalam?" Dia langsung bertanya, tanpa banyak berbasa-basi.


Pria tua itu tersenyum, lalu menjawab dengan anggukan kepala.


"Dua temannya sudah keluar tiga puluh menit yang lalu. Tapi Mbak Ayumi belum kelihatan, sepertinya dia dapat pekerjaan tambahan."


Mendengar itu Randy hanya menghela nafas. Dia menatap kearah dalam, seolah ingin segera masuk.


"Bapak mau masuk? silahkan."


"Baik, saya izin sebentar Pak. Hanya ingin memastikan jika dia sudah makan." Randy beralasan.


"Iya iya, Pak."


Randy segera berjalan masuk, pandangannya meneliti sekitar, dimana lampu-lampu ruagan sudah padam saat para pegawai sudah tidak berada di sana.


Randy masuk kedalam lift, benda yang akan mengantarkannya ke lantai paling atas gedung tersebut, dimana kekasihnya masih berada disana sampai saat ini.


Ting!!


Setelah pintu lift itu terbuka, Randy langsung berlari, mencari keberadaan Ayumi. Namun suara senandung juga gemercik air terdengar, hingga membuat perhatian Randy tertuju pada satu ruangan kecil yang berada di sudut.


Suara Ayumi semakin jelas terdengar, di selingi suara rikat yang terdengar begitu jelas.


Randy berjalan perlahan, mendorong pintu toilet yang sedikit terbuka sampai membentur punggung Ayumi.


"Hey ini aku!" Randy berucap.


Ayumi berhenti, dia memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang.


"Abang ngagetin aku tahu!" Cicit Ayumi pelan.


Randy tersenyum simpul, saat panggilan itu kini dia dengar secara langsung.


"Kamu masih kerja? selarut ini? bahkan semua tempat sudah sepi Ayumi."


"Ini selesai. Abang ngapain kesini? mau cari Pak Nior atau Bu Balqis? hari ini mereka tidak lembur."


Randy menggelengkan kepala.


"Saya cari kamu. Tadi sempat ke kostan, tapi kamunya tidak ada."


"Oh ..." Ayumi mengusap keringatnya, menyimpan sikat, lalu mematikan keran air.


"Baiklah, ayok kita istirahat dulu di loker. Sekalian ambil Tote bag aku."


Randy tidak menjawab, dia hanya menatap wajah memerah bercucuran keringat itu dengan perasaan pilu.


Tangan dingin dan basah milik Ayumi meraih tangannya, lalu menarik Randy sampai menjauh dari toilet sana.


"Maaf ya aku keringetan." Lagi-lagi dia mengusap keningnya.


Hati Randy semakin terenyuh.

__ADS_1


"Untuk apa kamu bekerja sampai selarut ini!" Randy beralih mengusap kening Ayumi, yang di hiasi beberapa helai rambut yang sudah basah.


"Eh!"


"Diam, jangan membantah." Tegas Randy saat gadis itu berusaha menolak perlakua manisnya.


"Kamu baru pulang juga yah? kok masih pakai jas." Pandangan Ayumi mendongak, menatap wajah pria tinggi di hadapannya.


"Tidak juga."


"Kalau begitu ayok pulang." Ajak Ayumi, yang langsung mendapat anggukan dari kekasihnya.


"Lumayan, ada kamu aku nggak usah jalan kaki." Dia terkekeh.


"Sudah makan?"


Ayumi yang tengah membawa tas miliknya kembali melihat kearah Randy.


"Baru mau, nanti kalau di rumah aku mau makan sereal yang Abang belikan kemarin."


Mendengar itu Randy hanya tersenyum.


"Kamu benar-benar lelah?"


Mereka berjalan kearah pintu lift.


"Memangnya kenapa?" Ayumi balik bertanya.


"Kita makan di luar dulu. Kamu pasti lelah, haus dan lapar, kan?" Randy menatap Ayumi, kemudian tersenyum.


Senyuman yang paling manis, yang belakangan ini sering Ayumi lihat.


Pintu lift itu segera terbuka, dan keduanya masuk.


"Kadang aku malu, aku selalu merepotkan. Padahal tidak usah seperti itu."


"Kamu ini calon istrinya aku. Apa menurut mu aku tega? membiarkan kamu kelaparan, sementara aku terus merasa kekenyangan. Apalagi saat bertemu beberapa kolega, mereka pasti mengajak bertemu sambil makan ... kalo nggak ya ngopi."


"Ngg, ... aku masih keringetan?"


"Tidak terlalu, hanya tersisa pipi kamu yang merah."


"Aku bau?"


"Tidak juga."


"Baiklah."


Ayumi meraih lengan Randy, lalu memeluknya erat.


"Besok lusa Ibu akan datang, kamu mau bertemu?"


Randy mengusap punggung Ayumi dengan begitu lembut.


Sementara gadis itu mematung, dia bingung harus menjawab apa. Tentu saja, dia merasakan sedikit takut, bagaimana orang tua Randy memandangnya.


Sudah jelas dia dengan pria itu sangat jauh berbeda, lalu apa dia akan di terima dengan tangan yang terbuka, atau justru di tolak begitu saja, tanpa sebuah alasan.


Hal yang selalu di alami seorang gadis jika kasta mereka berbeda dengan asal-usul keluarga pria.

__ADS_1


__ADS_2