
Ayumi bergegas keluar setelah mendapatkan pesan jika Randy sudah menunggu di depan gerbang kostnya seperti biasa.
Keadaannya kini sudah jauh lebih baik, senyuman di bibirnya terlihat terus terpancar, bahkan raut wajahnya juga tampak berseri-seri, jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Kemeja lengan panjang berwarna hitam, dengan aksen titik-titik kecil, di padukan dengan celana denim yang terlihat ketat, membuat penampilan Ayumi sangat berbeda pada sore hari ini.
Dia melambaikan tangan, lalu tersenyum kearah mobil Randy.
"Hay?" Sapa Randy saat Ayumi membuka pintu mobil miliknya.
"Sudah lama?"
Gadis itu masuk, duduk dengan nyaman, tak lupa memakai seatbelt seperti biasa, lalu menarik pintu di sampingnya cukup kencang sampai tertutup rapat.
"Tidak. Tadi sampai langsung ngasih tahu!" Randy menjawab.
Ayumi mengangguk, dia duduk nyaman dengan pandangan lurus kedepan.
Randy mulai memutar setir mobilnya, seraya melakukan dengan kecepatan rendah, dan melaju kencang saat sudah benar-benar berada di jalanan utama.
Mereka terdiam, menikmati perjalanan pada sore hari ini. Langit hijau dengan siluet kuning keemasan, terlihat juga beberapa awan berwarna putih bersih, membuat suasana begitu sejuk, begitu indah, sampai-sampai mampu membuat semua orang berdecak kagum karena keindahannya.
"Suasananya bagus yah!?" Ucap Ayumi dia menatap kearah samping, lalu menghembuskan nafasnya perlahan.
Gadis itu tersenyum penuh arti.
"Mau turun? singgah di taman kota sebelum kita menemui Ibu?" Tawar Randy.
Dia menoleh, menatap wajah sumringah Ayumi, lalu tersenyum, saat rasa bahagia menyeruak di dalam dirinya.
"Boleh?"
"Kamu mau?" Tanya Randy sambil memutar setir mobilnya, hingga berbelok memasuki sebuah lahan parkiran terbuka.
Mereka berdua segera keluar, tidak lama setelah mobil yang di tumpangi berhenti dan terparkir dengan rapih diantara beberapa kendaraan lainnya.
"Kemarilah!" Randy mengulurkan tangannya.
Ayumi segera berjalan mendekat, lalu meraih tangan kekasihnya, hingga mereka berjalan saling bergandengan tangan.
Kepala Ayumi mendongak kearah samping, menatap wajah tampan pria yang sedang fokus menatap lurus kedepan.
Dia tersenyum lagi.
Merasa gadis di samping terus menatapnya. Randy menoleh, dan benar saja, Ayumi tengah tersenyum. Namun dia langsung mengalihkan pandangan saat Randy juga menatapnya.
"Ohh, ... apa aku mengganggu mu?" Tanya Randy. "Baiklah, kau boleh menatap ku lagi!" Dia kembali mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Aih aku malu! jangan bicara seperti itu." Rengek Ayumi dengan suara pelan, lalu memukul-mukul lengan kekar calon suaminya.
Randy terkekeh.
"Baiklah, mau membeli sesuatu?"
Randy menghentikan langkahnya di dekat beberapa gerobak dagangan. Lalu menundukan kepala, sampai dia kembali menatap wajah Ayumi.
"Mau takoyaki boleh?" Gadis itu bertanya.
Randy bungkam, dengan pandangan yang sama sekali tak teralihkan.
"Abang?"
"Ya?" Dia mulai tersadar.
"Aku mau takoyaki boleh?" Ucap Ayumi kembali.
Aku merasa sedang menjaga seorang adik, yang sedang aku ajak jalan-jalan.
Randy pun mengangguk.
"B-boleh Ay, boleh!" Dia gelagapan, dan tersenyum canggung.
Saat debaran di dadanya terus meningkat. Tatapan mata lugu dan menyejukkan itu, senyum manis yang mulai terus terlihat, apalagi dengan penampilan Ayumi saat ini, gadis itu benar-benar terlihat lebih dewasa dari pada biasanya.
"Tunggu apa lagi? ayok cepat pesan." Randy melepaskan genggaman tangannya.
Ayumi tersenyum lebar, sampai memperlihatkan gummy smile nya.
"Uang!" Ucap Ayumi seraya mengulurkan tangan.
"Ya pesan dulu, nanti bayarnya setelah pesanan makanan kamu terima."
Tapi Ayumi menggelangkan kepala.
"Aku nggak mau, nanti lupa."
__ADS_1
Randy memutar kedua bola matanya, merogoh saku celana, membawa dompet, lalu mengeluarkan satu lembar uang pecahan lima puluh ribu.
"Nah belikan aku juga. Jangan lupa sama minumannya, ... terus aku mau baso goreng juga yah!" Randy berpesan.
"Baik, Abang boleh tunggu di kursi taman, tunggu aku yah."
Randy mengulum senyum, dia mengangguk dan segera berjalan kearah beberapa kursi taman yang terlihat masih kosong.
Randy duduk, menatap sekeliling taman yang sangat ramai. Namun perhatiannya tertuju pada pasangan muda, mereka tampak tertawa bahagia, ketika seorang balita terus berlari kesana dan kemari dengan raut wajah riangnya.
"Mungkin aku tidak seberuntung anak itu. Tapi anak-anak ku harus lebih beruntung dari pada aku!" Gumam Randy sambil terus menatap kearah balita cantik tadi.
Pra itu menyandarkan punggungnya, lalu menghembuskan nafas kencang.
"Ya, anak-anak ku akan sangat beruntung. Selain manis, dia juga akan mempunyai Ibu yang sangat cantik."
Sekitar lima belas menit menunggu. Akhirnya Ayumi datang, dengan beberapa makanan yang sudah di belinya.
"Abang, ayok makan. Baso gorengnya masih hangat."
"Kenapa lama sekali?" Tanya Randy saat Ayumi duduk sedikit jauh, karena terpisah beberap makanan yang Ayumi simpan di kursi yang sama.
"Semuanya butuh proses." Balas Ayumi, lalu memakan satu takoyaki dan mengunyahnya dengan riang.
"Minuman apa ini? kenapa berwarna ungu?" Pria itu masih asik meneliti.
"Nutri Sari Anggur. Kenapa? kamu nggak suka?"
"Aku belum coba."
Katanya, lalu menyesap minuman dingin yang terlihat sangat menggugah selera itu.
"Gimana? ini minuman kesukaan aku." Dia ikut meminumnya.
Randy mengangguk.
"Enak, hanya saja terlalu manis." Jawabnya kepada gadis itu.
"Tentu saja manis. Kamu kan biasa minum alkohol, rasanya nggak semanis ini kan!?"
Randy yang sudah mulai memakan baso goreng pesanannya pun berhenti, lalu menatap Ayumi tajam.
"Eh! aku salah ngomong yah? hehe, ... maaf."
"Tahu dari mana kamu?" Suaranya merendah.
"Jangan katakan jika kamu pernah mencobanya!"
"Cu-cuma baca novel."
"Tidak mungkin." Randy semakin memincincingkan matanya.
Ayumi mengatupkan kedua bibirnya sampai tertutup rapat, memanglingkan pandangan, dengan hati yang berdebar.
"Kamu pernah mengambil minuman aku yah!?"
"Hah?" Ayumi tersentak. "Ng-nggak, mana berani aku." Ayumi mengelak, menggelengkan kepalanya kencang.
"Benar?" Suaranya terdengar sangat rendah.
"I-iya!"
"Baiklah, kita hitung kaleng minumannya nanti."
Deg!!
Mata Ayumi membulat sempurna.
Mati gue!
***
Setelah menghabiskan waktu di taman kota sampai hampir petang. Kini mereka ada di dalam perjalanan menuju rumah Randy.
"Abang?"
Gadis itu mulai membuka suara, setelah terdiam cukup lama.
"Yah? ada sesuatu?"
"Mau ke minimarket boleh?"
"Mau beli apa?"
"Kripik kentang, sama susu full cream. Terus minuman dingin untuk Ibu."
__ADS_1
Randy mengangguk.
Laju mobilnya mulai melamban, dan berbelok kearah parkiran minimarket yang hampir saja terlewatkan.
Tanpa menunggu lama Ayumi langsung turun, kemudian berlari masuk kearah dalam.
"Gelagak mu aneh!" Cicit Randy sembari menatap punggung kecil yang menghilang saat masuk kedalam sana.
Dia segera keluar, lalu menyusul dengan langkah pelannya.
***
"Sudah semuanya? ada lagi?" Randy menatap keranjang yang di penuhi makanan juga minuman.
Ayumi mengangguk, dia tersenyum.
"Ini biar aku yang bayar." Katanya.
"Tidak." Tolak Randy tegas.
Dia mengambil alih keranjang itu, lalu meletakannya diatas meja kasir.
Ayumi diam, dia tidak berani berbicara banyak hal. Apalagi untuk berdebat, raut wajah kekasihnya kini terlihat berbeda, dia benar-benar seperti sedang mencurigainya.
Cukup lama Ayumi berdiri di belakang tubuh tinggi Randy. Dan dia mulai bereaksi setelah sesuatu mengalihkan pandangannya.
"Ada tambahan lain Pak?"
Randy menggelengkan kepala.
"Totalnya tiga ratus tujuh puluh lima, lima ratus rupiah."
"Eh!" Ayumi maju. "Ini apa mbak?" Ayumi menunjuk satu kotak yang berjejer disana.
Perempuan yang sedang bertugas itu terdiam, menatap Ayumi dan Randy bergantian.
"Abang ini permen? aku boleh ambil satu?" Dia hampir saja membawanya, tapi Randy menghentikan pergerakan tangan Ayumi.
"Ambilah kantung belanjaannya, tunggu di mobil." Pinta Randy.
"Iya, tapi aku mau ini satu! rasa anggur."
"Tidak boleh Ayumi!"
"Kenapa? cuma satu kotak."
"Kita belum boleh menggunakannya." Jelas Randy.
"Kenapa? kok kita? aku saja."
Mereka mulai berdebat, sementara kasir perempuan itu diam seribu bahasa dengan isi kepala yang tentu saja hanya dia yang tahu.
"Mbak memangnya ini permen apa? nggak halal yah?" Ayumi beralih menatap kasur tersebut.
"Ngg, ... itu ... permen orang dewasa! kalau mau Kaka boleh ambil permen yang di bawah saja."
"Oh aku hampir 20 tahun, ... jadi boleh yah? mau deh satu. Aku kira Fiesta cuma produk naget, eh ada permen juga yah!"
"Emmm, ... itu!"
"Astaga!" Randy mulai frustasi.
Dia segera mengeluarkan beberapa lembar uang, memberikannya kepada petugas kasir, membawa kantung belanjaan, dan menarik Ayumi sampai keluar dari sana.
"Pak! setruk sama kembaliannya!"
"Tidak usah!" Randy menjawab.
Dia terus berjalan, menarik Ayumi sampai masuk kedalam mobil sana.
"Ish cuma permen!" Pekik Ayumi.
"Tidak! kau benar-benar membuat ku pusing yah!" Randy menutup pintu mobil di samping Ayumi.
Di susul Randy masuk, dan mobil itu pergi.
Sementara beberapa pekerja mini market saling menatap.
"Umurnya berapa tadi?"
"Hampir 20 tahun. Seumuran sama aku." Kasir perempuan itu menjawab.
"Dan dia masih sepolos itu? sementara kamu?" mereka pun tertawa bersama.
......................
__ADS_1
AyumiðŸ˜