
Satu piring ayam mentega Randy letakan di atas meja makan, kemudian nasi, dan dua piring untuk dirinya juga sang kekasih hati, Ayumi. Gadis yang kini tengah serius melihat tayangan tv, dengan satu bungkus cemilan keripik talas kesukaannya yang Randy sediakan memang khusus untuk Ayumi seorang.
"Aahh, manis sekali!" Ucap para readers dengan perasaan sedikit gemas.
Setelah itu Randy berjalan ke arah lemari pendingin, membukanya, dan membawa dua botol air mineral berukuran sedang, yang diletakan di atas meja sama.
"Ay? Ayo kita makan." Panggil Randy.
Ayumi bergeming, dia terus fokus menatap dan menyaksikan serial drama Korea yang tayang di televisi, dengan keripik talas kesukaannya.
"Ay?"
Gadis itu masih belum mendengar.
Randy menghela nafasnya kencang, berjalan ke arah Ayumi dengan raut wajah masam, dan tanpa aba-aba dia mengangkat tubuh Ayumi, membawanya sampai duduk diatas kursi meja makan.
Kepala Ayumi mendongak, menatap wajah Randy yang kini tampak cemberut, dengan ekspresi wajah bingung.
"Abang bikin aku kaget!" Ayumi mengusap-usap dadanya perlahan.
"Sudah berapa kali aku panggil, tapi kamu tidak mendengar. Terus saja fokus pada drama Korea kesukaanmu itu, juga keripik talasnya … nanti ku buang semua yang membuatmu …"
Belum selesai Randy berbicara, Ayumi terlihat berdiri dan menutup mulut kekasihnya dengan kedua telapak tangan.
Bahkan Ayumi harus berjinjit untuk membuat Randy berhenti mengomel.
"Jangan berisik, aku lapar." Kata Ayumi sambil berbisik, lalu tersenyum.
Randy mematung, menatap wajah Ayumi dari jarak yang sangat dekat.
"Jangan ngomel, aku mohon." Dia menjauhkan kedua tangannya dari mulut Randy, dan kembali duduk.
Akhirnya Randy pun duduk, menunggu saat Ayumi mengisi nasi ke dalam satu piring, lalu letakan di hadapannya.
Ayumi tersenyum simpul.
"Kenapa? Ada yang lucu?" Tanya Randy.
Ayumi yang saat ini sedang mengisi nasi kedalam piring miliknya pun mengangguk.
"Apa reaksinya selalu seperti ini? Jika kamu terlambat meminum obat, maka kamu akan terus tersenyum-senyum sendiri? Maksudku, apa sebahaya ini?" Pria itu tampak sedikit khawatir.
Namun ucapan itu membuat Ayumi semakin tergelak, entah kenapa ekspresi wajah Randy yang sedang bingung itu terlihat sangat lucu.
"Sebaiknya kamu minum obatnya dulu, nanti lanjut makan. Kok aku khawatir yah!" Randy segera meraih botol air mineral, membuka dan memberikannya kepada Ayumi.
Gadis itu meraihnya, lalu meminum perlahan, tapi terus menahan senyum hingga Randy benar-benar terlihat ketakutan.
"Ay, … ada apa denganmu?"
"Tidak ada, aku hanya sedang bahagia." Jawab Ayumi.
"Berhentilah, kau akan benar-benar membuat ku takut!"
Ayumi mengangguk, dia mulai menyantap nasi dan ayam mentega yang Randy buatkan untuk dirinya. Suasana menjadi hening, keduanya fokus pada makanan masing-masing, tanpa obrolan atau interaksi apapun.
***
Selesai dengan makan malamnya, Ayumi terlebih dulu membawa piring kotornya ke arah bak cuci, dimana beberapa peralatan bekas pakai juga terdapat disana.
"Jangan dicuci!" Kata Randy seraya bangkit dari duduknya.
Ayumi menoleh.
"Cuma sedikit, biar aku bersihkan sekalian." Gadis itu bergeser, memberi ruang untuk Randy yang hendak mencuci tangannya.
"Biar besok saja, aku meminta petuga kebersihan datang setiap hari, sambil menunggu pekerja baru datang yang akan Ibu bawa nanti." Ucap Randy sambil terus membasuh tangannya.
Ayumi tidak menghiraukan ucapan itu, dia terus meneruskan mencuci beberapa piring, gelas juga perabotan sisa memasak tadi.
Randy berdiri di samping Ayumi, melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan gadis yang hanya setinggi dagunya.
"Apa kamu melakukan ini juga?" Randy bertanya.
"Maksudnya?" Sekilas Ayumi menoleh, dan kembali fokus pada cucian di hadapannya.
Randy menegakkan tubuhnya, berjalan mendekat dan memeluk Ayumi dari belakang, sambil meletakan dagunya di pundak Ayumi
Ayumi hanya tersenyum, dan tidak melarangnya sama sekali, dia membiarkan Randy memeluknya dengan posisi seperti itu.
"Apa kamu melakukan ini di rumah orang tuanya, Junior?" Randy berbisik.
Ayumi menimpali dengan gelengan kepala.
"Jangan! Aku tidak suka kamu menyentuh hal-hal semacam ini."
"Tapi aku sudah biasa, … di rumah juga aku yang mengerjakan ini, gantian dengan Ibu, kalau di rumah Om Al nggak ada Bibi, sudah pasti aku membantu Tante Sisil, atau Naura untuk bersih-bersih." Ayumi menjelaskan.
__ADS_1
Randy diam mendengarkan.
"Lagi pula kenapa? Membersihkan piring atau gelas kotor bukan pekerjaan yang memberatkan."
Gadis itu membersihkan sisa busa sabun di tangannya, menutup kran air, dan meraih lap agar tangannya sedikit mengering.
"Abang!" Cicit Ayumi, saat dia kesusahan untuk bergerak.
"Kenapa? Aku sedang merindukanmu! Jangan banyak protes."
Ayumi meraih tangan Randy yang terus melilit di pinggangnya, membuka perlahan kemudian berbalik sampai pandangan keduanya kembali bertemu.
"Ayo minum obatmu, setelah itu aku antar pulang." Dia tersenyum samar.
Ayumi diam, dengan pandangan yang tak teralihkan sama sekali.
"Jangan menatapku seperti itu! Aku takut." Randy mengusap pipi Ayumi, kemudian hendak mundur sebelum akhirnya Ayumi meraih pinggang dan memeluknya erat.
Randy mematung, menundukan pandangan untuk melihat Ayumi yang saat ini menyandarkan wajah di dadanya.
"Ay!"
"Aku mau seperti ini." Sergah Ayumi.
"Ya, tapi kamu harus meminum obatnya dulu." Pria itu berujar dengan suara pelan.
Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Agar kamu cepat pulih."
"Abang tahu yah?"
"Tentu saja, sudah ku katakan tadi. Junior yang memberitahukan keadaan kamu, bagaimana perkembangan kamu. Apa kamu pikir aku bisa membiarkanmu begitu saja? Tidak bisa Ayumi, aku bisa tidak tidur hanya karena memikirkanmu."
Kepala Ayumi mendongak, menatap wajah yang juga sedang menunduk.
Mereka sama-sama tersenyum.
Cup!
Randy memberikan ciuman singkatnya.
"Jadi, … ayo minum obatnya, malam sudah semakin larut, dan aku harus mengantarkan kamu."
Ayumi menggigit bibirnya.
"Aku, … aku …"
"Kamu mulai bosan? Baru tiga hari!"
"Itu salah satunya, tapi masalahnya sekarang bukan itu. Aku kurang pandai menelan obat, … Abang tahu? Obatnya hanya terus berputar-putar di dalam mulut, tidak bisa aku telan."
Dahi Randy berkerut, dan di detik berikutnya dia tertawa sangat kencang.
"Malah ketawa!" Ayumi menampar pipi kekasihnya kencang.
Randy mencengkal pergelangan tangan Ayumi, menjauhkan darinya dengan tawa renyah yang terus terdengar.
"Benarkah? Kamu tidak bisa menelan obat?"
Wajah Ayumi memerah, dia terlihat sedikit malu, kemudian mengangguk pelan.
"Lalu bagaimana kamu meminumnya?"
"Pakai buah pisang, kata Tante Sisil begitu kalau susah minum obatnya."
Randy menoleh ke arah keranjang buah-buahan yang terletak di meja ruang tengah, dan dia tidak menemukan buah yang Ayumi katakan, disana hanya terdapat apel merah, pear, dan buah jeruk.
"Bagaimana dengan Apel?"
"Itu susah, aku hanya bisa pisang."
Randy berpikir.
"Aku ada puding di kulkas, seperti bisa membantu kamu untuk menelan obatnya."
Ayumi sedikit ragu.
"Kita coba oke?"
Ayumi mengangguk, dia melepaskan tangannya yang sedari tadi terus melingkar di pinggang Randy, dan membiarkan pria itu membawa puding yang dia simpan di dalam lemari pendingin sana
"Lihat? Aku ada puding dan susu full cream kesukaan mu. Setidaknya bisa menetralisir rasa pahit pada mulut mu nanti."
Randy berjalan terlebih dulu ke arah sofa, meletakan sesuatu yang ada di tangannya di atas meja.
"Nah cobalah, aku ambil Hoodie dulu, lama-lama dingin." Katanya saat dia menyadari jika sedari tadi hanya mengenakan kaos tipis.
__ADS_1
Ayumi mengangguk, dia duduk di atas sofa, dan membawa beberapa obat dari dalam tasnya.
"Astaga! Rasanya malas sekali!" Gumam Ayumi sambil memisahkan beberapa obat yang harus dia minum malam ini.
Selesai menyiapkan obat, dia membuka penutup puding, memakannya beberapa sendok, lalu memasukan obat kedalam mulut, dan menelannya.
"Bisa?" Tanya Randy saat dia keluar dari dalam kamarnya, sambil memakai Hoodienya.
"Bisa, sudah selesai." Jawab Ayumi.
"Good girl."
Randy mengusak rambut Ayumi, kemudian duduk di sampingnya.
"Sekarang ayo aku antar pulang."
"Abang telpon Om Al saja, kasih tahu kalau aku ketiduran disini."
"Kamu mau aku berbohong?"
Ayumi mengangguk lagi.
"Aku masih mau disini."
"Tapi, … Ay …"
"Aku nggak mau pulang! Aku mau disini."
Randy menghela nafasnya.
"Abang!?"
"Ya ya ya, baiklah terserah kamu saja, memangnya aku bisa apa jika kau sudah merengek seperti itu."
"Terimakasih."
"Aku akan segera memberitahu, jika kamu menginap malam ini kepada ayahnya Junior, masuklah kedalam kamarmu, aku juga sudah lelah."
Randy bangkit, dia beranjak pergi meninggalkan Ayumi masuk kedalam kamarnya.
Klek!
Dia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, berjalan ke arah sudut kamar, menekan stop kontak, dan ruangan itu menjadi temaram, saat lampu-lampu kecil berwarna biru menyala.
"Astaga, kenapa juga aku melakukan ini." Tukas Randy seraya mendekatkan ponsel miliknya ke arah daun telinga.
Suara sambungan telepon terdengar, dan tidak lama setelah itu suara Alvaro terdengar menyapa.
"Begini, Om. Sepertinya Ayumi tidak pulang, dia tertidur setelah meminum obatnya." Jelas Randy berbohong.
Pria itu menganggukan kepala, saat Alvaro menjawab penjelasan tersebut.
"Baik Om, kalau begitu saja juga harus beristirahat, maaf mengganggu, Om."
"Iya om, selamat malam."
Sambungan telepon terputus, dan dia meletakan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur.
"Setidaknya kau bisa menyelamatkan diri, dari anak kucing menggemaskan itu." Randy bermonolog.
Dia naik ke atas tempat tidur, berbaring terlentang dan mulai memejamkan mata dengan satu tangan yang ia letakan diatas kepala.
"Abang?"
Gadis itu kembali memanggil, tapi Randy tetap diam dan tidak berniat menjawab panggilan dari Ayumi.
"Abang? Aku boleh masuk?"
"Tidak! Masuklah ke kamarmu …" Randy berteriak.
Klek!
Pintu kamarnya sudah lebih dulu terbuka.
"Astaga! Kenapa aku tidak menguncinya tadi." Gumam Randy.
"Aku boleh tidur disini? Aku takut di luar mulai ada petir." Ayumi berdiri di ambang pintu.
"Ya, sepertinya akan turun hujan, tapi tidak apa-apa. Masuklah ke dalam kamarmu dan tidur!" Kata Randy dengan mata yang terus tertutup.
"Tapi aku takut."
"Tidak apa-apa, hanya petir sebuah penanda jika hujan akan …"
Tempat tidurnya bergerak saat Ayumi naik ke atas, merangkak mendekat, dan merebahkan diri pada Randy yang kini tengah berbaring terlentang.
"Hanya hujan, dan petir!" Randy tertegun saat tiba-tiba saja Ayumi berbaring di atas tubuhnya tanpa aba-aba.
__ADS_1
"Tidak mau, aku takut."