My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 56 (Proses)


__ADS_3

Ayumi menatap pintu kayu besar yang terus tertutup. Tak jarang dia berteriak memanggil sang kekasih agar segera membukakan pintu untuk dirinya. Namun nihil, rumah itu terasa sangat sepi bak tak berpenghuni, walau sudah sangat jelas semua mobil milik Randy berada terparkir di dalam garasi, dan sudah dipastikan jika pria itu berada di dalam rumahnya.


"Ah tapi bagaimana jika dia keluar menggunakan ojek Online?" Gumam Ayumi.


Kemudian dia bangkit, dan berdiri mendekati sebuah monitor yang terdapat beberapa angka di sana. Ayumi menatap benda itu lekat-lekat, berusaha mengingat nomor-nomor yang selalu Randy tekan jika hendak membuka pintu rumah miliknya.


Gadis itu segera menekan beberapa angka, dan betapa terkejutnya jika setiap angka yang Ayumi masukan benar, sampai pintu rumah itu dapat Ayumi buka.


"Abang?" Ayumi menyembulkan kepala, dia memeriksakan keadaan di dalam sana.


Hening, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya terdengar suara jarum jam berdetik. Kakinya melangkah masuk, lalu menutup benda itu kembali rapat-rapat, sebelum Ayumi kembali melangkahkan kakinya ke arah ruangan tengah.


"Abang?" Panggilnya lagi.


Dan suara itu menggema di dalam rumah sana.


Randy yang baru saja keluar dari kamar mandi tertegun, saat samar suara yang sangat dia kenali memanggil-manggil dirinya dari arah luar.


"Abang?" 


Suara itu kembali terdengar, bahkan semakin jelas hingga membuat Randy berjalan ke arah pintu kamar yang sedari tertutup, dan menghambur ke luar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang hingga atas lutut.


Deg!


Pandangan mereka langsung bertemu, dan keduanya terdiam dengan rasa keterkejutannya masing-masing.


Randy yang bingung kenapa Ayumi dapat masuk, sementara Ayumi terkejut dengan keadaan Randy yang bertelanjang dada di dekatnya.


Tubuh kekar yang kini dapat Ayumi lihat tanpa kemeja atau kaos rumahan ketat yang selalu pria itu kenakan.


"Kenapa kamu ada disini?" Dia bertanya dengan ekspresi wajah datarnya.


Mata Ayumi yang sedari tadi menatap ke arah perutnya, kini kembali mengangkat pandangan, dan mata keduanya kembali bertemu.


"Emm, … a-aku, … tadi tekan bel, terus ketuk pintu, tapi Abang nggak jawab pas aku panggil, jadi aku masuk saja." 


Wajah pria di hadapannya masih tanpa ekspresi.


"Abang nggak suka yah? Aku masuk tanpa izin?" Ayumi mulai gugup.


Apalagi tatapan Randy yang terasa semakin tajam dan mengintimidasi, membuat Ayumi benar-benar merasa sedikit ketakutan.


"Saya baru pulang, baru selesai mandi juga! Apa kamu tidak cukup sabar untuk menunggu sampai saya membukakan pintu untuk mu?"


Suasana terasa semakin mencekam, bahkan hawa dingin mulai terasa menyerang saat ekspresi wajah itu tak kunjung berubah. Tidak ada penyambutan seperti biasa, tidak ada senyuman atau raut wajah senang.


Tentu saja dia masih kecewa, atau bahkan sekarang marah karena aku sudah lancang memasuki rumahnya Ayumi berpikir.


"Maaf." Ucap Ayumi.


Randy tidak menjawab, dia berbalik badan dan kembali masuk kedalam kamarnya.


Gadis itu mematung, ini yang dia takutkan jika harus menemui kekasihnya sekarang. Dan apa yang diharapkan setelah apa yang dia katakan kepada Randy beberapa waktu lalu? Di terima dengan senang hati? Atau bahkan Randy mengutarakan rasa rindunya?


"Ah itu tidak mungkin." Gumam Ayumi dengan raut wajah kecewa.


"Dasar konyol, untuk apa juga aku masuk ke rumah orang! Harusnya aku menunggu, dan terus menekan bel sampai benar-benar dipersilahkan untuk masuk." Ayumi terlihat sedih.


Tak ada lagi harapan, sepertinya hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan. Terlalu banyak perbedaan entah itu sifat atau status sosial.


Dengan perasaan kecewa Ayumi kembali melangkahkan kaki, berjalan menuju pintu untuk segera keluar dari rumah pria yang sangat di rindukannya.


"Malah mau keluar lagi! Kenapa tidak menunggu di sofa? Setidaknya hidupkan televisi jika kamu merasa bosan, bukan malah mau keluar lagi!"


Mendengar itu Ayumi berhenti, lalu berbalik badan.


Randy terlihat berjalan tergesa-gesa, mendekat dan meraih tangan Ayumi untuk kembali dia tarik ke arah ruang tengah.


Ayumi tidak menolak, dia hanya mengikuti kemana Randy menariknya, dengan pandangan mata yang terus tertuju pada punggung kokoh milik kekasihnya.


"Kenapa keluar malam-malam?" Randy melepaskan genggaman tangannya, saat mereka sampai di dekat sebuah sofa besar ruang tengah, yang dijadikan sebagai ruang kumpul, entah itu bersama keluarga atau teman.


Ayumi belum menjawab, dia hanya duduk dan mulai menundukan kepala. Dia belum terbiasa melihat keadaan Randy saat ini, maklum saja karena ini pertama kalinya untuk Ayumi.

__ADS_1


Rambut ikat yang masih basah juga sedikit berantakan, kulit putih bersih, otot perut yang terlihat begitu mempesona, belum lagi pundak kokoh yang malam ini tak tertutup kain sama sekali.


Randy hanya mengenakan celana training panjang berwarna hitam, dan membiarkan bagian atasnya terekspos begitu saja.


"Aku tanya, di jawab!" Randy berjongkok di hadapannya.


Dia memiringkan kepala, agar dapat melihat Ayumi yang sedang menyembunyikan wajahnya.


"Kenapa pipi mu?" Randy menahan senyum, apalagi saat melihat pipi Ayumi yang sudah terlihat sangat memerah.


Gadis itu memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya, kemudian bertanya;


"Kenapa bajunya nggak Abang pakai? Ini sudah malam, nanti masuk angin." Suaranya terdengar pelan.


Randy menatap wajah menggemaskan itu dengan hati berdebar. Juga perasaan rindu yang kali ini tak dapat dibendung lagi, empat hari cukup, dan dia tidak mau menahan rasa sesak hanya karena merindukan seorang gadis yang sudah mencuri hatinya beberapa bulan belakangan.


"Kamu datang sendirian?" 


Ayumi mengangguk ragu.


"Kamu sudah pulang ke kamar kost sempit mu itu? Apa Om Al membiarkan mu kembali tinggal sendiri?"


Ayumi tersentak, dengan kulit kening yang juga berkerut kencang.


"Om Al? Abang tahu beberapa hari ini aku tinggal di rumah Om, Al?"


Randy mengulum senyum, lalu mengangguk.


"Junior memberi tahu."


"Abang datang ke kantor?"


Randy menjawab dengan sebuah gelengan kepala.


"Via telpon, atau kadang-kadang lewat chat."


Ayumi diam, matanya bergerak-gerak memindai wajah Randy yang saat ini terus terlihat menyunggingkan senyum.


"Abang telpon, Bang Nior?"


"Abang telpon orang lain? Sementara tidak pernah kirim pesan ke aku! Apalagi telpon." Cicit Ayumi, suaranya sedikit meninggi.


Randy bungkam, menatap raut wajah masam itu, yang sudah pasti terlihat sangat menggemaskan. 


Randy menggerakan tangan, menyentuh pipi, sedikit bergerak ke bawah, sampai dia menyentuh tahi lalat Ayumi. Hal yang membuat senyum gadis itu menjadi sangat manis.


Astaga jantungku! Ucap Ayumi di dalam hati, saat mata Randy terus tertuju kepada, dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan oleh kata-kata.


Keadaan menjadi hening.


Ayumu perlahan mundur, saat Randy terus berusaha mendekat.


Duk!!


Punggung Ayumi membentur sandaran sofa, dan kali ini dia benar-benar tidak bisa lagi menghindar saat tiba-tiba saja bibir Randy menyentuh bibirnya.


Cup!


"I Miss you so bad." Ucapnya dengan suara rendah.


Ayumi yang juga sedang merasakan hal yang sama hanya diam, menikmati wajah tampan milik kekasihnya dari jarak yang sangat dekat.


Tangan Ayumi terangkat, lalu jemari lentik itu menyentuh rahang tegas Randy, dan mengusapnya lembut.


Keduanya tidak lagi banyak berbicara, tatapan sejoli itu sudah jelas menunjukan jika keduanya saling merindukan satu sama lain.


Randy kembali meraih bibir milik Ayumi, memangutnya penuh perasaan, sampai tubuh Ayumi terus bergerak ke arah samping, dan benar-benar berbaring diatas sofa, di bawah kunjungan tubuh kokoh dan penuh otot yang saat ini tengah bertelanjang dada.


Suara decapan mulai terdengar, saat Ayumi mulai membalas ciuman Randy yang terasa semakin dalam. Bahkan tangan pria itu sudah berada di bawah tubuh Ayumi, memeluk pinggang kekasih cantiknya hingga mereka tak berjarak sedikit pun.


Randy menarik diri, menjeda kegiatannya untuk beberapa saat, menatap Ayumi yang sudah memejamkan kedua matanya.


"Jangan lagi meminta ku untuk menjauh, karena aku benar-benar tidak bisa, empat hari ini sudah sangat membuat ku tersiksa, aku sangat merindukan mu Ayumi Kirana!" Suaranya terdengar semakin rendah.

__ADS_1


Perhatian mata gadis itu terbuka.


"Abang sangat merindukan aku? Tapi tidak berniat menghubungi aku? Atau menayakan bagaimana kabar ku setelah kejadian itu?" Balas Ayumi tak kalah pelannya.


Randy tidak menjawab, dia justru kembali mendekatkan wajah untuk melanjutkan sesuatu yang sempat terjeda.


Namun sebelum itu benar-benar terjadi, Ayumi menahan dada Randy.


"Why!?"


Ayumi menggelengkan kepala.


"Kamu marah?"


"Bu-bukan, … aku, … aku harus makan dan minum obat." 


Dahi Randy berkerut, dia belum mengerti apa yang Ayumi katakan.


"Aku harus minum obat dari Dokter." Kata Ayumi lagi.


Kali ini dia harus menghindar, atau semuanya akan terus terjadi lebih jauh lagi, dan dia tidak mau Randy lepas kendali.


"Cepatlah! Akan sangat bahaya jika aku terlambat meminum obatnya." 


Ayumi mencubit otot dada Randy yang terbentuk dengan sempurna, lalu tersenyum saat pria itu meringis kesakitan.


"Abang …"


Cup!


"Bawel!" 


Randy mencium gadis yang berada di bawah Kungkungannya singkat, kemudian bangkit dan membiarkan Ayumi memgubah posisinya menjadi duduk.


"Bukan begitu, kalau aku nggak sadar, … kita akan berada dalam bahaya! Terutama aku."


"Bahaya apanya!?" Randy mulai melenggang ke arah dapur bersih yang terletak tidak jauh dari tempat Ayumi duduk saat ini.


Gadis itu menghela nafas, dia menahan senyum seraya bangkit dan berjalan menyusul.


"Bahaya kalau kita sampai terlalu jauh melakukannya, bagaimana kalau aku hamil?" Dengan polosnya dia berbicara seperti itu.


Randy berbalik badan, kembali menatap Ayumi dengan raut wajah tak biasa.


"Bicaramu itu!" Randy menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa? Kan bener, kalau aku nggak sadar nanti terjadi sesuatu, teru aku …"


Randy langsung mendekat, dan membekap mulut Ayumi agar tidak melanjutkan kata-katanya.


"Diamlah!"


Ayumi menepis tangan Randy.


"Ish kenapa deh! Aku kan cuma berandai-andai, kalo aku ha…"


Randy kembali membekap mulut Ayumi.


"Ay, diamlah. Mungkin menurut mu kata-kata itu terdengar biasa. Tapi tidak dengan ku, pikiran ku tertuju pada proses sebelum kamu hamil!" Randy mulai gelisah.


Dia menyingkirkan tangannya dari mulut Ayumi.


"Duduklah, di sofa. Nyalakan tv nya, biarkan aku yang memasak." 


Gadis itu diam, dan mencerna ucapan yang tadi Randy katakan.


"Tunggu apa lagi? Cepat kesana!" Dia mendorong Ayumi.


Akhirnya Ayumi mengalah, dia segera kembali ke arah sofa besar ruang tengah, kemudian duduk nyaman di atas sana.


"Porses apanya, Abang kalo ngomong suka ngelantur, nggak nyambung. Aku bahas hamil dia malah bahas proses, aneh!" Dia menggerutu, seraya meraih remot dan menekan salah satu tombol sampai televisi di hadapannya benar-benar menyala.


......................

__ADS_1


Tolong deh Ay, masa nggak tau proses sebelum hamil🙄🤣


__ADS_2