
Mobil civic type R berwarna hitam pekat melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan pada hampir tengah hari, melewati titik kemacetan, juga antrian lalu lintas saat kendaraan roda empat itu melewati beberapa lampu merah.
Dance with me under the diamonds
See me like breath in the cold
Sleep with me here in the silence
Come kiss me, silver and gold
You say that I won't lose you
But you can't predict the future
So, just hold on like you will never let go
Yeah, if you ever move on without me
I need to make sure you know that
You are the only one I'll ever love
(I gotta tell ya, gotta tell ya)
Yeah, you, if it's not you, it's not anyone
(I gotta tell ya, gotta tell ya)
Looking back on my life
You're the only good I've ever done (ever done)
Yeah, you, if it's not you, it's not anyone (anyone)
Not anyone.
(Anyone by: Justin Bieber)
Suara merdu dari seorang penyanyi laki-laki yang sangat terkenal itu terus terdengar, mengalun di dalam mobil dengan volume sedikit kencang, menemani Randy yang tengah mengendarai mobil, saat Ayumi terus diam dan melamun, hanya karena kekesalannya yang belum meredam.
Dan entah dengan cara apa dia meredakan rasa kesal Ayumi saat ini.
"Kamu masih marah? Sungguh aku tidak berniat menyembunyikan pertemuan dengan Aleesa, … aku baru meminta bertemu hari ini, karena dia mempunyai rekomendasi gedung dan catering yang bagus, aku rasa tidak ada salahnya melihat-lihat dulu." Randy mulai membuka suara.
Pandangan Ayumi masih terus lurus ke depan, diam dengan ekspresi wajah dingin yang diperlihatkan.
"Sayang?" Randy meraih tangan kanan Ayumi, membawanya sampai terletak di atas persneling, sampai dia dapat memegang jemari-jemari lentik milik Ayumi, sambil terus mengendalikan mesin roda empatnya.
"Ay? Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu. Tapi sungguh aku tidak bermaksud sembunyi-sembunyi."
"Aku maafkan." Sergah Ayumi datar.
Randy diam, dia melirik.
"Singkat sekali, padahal dari tadi aku berbicara banyak hal."
"Ya aku memaafkan, … tapi nggak langsung hilang juga keselnya!" Cicit Ayumi ketus.
Randy menghela nafas.
"Kan aku sudah minta maaf, Yank. Puluhan kali pula, kenapa susah sekali memulihkan kekesalan!"
Ayumi kembali diam, bahkan kini dia mengubah posisinya menjadi duduk menyamping.
"Ay!?"
"Ish kamu bawel! Aku udah maafin, … jangankan yang sekarang, waktu kamu liburan peluk-pelukan sama Dokter Aleesa juga aku maafkan, bahkan nggak protes sama sekali kan?"
Pria itu terkesiap, dia menoleh dengan raut wajah penuh keterkejutan.
Dia tahu?
Randy membatin.
***
Randy keluar dari dalam mobilnya, dengan kaos putih polos, dipadukan dengan celana jeans hitam, juga sandal berwarna senada, membuat tampilannya terlihat sangat santai. Tidak ada setelan kemeja, jas atau pun dasi, hari ini pria itu memang benar-benar terlihat lebih bebas, namun tak mengurangi paras ketampanannya sedikit pun.
Dia berlari memutari mobil, lalu membuka pintu penumpang dimana Ayumi duduk disana.
"Ay?" Panggil Randy saat Ayumi masih diam.
Gadis itu menoleh, menengadah.
"Aku tunggu disini saja! Mana kunci mobilnya? Biar aku nyalakan AC."
"Kenapa? Bukannya mau ikut? Ayo masuk kedalam, beberapa orang sudah menunggu, membawa beberapa sampel makanan." Jelas Randy.
"Aku berubah pikiran, sepertinya di dalam banyak orang. Aku nggak suka, … dan sedikit takut." Katanya.
__ADS_1
"Rasa kepercayaan diriku menurun, drastis." Ayumi terkekeh, dia merasa aneh sendiri.
Randy mengulum bibirnya, menggelengkan kepala, lalu mengulurkan tangan.
"Ada aku, tidak usah takut."
Ayumi menggelengkan kepala.
"Tidak mau ikut?" Randy bertanya.
Ayumi mengangguk.
"Yakin?"
Ayumi mengangguk lagi.
"Di dalam ada Dokter Aleesa, kamu yakin membiarkan suamimu masuk sendirian, semantara ada banyak ancaman di dalam sana."
Mendengar itu dengan segera Ayumi keluar, merapikan pakaiannya, membanting pintu mobil, lalu memeluk lengan kekar milik suaminya.
"Baiklah ayo sayang, aku tidak akan membiarkan siapapun mendekatimu. Mereka akan takut, karena pengawalmu bukan seorang satpam biasa, melainkan singa betina, … tapi sangat menggemaskan." Dia mengibaskan rambut panjang kecoklatan itu ke arah belakang, sampai leher jenjangnya terpampang dengan sangat jelas.
Randy terkekeh geli, sampai kepalanya mendongak ke belakang.
"Aku cantik?" Dia mengguncangkan lengan suaminya.
Randy yang masih tertawa pun hanya mengangguk.
"Cantikan aku atau Dokter Aleesa?!"
Pria itu berhenti, menundukan pandangan untuk melihat istrinya, menatap wajah dengan polesan make up tipis, namun berkesan manis dengan lipstik ombre yang dikenakan nya.
"Jawab!"
"Apa kamu masih membutuhkan jawaban itu? Sementara aku memilihmu saat Aleesa sedang berusaha mendapatkan cintaku, Ayumi Kirana Danendra!?" Suaranya terdengar sangat rendah, dan begitu menggoda.
Astaga pikiranku! Padahal Abang cuma berbisik, tapi kenapa bayangan itu terus teringat? Otak aku tercemar!
Batinnya berbicara.
"Jangan pernah merasa rendah, jangan merasa tidak percaya diri. Aku disini, … bersamamu! Kita setara dalam hal apapun." Katanya lagi.
Cup!
Randy mencium singkat bibir istrinya, membuat kesadaran Ayumi menghilang beberapa detik, lalu matanya berkedip beberapa kali, berusaha membawa kesadaran yang sempat memudar.
"Kita masuk, semua orang sudah menunggu kita."
Perlahan Randy menarik Ayumi, berjalan memasuki sebuah pintu Lobby hotel, dimana dia mempunyai janji dengan beberapa orang, termasuk Aleesa yang memang mempunyai andil untuk persiapan resepsinya.
"Selamat siang, Pak Randy." Seorang pria terlebih dulu menyapa, lalu menjabat tangannya dan Ayumi secara bergantian.
Setelah itu beberapa orang lainnya, menyambut dengan senyum ramah. Sementara Aleesa tampak terdiam, duduk menatap Ayumi dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Sosok perempuan muda berambut kecoklatan, mengenakan crop top kotak-kotak, dilengkapi blazer dengan motif yang sama, juga celana jeans yang membuatnya terlihat sangat cantik.
"Pantas, bagaimana Randy tidak tergila-gila. Dia memang secantik itu, apalagi pandai berdandan." Gumam Aleesa.
"Silahkan duduk, kami akan segera menyiapkan tester beberapa makanan yang kami rekomendasikan." Seorang wanita berpenampilan sangat rapi berbicara.
Randy yang beberapa saat lalu bercakap-cakap pun mengangguk, lalu menarik Ayumi mendekati sofa, dimana Aleesa duduk disana.
"Kau menunggu lama?" Randy menatap Aleesa.
"Lumayan, sudah satu jam aku menunggu disini." Balasnya dengan malas.
Randy hanya tersenyum, dia benar-benar tidak peduli dengan rasa kesal yang perempuan itu perlihatkan.
"Oh, Aleesa? Ini Ayumi istriku." Randy memperkenalkan.
"Sayang, ini Dokter Aleesa. Dokter yang menangani jika ada beberapa pemain yang cedera saat pertandingan berlangsung." Dia beralih menatap istrinya.
Ayumi mengangguk, tersenyum samar, lalu meraih tangan Aleesa yang terulur.
Mereka pun berjabat tangan.
"Selamat atas pernikahan kalian. Saya sungguh tidak menyangka kalian akan menikah secepat itu." Aleesa berujar.
"Yeah, karena aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Randy menjawab, semenatar Ayumi hanya diam.
"Kamu aneh!" Aleesa terkekeh.
Randy mengerutkan dahi, begitupun dengan Ayumi. Saat rasa canggung tiba-tiba saja terasa.
"Bisa-bisanya kamu menikah. Padahal sebelumnya hidup bebas, melakukan semua yang kamu mau tanpa sebuah rasa, atau hubungan. Karena itu akan mengikatmu, tapi sekarang! Kau mengikatkan dirimu sendiri … aku harap kamu tidak berbuat buruk, sampai terpaksa harus …"
"Ada beberapa sampel makanan. Silahkan di coba terlebih dulu." Seseorang datang, sampai membuat ucapan kurang mengenakkan yang keluar dari mulut Aleesa tercekat.
***
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu suka makanan dan dessert nya?" Randy menatap Ayumi yang tengah menikmati puding eskrim.
Perempuan itu mengangguk.
"Aku suka Zuppa soup nya, enak, gurih, rasanya pas." Kata Ayumi.
"Yang lain?"
"Bolehlah, terserah kamu saja." Kata Ayumi.
Randy terus tersenyum, lalu mengangguk-anggukan kepala, membuat Aleesa bungkam sambil memperhatikan.
Tampaknya dia masih cemburu, namun sepasang pasutri baru itu tampak tidak peduli.
"Aku permisi ke toilet dulu sebentar." Pamit Aleesa.
Randy hanya mengangguk.
"Apa kita ambil catering yang ini?"
"Terserah, Abang." Katanya, dia hanya fokus menikmati santapan manis itu dengan riang.
"Baiklah. Setelah ini kita lihat-lihat gedung, atau ballroom hotel."
Ayumi menoleh.
"Jangan terlalu berlebihan, kamu kan tahu kalau aku tidak terlalu suka keramaian."
"Tapi tamu kita pasti banyak. Para kolega, pemain bola, dan crew-crew lainnya."
Dia tidak menjawab, Ayumi meletakan gelas berisi puding yang sudah kosong diatas meja, kemudian bangkit.
"Aku kebelet pipis, tunggu yah!"
"Mau aku antar?"
"Tidak usah hanya sebentar."
"Baiklah, tapi cepat! Kita harus segera menyelesaikan urusan hari ini. Ibu hampir sampai!"
Ayumi menjawab dengan sebuah anggukan pelan. Dia segera beranjak pergi, berjalan ke arah luar ruangan dan mencari toilet.
***
Ayumi meletakan tas kecilnya di tempat kosong samping wastafel. Menyalakan kran air, dan mulai membasuh tangannya.
Tanpa menyadari seseorang tampak menghampiri, dan berdiri berdampingan.
"Apa kalian benar-benar menikah?" Tanpa basa-basi Aleesa bertanya, menatap pantulan cermin besar di dalamnya.
Ayumi menoleh.
"Maksud anda?" Ayumi mematikan kran air, lalu mengeringkan tangannya di mesin pengering yang tersedia.
"Apa kalian benar-benar menikah karena keinginan Randy? Atau sudah terjadi sesuatu?" Aleesa beralih menatap wajah Ayumi yang tampak tengah kebingungan.
"Maksudnya apa? Terjadi apa?"
"Ya, … saya tahu kamu mengerti."
Ayumi semakin mengerutkan dahinya.
"Saya pernah lihat Randy masuk ke dalam kamarmu. Dan setelah saya menunggunya, dia tak kunjung keluar sampai pagi! Jadi … saya pikir Randy menikahimu karena sebuah rasa ingin bertanggung jawab, karena kalian sudah melakukannya saat kita liburan beberapa waktu lalu."
Ayumi diam, menatap mata wanita di hadapannya lekat-lekat, tanpa terlihat gentar sedikitpun, walaupun jelas dia tengah merasa ketakutan dan panik.
"Apa dia pernah jujur padamu? Berapa puluh wanita yang pernah dia tiduri?"
"Randy itu berjiwa bebas. Selain tidak mempercayai cinta, dia juga tidak mau terikat dengan perempuan manapun, entah itu terikat dengan hubungan komitmen satu sama lain, ataupun menikah."
"Oh yah?" Suara Ayumi bergetar, matanya memerah.
"Kamu boleh tanyakan sendiri kepada dia." Aleesa berseru.
"Aku hebat kalau begitu. Mampu membuat seseorang yang tidak percaya cinta, menjadi jatuh cinta. Membuat seseorang mau menikah, padahal awalnya dia tidak mau terikat hubungan apapun." Ayumi menatapnya tajam.
Aleesa bungkam, dia mematung.
"Dan apakah saya boleh bertanya? Apakah anda termasuk dari puluhan wanita itu?"
Aleesa masih diam, bibirnya terasa kelu, saat rentetan ucapan Ayumi menusuk hatinya semakin dalam lagi.
"Anda memandang saya serendah itu, menunjuk hal yang bahkan tidak pernah saya lakukan. Namun anda tidak dapat berkaca diri! Anda memang seorang perempuan berpendidikan, memiliki gelar yang sangat terhormat karena mampu menolong seseorang yang sedang memerlukan bantuan, … tapi jika anda ingin merendahkan saya, saya yakin jika anda lebih rendah dari saya."
Ayumi meraih tas miliknya, beranjak dari sana meninggalkan Aleesa yang mematung penuh keterkejutan.
......................
Ketemu Ayumi sama Abang dulu.
__ADS_1