
Ayumi semakin merapatkan selimutnya, ketika suasana terasa semakin dingin. Membuat Randy yang sudah terjaga menoleh, menatap istrinya yang meringkuk bak sebuah janin yang berada di dalam rahim ibunya.
Jam baru saja menunjukan pukul 06.30 pagi hari. Suara kicauan burung jelas terdengar memenuhi area Villa yang mereka tempati saat ini. Dan itu adalah hal yang sangat langka Randy rasakan, udara segar dengan berbagai macam bunyi kicauan burung yang terdengar berbeda-beda.
Dia mengusap kepala Ayumi, membungkuk, kemudian mencium pipinya, sampai perempuan itu menggeliat karena merasakan sentuhan bibir Randy di atas pipinya.
"Kenapa setiap pagi hari disini malah semakin dingin!" Keluah Ayumi dengan suara paraunya.
Randy sedikit menjauhkan wajahnya, menatap Ayumi yang ternyata masih memejamkan mata.
"Kamu sudah bangun?" Randy berbisik tepat di daun telinga istrinya.
"Hemm, … dingin bikin kaki aku terasa beku! Tapi hawanya kaya mau tidur terus." Sahut Ayumi lagi dengan suara malasnya.
Randy diam sambil terus memperhatikan wajah pucat tanpa make-up yang begitu terlihat cantik. Sampai sesuatu keinginan di dalam dirinya muncul, dan itu sepertinya tidak dapat Randy redam atau tunda begitu saja.
Dia segera ikut bergabung masuk kedalam selimut tebal yang saat ini tengah menggulung tubuh istrinya, lalu memeluk Ayumi dengan sangat erat.
Cup!
Randy mencium tengkuk bagian samping istrinya, sampai membuat Ayumi mengedikkan bahu karena merasa geli, namun dengan mata yang terus terpejam rapat.
"Kamu kedinginan Mommy?" Randy kembali berbisik di telingan Ayumi, kemudian memberikan sebuah gigitan. Kecil sampai membuat Ayumi memekik kencang.
"Awhhh!"
"Mau aku hangatkan, sayang? Sama aku juga kedinginan, jadi sepertinya bagus jika kita saling menghangatkan satu sama lain."
Tanpa menunggu lebih lama Randy mencium kembali tengkuk bagian belakang telinga, kemudian naik mencium pipi, kening dan berakhir di bibir yang terlihat begitu menggemaskan.
"Masih pagi, Abang!"
Ayumi mendorong wajah suaminya sampai pria itu dapat menjauh. Tapi bukan Randy namanya jika dia menyerah begitu saja, dia kembali mendekat dan melanjutkan cumbuan yang sempat terjeda.
Tangan Ayumi terus meronta-ronta, berusaha menjauhkan Randy dari dirinya. Namun sayang, tenaga yang dia miliki tidak sebanding dengan tenaga suaminya, sampai dengan mudahnya Randy melakukan semua, termasuk melucuti pakaian Ayumi sampai perempuan itu benar-benar polos tanpa sehelai benangpun.
"Astaga ini masih pagi! Bahkan rasa kantuknya belum benar-benar hilang!" Rengekan manja Ayumi terdengar.
Randy hanya tersenyum, dia segera menarik lepas pakaian yang dia kenakan, sampai dirinya pun kini polos tanpa apapun. Terlebih dulu Randy menarik selimut sampai menutupi tubuh keduanya dengan benar, sedikit melindungi dari hawa dingin yang terus terasa, meski tanpa adanya Air Conditioner.
Pria itu menunudk, kembali meraih bibir Ayumi, dan bermain-main di sana. Awalnya Ayumi hanya diam dan pasrah, namun setelah beberapa saat dia melilitkan tangan di punggung suaminya, sampai mereka benar-benar menempel satu sama lain.
Udara dingin yang sempat menganggu Ayumi kini seolah lenyap, tergantikan oleh sebuah kehangatan yang Randy berikan disetiap sentuhannya.
"Emmmmhhh!" Leguhan Ayumi terdengar ketika Randy bermain-main dengan bulatan kembarnya.
Tangan pria itu benar-benar tak pernah tinggal diam. Terus menyentuh hampir setiap inci kulit Ayumi, lalu berakhir di atas perut ketika dia merasakan ada pergerakan di dalamnya.
"Dia protes?" Randy menatap wajah Ayumi yang sudah memerah.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Oh, mungkin dia sudah tidak sabar untuk bertemu Daddy."
Randy segera memposisikan diri, kemudian mengarahkan miliknya kearah inti tubuh Ayumi. Dia semakin mendekatkan diri, lalu menekan dan mendorong pinggulnya dengan perlahan-lahan.
Mata Ayumi terpejam, mulutnya sedikit terbuka, dengan kening yang berkerut, membuat pelipisnya hampir menyentuh satu sama lain.
"Sakit?" Bisik Randy, saat kembali menundukan pandangan dan mendekatkan waha di telinga Ayumi.
Namun perempuan itu segera menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Baik, jangan berteriak ingat! Villa ini tidak memiliki peredam suara. Khawatir Ibu, Bi Dini, Mama dan Papa mu akan mendengarnya." Randy memberi sebuah arahan.
Ayumi semakin merapatkan bibirnya, lalu mengangguk pertanda mengerti.
"Good girl!" Katanya seraya mencium tengkuk istrinya.
Randy mulai menarik pinggulnya, lalu membenamkan kembali, membuat cengkraman tangan Ayumi semakin kuat, ketika dia merasakan hal yang sangat kuat biasa.
Detik berikutnya pergerakan Randy mulai teratur. Dia berpacu di atas tubuh istrinya dengan sangat hati-hati, mengingat keberadaan putrinya di dalam sana, dan sebisa mungkin Randy berusaha tidak menggangu siapapun, entah itu bayi atau orang-orang yang ada di sekitarnya.
Mata Ayumi terpejam, tangannya bergerak naik keatas, lalu merekat rambut Randy sangat kencang, sementara bibirnya tergigit oleh dirinya sendiri saat berusaha menahan suara yang mungkin akan terlepas dan tidak terkendali karena permainan Randy yang mulai tak beraturan.
"Ngghhh!" Dia terus menahannya.
Begitupun dengan Randy, beberapa kali dia terdengar mendengus dan menggeram dengan suara pelan.
"Hheuhh sayang!" Ayumi semakin mengeratkan pelukannya.
"Shutttttt!"
Randy terus berpacu lebih cepat lagi, saat milik Ayumi terasa semakin mencengkram erat di dalam sana, membuat Randy hampir saja lepas kendali, namun sebisa mungkin dia menahannya, dan membiarkan Ayumi lepas sendirian.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Saling memindai wajah satu sama lain dengan sorot mata penuh cinta.
__ADS_1
"Kau berkeringat. Bukannya tadi kamu bilang disini semakin dingin?" Randy berbisik, sembari mengusap kening Ayumi yang sudah berkeringat.
Ayumi tidak menjawab, dia hanya terus menatap suaminya, yang selalu terlihat semakin tampan di setiap harinya.
"Abang belum?" Ayumi bertanya.
Randy tidak menjawab, pria itu hanya memberikan seringai yang menyeramkan, namun menggoda di saat yang bersamaan.
"Sebentar lagi." Suaranya terdengar semakin rendah.
Setelah mengatakan itu Randy kembali bergerak. Membuat rintihan tertahan Ayumi kembali terdengar di telinganya dengan sangat jelas, dan Randy sangat menyukai itu.
"Emmmhhh, … Abanghhh!"
Ayumi mulai meracau.
Sementara Randy menghentak semakin kencang dan tidak terkendali. Membuat dirinya dan Ayumi kalangan kabut. Bahkan perempuan di bawah kendalinya terlihat mengigit bibir sangat kencang saat berusaha menahan suara-suara yang keluar secara otomatis dari dalam mulutnya.
Ayumi memejamkan matanya semakin erat, pun dengan cengkraman tangannya terasa semakin kencang, dengan mulut yang mulai terbuka.
Dia hampir saja menjerit, namun dengan cepat Randy membekap mulut Ayumi dengan telapak tangannya.
"Sedikit lagi sayang!" Suara pria itu tersengal-sengal.
Dia semakin berpacu, mengejar sebuah pelepasan yang sudah hampir meledak. Dan setelah beberapa menit akhirnya leguhan panjang Randy terdengar,dia menahannya dengan cara membenamkan wajah di ceruk leher Ayumi, lalu pria itu ambruk ke arah samping.
Suasana langsung hening. Hanya meninggalakn suara hembusan nafas keduanya yang menderu-deru.
***
Setelah selesai membersihkan diri, lalu bermain salon-salonan seperti biasa yang Randy lakukan untuk Ayumi. Keduanya segera turun, berjalan ke arah meja makan dimana beberapa hidangan sudah tersedia disana.
Suasana terasa begitu hening. Hanya terdengar Dini yang bersenandung di dalam kamarnya, sementara Maria, Sumi dan Valter entah dimana keberadaan mereka.
"Sepi!" Ayumi menatap suaminya.
"Mungkin sedang menikmati udara pagi di luar."
Randy segera meraih tangan Ayumi, lalu menariknya ke arah pintu utama yang terbuka lebar.
Dan benar saja. Seluruh orang sedang berkumpul di bawah pepohonan, menggelar tikar dan terlihat bercakap-cakap disana. Bahkan Una dan Aira terlihat bergabung disana bersama ketiga pria yang Ayumi ketahui sebagai teman dari suaminya.
"Kalian disini?" Suara Ayumi membuat hampir seluruh orang yang sedang asik bercerita itu menoleh ke arah Ayumi.
Tangan Una segera mengangkat, kemudian melambai meminta Ayumi untuk segera mendekat.
"Sudah. Baru saja selesai, … tadi di resto sana! Lumayan dapat breakfast gratis kan." Aira menjawab.
Ayumi menganggukan kepala. Kemudian dia duduk tepat di samping ayahnya, lalu bersandar di bahu Valter, sementara Randy berjalan mendekati ketiga temannya.
"Sudah bangun?" Valter merengkuh pundak Ayumi, lalu mencium puncak kepala perempuan itu.
"Sudah. Papa dan Mama sudah sarapan? Ibu? Itu ada makanan di meja makan tapi kaya masih utuh?"
"Sudah." Maria dan Sumi menjawab bersamaan.
Randy dan ketiga temannya bergerak sedikit menjauh. Mereka terlihat duduk di salah satu kursi di dekat kolam ikan koi, seraya mengeluarkan sesuatu yang setelahnya mengeluarkan asap yang mengepul ke atas.
Ayumi menoleh untuk melihat ayahnya.
"Papa merokok juga tidak?" Tanya Ayumi.
Valter tersenyum, kemudian mengusap kepalanya dengan sangat perlahan, lalu menggelengkan kepala.
"Kalau sekarang kadang-kadang, kalau dulu, … ya!" Katanya.
Ayumi mengangguk lagi. Si mengubah posisinya menjadi berbaring, dengan kepala yang bertumpu di atas paha sang ayah, berbaring miring sampai perut bulatnya terlihat tumpah. Wajah Maria terlihat berbinar ketika melihat itu, dia bergeser untuk lebih mendekat, kemudian mengusap perut Ayumi dengan sangat lembut.
Ayumi kembali memejamkan matanya ketika merasa sangat nyaman. Berbaring di bawah pepohonan dengan usaha sejuk, dan langit yang sangat cerah.
"Ay jangan tidur!" Una memperingati.
"Nggak, … cuma tiduran aja." Ayumi menyahut dengan mata yang terpejam.
"Awas bablas!" Celetuk Aira.
"Ish di bilangin lagi menikmati suasana. Pada diem kenapa, nggak usah ganggu."
Ucapan itu jelas membuat Ketiga orang tua Ayumi tersenyum. Sikapnya yang masih kekanak-kanakan membuat calon ibu muda itu terlihat menggemaskan jika sedang berdebat dengan teman-temannya.
"Emmmm, … Una dan Aira bisa tolong Ibu berkemas? Nanti siang kita akan pulang, gimana? Bisa?" Maria kepada kedua teman menantunya.
Dan dengan antusuai Una dan Aira mengangguk secara bersamaan, tersenyum lalu bangkit dari duduknya terlebih dahulu.
"Benar, tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Santai sama kita mah, Bu!" Kata Una.
Lalu mereka bertiga pergi ke arah villa besar, mengikuti langkah Maria, sambil terdengar percakapan yang entah apa, karena Ayumi tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
Dan tinggalah Ayumi, Sumi dan Valter. Mereka duduk di tikar yang sama, dengan satu termos berisikikan air teh manis yang sempat Sumi buat tadi pagi.
"Ay, kamu mau minum teh hangat?" Tawar Sumi.
Ayumi kembali membuka matanya, mengalihkan pandangan ke arah sang ibunda, lalu menganggukan kepala.
"Papa?"
Pandangan Ayumi menengadah, menatap wajah yang sudah terdapat beberapa keriput pada wajahnya. Belum lagi rambut yang sudah ditumbuhi uban, namun tentu saja dia masih terlihat sangat tampan.
"Yes Baby? Why?" Dia tersenyum.
"Are you happy?" Tanya Ayumi, dengan tatapan mata yang terlihat menyejukkan.
Jelas Valter langsung menganggukan kepala.
"Papa bahagia mempunyai aku? Apa Papa pernah menyesal karena aku ada di antara kalian?"
Kening Valter mengkerut. Dia tidak mengerti kenapa Ayumi bertanya demikian. Sementara Sumi diam mematung dengan sebuah cangkir di dalam genggamannya.
"Apa yang kamu katakan? Tentu saja setiap orang tua akan bahagia karena kehadiran anaknya." Sumi langsung menjawab.
"Ayo bangun, dan minum teh nya mumpung masih hangat." Sumi menyentuh lengan Ayumi, kemudian mengusapnya dengan sangat perlahan.
Ayumi menurut. Dia segera bangkit, duduk dan meraih cangkir teh manis hangat pemberian ibunya.
"Terimakasih, Mama memang yang terbaik." Ayumi tersenyum.
Perlahan-lahan Ayumi mulai meminum teh manis hangatnya. Menatap lurus kedepan dimana sang suami berada. Mereka terlihat berbincang-bincang, entah membahas apa, namun Randy terlihat beberapa kali tertawa kencang.
"Kamu beruntung mendapatkan dia. Bahkan Randy sudah memberikan apapun yang belum sempat Mama dan Papa berikan." Ucap Valter.
"Cinta, kasih sayang, rumah yang nyaman. Dan segalanya yang kau mau!"
Ayumi menoleh ke arah samping kiri dimana Valter berada.
"Mama dan Papa bukannya sedang memberikan kasih sayang yang sempat hilang itu sekarang?" Ayumi bertanya.
Namun Valter tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, meraih pipi Ayumi dan mengusapnya dengan sangat lembut.
"Maafkan Papa. Karena tidak bisa melindungi kalian waktu itu, … jika waktu bisa diputar kembali, makan Papa tidak akan melakukan segala sesuatu dengan amarah dan rasa kecewa. Papa mencintai Mamamu, namun karena Papa bodoh Papa justru menikahi Kakaknya …" Valter berbisik.
"Aku tidak mau mendengar cerita itu lagi. Nanti aku sedih, kepala aku berisik, … yang terpenting sekarang kita sudah bersama!" Jelas Ayumi. "Dan satu lagi! Jangan pernah menganggap jika aku tidak membutuhkan kalian, meskipun sudah ada Bapak dan Ibu, aku tetap ingin kalian juga ada di sampingku."
Ayumi menatap Sumi dan Valter bergantian. Dia meletakan cangkirnya, lalu merentangkan tangan, meminta dua orang itu segera mendekat.
"Kemarilah. Kita lakukan apa yang belum pernah kita lakukan! Aku juga sama seperti anak lainnya, ingin merasakan bagaimana indahnya cinta dan kasih orang tua kandung kita sendiri." Dia terkekeh.
Namun setelah itu matanya berkaca-kaca.
Valter dan Sumi segera mendekat, kemudian keduanya memeluk Ayumi dengan sangat erat, bergantian menghujani pipi Ayumi dengan kecupan penuh kasih sayang.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Tapi aku tidak tahu caranya, … yang pasti aku bahagia bisa bertemu Mama dengan Papa. Walaupun saat ini aku sudah menikah, dan tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan kalian." Ayumi menangis.
Valter mengangguk.
"Hal yang sama kami rasakan. Kami bahagia sudah dapat menghabiskan waktu bersama denganmu, tapi ada perasaan yang benar-benar tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata."
Sumi mengusap kepala Ayumi.
"Ah aku mencintai kalian." Suara Valter terdengar bergetar.
Sementara dari kejauhan Randy melihat dengan perasaan yang entah harus menyebutnya bagaimana. Bahagia itu sudah pasti, namun ada sesuatu yang tidak dapat dia katakan ketika melihat Ayumi menangis bahagia bersama kedua orang tuanya.
"Bro! Dulu kau mengenalkan kita kepada orang tua Ayumi yang lain." Bagas tampak penasaran.
"Mereka orang tua asuhnya." Jelas Randy singkat, kemudian menghisap rokoknya kembali.
"Darimana ayahnya berasal?" Evan bertanya, dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.
"Jerman, kenapa?"
"Astaga. Pantas saja Ayumi sangat cantik, … produk dari Jerman, Bro!" Kata Evan, yang langsung membuat Randy memukul bahunya.
Bagas dan Evan tergelak.
"Sekali lagi kalian memujinya, … aku pastikan salah satu tulang di tubuh kalian patah." Randy bersungut-sungut.
Evan terus tertawa, sementara Egy menggelengkan kepalanya, sambil memutar kedua bola mata.
"Haih, … Evan hanya memuji, respon kamu memperlihatkan jika Evan sedang bersiap merebut Ayumi darimu!" Kata Egy, dia mendelikkan matanya.
__ADS_1
Merasa heran dengan sikap sahabatnya.
Randy tidak menjawab lagi, pria itu hanya fokus menatap Ayumi, dengan sebatang rokok yang ada di antara kedua celah jari telunjuk dan jari tengahnya.