My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 82 (Permintaan Ayumi)


__ADS_3

Randy keluar dari dalam kamarnya, setelah selesai membersihkan diri, dan memastikan jika Ayumi sudah benar-benar tertidur. Dia keluar dengan hanya bertelanjang dada, memakai celana training sembari terus berjalan ke arah salah satu pintu ruangan yang ada di dalam rumahnya.


"Den, mau Bibi siapkan makan malam sekarang?" Sumi tampak datang menghampiri, setelah mendengar pintu kamar yang Randy dan Ayumi tempati di buka.


Randy melirik sekilas.


"Nanti saja Bu, saya mau boxing dulu." Katanya, lalu berhenti di ambang pintu ruangan yang Randy tuju.


Wanita itu mengangguk, lalu kembali masuk kedalam kamarnya. Sementara Randy menekan gagang pintu tersebut, mendorongnya perlahan, masuk dan kembali menutupnya rapat-rapat.


Dia memasuki ruangan olahraganya, yang berukuran cukup besar. Tiga alat treadmill, satu pull up bar, barbell berbagai macam ukuran, bench press, sepeda statis, samsak tinju, juga dumbbell dengan beberapa ukuran, dari berat 2-10 kg.


Randy beralih pada salah satu laci kecil yang berada di sudut ruangan, membukanya lalu membawa hand wrap, kemudian duduk dan mulai melilitkan di telapak tangannya, agar terlindung dari cedera kecil saat dia memukul samsak, yang tergantung tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.


Dia mulai berdiri, maju beberapa langkah untuk mendekat, dan Randy mulai melakukan pukulan-pukulan kecil untuk melakukan pemanasan.


Bayang-bayang kecelakaan hampir 10 tahun silam terus berputar-putar, membuatnya semakin tidak merasa tenang, apalagi kini dia mengetahui kenyataannya, jika korban yang dia tinggalkan dengan ketidakberdayaannya adalah Ayumi, perempuan yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


Dan satu-satunya gadis yang mampu membuat dia merasakan indahnya mencintai dan dicintai.


"Dasar bodoh!" Dia berteriak sangat kencang.


Randy berhenti, menempelkan kening pada samsak tinju tersebut, memejamkan mata dengan nafas memburu dan tersengal-sengal.


Kini pria itu benar-benar terlihat tengah emosi, dan berusaha meluapkan amarahnya. Bukan kepada orang lain, melainkan kepada dirinya sendiri.


"Kenapa dulu kau memacu mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Kau melukainya Randy, kau membuatnya cedera, kau membuat kepalanya bocor sampai mengalirkan darah yang begitu banyak, dan jangan lupakan Tulang kaki kirinya yang patah karena ulahmu!" Pria itu menggeram pelan.


Dia mulai memukul samsaknya lagi, dengan pukulan kencang, dengan rasa menyesal, dan amarah yang beradu padu menjadi satu.


"Pengecut, kau pengecut Danendra! Bisa-bisanya kau tidak bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan. Bahkan dengan rapatnya kau menyembunyikan ini dari Ibumu, … dari semua orang sampai kau lolos dari jerat hukum, sampai sekarang."


Bugh … bugh … bugh … bugh …


Pukulan demi pukulan terus Randy layangkan, sampai keringat yang baru saja dia bersihkan beberapa waktu lalu, kembali bercucuran membasahi tubuh bagian atasnya yang polos tanpa pakaian apapun.


***


Tubuh kecil bergulung selimut tebal itu mulai bergerak-gerak, mencari sosok yang sebelumnya memeluk dengan sangat erat.


"Abang?" Suara serak itu memanggil-manggil pria yang tak lain adalah suaminya.


Tangan Ayumi terulur keluar, meraba tempat kosong di sampingnya.


Mata Ayumi memicing, mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dari cahaya Lampu kamar yang sudah terang benderang.


"Abang?" Perempuan itu segera bangkit, mengubah posisinya menjadi duduk dengan tangan yang mengucek kedua bola matanya.


Hening, tidak ada suara apapun. Hanya terdengar detik suara jarum jam yang memenuhi kamar. Dia bergeser, turun dari tempat tidur, dan berjalan ke arah pintu kamar mandi yang tertutup sangat rapat, terlebih dahulu.


Klek!!


"Abang?"


Tempat itu kosong, Ayumi kembali menutupnya, dan kali ini dia berjalan keluar dari dalam kamarnya. Lagi-lagi dia mendapati rumah itu yang sangat sepi, hanya terdengar suara tv dari arah belakang, dimana kamar Sumi berada.

__ADS_1


"Bi?" Panggil Ayumi.


"Bi Sumi?" Panggilnya lagi, lalu dia duduk di kursi meja makan, berusaha mengusir rasa kantuk, dan menunggu kesadarannya kembali penuh, setelah terlelap begitu dalam.


Tak lama setelah itu Sumi muncul, berjalan dari arah belakang.


"Iya Non?"


"Abang pergi?" Ayumi berdeham, bangkit dan berjalan mendekati lemari pendingin, lalu membawa satu kotak susu full cream dingin.


"Tadi masuk ruangan sana!" Sumi menunjuk salah satu pintu, yang terletak di dekat pintu keluar taman belakang.


Ayumi mengangguk, sambil menyesap susu kotak kesukaannya.


"Oh yaudah, aku kesana deh." Kata Ayumi, dia segera melangkahkan kaki.


"Mau saya hangatkan lauk untuk makan malam sekarang?" Sumi menawarkan.


"Boleh, Bi. Tolong yah!" Ayumi menoleh, lalu tersenyum.


Klek!


Ayumi membuka pintu itu perlahan, lalu menyembulkan kepalanya, menatap dan memastikan suasana di dalam sana.


Ruangan olahraga cukup besar, di lengkapi dengan kaca-kaca di sekelilingnya, dan jangan lupakan berbagai macam alat untuk melatih otot.


Dan disanalah Randy, duduk sambil menundukan kepala dengan kedua tangan yang menyangga keningnya. Tubuh berotot yang dipenuhi keringat yang bercucuran hampir ke seluruh tubuhnya.


"Sayang?" Ayumi melangkah masuk, lalu menutup pintu ruangan itu kembali.


"Aku baru masuk kesini, ternyata ada alat-alat olahraga." Katanya, dengan senyum yang tak hentikan terpancar.


Randy belum menjawab, dia hanya terus menengadahkan pandangan, menatap Ayumi dengan perasaan bersalah yang semakin menjadi-jadi.


"Abang nggak tidur?"


"Kamu bangun?" Randy menjawab dengan pertanyaan.


Kening Ayumi berkerut, tersenyum lucu lalu duduk di samping pria yang saat ini tengah berkeringat.


"Kenapa bangun?"


"Memangnya tidak boleh?" Perempuan itu mencondongkan tubuhnya, menatap wajah memerah milik suaminya.


"Bukan begi …" Ucapannya tercekal.


Saat Ayumi semakin mendekat, lalu mengusap keningnya menggunakan tangan, tanpa merasa geli atau jijik.


"Mau minum?" Ayumi menyodorkan susu kotak miliknya.


"Hemm?"


"Mau minum? Aku ambil barusan, terus udah aku sedot sedikit." Tawarnya lagi.


Randy menatap wajah kekasih hatinya lekat-lekat.

__ADS_1


"Nggak mau yah? Jijik yah?" Ayumi sedikit ke kecewa.


Ayumi hendak menarik tangannya, tapi terlebih dulu Randy mencekal pergelangan tangan itu, menarik agar kembali mendekat, dan menyesap minuman susu tanpa rasa, yang begitu sangat di gemari Ayumi.


"Aku kira nggak mau." Ayumi terkekeh.


"Ucapanmu itu, … mana mungkin aku jijik padamu, sementara kita sudah melakukan hal yang lebih dari hanya sekedar berbagi sedotan yang sama." Katanya.


Ayumi mengulum senyum.


"Olahraga nya sudah? Kalau sudah ayo makan, aku laper, terus Bi Sumi sudah aku suruh menghangatkan lauknya." Dia bangkit.


Randy menengadahkan pandangan, tersenyum tipis, dan kembali meraih tangan istrinya, untuk dia tuntun sampai duduk mengangkang di atas pangkuannya.


Tangan Randy melilit erat di pinggang ramping Ayumi, seraya menenggelamkan wajah di dada sana, dengan mata terpejam.


Maafkan aku!


Batinnya berbicara.


Ingin sekali dia meminta maaf secara langsung. Tidak peduli semarah apa Ayumi nantinya. Namun dia tidak bisa, mengingat kesehatan mentalnya yang baru saja membaik.


"Kenapa? Sepertinya Abang lagi mikirin sesuatu? Masalah pekerjaan? Atau acara kita nanti?"


Randy menggelengkan kepala.


"Ah, … pasti Abang mikirin cerita aku tadi sore yah? Aku udah baik-baik saja sekarang, tidak apa-apa jangan dipikirkan terus."


"Maaf."


"Tidak apa-apa, waktu itu memang belum waktunya Abang jagain aku. Lagian waktu itu aku masih kelas 5 SD, sementara Abang sudah umur berapa yah…"


Ayumi menggerakan jemari, dia menghitung usia suaminya.


"Sembilan belas? Apa dua puluh tahun yah?"


"Hampir dua puluh." Jawab Randy.


"Segede aku berarti. Terus aku …. Aku seumuran dengan adiknya Aira." Lalu dia tertawa.


Randy mengurai pelukannya, lalu kembali menatap Ayumi.


Cup!


Perempuan itu mencium bibir Randy singkat.


"Sayang, ayo makan. Calon anak kita sudah kelaparan." Ucapan konyol itu membuat Randy membulatkan mata.


"Dasar ngaco, orang lagi datang bulan, mana bisa hamil." Cicit Randy sedikit tidak percaya.


Ayumi tersenyum, dia turun dari pangkuan suaminya.


"Ya sudah, nanti setelah selesai acara keluarga kita, hamilin aku yah!" Ayumi meraih tangan Randy, dan menariknya ke luar.


Perempuan itu tersenyum lebar, memperlihatkan jejeran gigi rapih, dengan ekspresi polos tanpa merasa terbebani sedikit pun, setelah mengatakan sesuatu yang membuat Randy sedikit merasa frustasi.

__ADS_1


__ADS_2