
Sayup-sayup suara sapu lidi menyapu tanah terdengar, menarik Ayumi untuk segera tersadar dari alam bawah sadarnya, yang membawa dia mengarungi sebuah mimpi indah hampir semalaman. Matanya segera mengerjap dengan tangan yang mulai bergerak seperti mencari sesuatu yang selalu ada di sampingnya.
Namu, perempuan itu segera terdiam. Setelah menyadari jika dirinya kini tidak ada di rumah bersama suaminya, melainkan berada di satu tempat bersama wanita yang yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri.
"Baru sehari aku kabur, udah rindu saja!" Gumam Ayumi pelan seraya mengubah posisinya menjadi duduk.
Dia menurunkan kedua kakinya, mengikat rambut, lalu berdiri dan segera membuka pintu kamar untuk keluar.
Seketika hawa sejuk berhembus, saat pintu utama rumah nya terbuka dengan begitu lebar. Suara kicauan burung, daun-daun yang bergesekan karena diterpa angin, belum lagi suara-suara anak ayam yang berciak saling bersahutan, membuat suasana pagi Ayumi sedikit lebih berbeda dari pada biasanya.
Ayumi berjalan ke arah luar, duduk di bangku plastik yang memang tersedia disana, memperhatikan wanita yang sedang membersihkan halaman rumah dari dedaunan kering yang berjatuhan.
"Sudah bangun? Ini masih sangat pagi?" Sumi melirik sesaat.
Ayumi hanya tersenyum.
"Mau cari sarapan sekarang?"
"Tidak, nanti saja tunggu Mama selesai." Kata Ayumi.
Sumi menghentikan aktivitasnya, kemudian menghela nafas.
Hatinya selalu bergetar, rasanya begitu bahagia saat mendengar panggilan keramat itu. Puluhan tahun dia menunggu, dan sekarang semua terbayar.
Bayang-bayang akan ditolak Ayumi sirna begitu saja. Ketakutan-ketakutan yang sempat dia rasakan sudah hilang entah kemana, bergantian dengan sebuah momen yang begitu indah, contohnya hari ini.
Gadis kecilnya duduk menunggu, menatap langit luas yang terlihat mulai menghijau saat cahaya matahari mulai muncul.
"Mau sarapan apa? Gorengan? Bubur ayam? Atau ketupat sayur?" Tanya Sumi setelah dia meletakan sapu juga pengki di samping rumah.
Ayumi mengikuti kemana Sumi melangkah, dan senyumnya kembali terbit. Dadanya benar-benar terasa sangat lapang, sampai rasa sesak yang selalu Ayumi rasakan benar-benar sudah tidak terasa lagi, seperti ada sesuatu yang terlepas begitu saja dari beban hidupnya.
"Disini ke pasar jauh yah?"
"Lumayan, harus pakai ojek." Ucap Sumi sambil membasuh tangannya di sebuah kran yang memang berada di luar rumah.
"Memangnya mau makan apa? Biar Mama yang belikan."
Ayumi menggelengkan kepala.
"Tidak usah kalau jauh."
"Jadi mau apa? Kita hanya memiliki nasi, lauknya belum ada."
"Biasanya Mama sarapan apa?"
"Kadang gorengan, kadang Bubur Ayam, tapi kadang juga tidak sarapan karena tidak sempat, atau memang tidak berselera."
Kini Ayumi mengangguk, dia mendengarkan setiap ucapan Sumi, dengan mata yang tak beralih sedikit pun. Memperhatikan Sumi dengan seksama, dan Ayumi baru benar-benar sadar jika wanita itu memang sedikit mempunyai persamaan dengan dirinya.
Entah apa, namun Ayumi menyadari itu.
"Ya sudah, ayo kita beli bubur ayam."
Sumi mengangguk.
"Biar Mama yang belikan."
__ADS_1
"Tidak. Aku juga mau ikut, aku mau tahu kampung ini, masih pesisir tapi terasa sejuk."
Sumi terkekeh.
"Tentu saja. Ini sudah termasuk dataran tinggi, rumah Bu Maria ada di bawah sana, termasuk rumah Pak Ali dan Bu Tutih juga berada paling dekat dengan pantai."
Ayumi mengangguk pelan. Tiba-tiba dia mengingat kedua orang tuanya, rindu sudah pasti hanya saja Ayumi ingin menikmati waktu bersama Sumi, ibu kandungnya.
"Aku ambil tas dulu."
Ayumi segera kembali ke dalam kamar, meraih tasnya dan segera keluar menemui Sumi.
Wanita berusia hampir 40 tahun itu menutup pintu, tak lupa menguncinya, lalu mereka segera pergi, mencari sarapan Bubur Ayam yang Ayumi inginkan.
Di sepanjang perjalanan Ayumi menjadi pusat perhatian. Bahkan tak jarang mereka saling berbisik, tidak tahu membicarakan apa, tapi jelas membuat Ayumi menoleh ke arah Sumi yang berjalan tepat di sampingnya.
"Mereka membicarakan kita?"
Sumi tersenyum.
"Biarkan saja. Mungkin mereka penasaran ada gadis cantik yang datang kesini."
Ayumi mengalihkan pandangan ke arah orang-orang tersebut, yang sedang duduk di sebuah saung menikmati sarapan pagi mereka.
"Tapi kayaknya bukan itu maksud mereka. Lihat cara mereka melihat Mama dan aku! Mereka seperti sedang membicarakan keburukan kita."
Sumi meraih tangan Ayumi, menggenggam nya lebih erat, lalu menarik agar mereka jalan lebih cepat.
"Tidak usah di lihat!"
"Mau berapa, Ceu?" Seorang wanita penjual Bubur bertanya kepada Sumi.
Dia tersenyum, dengan mata yang sesekali melihat ke arah Ayumi.
Sepertinya kehadiran Ayumi menyita perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, sosok perempuan muda cantik, berambut coklat, mempunyai hidung yang mancung dan berkulit putih, belum lagi senyumannya yang terlihat begitu indah.
"Dua, sambalnya dipisah saja!" Pasan Sumi yang langsung mendapatkan anggukan dari sang penjual.
Dua tempat yang terbuat dari sterofom segera disiapkan. Kemudian menempatkan beberapa sendok Bubur yang terlihat tidak sekental biasanya, menaburkan bumbu penyedap, dan menambah beberapa topping yang juga sedikit terlihat asing bagi Ayumi.
Bukan sayur kuning yang penjual itu berikan, melainkan sebuah sayuran berwarna hijau. Dan kerupuk pangsit yang menjadi pelengkap.
"Kamu pasti suka." Sumi menatap putrinya dengan wajah berbinar.
"Aku baru lihat." Perempuan itu terkekeh.
"Saya memang menjual Bubur Ayam yang berbeda dari orang lain. Biasanya pakai kerupuk bawang, atau sayur kuah kuning. Tapi saya mengganti nya dengan sayur daun singkong dan potongan kentang, lalu kerupuknya kita ganti dengan kerupuk pangsit, terus pakai ayam kampung juga agar lebih nikmat."
Ayumi mengangguk.
"Siapa Ceu? Baru lihat? Anak majikan dari kota yah?" Wanita yang sedang menyiapkan Bubur itu pun kembali bertanya.
Sumi mengangguk, tapi Ayumi menggelengkan kepala.
"Aku anaknya Mama."
Ucap Ayumi lantang. Jika Sumi masih segan mengakuinya karena takut Ayumi merasa kurang nyaman. Namun tidak dengan Ayumi, dia ingin membuktikan jika dirinya kini benar-benar mau di akui, tidak peduli mereka memandangnya dengan sangat rendah, yang harus beberapa orang tahu, dirinya begitu bangga memiliki ibu yang begitu kuat dalam menjalani hidup, meski masalah terus menerjang tanpa henti.
__ADS_1
Wanita penjual Bubur itu tergugu. Diam penuh ketidakpercayaan.
"Pulang dari Jerman?"
"Bukan, Ayumi dari kota. Baru datang semalam." Jelas Sumi.
"Saya kira datang dari Jerman. Meuni geulis pisan, Ceu!" Tak hentinya dia memuji.
Lagi-lagi Sumi hanya tersenyum.
"Nya geulis atuh, Bapakna bule! (Ya cantik lah, Bapaknya bule)" Suami dari wanita itu menepuk lengannya.
"Buburnya sudah?" Ayumi bertanya, dia mulai merasa tidak nyaman.
"Su-sudah." Wanita tersebut tersenyum canggung.
Dengan segera mereka membungkus dua sterofom itu dengan kantong plastik bening, lalu memberikannya kepada Sumi.
"Berapa, Mam?"
"Pakai uang Mama saja!"
Sumi merogoh saku celananya, lalu memberikan uang sebesar 26 ribu kepada sang penjual.
"Padahal aku ada."
"Tidak usah, ayo kita pulang, … orang-orang mulai berkerumun hanya ingin mencari tahu siapa kamu." Sumi segera menarik Ayumi.
"Ceu, terimakasih." Ucap Sumi sambil terus berjalan menjauhi orang-orang yang mulai mendekati mereka hanya sebuah rasa penasaran.
"Disini aku kaya artis ya, Ma?" Ayumi terkekeh.
"Tentu saja, kamu yang paling cantik dari semua gadis yang ada disini. Selain penasaran kamu siapa, kecantikanmu juga menjadi daya tarik tersendiri."
Ayumi tertawa lagi. Dia merasa lucu dengan penduduk kampung sana. Sementara Sumi terlihat sedikit panik dengan keadaan Ayumi, yang dia ketahui sedikit tidak menyukai keramaian karena trauma yang Ayumi alami.
"Tapi Abang-abang disini kelihatan manis-manis ya, Ma!"
Ayumi terus tertawa, sementara pria yang ada jauh di seberang sana kini terbatuk-batuk tanpa sebuah alasan, membuat Maria menepuk-nepuk pundaknya cukup kencang.
"Shuttt! Kalau suami kamu tahu dia pasti marah." Sumi ikut tertawa.
Ayumi mengatupkan mulutnya, menutup dengan satu telapak tangan, lalu berhenti membayangkan beberapa pria yang sempat dia lihat tadi.
"Abang tetap paling ganteng kok, beneran deh. Mereka mah kerempeng, nggak berotot kaya Abang, iya kan Ma?"
Sumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku takut Abang denger!" Bisik Ayumi, dia memeluk lengan ibunya untuk berlindung.
"Masa bisa begitu!"
"Bisa, Ma. Mata Abang ada dimana-mana, dia mengetahui bahkan hampir semua rahasia orang-orang."
"Ya sudah, kalau begitu diam. Lebih baik cepat sampai dirumah agar bisa memakan sarapannya, sekarang. Dan berlindung dari mata-mata suamimu yang mungkin saja berada di sekeliling kita saat ini!" Sumi melanjutkan kekonyolannya.
Ayumi terdiam, dia mempercepat langkah kakinya, untuk segera sampai di rumah yang sudah satu malam dia tempati.
__ADS_1