My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 103 (Perjalanan)


__ADS_3

Randy menepikan mobil miliknya di depan sebuah gerbang kost yang dulu sempat Ayumi tempati. Dia segera turun, memasuki kawasan yang mulai sepi, maklum saja karena jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


Tok tok tok!!


Randy menghampiri warung yang hampir tutup, lalu bertanya ketika seorang wanita menoleh saat menyadari kehadirannya.


"Eh, pacarnya Ayumi yah!?" Amel langsung menyapa. "Ayumi sudah tidak pulang kesini, barang-barangnya masih ada di kamar, … belum lagi sewa kamar yang sudah jatuh tempo, Mas bisa tolong kasih tahu Ayumi nya? Mau lanjut atau mau ambil barang-barangnya?"


Randy mengangguk, dia memaksakan senyumnya seraya merogoh saku celana dan membawa dompetnya keluar.


Dia juga tidak ada disini!


"Kebetulan saya kesini mau bayar, … tapi titip barang-barangnya dulu, ya Bu!"


Amel tersenyum.


"Ayumi nya kemana?"


"Oh, … dia ada di rumah saya. Sudah menikah hampir satu bulan ini."


"Oalah, syukurlah. Pantesan nggak pulang kesini, sudah di nikahin orang kaya toh!"


"Berapa, Bu?" Tanya Randy, berusaha tidak menggubris ucapan paling terakhir wanita paruh baya di hadapannya.


"800 ribu, Mas."


Randy segera mengeluarkan hampir semua uang cash yang ada di dalam dompetnya, menghitung lalu memberikan uang untuk memperpanjang sewa kost kamar Ayumi kepada sang pemilik.


"Mmmm, … saya kesini hanya mau membayar sewa kost kamar Ayumi. Saya titip barang-barangnya, Bu,." Kata Randy.


"Iya, Mas."


"Kalau begitu mari!" Pamit Randy.


Amelia mengangguk.


Randy berbalik badan, berjalan pelan ke arah mobilnya sambil terparkir, dengan otak yang terus berputar, entah kemana lagi dia harus mencari istrinya.


Bahkan sudah hampir dua jam dia menyusuri jalanan dan tidak ada hasil sampai dia memutuskan pergi ke kostan Ayumi yang sempat perempuan itu tinggali sebelum mereka menikah.


Lalu harus kemana lagi dirinya mencari? Pikirannya benar-benar kacau dan tidak bisa difungsikan dengan benar, saat perasaannya semakin kalut, dengan rasa khawatir dan takut.


"Ay, kamu dimana? Jangan seperti ini aku benar-benar tidak bisa. Aku takut terjadi sesuatu kepada dirimu." Randy bergumam.


Dia membuka pintu mobilnya, duduk di kursi kemudi, lalu menyalakan mesin dan kembali memacu kendaraan roda empat nya dengan kecepatan tinggi.


Di sepanjang perjalanan pandangan Randy terus mengedar. Berharap ada sosok yang sangat ingin dia temukan malam ini. Namu sayang, pria itu sama sekali tidak menemukannya, bahkan sampai mobil itu berbelok memasuki sebuah gerbang utama dimana rumahnya berada.


Randy turun, di barengi beberapa orang yang langsung membuka pintu rumahnya secara tiba-tiba, membuat pria itu tersentak sedikit terkejut.


"Mana Ayumi nya?" Maria melihat-lihat ke arah belakang.


"Tidak ada? Ayumi tidak ada?" Tutih bertanya.


Dan langsung dijawab anggukan oleh menantunya itu, yang terlihat sedikit berantakan.


"Duh, Ayumi kemana ya, Pak?" Tutih menatap suaminya.


"Tidak tahu, tapi kita doakan saja semoga Ayumi baik-baik saja."


"Sebentar, aku coba check handphone Ayumi. Siapa tahu dia ada bersama teman-temannya.


Randy segera masuk, di ikuti para orang tua yang begitu terlihat panik. Bahkan saking paniknya, Tutih, Ali dan Maria sampai mengikuti Randy saat pria itu masuk kedalam kamarnya.


Dia terlihat memeriksa ponsel milik Ayumi, mencari-cari nomor telepon Una, dan segera menghubungi sahabat Ayumi setelah Randy mendapatkannya.

__ADS_1


"Iya, Ay?"


Suara gadis di seberang sana terdengar menyapa terlebih dulu.


"Ayumi ada denganmu?"


"Hah!?"


Gadis itu terdengar begitu terkejut.


"Ayumi ada mengunjungi tempatmu?" Randy mengulangi pertanyaannya.


"Ti-tidak ada, Pak. Kirain saya yang telpon Ayumi, bukan Bapak." Katanya lagi.


Randy memejamkan matanya, dia menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskan perlahan-lahan.


"Memangnya Ayumi kemana?" Una terdengar bertanya.


"Jika saya tahu, saya tidak akan menghubungimu, Una." Jawab Randy dengar suara pelan.


Una terdiam.


"Selain kamu, siapa lagi teman istri saya?"


"Ada Aira, Pak. Tapi kayaknya nggak sama Aira juga deh, dia lagi mudik ke rumah neneknya." Seru Una.


"Yang lain?"


"Tidak ada, Pak!"


"Baiklah, jika nanti kamu menemukan istri saya. Cepat hubungi. Jangan beritahu, diam-diam saja!"


Randy memutuskan sambungan teleponnya, lalu meletakan ponsel milik Ayumi di atas tempat tidur. Dia menoleh ke arah Maria dan kedua mertuanya.


"Ayumi tidak ada bersama temannya." Randy mendesah pelan.


Randy menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, menatap lurus kedepan dengan satu tangan yang diletakan di atas kepala.


"Bapak coba hubungi Pak Al sama Junior dulu." Katanya, kemudian keluar sambil menarik tangan Tutih bersama nya.


Sementara Maria berjalan mendekat, duduk tepat di samping Randy, dan mengusap-usap lengannya untuk memberi sedikit semangat.


"Ayumi hanya sedang menenangkan pikirannya. Mungkin ingin sendiri, karena dia takut berbuat hal yang akan membuat suasana semakin buruk. Kamu tahu Ran? Saat dia berada di kamar Ibu pun, Ayumi terus melamun, dia tidak menangis kencang, Ayumi diam, tapi air matanya terus bercucuran membasahi pipi. Dia benar-benar sedang kecewa, bukan kepada kami ataupun kita, tapi kepada hidup yang menurutnya sangat tidak adil kepada dia."


Randy menghela nafasnya lagi, dua menggigit bibirnya kencang, entah kenapa dia sangat ingin menangis, namun sekuat tenaga dia menahannya.


"Kamu sudah mencari kemana saja?"


"Hampir semua tempat."


"Oh ya? Coba ingat-ingat lagi mungkin ada satu tempat yang kamu lewatkan, dan Ayumi ada di sana."


Randy menggelengkan kepalanya.


"Sudah semua!" Ucap Randy pelan, bahkan hampir berbisik. "Taman, tempat dia jajan, halte, trotoar, kostan, … terakhir mencari tahu keberadaan Ayumi di tempat temannya via telepon, tapi masih tidak ada."


Maria mengulum senyum, dengan tangan yang tak hentikan mengusap-usap lengan Randy.


"Sekarang tidurlah dulu. Kita tidak tahu, mungkin setelah kamu pergi, Ayumi baru sampai di kamar kostnya, atau ke rumah temannya. Sekarang biarkan dia sendirian dulu, dia hanya butuh waktu, percayalah."


Mendengar itu Randy langsung bangkit.


"Lho!"


"Aku mau cari Ayumi lagi, Bu. Sampai ketemu, jika tidak pulang maka aku belum menemukannya." Randy berdiri, berjalan mendekati lemari pakaian, membukanya lalu membawa satu Hoodie, lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


***


Bus yang Ayumi tumpangi mulai melamban, kemudian berhenti tepat di salah satu halte bus. Perempuan itu segera merapikan barang bawaannya, terutama sampah plastik bekas makanan yang dia nikmati selama dalam perjalanan.


"Terimakasih, ya Pak. Ikut buang sampah disini boleh?" Ucap Ayumi kepada supir sebelum dia turun. Menunjuk satu tong sampah berukuran kecil yang disediakan disana.


Pria tua berseragam itu tersenyum, lalu menganggukan kepala.


"Mari, Pak! Sekali lagi terimakasih."


Ayumi segera turun, berdiri di halte beberapa saat, menunggu bus itu pergi, lalu menyeberangi jalan setelahnya.


"Mang? Permisi, kalau ojek ke atas berapa yah!?"


"20 rb, Neng."


"Nggak bisa kurang?"


"Memangnya Eneng mau kemana?" Tukang ojek itu bertanya.


"Ngg, … saya juga nggak tahu, Mang. Saya lagi cari alamat seseorang. Tapi patokannya pesisir kulon, dari rumah mertua saya ke atas lagi, katanya begitu!"


Tukang ojek itu saling menoleh, menatap satu sama lain dengan ekspresi bingung.


"Oh, kalau kesana bukan sama saya, tapi sama Amang yang itu." Dia menunjuk temannya. "Dia orang sana, dari pesisir kulon ke atas lagi kan?"


Ayumi mengangguk.


"Kira-kira cari siapa?"


"Amang tahu Bu Maria?"


Pria tersebut mengangguk.


"Itu mertua saya."


"Hayu atuh. Sebelum malem banget, jalanan kesana gelap, rata-rata tidak ada lampu penerangan jalan."


Ayumi mengangguk.


"Saya mau cari Bu Sumi."


"Sumi?"


"Iya, yang kenal sama mertua saya, … Bu Maria."


"Sumi ada dua Neng, Eneng mau ke Bu Sumi yang mana? Dua-duanya pasti kenal, soalnya masih tetangga walaupun beda RW."


Ayumi tampak berpikir. Dengan kaki yang terus berjalan mendekati motor yang sudah menyala.


"Sumi yang mana ya, Mang. Aku juga bingung nggak tau kepanjangan namanya."


Ayumi naik, dan motor tersebut mulai melaju.


"Coba sebutin ciri-cirinya."


"Emmm, … tingginya sama kaya aku, rambutnya pendeka suka di iket, terus dia …"


"Janda atau punya suami?"


"Nggak. Nggak punya suami Mang."


"Oh, itu rumahnya di atas banget. Dia tinggal sendirian kan yah? Dulu masih tinggal di dekat-dekat sini, tetanggaan lah sama Bu Maria kalau sekarang masih tinggal di rumah itu, tapi sekarang rumahnya di tinggalin begitu saja, tinggal sendiri setelah keluarganya pergi tapi dia nggak di ajak."


Ayumi mengangguk.

__ADS_1


"I-iya, Bu Sumi yang aku maksud itu, Mang!"


Tukang ojek itu tidak menjawab lagi. Dia hanya terus memacu motornya dengan kecepatan sedang, melewati beberapa perkampungan, dengan keadaan jalan yang begitu gelap.


__ADS_2